Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 146

Memuat...

Song Kim lalu mencari akal dan akhirnya mengambil keputusan bahwa kalau dia bekerja seorang diri berusaha merampas Giok- liong-kiam dari tangan Koan jit, tak mungkin dia akan berhasil, bahkan mungkin membahayakan keselamatan dirinya sendiri. Oleh karena itu, dia mencari akal yang amat bagus. Dia lalu pergi ke kota raja!

Seperti biasa di kota-kota besar, tentu di situ terdapat banyak pencoleng- pencoleng, pencuri- pencuri dan pencopet- pencopet. Song Kim lalu memperlihatkan ilmu kepandaiannya. Dia melakukan keliling kota setiap hari, mengunjungi pasar-pasar dan setiap kali melihat ada pencopet, pencoleng yang merampas benda lain orang, dia segera turun tangan menangkapnya dan menyeret penjahat itu kepada petugas keamanan. Bukan itu saja, bahkan di waktu malam, dia berkeliling kota melalui genteng-genteng orang dan hampir setiap malam dia menangkapi maling-maling, bahkan pernah dalam satu malam dia menangkap tujuh orang maling di tujuh tempat. Maling-maling inipun diseretnya kepada petugas keamanan.

Tentu saja nama Lee Song Kim dalam waktu singkat menjulang tinggi di kalangan para petugas keamanan dan segera terdengar oleh komandannya. Dia dipanggil dan ditawari pekerjaan. Itulah yang dinanti-nanti oleh Song Kim, dan karena memang ilmu silatnya tinggi dan dia sengaja hendak mencari kedudukan, setiap kali dia keluar tentu menangkap penjahat-penjahat dan mata-mata pemberontak. Bahkan pernah dia sendiri membasmi gerombolan pemberontak, yaitu pejuang-pejuang yang mengadakan rapat gelap di luar kota, dan dia telah menangkap lebih dari duapuluh orang yang semua diseretnya ke pengadilan.

Kehebatan sepak terjang Song Kim ini terdengar oleh Pouw-ciangkun, komandan pasukan keamanan, dan diapun dinaikkan pangkatnya. Dalam waktu sebentar saja, akhirnya dia sendiri diangkat menjadi seorang opsir yang dapat diandalkan! Dan nama baiknya sebagai seorang opsir yang giat melakukan pembersihan terhadap para penjahat, menimbulkan banyak rasa suka, baik di kalangan pejabat-pejabat kota raja, rakyat jelata yang merasa maupun dilindungi.

Nama Lee Song Kim menjadi buah bibir orang, seorang opsir muda yang berwatak pendekar, suka menolong, bersikap halus lembut dan ramah, pandai merayu, apalagi memang tampan. Dan pemuda ini juga pandai membawa diri. Walaupun pada hakekatnya dia lain nampak watak aselinya, yaitu mata keranjang dan cabul, akan tetapi dia dapat menahan nafsunya dan hanya melakukan pengumbaran nafsanya jauh dari kota raja dan menyamar sebagai seorang pemuda biasa sehingga nama tetap harum.

Dalam keadaan demikianlah, opsir Lee Song Kim pernah berjumpa dengan Ceng Hiang dan dia seketika dia tergila-gila. Bukan hanya tergila-gila oleh kecantik jelitaan gadis itu, akan tetapi juga karena setelah dia mengikuti komandannya berkunjung ke rumah gadis itu, dia mendengar bahwa gadis itu adalah seorang pewaris ilmu- ilmu para pendekar pulau Es! Gadisnya begitu cantik jelita, terkenal pandai ilmu silat, dan puteri tunggal seorang pangeran lagi! Hati pemuda mana yang takkan tertarik?

Terlalu banyak hal-hal yang menguntungkan pada diri Ceng Hiang untuk membuat hati Soug Kim tergila-gila. Komandannya, seorang panglima, yaitu Pouw-ciangkun, sahabat baik dari Pangeran Ceng Tiu Ong, maklum akan isi hati pembantunya yang disayangnya, maka setelah berunding, komandan yang baik hati ini lalu melamarkan Ceng Hiang untuk dijodohkan dengan Lee Song Kim, mengingat bahwa Ceng Hiang berusia dewasa dan belum terikat perjodohan dengan orang lain.

Komandan Pouw maklum akan watak Pangeran Ceng Tiu Ong yang tidak gila pangkat dan gila hormat. Maka dia berani mengajukan Lee Song Kim, bukan bangsawan, untuk menjadi calon suami Ceng Hiang. Dan memang benarlah, pangeran itu sama sekali tidak marah, bahkan dia kelihatan setuju sekali!

