Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 147

Memuat...

Song Kim mengerutkan alisnya. Pertanyaan seperti itu tak suka dia mendengarnya. Tentu saja tidak mungkin baginya untuk mengaku bahwa dia adalah murid dari Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia yang bahkan kini oleh pemerintah Ceng sudah dinyatakan sebagai pemberontak.

“Kalau aku tidak salah ingat, pernah saya bercerita di depan pangeran dan nona bahwa saya belajar ilmu silat dari orang tua saya sendiri yang kini telah tiada. Ilmu silat kami adalah ilmu silat keluarga.”

Dia memandang tajam lalu melanjutkan.

“Mengapa nona menanyakan lagi hal itu? Pentingkah bagimu dari perguruan mana aku datang, nona?”

“Ah, tidak mengandung maksud apa-apa. Hanya banyak aku mendengar tentang jagoan-jagoan di dunia persilatan, maka aku ingin tahu apakah engkau bukan murid dari seorang di antara tokoh-tokoh yang pernah kudengar namanya.”

“Nona tidak pernah atau jarang sekali merantau di dunia kang-ouw, bagaimana bisa mengenal nama tokoh-tokoh persilatan? Siapa saja di antaranya yang pernah nona dengar?”

“Banyak sekali! Terutama tokoh-tokoh yang kini mengadakan pemberontakan-pemberontakan, banyak aku mendengar namanya. Bukankah atas jasamu pula, banyak tokoh kang-ouw yang sedang mengadakan rapat di hari ulang tahun Hai-tok telah disergap pasukan pemerintah? Jasamu itu sungguh besar sekali Lee-Ciangkun.”

Wajah Song Kim agak berubah. Tak senang dia diingatkan akan hal itu. Memang dia sudah mengkhianati dan melaporkan gurunya sendiri, bukan sekali-kali karena dia membenci gurunya, melainkan karena dengan laporan itu, dia memperoleh dua keuntungan. Pertama, dia berjasa pada pemerintah dan semakin dipercaya. Kedua, makin banyak tokoh kang-ouw yang tewas, makin berkuranglah saingannya untuk memperebutkan Giok-liong-kiam.

“Hal itu sudah menjadi tugas kewajibanku, nona.”

“Baiklah, mari kita mulai. Bersiaplah kau menerima seranganku, ciangkun!” Berkata demikian, Ceng Hiang lalu memasang kuda-kuda dengan berdiri tegak lurus, kaki kanan diangkat dan ditekuk, ujung kaki kanan menyentuh lutut kiri, tangan kiri dilingkarkan di depan dada dan tangan kanan menunjuk ke atas dengan jari-jari terbuka. Jurus ini nampak gagah sekali dan kembali

Song Kim terpesona. Betapa cantik dan gagahnya gadis, ini pikirnya.

Dan diapun tidak mau kalah. Dia memasang aksi dengan kuda-kuda yang kokoh kuat, kedua kakinya terpentang lebar dan kedua lutut ditekuk, kedua tangan mengepal di pinggang. Kuda-kuda ini adalah kuda-kuda biasa yang kokoh dan dianggap merupakan kuda-kuda paling baik untuk menghadapi serangan lawan yang tangguh. Diam-diam Ceng Hiang mengenal kuda-kuda yang kokoh itu, akan tetapi dara ini memang sudah tahu dan mendengar banyak tentang kelihaian Song Kim, maka iapun tidak mau bersikap sungkan lagi.

“Haiiittt...”

Ia berteriak sambil menyerang, menurunkan kaki kanan dan tiba-tiba kaki kirinya menendang sedemikian cepatnya, menotok ke arah pinggang kanan lawan, sedangkan tangan kiri yang tadinya diangkat tinggi-tinggi itu meluncur turun dan menotok ke arah pundak. Istimewa sekali serangan yang merupakan totokan dalam waktu yang sama dengan ujung sepatu dan ujung tangan itu, di kedua tempat terpisah namun cukup berbahaya kalau mengenai sasaran dapat membuat lawan menjadi lumpuh seketika !

Lee Song Kim memang agak memandang rendah gadis ini. Mana mungkin gadis yang demikian cantiknya, demikian halus dan lembutnya, puteri tunggal seorang pangeran, dapat memiliki kepandaian silat yang berarti? Andaikata mewarisi ilmu silat keluarga Pulau Es sekalipun, latihannya tentu kurang sempurna. Pikiran inilah yang membuat dia tetap tersenyum melihat datangnya serangan itu, walaupun diakuinya bahwa serangan itu istimewa, aneh dan cepat.

Diapun cepat menggerakkan kedua tangannya, dan dalam gerakan pertama ini saja sudah membuka rahasia wataknya tanpa disadarinya. Dengan tangan kanan dia menangkis tendangan kaki gadis itu, dan tangan kiri menangkis totokan dari atas, akan tetapi bukan hanya menangkis begitu saja, melainkan menangkis dengan gerakan siap untuk menangkap sepatu lawan dan lengan lawan!

Dia memperhitungkan bahwa tangkisannya itu tentu akan membuat kaki dan tangan lawan melekat sebentar dan cukuplah baginya untuk memutar pergelangan tangan, dan baik sepatu maupun lengan lawannya tentu akan sudah dapat ditangkapnya. Kalau dia mampu merampas sepatu itu dalam satu jurus, tentu gadis itu akan takluk dan malu, juga tunduk seketika.

“Duk! Plak!”

