Tiba-tiba muka Kiki berubah merah. Belum pernah ia begini. Biasanya, setiap pujian dari pria dianggapnya sebagai perbuatan kurang ajar, dan pria itu bisa dihajarnya, bahkan bisa dibunuhnya. Akan tetapi sekarang, kenapa hatinya di dalam dada menjadi berdegup, bukan karena marah melainkan karena girang dan malu?
“Jangan banyak merayu gombal!” bentaknya. “Mari kita lanjutkan perkelahian tadi!”
Tanpa menanti jawaban, iapun lalu menerjang lagi dan kembali ia mainkan jurus-jurus dan Thai-lek Kim-kong-jiu yang ampuh. Opsir muda itu agaknya juga tidak berani sembrono menghadapi gadis yang galak dan lihai ini. Dan opsir itu memiliki langkah-langkah ajaib yang membuat tubuhnya sukar sekali diserang. Akan tetapi ketika Kiki menerjang lagi dengan mendorongkan kedua tangannya ke depan dengan jurus ‘Dua Tangan Menutup Guha Batu’, opsir muda itupun berdiri tegak, dengan kedua kaki terpentang dan sedikit membongkok, menekuk lutut dan kedua tangannyapun didorongkan ke depan menyambut.
“Desss...!”
Dua pasang tangan saling bertemu dan dua macam tenaga sakti yang hebat bertumbukan di udara. Opsir itu merasa betapa hawa panas menjalar melalui telapak tangan lawannya, akan tetapi mampu dihentikannya hanya sampai siku saja. Sebaliknya, Kiki terkejut setengah mati karena ada hawa dingin menjalar keluar dan telapak tangan opsir tampan itu, dan hawa dingin itu terus menjalar ke kedua lengannya sampai ke pundak, membuat la menggigil! Opsir itu melangkah ke belakang.
“Maafkan, nona. Ternyata engkau hebat sekali.”
Kiki masih berdiri, memejamkan kedua mata dan menahan napas, mengumpulkan hawa murni dan baru setelah lewat dua menit, hawa dingin itu perlahan-lahan dapat didorongnya keluar dan kedua lengannya. Kalau pada saat itu lawannya menyerang, ia tentu takkan mampu mempertahankan diri dan akan mudah dirobohkan. Akan tetapi anehnya, opsir itu tidak menyerang lagi dan hanya berdiri memandang kagum.
Setelah merasa tubuhnya segar kembali, Kiki siap untuk menyerang agi. Ia lari ke sudut ruangan itu dan menyambar sebuah toya, karena di ruangan itu juga terdapat beberapa macam senjata. Begitu memegang toya yang sama dengan tongkat, Kiki lalu maju menerjang, mainkan tongkatnya dengan limu Tongkat Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas)! Tentu saja tongkatnya itu ketika dimainkan tidak mengeluarkan sinar emas, karena tongkat itu bukan tongkat yang biasa dipergunakan ayahnya, akan tetapi ilmu tongkat itu hebat bukan main dan menjadi imbangan dari ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu tadi. Hanya karena tongkat lebih panjang dari tangan, maka jangkauannyapun lebih jauh dan gerakannya lebih cepat.
Diserang bertubi-tubi dengan tongkat itu, opsir muda yang tadinya berloncatan sambil mengeluarkan langkah-langkah ajaibnya mengelak ke sana-sini, menjadi terdesak juga dan terpaksa dia mencabut pedang di pinggangnya. Nampak sinar menyilaukan mata ketika pedang dicabut, dan kini pedang itu diputar membentuk sinar bergulung-gulung yang menyambut gulungan sinar tongkat yang putih. Terjadi serang-menyerang dengan hebatnya, dan keduanya mendapat kenyataan bahwa memang mereka itu bertemu dengan tandingan yang sama sekali tak boleh dipandang rendah.
Yang merasa penasaran adalah Kiki. Belum pernah rasanya a bertemu dengan lawan sehebat ini kepandaiannya, padahal ia tahu benar betapa pemuda itu telah banyak mengalah dan pedangnya yang hebat itupun lebih banyak menangkis dari pada membalas serangan, padahal setiap serangan pedang itu dirasakannya amat berbahaya dan sukar dielakkan, dan setiap kali toyanya menangkis, ia merasa tangannya tergetar hebat. Padahal, kalau dilihat kenyataannya bahwa toya itu lebih panjang dan lebih berat, sesungguhnya harus si pemegang pedang yang dirugikan kalau bertemu senjata mengadu tenaga.
