Ceng Hiang tersenyum manis.
“Bukankah ada engkau yang lebih kuat dari pada puluhan orang pengawal?”
“Tentu aku akan melindungimu dengan taruhan nyawa, akan tetapi bagaimana ayahmu dapat begitu saja percaya kepadaku…”
“Engkau malah sudah menyelamatkan nyawanya dari kematian tenggelam di lautan.”
“Akan tetapi, akupun bersama anak buahku telah membunuh pasukan pengawalnya dan membakar perahunya!”
“Ah, sudahlah, Ki-moi. Untuk apa yang sudah lalu diungkit-ungkit kembali? Ayahku mengerti, bahwa engkau dan kawan-kawanmu bukan sembarangan bajak, melainkan orang orang yang berjiwa patriot dan yang bercita-cita menggulingkan pemerintah penjajah, bukankah demikian?”
“Kalau sudah tahu begitu, lebih-lebih lagi…” kata Kiki terkejut dan heran.
Kalau dia tahu bahwa aku berjiwa patriot dan hendak merobohkan kekuasaan penjajah, mengapa dia membiarkan engkau pergi sendirian dengan aku? Bukankah kalian adalah keluarga pangeran, keluarga kaisar Mancu?
“Benar, akan tetapi apakah engkau tidak tahu, adikku, bahwa tidak semua orang keturunan Mancu suka akan penjajahan ini, suka akan kaisarnya yang lemah? Engkau tentu pernah mendengar tentang mendiang Puteri Nirahai dan Puteri Milana, dua orang puteri Mancu, akan tetapi berjiwa pendekar dan gagah perkasa, bahkan diam-diam merekapun menentang kelaliman kaisar dan para pembesar?”
Kiki belum pernah mendengar dan ia menggelengkan kepalanya. “Siapakah mereka?”
“Mereka adalah puteri-puteri aseli dari Mancu, akan tetapi mereka tidak mau menjadi puteri, walaupun keduanya pernah menjadi panglima. Tidak mau tinggal di istana, bahkan Puteri Nirahai menikah dengan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es…”
“Wah, kalau nama itu pernah disebut-sebut oleh ayah sebagai nama seorang tokoh sakti seperti dalam dongeng.”
“Bukan dongeng, melainkan sungguh-sungguh ada. Dan Puteri Nirahai yang masih saudara kaisar itu lebih suka tinggal bersama suaminya, Pendekar Super Sakti di Pulau Es, dari pada menjadi puteri di istana. Puteri mereka, Puteri Milana, juga menikah dengan seorang pendekar sakti dan tidak mau menjadi puteri di istana. Nah, jangan lantas kausamakan saja manusia atau bangsa dengan sekarung beras.”
“Ehhh?” Kiki tidak mengerti.
“Kalau orang membeli beras, mengambil segenggam dan melihat beras itu jelek, lalu dia tidak jadi beli dan mengatakan bahwa beras sekarung itu jelek. Tidak demikian dengan bangsa. Bangsa terdiri dari manusia-manusia dan di antara manusia-manusia, tentu ada yang jelek dan ada yang baik. Ada yang suka menjajah akan tetapi ada pula yang tidak suka dengan politik penjajahan itu.” “Jadi kau dan ayahmu...”
“Kami tidak Suka dengan siasat pemerintah menjajah bangsa lain, apalagi kami tidak suka melihat kelemahan kaisar yang bertekuk lutut kepada orang- orang kulit putih. Karena itu, ayah kagum dan percaya kepadamu. Pula, siapa sih yang akan mengganggu kita?”
Kiki hanya tersenyum, dan pada saat itu, kereta berhenti sebentar karena dihentikan oleh penjaga pintu gerbang. Terdengar percakapan antara kusir dan perajurit penjaga yang dengan suara lantang mengatakan bahwa kereta itu milik Pangeran Ceng Tiu Ong dan bahwa kini dia sedang mengantarkan Ceng Sioda keluar pintu gerbang untuk utusan pribadi dan kalau terburu, mungkin malam ini juga kembali ke kota raja lagi.
