“Nah, sudah siang, dan itu banyak sudah orang yang keluar dari dusun, tentu hendak bekerja di sawah. Mari kita datang ke petani yang kautitipi peti itu, adik Kiki.”
Mereka lalu bangkit dan memasuki dusun setelah Ceng Hiang memesan kepada kusirnya yang sudah bangun untuk menunggu di situ. Tentu saja orang-orang dusun memandang dengan bengong, heran dan kagum melihat masuknya dua orang gadis yang demikian cantik dan mewahnya ke dusun mereka. Akan tetapi, kakek dan nenek pemilik rumah gubuk yang dititipi peti oleh Kiki, menyambut Kiki dengan muka cerah.
“Wah, girang sekali hati kami melihat nona datang. Hati kami selalu tidak enak semenjak nona menitipkan peti itu.” kata si kakek.
Kiki mengerutkan alisnya. “Kenapa, kek?”
Ketika menitipkan, Kiki hanya mengatakan bahwa isinya adalah kitab-kitab kuno yang tidak berharga dan karena keberatan, ia titipkan di situ untuk dijemput beberapa hari kemudian, dan untuk itu ia memberi upah yang cukup lumayan kepada kakek dan nenek itu.
Setelah celingukan ke sana sini, kakek itu lalu berkata kepada Kiki, suaranya berbisik.
“Beberapa hari yang lalu, di dusun ini muncul tiga orang hwesio yang amat jahat. Mereka bertanya-tanya tentang peti hitam berisi kitab-kitab. Untung kami berdua tak pernah bercerita kepada siapa saja, sehingga tidak ada orang yang tahu bahwa kamilah yang menyimpan benda itu, dan kamipun diam saja, pura-pura tidak tahu. Dan tiga orang kakek pendeta itu telah menyiksa beberapa orang laki-laki muda dari dusun ini yang dipaksanya untuk mengaku, padahal mereka benar-benar tidak tahu.”
Tentu saja Kiki merasa terkejut bukan main mendengar ini. Akan tetapi hatinya juga lega ketika ia melihat bahwa peti hitam itu masih utuh, disembunyikan di dalam kamar, di bawah tempat tidur reyot milik kakek dan nenek itu. Iadan Ceng Hiang cepat membuka peti dan melihat bahwa memang kitab-kitab kuno itu masih lengkap, jumlahnya tidak kurang dari limapuluh jilid, sebagian besar adalah kitab-kitab agama yang amat kuno dan tulisannya memakai huruf-huruf yang mereka berdua tak dapat membacanya.
“Sekarang dimana tiga orang hwesio itu, kek?” tanya Kiki, hatinya merasa tidak enak sekali.
Apalagi Ceng Hiang, alisnya berkerut dan ia mendengarkan dengan hati tegang.
“Tidak tahu, nona. Setelah menghajar orang, mereka lalu pergi dengan ancaman bahwa kalau ada yang menyembunyikan benda itu, kelak kalau terdapat orangnya akan dibakar hidup-hidup dan dikirimi ke neraka oleh doa- doa mereka!”
“lhhh!” seru Kiki.
“Hwesio macam apa sejahat itu!”
“Hati-hati, adik Kiki… aku yakin bahwa mereka itu tentu sengaja datang untuk merampas kitab-kitab ini.”
“Enci Hiang, bagaimana kau bisa tahu?”
“Sudah jelas, mereka mencari benda ini dan menyiksa orang, dan mereka adalah hwesio-hwesio, sedangkan kitab-kitab ini adalah kitab-kitab tentang agama yang kuno, yang oleh ayah diambil dari kuil besar kuno di Mukden atas perintah kaisar sendiri yang ingin menyelamatkan semua kitab kuno agar dirawat dan disusun oleh ayahku sebagai pengisi perpustakaan istana.”
“Ah, kalau begitu, tentu mereka itu pendeta-pendeta yang datang dari Mukden,” kata Kiki.
“Belum tentu. Para pendeta di sana tentu tidak berani melakukan hal yang sifatnya memberontak itu. Mungkin juga teman-teman mereka, atau pendeta- pendeta pendatang dari lain tempat yang bersekongkol dengan pendeta- pendeta Mukden.”
“Atau mungkin juga orang-orang jahat yang menyamar sebagai pendeta- pendeta untuk merampas kitab-kitab ini,” kata Kiki.
“Rasanya tidak mungkin itu, adikku. Penjahat mana yang akan suka merampas kitab kuno seperti ini? Kita sendiripun tidak bisa membacanya. Sejak kecil aku dididik ayah dengan ilmu sastera, akan tetapi kitab-kitab ini aku hanya bisa membaca beberapa belas hurufnya saja. Untuk apa mereka bersusah payah merampas kitab-kitab ini? Dijualpun takkan laku.”
Dua orang gadis itu menduga-duga, akan tetapi karena jelas bahwa ada musuh yang berniat buruk merampas peti itu, Kiki lalu cepat memanggul peti itu, di atas pundaknya dan berkata.
“Mari kita, cepat kembali ke kota raja, enci.”