Setelah lewat hampir limapuluh jurus, tiba-tiba saja gerakan pedang itu berubah dan terdengar suara keras ketika kedua senjata bertemu di udara, dan toya di tangan Kiki itu patah menjadi dua potong.
Akan tetapi, bukan Kiki kalau mengalah dan mudah tunduk menyerah begitu saja. Dengan dua potongan tongkat itu, ia masih menyerang dengan hebat. Akan tetapi lawannya melompat ke belakang dan menyimpan kembali pedangnya.
“Sudahlah, nona. Sudah cukup kita main- main. Sekarang katakanlah mengapa engkau memasuki rumah kami secara diam-diam seperti orang yang hendak melakukan pencurian?”
“Aku tidak akan mencuri apa-apa. Tidak sudi aku menjadi pencuri. Lebih baik mati dan pada menjadi pencuri!” bentak Kiki dengan suara yang hampir menangis, bukan hanya karena sebal disangka pencuri, akan tetapi terutama sekali karena ia merasa bahwa ia kalah oleh pemuda itu!
Pemuda itu kembali tersenyum ramah.
“Mencuri atau tidak, akan tetapi engkau memasuki rumah orang-tanpa ijin, dan malam-malam begini masuk ke rumah, tentu saja engkau dituduh mencuri. Akan tetapi engkau memang belum mengambil apa-apa, maka akupun tidak akan menuduhmu agi mencuri. Akan tetapi, lalu apakah yang kaucari di sini?”
“Aku aku ingin mencari Pangeran Ceng Tiu Ong.”
Pemuda itu nampak terkejut dan mengerutkan alisnya. Engkau mencari Pangeran Ceng Tiu Ong? Ada keperluan apakah?”
“Keperluan pribadi yang hanya akan kukatakan kepada dia sendiri. Dimanakah dia? Kalau dia atau puterinya yang bernama Ceng Hiang menyambut kedatanganku, tentu mereka akan mengerti. Aku tidak mau bicara dengan orang lain kecuali mereka. Nah, sekarang lebih baik laporkan kepada Pangeran Ceng Tiu Ong atau nona Ceng Hiang, aku akan menanti di sini. Ataukah engkau ingin melanjutkan perkelahian? Boleh…!”
Opsir itu kembali tersenyum.
“Wah, engkau galak amat sih! Baiklah, engkau tunggu dulu di sini, akan tetapi jangan membuat onar, aku akan meninggalkan kucingku di sini untuk menjagamu agar engkau tidak melakukan kekacauan macam-macam. Pangeran Ceng Tiu Ong dan puterinya tentu akan datang ke sini kalau memang benar mereka itu mengenalmu dan mempunyai urusan denganmu.”
Opsir muda itu lalu pergi melalui anak tangga dan mengatakan sesuatu dalam bahasa aneh kepada harimau itu. Harimau itu, seperti seekor anjing yang sudah terlatih baik saja layaknya, lalu mendekam di bawah anak tangga dan matanya terus mengamati ke arah Kiki.
Kiki merasa mendongkol bukan main. Dibalasnya pandang mata harimau itu dan iapun mencibir.
”Kaukira aku takut terhadap seekor kucing macam engkau? Huh, kalau tidak ingat majikanmu, tentu sudah kupukul pecah kepalamu, tahu?”
Aneh! Harimau itupun seolah-olah mencibir kepadanya dan menggereng panjang, seperti hendak mengatakan bahwa kalau dia tidak diperintah majikannya untuk berjaga saja, tentu tubuh gadis itu sudah dicabik-cabiknya dengan kuku dan diganyang dagingnya dengan taring-taringnya yang tajam meruncing.
Kiki makin mengkal hatinya dan membuang muka. Setelah kesabarannya menanti hampir habis, tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara dan terdengar langkah kaki menuruni tangga itu. Tak lama kemudian, muncullah dua orang, dan orang pertama segera dikenalnya sebagai Pangeran Ceng Tiu Ong! Dan orang kedua adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya, dengan pakaian yang mewah seperti puteri istana saja. Demikian cantik jelita dan demikian indah pakaian gadis itu, sehingga sejenak Kiki hanya memandang dengan bengong. Itukah puteri sang pangeran? Demikian cantiknya, akan tetapi ia melihat persamaan bentuk wajah puteri itu dengan opsir muda tadi. Celaka, jangan-jangan opsir tadi putera Pangeran Ceng Tiu Ong atau saudara dan Ceng Hiang. Iapun bangkit berdiri. Melihat Kiki, Pangeran Ceng Tiu Ong tersenyum gembira.
“Aih, kiranya engkau yang datang, nona!” katanya sambil cepat menghampiri.
