Ceng Hiang memegang kedua tangan Kiki.
“ltulah… karena engkau pada hakekatnya seorang gadis yang baik budi dan halus perasaanmu, seperti kukatakan tadi. Dan engkau tentulah murid seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, adikku.”
“Guruku adalah ayah kandungku sendiri.”
“Aih, betapa hebatnya. Siapakah nama ayahmu, kalau aku boleh tahu?” “Bumi dan langit kalau dibandingkan dengan ayahmu, enci Hiang. Ayahku
seorang kasar dan sejak muda berkecimpung dalam dunia kekerasan. Ayahku bernama Tang Kok Bu, dan dia malah lebih terkenal dengan julukan Hai-tok.”
Kalau saja subuh itu tidak begitu remang-remang dan belum terang benar, tentu Kiki akan melihat keterkejutan menyelimuti wajah Ceng Hiang mendengar disebutnya julukan Hai-tok ini.
“Hai-tok (Racun Lautan)? Apakah ayahmu itu seorang di antara Empat Racun Dunia?”
Kini Kiki yang terheran dan mengamati wajah cantik jelita itu.
“Enci Hiang, seorang halus seperti engkau ini, yang tentu hanya bergaul dengan orang baik-baik saja, yang tak pernah mengalami apalagi mengenal orang-orang kang-ouw, bagaimana bisa tahu tentang Empat Racun Dunia?”
“Ehhh... ahhh...”
Ceng Hiang gugup juga karena pertanyaan Kiki itu benar-benar membuatnya serba salah untuk menjawab. Melihat ini, Kiki tertawa tanpa menutupi mulutnya, karena ia adalah seorang gadis yang biasa hidup bebas. Akan tetapi, tanpa ditutupi mulutnya dengan tanganpun, sama sekali tidak membuat ia nampak kasar memalukan, bahkan semakin jelas nampak kemanisannya ketika tertawa.
“Aku mengerti, enci Hiang. Tentu kakakmu yang memberi tahu, bukan? Kakakmu itu hebat sekali. Ilmu silatnya amat tinggi dan aku sudah ingin sejak tadi menanyakan, siapakah dia dan dari mana dia memperoleh ilmu silat sehebat itu. Aku sungguh kagum dan benar-benar terheran-heran. Sungguh mati, andaikata kami harus berkelahi mati-matian, aku meragukan sekali apakah aku akan menang melawan kakakmu itu!” “Kakakku...? Ah, kaumaksudkan koko (kanda)? Jangan heran, memang sejak kecil dia suka sekali mempelajari ilmu silat. Dan memang dialah yang bercerita kepadaku tentang Empat Racun Dunia. Lanjutkan dulu cerita tentang dirimu, nanti aku akan menceritakan tentang dia kalau memang engkau tertarik kepadanya.”
Mendengar nada suara gadis itu, wajah Kiki berubah merah dan ia pura- pura cemberut.
“Ihhh… siapa yang tertarik kepadanya? Aku hanya kagum dan heran, juga harimau keluargamu itu hebat.”
“Teruskan dulu ceritamu, nanti kuceritakan tentang harimau kami. Jadi, ayahmu yang berjuluk Hai-tok itu merupakan seorang di antara Empat Racun Dunia?”
“Benar sekali, enci. Nah, kau tahu sekarang, aku hanyalah anak seorang datuk kaum sesat yang menjadi datuknya semua bajak laut maupun bajak muara dan sungai telaga! Aku lahir dari keluarga jahat dan di dunia kaum hitam! Mana bisa disamakan dengan engkau, enci Hiang.”
Dalam suaranya, Kiki benar-benar menyatakan penyesalan akan keadaan keluarganya yang terkenal sebagai penjahat.
“Aku pernah mendengar dari kakakku, bahwa baru-baru ini pasukan pemerintah menyerbu Pulau Layar, bukankah di sana tempat tinggal ayahmu?” “Bukan hanya menyerbu, akan tetapi membasmi dan membakar pulau
tempat tinggal kami. Hal itu terjadi setelah pasukanmu…” “Pasukanku? Jangan ngawur, adik Kiki…”
“Ohh, maaf, maksudku… pasukan pemerintah! Pemerintah telah menyergap pesta ulang tahun yang diadakan ayahku berhubung dengan usianya yang sudah tujuhpuluh lima tahun.”
