Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 144

Memuat...

“Heii, apakah engkau tidak percaya kepadaku, enci Hiang? Itulah suhengku!”

“Maksudku, apakah dia mempunyai guru lain dan hanya kebetulan saja menjadi murid ayahmu dan hanya untuk beberapa bulan atau tahun saja?”

“Tidak, dia menjadi murid ayah sejak dia masih kecil. Ayahkulah yang menggemblengnya sejak dia masih kecil sekali sampai dewasa. Bahkan hampir semua ilmu ayahku telah dia kuasai, dia murid yang amat disayang oleh ayahku.”

“Di antara banyak murid-murid ayahmu?”

“Tidak. Yang benar-benar menjadi murid ayah hanyalah Lee Song Kim itu dan aku sendiri. Yang lainnya itu bukan murid benar-benar, hanya anak buah yang dilatih satu dua jurus ilmu saja. Tapi, kenapa kautanyakan itu semua, enci?”

“Karena, adik Kiki, dia itu tidak pernah mengaku sebagai murid Hai-tok. Dia mengaku bahwa ilmu silatnya adalah ilmu silat keluarga dari nenek moyangnya.”

“Wah, kalau begitu… hanya ada dua kemungkinan! Pertama, dia itu bukan suhengku, hanya orang yang sama namanya saja, dan kedua, dia itu pembohong besar, mungkin karena dia merasa malu mengaku menjadi murid Hai-tok ayahku!”

“Dan menurut dugaanmu, di antara dua kemungkinan itu, yang manakah dia?”

“Yang kedua! Aku yakin bahwa dia itulah Lee Song Kim suhengku...” “Ssttt, nanti dulu, adikku, jangan kau memburuk-burukkan dia karena

masih ada hal lain lagi mengenai dirinya yang lebih gawat sekali bagiku. Dia adalah laki-laki yang dengan perantaraan komandannya, seorang panglima sahabat baik ayahku, yang telah... mengajukan pinangan atas diriku karena dia mengaku telah kehilangan ayah bundanya dan hidup sebatangkara tak bersanak keluarga lagi.”

“Ehh... Ohhh... kalau begitu... ahhh…”

Kiki terbelalak dan ternganga, bengong tak dapat berkata apa-apa lagi. Sungguh perkaranya kini menjadi berbalik dan berubah sama sekail! Kenyataan yang mengejutkan bahwa suhengnya itu menjadi kenalan baik, bahkan melamar Ceng Hiang, Sungguh membuat kedudukan suhengnya itu lain sama sekali dan mana dia berani menjelek-jelekkan suhengnya di depan enci angkat ini? Tapi... suhengnya itu seorang pengkhianat, seorang yang murtad dan jahat. Ia mengerutkan alisnya.

Pantaskah orang seperti Lee Song Kim menjadi suami seorang gadis seperti Ceng Hiang ini? Dan iapun menimbang-nimbang. Sebetulnya, apakah kesalahan Lee Song Kim? Tentang dia meninggalkan gurunya, hal itu memang atas perintah Hai-tok untuk mencari jejak Koan Jit. Kemudian Song Kim menjadi perwira kerajaan. Walaupun hal itu sama sekali tidak cocok bahkan bertentangan dengan politik perjuangan melawan penjajah, akan tetapi secara pribadi, apakah hal itu boleh dipersalahkan?

Dan kalau Song Kim lalu mengkhianati gurunya dan melaporkan pertemuan dalam pesta ulang tahun, bukankah kewajibannya sebagai seorang opsir dan petugas Kerajaan Ceng, dan dia hanya bertindak demi kepentingan pemerintah yang diabdinya? Juga ketika dia menyerang perahu Bajak Naga Lautan, bukankah itu juga merupakan tugasnya sebagai opsir Kerajaan Ceng?

Berpikir demikian, Kiki menjadi bimbang dan alisnya terus berkerut, mukanya sebentar merah sebentar pucat, dan ia seperti melamun, lupa bahwa sejak tadi ia dipandang oleh kakak perempuan angkatnya itu.

Ceng Hiang sejak tadi yang memperhatikan keadaan Kiki, memandang penuh selidik, juga terheran-heran, lalu memegang kedua pundak adiknya itu dan dipaksanya adiknya bertemu pandang. Sinar matanya yang bening tajam itu memandang penuh selidik.