Bergegas keduanya lalu keluar dari dusun itu menuju ke tempat dimana mereka meninggalkan kereta. Agaknya kusir yang tahu akan kewajibannya itu sudah siap karena dia sudah memasang lagi dua ekor kuda itu di depan kereta dan sudah duduk di tempatnya, yaitu di bangku depan. Melihat bahwa kereta sudah siap, Ceng Hiang berkata.
“Mari kita cepat pulang!”
Ceng Hiang bersama Kiki yang membawa peti hitam itu, iapun naik dan memasuki kereta. Hati mereka lega setelah kereta itu bergerak meninggalkan tempat itu dengan cepatnya. Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kereta itu makin lama bergerak semakin cepat sampai membalap seperti dikejar setan atau sedang berlumba dengan kereta lain. Melihat ini, Ceng Hiang membentak.
“Kusir, kenapa begini cepat? Lambatkan sedikit larinya kuda, apa engkau ingin celaka di tempat yang jalannya tidak rata ini?”
Sungguh aneh. Kusir tidak menjawab, akan tetapi larinya dua ekor kuda itu tidak berkurang, bahkan semakin membalap.
Kiki mengerutkan alisnya dan membuka gorden, memandang ke muka. Kusir itu masih sama seperti kemarin, jangkung dan mengenakan pakaian serba biru. Akan tetapi ia tidak melihat muka orang itu dan ia menjadi curiga.
“Berhenti! Hayo hentikan kereta ini atau engkau akan kupukul!” bentaknya kepada kusir itu.
Kiki marah, karena kini melihat bahwa kereta itu mengambil jalan yang salah, bukan menuju ke kota raja, melainkan membelok dan kini berada di luar sebuah hutan yang sunyi. Kereta itu tiba-tiba berhenti dan ketika Ceng Hiang dan Kiki membuka gorden jendela dan pintu kereta, mereka melihat bahwa kereta itu telah dikurung oleh segerombolan orang berkuda yang dikepalai oleh tiga orang hwesio gendut!
“Enci Hiang, kau di dalam saja bersama peti ini, biar aku yang menghadapi mereka!”
Kata Kiki, sedikitpun tidak merasa gentar, bahkan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan mukanya merah sekali. Ia nampak semakin manis dan gagah perkasa, dan ketabahannya memancar di sinar mukanya, membuat Ceng Hiang merasa kagum bukan main. Kiki lalu melompat ke luar dan ia menghitung jumlah lawan. Ada tujuh orang. Tiga orang hwesio gendut, dua orang lagi berpakaian biasa dan kusir itu yang ternyata bukanlah kusir kereta Ceng Hiang tadi, melainkan seorang lain yang telah mengenakan pakaian yang sama. Agaknyadiam-diam kusir yang aseli telah disingkirkan dan tempatnya diganti oleh orang ini.
Tiga orang hwesio dan dua orang kurus itu meloncat turun pula dari atas kuda masing-masing. Seorang di antara tiga hwesio itu, yang mempunyai tahi lalat besar di ujung hidungnya sehingga nampak lucu dan buruk, dengan perutnya yang gendut dan tubuhnya yang agak pendek, melangkah maju menghadapi Kiki.
“Serahkan peti hitam berisi kitab-kitab itu kepada kami, dan kamipun tidak akan mengganggu dua orang gadis yang lemah.”
Kiki tersenyum mengejek.
“Engkau ini hwesio dari kuil, ataukah pelawak yang menyamar sebagai hwesio, ataukah orang-orang jahat tolol, tikus-tikus kecil yang datang mengantar kematian?”
Hwesio itu melototkan matanya.
“Omitohud! Kiranya perempuan ini seorang kuntilanak yang mencari penyakit sendiri. Perempuan sombong, ketahuilah bahwa kami adalah orang- orang yang berilmu tinggi, yang menginginkan kitab-kitab itu. Jangan berani menghina kami, dan cepat serahkan peti itu!”
“Dari pada aku yang menyerahkan peti, lebih baik kalian yang menyerahkan leher kalian untuk kupenggal satu-satu sebagai hukuman atas kejahatan kalian berani mengganggu aku!”
“Suheng, perlu apa bicara banyak-banyak dengan dia? Anak ini cukup manis, biar untuk aku saja!” kata seorang di antara dua laki-laki berpakaian biasa yang bertubuh kurus.
Dan sebelum kata-katanya habis diucapkan, tubuhnya sudah menubruk ke arah Kiki. Gerakannya cepat dan dari kedua lengannya yang dikembangkan itu mengeluarkan angin pukulan yang cukup kuat. Akan tetapi Kiki tidak mau kalah gertak. Ia benci sekali kepada laki-laki yang kurang ajar, dan orang ini telah mengeluarkan kata-kata yang amat menghinanya. Oleh karena itu, melihat laki-laki kurus itu menyerangnya dengan tubrukan seperti harimau hendak menerkam kambing, kemarahannya meluap dan iapun sudah mengerahkan tenaga sinkang, dan menggunakan jurus dari ilmu Thai-lek Kim- kong-jiu yang dahsyat itu. Tangannya menyambar ke depan dan serangkum tenaga angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya menyambut laki-laki itu.