“Wah, itu sudah keterlaluan namanya! Bagaimana mungkin pesta ulang tahun, apa lagi yang berpesta itu sudah berusia tujuhpuluh lima tahun, diserbu oleh pasukan tentara?”
Kiki menghela napas, teringat akan suhengnya dan diam-diam ia merasa marah bukan main. Satu di antara tugasnya adalah menyelidiki apakah suhengnya berada di kota raja, dan kalau benar dimana tinggalnya. Mungkin ia bisa menyelidiki melalui gadis ini atau setidaknya melalui kakak adik ini. Ayahnya ingin sekali menghukum sendiri murid pengkhianat itu.
“Maaf, adik Kiki. Kalau sampai pasukan pemerintah menyerbu pesta itu, mungkin ada apa-apanya di balik pesta itu. Benarkah begitu? Aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang pemberontakan... eh, maksudku, yang kalian sebut perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah. Kenapa sebuah pesta sampai diserbu pasukan?”
Kiki menghela napas panjang. Menghadapi seorang seperti Ceng Hiang ini, mana bisa ia membohonginya? Orang ini demikian halus, demikian baik dan jujur. Ia pun harus membalas kejujuranku.
“Memang ada alasannya! Selain berpesta ulang tahun, ayah juga mengumpulkan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan untuk diajak mengadakan rapat rahasia tentang keinginan semua orang untuk menumbangkan pemerintah penjajah dan mengusir orang-orang kulit putih.”
“Ah, jadi begitukah? Kalau begitu... kalau begitu, orang-orang yang tadi kau katakan sebagai kaum dunia hitam itupun bersatu dengan para pem... eh, pejuang rakyat?”
“Tentu tidak Semua, enci. Hanya mereka yang masih mempunyai sekelumit semangat untuk membela nusa bangsa, membela tanah air. Dan ayahku termasuk pula orang itu…”
“Dan engkau juga?”
“Enci Hiang, engkau tadi mengatakan sendiri bahwa engkau, biarpun seorang puteri keturunan Mancu, tidak suka akan penjajahan dan penindasan!” “Kau benar, kau benar… adikku. Wah, ceritamu menarik sekali. Aku sungguh tertarik dan senang mendengarnya, juga tegang sampai jantungku
berdebar tidak karuan…”
“Dan sekarang tiba giliranmu untuk bercerita, dan aku akan bertanya. Kuharap engkau suka berlaku jujur menjawab semua pertanyaanku seperti aku tadi, enci.”
“Baiklah, akan kucoba. Nah, tanyalah.”
“Tentang ayahmu dan kau sendiri sebagai bangsawan-bangsawan yang tidak suka akan penjajahan penindasan, tadi sudah kauceritakan. Akan tetapi, sekarang aku hendak bertanya: Kenapa ayahmu demikian mementingkan kitab-kitab kuno itu? Ayahku dan aku dengan susah mencoba untuk membacanya, namun kami berdua tak berhasil. Sungguh kami berdua merasa buta huruf benar-benar menghadapi huruf-huruf dalam kitab-kitab itu. Apa sih gunanya kitab-kitab seperti itu, sehingga ayahmu demikian mementingkan dan dalam keadaan terancam bahaya saja dia amat memperhatikannya dan pesan kepadaku agar kitab-kitab itu kukirimkan kepadamu kalau sampai dia tewas.” “Aku sendiri tidak akan mampu membacanya, adikku. Kitab-kitab mengandung huruf-huruf yang amat kuno dan agaknya, di kota raja sekalipun hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang akan mampu membaca dan menterjemahkannya, termasuk ayahku, karena ayah adalah seorang ahli huruf kuno, ahli sastera Sansekerta dan India. Adapun isi kitab-kitab kuno, seperti kau tahu, tentu mengandung pelajaran tentang kebatinan, agama, dan
mungkin juga kepandaian silat.”