Memang dia berhasil menangkis tendangan dan totokan tangan, akan tetapi akibatnya sungguh di luar dugaannya. Dia tadi hanya mengerahkan sebagian saja dari tenaga sinkangnya, dengan kerahkan tenaga menyedot dan menempel karena dia tidak ingin menyakiti, apalagi melukai gadis itu. Akan tetapi, pertemuan kedua lengannya itu seketika membuat kedua lengannya menggigil saking dinginnya, seolah-olah kedua lengannya itu dibenamkan ke dalam air es!

Dia sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu telah menguasai satu di antara ilmu-ilmu sinkang yang luar biasa dari keluarga Pulau Es, yaitu sinkang atau tenaga sakti yang disebut Soat-im Sin-kang (Tenaga Sakti Inti Salju)! Tenaga ini selain amat kuat, juga mengandung hawa dingin yang selain dapat membuat lawan menggigil, kalau ilmu ini sudah dikuasai dengan sempurna, dapat pula membikin beku darah lawan sehingga terkena pukulan satu kali saja, lawan akan tewas dengan jantung membeku!

Begitu merasa betapa kedua lengannya menggigil, Song Kim mengeluarkan seruan kaget, mengerahkan sinkangnya dan cepat meloncat jauh ke belakang dengan mata terbelalak saking kagetnya.

“Kenapa, ciangkun?” Ceng Hiang bertanya dengan senyum mengejek. Muka Song Kim berubah merah.

“Ah, sungguh luar biasa sekali. Aku sampai terkejut oleh kekuatan sinkang nona yang amat hebat!”

“Karena itu jangan memandang rendah orang lain, ciangkun. Nah, sambutlah serangan-seranganku.”

Dan kini gadis itu tiba-tiba saja sudah bergerak, tubuhnya melayang seperti terbang ke depan, kedua tangannya membuat gerakan dengan jari-jari tangan seperti menulis corat-coret, membuat huruf-huruf tertentu di udara, akan tetapi karena Song Kim berada di depannya, maka otomatis corat sana coret sini itu merupakan serangan-serangan yang amat aneh dan mengandung angin yang mengeluarkan bunyi bercuitan!

Sang Kim kembali terkejut setengah mati. Ilmu siluman apalagi ini? Tentu saja dia belum pernah menyaksikan, bahkan mendengarpun belum pernah, akan ilmu silat yang amat sakti dari keluarga Pulau Es, yaitu yang disebut Hong-in Bun-hoat (Ilmu Sastera Angin dan Awan). Gerakan ilmu ini seperti orang menulis huruf-huruf di udara, dan memang sesungguhnya, jurus-jurus ilmu silat ini merupakan penulisan huruf-huruf tertentu yang tentu saja mengandung daya serang tertentu pula yang amat aneh!

Repot sekali Song Kim menghadapi serangan-serangan aneh ini, dan dia harus menggunakan kelincahan tubuhnya untuk berloncatan mengelak ke sana-sini, kadang-kadang menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Bahkan diapun berusaha untuk balas menyerang, karena dia kini tahu bahwa kalau dia tidak membalas, kalau hanya mengalah dan mempertahankan diri saja, jangan-jangan dalam beberapa jurus saja dia akan roboh!

Terjadilah pertandingan yang amat seru. Memang Ceng Hiang hebat bukan main ilmunya, ilmu aseli dari keluarga Pulau Es, akan tetapi lawannyapun bukan orang biasa. Lee Song Kim adalah murid tersayang dari Hai-tok, dan boleh dibilang hampir seluruh ilmu kepandaian datuk itu sudah dikuasainya. Oleh karena itu, pertandingan itu berlangsung dengan amat serunya, akan tetapi perlahan-lahan, keaselian ilmu silat Ceng Hiang membuat Song Kim menjadi semakin kerepotan saja.

Padahal, Ceng Hiang baru mewarisi beberapa macam saja dari ilmu keluarga pulau Es. Ia menguasai Soat-im Sin-kang, yaitu ilmu menghimpun tenaga sakti yang berhawa dingin, kemudian menguasai pula ilmu Silat Hong- in Bun-hoat yang berupa penulisan huruf-huruf di udara sambil menyerang, dan ketiga dikuasainya pula ilmu aneh yang disebut Pat-sian Mo-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa dan Setan)! Ilmu ini dapat dimainkan dengan tangan kosong maupun dengan pedang, dan ini adalah merupakan penggabungan dari dua macam ilmu silat, yaitu Pat-san-kun (Silat Delapan Dewa) dan Pat-mo-kun (Silat Delapan Setan) yang dahulu telah tergabung menjadi ilmu silat aneh dari keluarga Pulau Es oleh Pendekar Super Sakti.

Pertandingan itu sudah berlangsung limapuluh jurus, dan tiba-tiba saja gadis itu mengeluarkan bentakan nyaring, akan tetapi tubuhnya mencelat ke belakang meninggalkan arena pertandingan. Song Kim berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah, karena baju di pundak kirinya telah berlubang! Kalau saja gadis itu menghendaki, tentu bukan baju itu yang berlubang, melainkan jalan darah di pundak itu yang tertotok, yang akibatnya dapat membuat lengannya lumpuh tertotok! Akan tetapi dia memang cerdik.

“Astaga...! Sungguh hebat sekali ilmu kepandaian nona Ceng. Biarpun aku harus belajar lagi sampai seratus tahun, belum tentu aku mampu menandingi ilmu silat nona. Dimana di dunia ini ada ilmu silat yang mampu menandingi ilmu silat keluarga Pulau Es?”

Post a Comment