Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 145

Memuat...

“Orang yang... kaucinta, kumaki pengkhianat dan kau tidak marah?” “Hushh, lancang kau!”

Kini Ceng Hiang mencubit pipi Kiki. “Siapabilang aku cinta padanya?”

“Jadi benar-benar kau tidak sakit hati mendengar dia dimaki pengkhianat?”

Ceng Hiang menggeleng kepala. Kiki lalu merangkulnya.

“Horee! Kalau begitu… berarti engkau tidak cinta padanya, enci Hiang! Jelaslah! Kalau kau cinta seseorang, dan orang itu dimaki pengkhianat, sudah pasti engkau akan marah. Dan sekarang kau tidak marah, itu berarti kau tidak cinta pada bekas suhengku itu.”

“Akupun tidak tahu dan mungkin aku tidak cinta padanya, akan tetapi ayah kelihatan begitu yakin akan kebaikannya, dan agaknya ayah mengharapkan aku menerimanya. Dan aku… kau tahu, ayah hanya mempunyai anak aku seorang, aku tidak tega mengecewakan hatinya.”

“Wah-wah, kau lupa padaku, enci? Ingat, aku pun anaknya!” Ceng Hiang menciumnya.

“Maaf, tapi kan lain, adikku?”

“Jadi, kalau begitu… biarpun kau tidak cinta, engkau akan menerima saja pinangan itu dengan mata dipejamkan? Begitu?”

Ceng Hiang mengangguk.

“Mungkin saja, kalau hal itu membahagiakan hati ayah.” “Tidak betul itu! Aku akan menentangnya!”

Tiba-tiba Kiki berseru dengan nada suara marah, dan berdiri turun dari tempat tidur dan bertolak pinggang.

“Eh, eh, apa-apaan kau ini? Apa kesurupan setan? tiba-tiba marah-marah seperti itu!” Ceng Hiang mengomel.

“Aku akan menentang karena tidak adil. Kita ini bukan ayam atau kambing atau babi yang boleh begitu saja dituntun ke pejagalan disembelih, hanya untuk untuk menyenangkan manusia. Kita ini berhak memilih, enciku yang baik. Manusia yang berhak menikmati hidup ini! Kalau memang engkau tidak cinta pada Lee Song Kim dan gi-hu hendak memaksamu menerima menjadi calon isterinya, wah, aku akan memberontak! Aku akan menghadap gi-hu dan aku akan membelamu. Pendeknya, aku tidak rela melihat enciku yang tersayang dijadikan ayam betina untuk disembelih dan disuguhkan orang- orang hanya untuk membikin senang hati orang lain. Tidak! Kecuali kalau engkau cinta padanya, nah, baru itu benar namanya. Kalau engkau mencinta seorang dan orang itupun cinta padamu, barulah boleh diadakan pernikahan. Dan kalau ada yang menentang, aku pula yang akan membelamu mati-matian!” Kini kedua mata Ceng Hiang yang menjadi basah. Ia menarik tangan Kiki dan merangkul adiknya itu sambil menangis perlahan saking girang dan terharu hatinya. Selama hidupnya, Ceng Hiang belum pernah merasakan kasih sayang seorang saudara perempuan, apalagi karena ia masih kecil ketika ibunya meninggal dunia. Kiki juga menangis dan kedua orang wanita yang sama-sama gagah perkasa itu, kini benar-benar menjadi wanita-wanita sejati yang mudah dikuasai perasannya dan suka meluapkan perasaan itu lewat air

mata dari dua pasang mata yang indah itu.

Dari Ceng Hiang, Kiki mendapat keterangan bahwa Song Kim naik pangkat setelah terjadi penyerbuan di tempat ulang tahun Hai-tok, dan kini tinggal di dalam sebuah gedung yang cukup mewah, dijaga oleh serdadu-serdadu pengawal.

“Engkau jangan mengunjunginya, karena bisa terjadi salah paham setelah kalian pernah berkelahi. Juga aku ingin sekali melihat sikapnya kalau bertemu denganmu. Karena itu, Kiki… aku akan menggunakan akal agar dia datang ke sini dan...”