“llmu silat? Wah, sungguh hebat kalau begitu. Akan tetapi, ayahmu seorang yang tidak Suka akan kekerasan, tentu tidak akan belajar silat. Dan engkau... seorang dara cantik jelita dan halus. Biarpun demikian, aku dapat menduga bahwa ayahmu tentu ingin menterjemahkan kitab ilmu silat itu untuk diberikan kakakmu! Benar tidak?”
Ceng Hiang tersenyum dan hanya mengangguk saja.
“Ketika aku memasuki rumah keluargamu, aku terjebak ke di dalam ruangan bawah itu, dan aku berkesempatan untuk bertemu dengan kakakmu bersama harimaunya. llmu silatnya tinggi sekali. Bagaimana dia begitu lihai ilmu silatnya, sedangkan ayahmu hanya seorang sasrerawan lemah, dan kau juga seorang gadis lemah lembut...”
“Ah, dia itu sejak kecil memang suka belajar ilmu silat, adik Kiki… dan tentu saja dia dapat disebut pandai karena dia mewarisi ilmu silat dari keturunan, keluarga para pendekar Pulau Es”
“Ahhhl!” Kiki terbelalak kagum.
“Di antara keluarga Kerajaan Ceng, tidak ada seorangpun yang dipercaya oleh mendiang Puteri Milana kecuali keluarga kami. ltupun dilakukan secara amat rahasia. Ayahku sendiri yang menerima beberapa buah kitab pelajaran ilmu silat pulau Es, dan bersumpah bahwa ayah hanya akan menyerahkan kepada anaknya yang dianggap berbakat dan dipercaya memiliki watak yang baik. Demikianlah, ayah menerima kitab pelajaran yang amat terperinci, dari dasar-dasar ilmu silatnya sampai beberapa macam ilmu silat keluarga sakti itu. Kalau saja dapat dipelajari seluruh ilmu dari keluarga para pendekar Pulau Es, tentu akan lebih hebat lagi.”
“Aihhh... kalau begitu, dia keturunan atau murid langsung dari Pulau Es dan merupakan pewaris terakhir dan tunggal...!” seru Kiki pula dengan penuh kagum.
Ceng Hiang tersenyum manis.
“Belum tentu adikku. Jangan memujinya terlalu tinggi, karena ketahuilah bahwa keluarga Pulau Es telah menjadi keluarga yang besar dan banyak sekali. Sekarang, entah siapa saja keturunan mereka, akan tetapi aku yakin tentu banyak pula. Hanya, karena sejak dahulu keluarga Pulau Es merupakan pendekar-pendekar sakti yang tidak mau mencampuri urusan pemerintah dan tidak suka menonjolkan diri, maka mungkin tidak dikenal oleh dunia persilatan.”
“Akan tetapi kakakmu itu... wah, dia memang hebat!” kembali Kiki berkata, dan Ceng Hiang hanya tersenyum saja.
“Siapakah namanya, enci?”
“Namanya? Ah, namanya hampir sama dengan namaku, namanya Siang.
Ceng
Siang... tapi sudahlah, jangan bicarakan dia. Dia paling tidak suka dibicarakan oleh kaum wanita.”
“Kenapa begitu?”
“Entah, pokoknya dia tidak suka kepada gadis-gadis.” “Ahhh…”
“Kenapa?”
“Pantas sikapnya terhadap akupun menghina dan mengejek sekali!” “Maafkan dia, Ki-moi. Dia menghina dan mengejek bagaimana sih?” “Berkali-kali dia memaki aku maling dan mengejek kepandaianku yang
katanya masih rendah.”
“Wah, dia sombong! Kepandaianmu tentu hebat, adikku… kalau tidak, mana mungkin mampu memimpin bajak laut yang terkenal? Menurut ayah, kau lihai bukan main.”
“Ah, tidak. Bagaimanapun juga, harus kuakui bahwa aku belum tentu menang melawan kakakmu! Akan tetapi sekali waktu, aku ingin mengajaknya bertanding untuk menguji kepandaian.”