“Sudah sejak beberapa tahun aku ingin mempunyai mantu. Akan tetapi engkau tahu sendiri watak anak sekarang, Pouw-ciangkun. Anakku Hiang itu masih belum juga mau menikah, dengan alasan bahwa karena ibunya tidak ada, ia tidak ingin meninggalkan aku, karena kalau sudah menikah, dia tentu akan dibawa pergi suaminya. Dan pula, demikian menurut katanya, ia hanya mau menikah dengan pemuda yang benar-benar cocok di hatinya. Sudah banyak pemuda di kota raja ini, baik putera bangsawan maupun hartawan, bahkan ada keponakan kaisar sendiri, yang kuperkenalkan kepadanya. Akan tetapi mereka semua itu ditampiknya begitu saja! Ada yang kurang tampan, kalau sudah ada yang tampan katanya kurang pandai, atau lemah tidak pandai ilmu silat seperti dirinya sendiri. Wah, kalau sampai sekali ini ia mau menjadi jodoh Lee Song Kim, perwira muda itu, hatiku akan girang sekali. Kebetulan malah kalau Lee Song Kim itu bukan bangsawan dan sudah tidak mempunyai ayah ibu, dia malah bisa tinggal di sini bersama Hiang, dan menemani aku. Aha, betapa nikmatnya hidup begitu, apalagi kalau dapat menimang cucuku!” Akan tetapi, kembali pangeran tua itu kecewa. Ketika dia mengemukakan pendapatnya tentang pinangan yang dilakukan Pouw-ciangkun untuk Song

Kim sebagai calon suaminya, gadis itu mengerutkan alisnya.

“Ayah, aku belum mengenal betul orang dan belum tahu apakah sifat- sifatnya akan mencocoki hatiku.”

“Tapi dia jelas tampan dan gagah, anakku. Namanya sudah dikenal di seluruh kota raja, baik oleh para bangsawan, pejabat maupun rakyat. Sudah puluhan kali dia menangkapi orang jahat. Dia seorang opsir muda berjiwa pendekar.”

“Bagaimanapun juga, aku harus mengenal wataknya dulu, ayah.” “Jadi engkau tidak keberatan kalau untuk kuperkenalkan?”

“Tentu saja tidak. Kalau berkenalan saja, dengan siapapun aku tidak keberatan."

Demikianlah, opsir Lee Song Kim diundang dan diperkenalkan, dan menurut penglihatan Ceng Hiang, memang Song Kim seorang pemuda yang baik sekali, sikapnya sopan, peramah, wajahnya tampan, pengetahuannya luas. Hanya Satu hal yang belum diketahuinya benar, yajtu tentang ilmu silatnya walaupun dalam percakapan, pemuda itu juga luas pengetahuannya dalam hal ilmu silat.

Setelah mendengar dari Kiki bahwa pemuda itu adalah suheng dari Kiki yang ia tahu amat lihai, rasa sukanya makin besar.

Hati Song Kim berdebar penuh kegembiraan ketika sore hari itu dia menerima undangan dari Ceng Hiang! Bukan dari ayah gadis itu seperti biasa, melainkan dari gadis itu sendiri secara langsung, dengan mengirim utusan! Wah, agaknya besar harapannya kini, pikirnya gembira. Dia lalu berdandan sebaik mungkin, menyisir dan meminyaki rambutnya sampai mengkilap, memakai pakaian terindah dan memakai pula minyak wangi. Dengan dandanan yang tentu akan menjatuhkan hati setiap orang wanita, dia tersenyum-senyum dan pergi berkuda menuju ke gedung tua tempat tinggal Ceng Hiang!

Dapat dibayangkan betapa girang hatinya ketika yang menyambut kedatangannya adalah Ceng Hiang sendiri. Gadis itupun nampak amat manisnya, apalagi dengan pakaian yang ketat dan ringkas, nampak betapa bentuk tubuhnya amat indah.

“Maaf, Lee-ciangkun, ayah tidak dapat keluar menemuimu karena dia sedang sibuk dengan kitab-kitab kuno yang baru didapatnya dan dibawanya dari utara,” kata Ceng Hiang. Song Kim menjura dengan sopan.

“Ayahmu adalah seorang sasterawan terbesar untuk jaman ini, nona, maka saya tidak merasa heran kalau di antara kitab-kitabnya, dia merasa seperti berada di sorga.”

Seperti kalau aku berada di dekatmu, demikian bisik hatinya sambil menatap wajah yang amat cantik itu penuh kagum.

“Pula, yang mempunyai kepentingan denganmu memang aku, ciangkun.

Aku mempunyai sedikit urusan denganmu.”

“Katakanlah, nona. Apa yang dapat kulakukan untukmu? Biar harus menerjang lautan api atau menyelam ke dasar samudera, biar harus mengorbankan nyawa, akan saya lakukan untuk membantumu, nona.”

Ceng Hiang tersenyum. Laki-laki ini memang hebat, pandai sekali bermanis muka dan merayu, dan betapa mudahnya menjatuhkan hati kepada seorang pemuda seperti ini, pikirnya. Akan tetapi ia melihat semua ketampanan dan baik itu sebagai suatu keadaan lahiriah belaka, seperti pakaian atau kedok. Ia belum dapat melihat apa yang berada di balik kedok itu. Sudah berkali-kali, semenjak pinangan itu, dengan kata-kata halus atau senyum dan isyarat melalui pandang mata, pemuda ini menjelaskan cinta kasihnya yang besar dan meluap-luap terhadap dirinya. Sekarangpun, kalau tidak mencinta, mana ada orang mau bersikap mengorbankan nyawa untuk dirinya?