“Haii… bangunlah, Kiki. Apakah engkau mimpi? Kenapa setelah mendengar tentang Lee Song Kim, engkau hanya ber-ah-eh-oh seperti orang yang tiba-tiba menjadi gagu?”

Tiba-tiba Ceng Hiang teringat sesuatu dan senyumnyapun menghilang, terganti kekhawatiran pada wajahnya.

“Adikku yang baik. Kita bukan orang lain. Aku encimu dan engkau adikku. Kita harus jujur. Apakah… apakah… engkau mencinta suhengmu yang bernama Lee Song Kim itu?”

Kini Kiki yang terkejut ditanya begitu.

“Mencinta suheng? Wah, tidak Sama sekali tidak ! Memang dulu pernah ayahku condong untuk menjodohkan kami, akan tetapi aku tidak mau dan sekarang ayah sama sekali tidak menghendakinya lagi.”

“Dan dia... apakah dia cinta padamu?”

“Wah, mana aku tahu, enci? Kami kakak beradik seperguruan. Hubungan kami seperti kakak dan adik saja. Hal itupun aku tidak tahu. Aku tadi terkejut karena sama sekali tidak mengira bahwa suheng mengajukan pinangan dan akan menjadi calon suamimu.”

“Hushh, jangan sembrono. Aku belum menerimanya! Kukatakan tadi bahwa dia dengan perantaraan komandannya, meminang aku, dan agaknya ayahku suka kepadanya. Akan tetapi ayah amat cinta kepadaku dan ayah tidak hendak memaksa. Dia menanti jawabanku sendiri dan karena aku masih bimbang, aku belum beri jawaban. Tapi, kenapa ayahmu yang dulu ingin menjodohkan kalian kini merubah pikirannya?”

Kiki bukan seorang gadis yahg bodoh. Ia cerdik sekali, dan kini tahulah ia bahwa encinya ini hendak menguras keterangan dari dirinya untuk mengenal siapa sebenarnya pemuda bernama Lee Song Kim yang meminangnya itu. Ia harus berhati-hati, karena tidak tahu sampai dimana hubungan antara suhengnya dan encinya ini, dan apakah encinya ini mencita Song Kim. Ia tahu bahwa Song Kim tampan gagah, dan juga pandai merayu, kelihatannya seorang pendekar sasterawan yang budiman.

“Tentu enci tahu betapa perasaan ayahku mendengar bahwa dia telah menjadi seorang perwira dari pemerintah Ceng-tiauw, bukan? Nah, sejak dia menjadi perwira itu, tentu saja pendirian ayah berubah. Akan tetapi seperti kukatakan tadi, tidak ada perasaan apa-apa dalam hatiku terhadap suheng, maka akupun tidak perduli lagi.”

“Tapi, kenapa sekarang engkau disuruh ayahmu untuk mencari tempat tinggalnya?” kembali Ceng Hiang mengejar dan pandang matanya semakin tajam menyelidik.

“Terus terang saja, kalau jumpa, aku diminta oleh ayah untuk membujuk agar dia mau kembali kepada kami, mau meninggalkan kedudukannya yang sekarang.”

Ceng Hiang nampak lega dan percaya, terbukti dari helaan napasnya yang panjang.

“Ah,-begitukah? Akan tetapi kurasa dia tidak akan mau kembali. Kedudukannya sudah semakin baik, dan karena ilmu kepandaiannya tinggi, baginya terbuka kesempatan untuk mencapai kedudukan tinggi, mungkin bahkan sebagai panglima muda di istana.”

“Tapi, bagaimana dengan engkau sendiri, enci Hiang? Apakah... ada kecondongan hatimu untuk menerimanya?”

“Apakah engkau cinta padanya?”

Kini Kiki yang menatap dengan sinar mata tajam penuh selidik. Kembali Ceng Hiang menarik napas panjang dan nampak ragu ragu.