“Sobat, maafkan kami. Berhubungan perintah atasan untuk melihat siapa yang keluar masuk kota raja, walaupun tidak diperiksa, hanya diawasi saja, maka terpaksa kami akan menjenguk ke dalam kereta untuk meneliti kebenaran keteranganmu ini.”
“Kalian tidak percaya kepadaku?”
Tukang kusir membentak, lalu suaranya ditujukan ke dalam.
“Ceng Siocia, mereka ini ingin menjenguk dan memeriksa ke dalam kereta!” Tentu pada waktu itu, pantang bagi para puteri bangsawan untuk dijenguk begitu saja oleh para perajurit atau laki-laki biasa. Akan tetapi, dengan halus
Ceng Hiang menjawab.
“Karena sudah tugas mereka, biarlah, paman. Aku yang akan membuka sendiri kain penutup pintu kereta.”
Berkata demikian, dengan kedua tangannya yang berkulit halus, Ceng Hiang menguak pintu kain itu ke kanan kiri sehingga ia dan Kiki kelihatan jelas oleh mereka yang mengepung kereta dari luar.
“Apakah kalian sudah puas sekarang…”
Para perajurit itu terpesona melihat dua orang gadis yang demikian cantik jelitanya, terutama sekali Ceng Hiang. Dan di antara mereka, agaknya tidak ada seorangpun yang tidak mengenal Ceng Hiang. Semua berdiri dengan sigap dan muka mereka bahkan berubah agak ketakutan. Seorang di antara mereka yang berkumis tebal, dengan suara agak gemetar lalu berkata.
“Mohon maaf... kami… kami tidak tahu bahwa Siocia yang berada di dalam dan... kami hanya melaksanakan perintah atasan...”
Ceng Hiang tersenyum dan menutup kembali kain gorden sambil berkata dari dalam.
“Demikianlah seharusnya, setiap orang perajurit harus melaksanakan tugas dengan baik dan membela perintah atasan dengan taruhan nyawa. Paman kusir, lanjutkan perjalanan!”
“Baik, Siocia…”
Dan keretapun bergerak lagi melalui pintu gerbang, keluar dari pintu gerbang. Setelah keluar dari pintu gerbang, di sepanjang jalan tidak ada lagi penerangan. Tadi, biarpun sudah tengah malam, di sepanjang jalan masih ada lampu-lampu yang menerangi jalan, baik lampu untuk hiasan atau penerangan. Akan tetapi sekarang, mereka keluar dari kota dan yang menerangi cuaca yang gelap hanyalah sinar bintang-bintang di langit dan bulan tua yang tinggal seperempatnya.
Akan tetapi, lentera kereta itu sendiri masih cukup terang sehingga sang kusir dapat melihat jalan di depannya, sejauh sedikitnya limabelas meter. Kereta berjalan terus menuju ke sebuah dusun menurut petunjuk Kiki. Ketika mereka tiba di dusun itu, waktunya sudah hampir subuh dan dusun itu masih terbenam dalam mimpi.
“Kiki, rasanya tidak enak kalau kita mengagetkan para penghuni dusun ini. Bagaimana kalau kita menanti saja di luar dusun, dan baru memasuki dusun kalau mereka sudah bangun dan kita tinggalkan saja kereta di luar dusun agar tidak mengejutkan orang.”
Kiki semakin suka dan kagum kepada gadis yang jelita itu. Memang hebat, pikirnya. Sudah orangnya bangsawan, puteri pangeran, kaya raya, berkedudukan tinggi, cantik jelita, namun sama sekali tidak sombong, bahkan rendah hati dan mengingat nasib lain orang. Mana ada bangsawan bersikap seperti gadis ini?
Bangsawan-bangsawan atau hartawan-hartawan lain biasanya bersikap congkak dan menganggap orang dusun atau orang miskin, tidak lebih seperti anjing saja. Ia kagum dan semakin tertarik.
“Baiklah, enci Hiang.”
Ia merasa agak malu, karena andaikata ia sendiri yang datang, tentu ia akan mengetuk begitu saja pintu rumah petani itu, membangunkan pemilik rumah untuk mengambil benda yang dititipkannya.