“Tidak sehebat itu permintaanku, ciangkun. Aku hanya minta untuk dapat menguji kepandaian silatmu.”

Song Kim pura-pura terkejut, walaupun sebenarnya hatinya girang bukan main. Dia dapat menduga bahwa permintaan menguji kepandaian ini agaknya merupakan ujian terakhir untuk melihat sampai dimana tingkat kepandaiannya agar gadis ini tidak ragu-ragu menerimanya sebagai suami. Dan dia merasa yakin akan dapat mengalahkan gadis ini dalam ilmu silat.

“Bagaimana nona mengajukan permintaan seperti itu? Lebih baik aku disuruh bertanding melawan harimaumu itu, atau dengan puluhan orang yang mengeroyokku. Bagaimana kalau aku sampai kesalahan tangan dan melukaimu? Luka sedikit saja akan membuat aku selama hidupku menyesal setengah mati.”

Lagi-lagi kata rayuan maut, pikir Ceng Hiang sambil tersenyum.

“Jangan khawatir, aku dapat menjaga diri. Dan pula, bukankah kita hanya menguji kepandaian saja, bukannya berkelahi untuk saling membunuh?"

Song Kim memperlihatkan wajah seperti orang terpaksa.

“Baiklah, nona, kalau begitu. Akan tetapi aku sudah mendengar akan kehebatan ilmu silat nona yang menjadi pewaris dari ilmu silat keluarga Pulau Es, mungkin baru beberapa jurus saja aku sudah akan kalah.”

Tentu saja batinnya Song Kim tidak berkata demikian. Dia tahu bahwa kalau dia sampai kalah, makin tipis harapannya untuk diterima menjadi calon suami. Dia harus menang, menang mutlak akan tetapi jangan sampai melukai nona manis ini.

“Mari, kuantar nona ke lian-bu-thia.”

“Jangan di ruangan berlatih silat, Ciangkun,” kata Ceng Hiang cepat. “Ayahku akan marah kalau mengetahui bahwa aku mengajakmu

bertanding ilmu silat.”

“Tidak di lian-bu-thia, lalu di mana, nona? Di kebun?”

“Juga tidak. Akan ketahuan para pelayan dan akhirnya ayah akan tahu juga. Kita harus keluar dari rumahku, bahkan dari kota raja. Kita bertanding di tempat yang sunyi di luar kota raja.”

Wah, jantung Lee Song Kim berdebar saking girangnya. Berduaan saja dengan gadis ini di luar kota raja, di tempat sunyi! Kesempatan yang amat baik untuk mendapatkannya, secara balus maupun kasar. Akan tetapi pikiran itu segera diusirnya cepat-cepat. Tolol kau, makinya. Gadis ini akan diambil sebagai calon isteri. Gadis ini adalah puteri pangeran, tak boleh disamakan dengan gadis-gadis dusun atau kota yang pernah diculik dan diperkosanya atau dijatuhkan dengan rayuannya, lalu ditinggalkan begitu saja setelah dia merengguk kepuasan.

“Baiklah, nona. Aku hanya mentaati semua perintahmu.”

Ceng Hiang yang memang sudah mempersiapkan segalanya sebelum pemuda itu datang, lalu mengajaknya ke samping gedung dimana sudah ditambatkan dua ekor kuda. Ia lalu mengajak Song Kim menunggang kuda dan tak lama kemudian, merekapun melarikan kuda keluar dari kota raja, menuju ke sebuah hutan kecil yang sunyi.

“Di hutan itu biasa aku berburu kelinci. Tempatnya sunyi dan aman kalau untuk mengadakan pibu (adu kepandaian).”

Setelah tiba di dalam hutan, di lapangan rumput yang cukup luas, mereka turun dari kuda dan menambatkan kuda mereka pada sebatang pohon. Kemudian, Ceng Hiang lalu berjalan menuju ke tengah lapangan rumput, diikuti oleh Song Kim. Bukan main, pikirnya. Pinggul itu!

Setelah tiba di tengah lapangan rumput, Song Kim hampir saja tidak kuat untuk tidak merangkul dan merebahkan gadis itu di situ dan dipaksanya bermain cinta. Akan tetapi ambisinya untuk mendapatkan kedudukan tinggi agar dia mempunyai cukup kekuasaan untuk kelak menyaingi Koan Jit dan merampas Giok-liong-kiam, lebih besar dari pada nafsunya.

Ceng Hiang membalikkan tubuh menghadapi pemuda itu.

“Nah, Lee-ciangkun, sebelum kita mulai mengadu kepandaian, sekali lagi aku ingin mendengar, sebenarnya engkau ini murid siapakah?”

Post a Comment