“Entahlah, adikku. Entahlah. Aku memang kagum kepadanya, akan tetapi Cinta? Entahlah, aku sendiri tidak tahu bagaimana sih cinta itu. Engkau yang hidup sebagai seorang gadis kang-ouw dan sudah luas sekali pengalamanmu, coba katakan, adikku,bagaimana sih rasanya kalau orang jatuh cinta? Aku tidak yakin apakah aku cinta atau tidak padanya, walaupun aku kagum dan suka kepada suhengmu karena dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, bertampang ganteng dan bersikap sopan dan lembut. Bagaimana sih cinta itu?”

Di dalam hatinya, Kiki menaruh rasa khawatir. Memang suhengnya itu perayu benar dan pandai bersandiwara, sikapnya selalu baik dan memang tampan. Akan tetapi ditanya tentang cinta, dara inipun menjadi bingung sendiri. Apa sih cinta itu? Ia lalu mengingat-ingat, membayangkan tampang laki-laki yang pernah dikenalnya dan dikaguminya. Banyak pendekar muda yang gagah perkasa dan ganteng, terutama sekali Tan Ci Kong itu! Ia sendiri bertanya-tanya, apakah ia mencinta Ci Kong, akan tetapi ia sendiri tidak mampu menjawab. Dan kini enci angkatnya bertanya tentang cinta kepadanya! “Cinta? Wah, aku lebih muda darimu, end! Biarpun aku sudah banyak menjelajah dan banyak mengenal orang, akan tetapi dalam urusan cinta mencinta, pengetahuanku juga nol besar! Aku tak dapat menjawab. Akan tetapi, bukankah kalau benar-benar engkau mencinta seorang pemuda, ada terasa di dalam hatimu? Bagaimana perasaanmu terhadap suhengku itu? Apakah ada rindu? Apakah ada keinginan untuk berdekatan terus? Apakah ada perasaan mesra dan… ah, bagaimana lagi ya? Aku tidak tahu!”

Dan keduanya lalu tertawa. Ceng Hiang merangkulnya dan mencium pipinya. Kata-kata dan sikap adik angkatnya itu benar-benar lucu baginya, dan ia memperhatikan wajah Kiki.

“Kalau saja aku ini seorang laki-laki, atau engkau seorang laki-laki, agaknya aku bisa jatuh cinta padamu, Kiki. Tapi kita sama-sama perempuan, sehingga di antara kita tentu lain-lain rasanya di hati. Aku tidak tahu dan aku ragu-ragu. Tapi, coba ceritakan lebih banyak tentang suhengmu itu. Orang tuanya dimana? Dari mana dia berasal? Dan pekerjaan hebat apa saja yang pernah dilakukannya? Dan bagaimana dalam pergaulannya denganmu? Apakah dia jujur? Apakah dia dapat dipercaya? Apakah dia penyabar ataukah pemarah? Engkau sebagai sumoinya yang hidup sejak kecil dengan dia tentu mengenalnya dengan baik.”

Kiki menjadi semakin bingung.

“Wah, wah… pertanyaanmu ini sungguh berat bagiku untuk menjawabnya, enci. Bagaimana aku dapat menilai orang yang pernah menjadi suhengku akan tetapi juga pernah menjadi musuhku. Ketahuilah, belum lama ini belum ada dua bulan ini, telah terjadi perang antara perahu bajak yang kupimpin dan perahu kerajaan yang dipimpinnya. Terpaksa kami, suheng dan sumoi, bertanding di perahu secara mati-matian. Karena pelengkapannya lebih baik dan orang- orangnya lebih banyak, terpaksa aku melarikan diri bersama anak buahku. Ketahuilah, kami telah bertanding mati-matian dan nyaris seorang di antara kita tewas. Nah, bagaimana sekarang aku harus menilainya? memang perkelahian dan permusuhan yang terjadi antara kami berdua bukan persoalan pribadi, melainkan disebabkan karena dia meninggalkan kelompok kami dan menjadi perwira pemerintah. Tentu saja bagi kami, dia itu kami anggap seorang pengkhianat. Maafkan aku, enci...”

Ceng Hiang mengangguk-angguk.

“Tidak apa adikku, aku mengerti benar dan dapat merasakan apa yang kauceritakan semua itu.”

“Kau tidak marah kepadaku?” “Kenapa marah?”

Post a Comment