Keduanya kini duduk di atas batu di tepi jalan, di luar dusun. Kusir melepaskan dua ekor kuda besar itu untuk memberi kesempatan mereka beristirahat dan makan rumput, sedangkan dia sendiri, setelah memperoleh perkenan nona majikannya, lalu merebahkan diri di bawah pohon, di atas rumput dan daun kering, dan sebentar saja diapun sudah mengorok saking lelahnya. Dia lelah dan ngantuk karena bekerja semalam suntuk tidak tidur. Kusir itu seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, memakai sebuah topi caping lebar yang menyembunyikan muka dan lehernya dari sengatan matahari panas karena dia duduk di depan, tak terlindung atap kereta. Pakaiannya seperti pakaian bangsawan kota raja, serba biru dengan garis-garis putih di ujung kaki, lengan dan leher. Orangnya tinggi kurus dan sikapnya juga lemah lembut, agaknya seorang terpelajar pula walaupun pekerjaannya hanya kusir.
Dua orang gadis itu duduk agak jauh dari kereta, bahkan tidak melihat kusir yang tidur ngorok itu. Mereka asyik bercakap-cakap.
“Adik Kiki, apakah engkau tidak merasa betapa antara kita yang baru saja berkenalan, ada kecocokan yang akrab? Aku terus terang saja suka kepadamu, karena engkau memiliki sifat yang gagah perkasa dan engkau cekatan, lincah dan jenaka, walaupun agak nakal, akan tetapi hatimu amat lembut dan baik…” “Idiihh, kiranya enci Hiang ini selain pandai dan cantik jelita, juga ahli merayu dan memuji orang! Tidak, aku hanya seorang gadis liar, seorang gais
kang-ouw yang bisanya hanya berkelahi saja!”
“Aku tidak percaya! Biarpun dari ayah, aku tahu bahwa engkau adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi sekali, terutama sekali pandai bermain di air seperti seekor ikan hiu, biarpun engkau membunuh musuh- musuhmu sambil tersenyum manis, namun aku tahu bahwa engkau berjiwa pendekar dan patriot yang gagah. Ah, betapa senangnya hidup seperti engkau ini, adikku. Engkau hidup bebas seperti seekor burung terbang di angkasa raya, dapat melakukan apa saja sekehendak hatimu…”
“Ah, siapabilang? Engkau lebih bebas. Engkau puteri pangeran, engkau berkuasa dan berharta. Siapa bisa melarangmu? Lihat saja tadi. Andaikata aku yang berada di kereta sendirian saja, belum tentu aku boleh lewat begitu mudah, dan tentu mereka akan bersikap kurang ajar kepadaku. Akan tetapi kepadamu, enci… wahh, mereka seperti melihat malaikat saja, mati kutu dan ketakutan, dan begitu menghormat.”
Ceng Hiang menarik napas panjang.
“Hal itu kuakui. Memang semua pasukan, dari yang pangkatnya paling kecil sampai yang pangkatnya paling tinggi, menghormati ayahku. Ayahku hanya seorang pangeran yang tidak menduduki jabatan penting, tidak memiliki kekuasaan, hanya penjaga perpustakaan dan seorang sasterawan, akan tetapi dia tidak pernah melakukan pelanggaran, selalu jujur dan setia, tidak mau berkorupsi dan selalu bertindak tegas menentang kelaliman. ltulah yang membuat semua orang tunduk dan segan.”
“Hebat... dan ketika pertama kali aku bertemu ayahmu, biarpun dia begitu halus budi dan tubuhnya lemah lembut, namun dia begitu berwibawa, membuat aku malu. Dan dia memiliki suatu keberanian yang belum tentu dimiiki oleh orang-orang yang pandai ilmu silat. Sikapnya demikian mengesankan dan aku segera tunduk. Karena itulah, ketika orangku mendorongnya ke laut, aku lalu meloncat terjun dan menyelamatkannya, dan ketika dia berpesan tentang peti terisi kitab-kitab, akupun melaksanakannya dengan baik. Entah bagaimana, aku merasa harus mentaati orang tua itu.”