Ceng Hiang lalu membisikkan kata-kata di dekat telinga Kiki, dan dua orang gadis itu tertawa cekikikan seperti dua orang anak kecil yang merencanakan sesuatu yang nakal. Memang, di dalam hati masing-masing tumbuh kegembiraan yang selama ini belum pernah mereka rasakan, setelah mereka merasa saling memiliki sebagai saudara.

Memang cinta asmara merupakan suatu hal yang amat rumit. Tiada habisnya cerita di dunia ini dikisahkan oleh para Sasterawan dan pengarang tentang cinta asmara, sebab-sebabnya, akibat-akibatnya dan hal-hal yang terjadi sehubungan dengan perasaan yang selalu menyerang hati manusia itu, tak perduli dia berbangsa apa, pria atau wanita, tua ataupun muda.

Bagi sebagian besar pria, kalau dia jatuh cinta kepada seorang wanita, persoalannya lebih mudah dan sederhana lagi, dan dia sendiripun lebih mudah untuk memahami keadaan dirinya. Dia tentu selalu rindu kepada wanita yang dicintanya itu, merasa suka dan selalu merasa kasihan, ingin selalu berdekatan, ingin selalu menyenangkan hatinya, ingin selalu bermesraan dan segala sesuatu pada diri wanita itu nampak olehnya sebagai yang paling indah, paling baik dan paling benar.

Sebaliknya, pada diri wanita, cinta asmara ini lebih lembut sifatnya, namun kadang-kadang menyerang lebih mendalam lagi walaupun wanita biasanya pandai menyembunyikan perasaan hatinya. Seorang wanita dapat mencinta secara mati-matian, akan tetapi dapat pula mengubah cinta itu menjadi kebencian yang berlebihan. Hal inipun tidak aneh karena sebagian besar batin wanita dipenuhi oleh emosi, dan wanita lebih menurutkan bisikan atau dorongan emosi perasaan hati dari pada nasihat pikiran jernih.

Ceng Hiang adalah seorang gadis yang luar biasa. Bukan saja ia telah mewarisi beberapa macam ilmu silat pilihan dari keturunan keluarga para pendekat Pulau Es, akan tetapi ayahnya juga mendidiknya dalam hal kesusasteraan. Ia bukan hanya pandai silat, akan tetapi juga pandai membaca menulis, pandai membuat sajak-sajak indah dan menikmati keindahan sajak- sajak, pandai menyulam, bahkan pandai pula bernyanyi dan memainkan yang- kim (semacam kecapi) dan suling. Karena ia terpelajar, maka ia mempelajari pula sopan santun dan tata susila, cerdik bukan main.

Akan tetapi, menghadapi kata yang disebut ‘cinta’, iapun bingung! Karena itu, bukan membohong ketika ia mengatakan kepada Kiki bahwa ia tidak tahu apakah ia mencinta Lee Song Kim atau tidak.

Song Kim memang cerdik. Ketika dia meninggalkan Pulau Layar, dengan sembunyi-sembunyi dia telah mengikuti perahu Kiki, bahkan membonceng di bawah perahu, dan ketika malam tiba, dia membikin Kiki tidak berdaya dan hampir saja dia berhasil memperkosa Kiki di tengah lautan yang gelap gulita itu. Agaknya kekuasaan alam tidak menghendaki perbuatan jahat itu terjadi, maka tiba-tiba datang badai yang mengguncang perahu, bahkan membuat perahu itu pecah dan terbalik. Ketika dia berhasil menarik Kiki yang masih terbelenggu pada tiang ke pantai dan hendak melanjutkan perbuatan bejatnya untuk memperkosa, tiba-tiba saja muncul Ci Kong yang menghalanginya dan karena takut kalau dikenal Kiki, terpaksa dia melarikan diri.

Song Kim lalu melakukan penyelidikan seorang diri dan mendengar bahwa Koan Jit berada di kota Kanton. Diapun cepat menyusul ke kota itu. Akan tetapi, di Kanton dia mendengar bahwa Koan Jit telah menjadi seorang komandan pasukan Harimau Terbang yang menjadi pasukan kepercayaan orang kulit putih! Kedudukan Koan Jit demikian hebatnya sehingga dia sendiri merasa jerih untuk melakukan penyelidikan nekat ke markas Harimau Terbang.

Post a Comment