Kiki adalah seorang anak datuk sesat memang, namun iapun sudah cukup mempelajari tata susila dan apalagi ia merasa pernah membuat dosa besar dengan membajak perahu pangeran ini, walaupun ia juga menyelamatkan nyawa pangeran ini dan ancaman maut. Maka iapun cepat menjura dan berkata.
“Maafkan kedatangan saya seperti ini, pangeran. Saya datang malam- malam seperti ini karena hendak menyelidiki lebih dahulu keadaan pangeran sebelum saya menyampaikan barang-barang titipan paduka dahulu itu.”
“Aih, nona Tang, marilah kita duduk dulu di ruangan tamu. Perkenalkan, ini anakku, Ceng Hiang.”
Gadis yang cantik itu lalu tersenyum dan menghampiri, dan melihat senyum itu, Kiki tidak ragu-ragu lagi. Gadis ini tentu adik dari opsir tadi! Senyumnya sama!
“Engkau tentu yang bernama Tang Ki, nona yang pernah menyelamatkan ayahku dari bahaya tenggelam di laut. Aku berterima kasih kepadamu, adik yang baik,” katanya sambil memegang tangan Tang Ki.
Kiki merasa betapa halusnya telapak tangan itu, begitu halus lembut seperti sutera!
“Ah… bukan hanya menolong, akan tetapi juga menncelakakan,” jawab Kiki berani. “Mari, mari kita duduk di ruang tamu. Engkau adalah tamu agung bagi kami sekeluarga, nona Tang.” kata pangeran itu, dan mereka lalu naik anak tangga itu diikuti oleh harimau yang segera diusir oleh nona Ceng Hiang.
Setelah melalui beberapa lorong, sampailah mereka ke ruangan tamu yang luas dan amat indahnya lagi amat terang. Mereka duduk menghadapi meja yang terukir indah, dan segera pelayan-pelayan menyuguhkan air teh dan makanan kering.
“Maafkan, pangeran. Saya tidak akan berlama-lama, karena kedatangan saya tadi telah menimbulkan keributan. Saya disangka maling dan saya bahkan telah berkelahi melawan…” ia menoleh kepada Ceng Hiang.
“Opsir muda itu tentu saudaramu, bukan?”
“Aihh dia? Benar, benar… ia saudaraku,” kata Ceng Hiang sambil tersenyum, dan Pangeran Ceng Tiu Ong hanya tertawa saja.
“Karena itu, setelah bertemu dengan jiwi, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya, yaitu akan mengirimkan titipan pangeran pada saya dahulu, yaitu sepeti terisi kitab-kitab kuno.”
“Bagus! Ahh… adik Tang Kl yang baik, mana kitab-kitab itu?”
Yang meloncat berdiri adalah Ceng Hiang, sedangkan pangeran itu tetap duduk saja.
“Karena saya hendak menyelidiki dulu tempat tinggal pangeran, maka peti itu saya titipkan pada keluarga petani, di luar tembok kota raja.”
“Kalau begitu harus diambil sekarang… Ayah biar aku yang antar adik Tang Ki mengambilnya, dan kami akan menggunakan kereta saja.”
Ayahnya tertawa.
“Ha-ha, kalian ini orang-orang muda memang segalanya menghendaki cepat saja. Baiklah! Pelayan, suruh kusir mempersiapkan kereta sekarang juga untuk dibawa ke luar kota raja!”
Malam itu juga, kurang lebih tepat tengah malam, Kiki bersama Ceng Hiang berangkat berdua saja naik kereta. Teman satu-satunya hanyalah seorang kusir yang berada di depan dan tidak nampak oleh mereka berdua yang duduk di dalam kereta. Melihat ini, Kiki merasa girang akan tetapi juga heran. Girang bahwa keluarga pangeran itu sedemikian besar menaruh kepercayaan kepadanya sehingga ia merasa terhormat sekali, akan tetapi juga heran mengapa seorang pangeran membiarkan puterinya pergi sendiri begitu saja di tengah malam tanpa pasukan pengawal, hanya bersama ia yang sebenarnya masih asing bagi mereka dan hanya seorang kusir saja.
Setelah kereta berjalan cepat meninggalkan gedung itu, Kiki tak dapat menahan dirinya bertanya.
”Siocia...”
“Wah, jangan memanggil nona-nona segala, adik yang baik… aku menjadi canggung,” Ceng Hiang mencela.
Kiki tersenyum.
“Habis lalu memanggil apa?”
“Namaku Hiang, she Ceng, cukup kalau kau sebut enci Hiang saja.
Bukankah aku lebih tua darimu?”
“Belum tentu… engkau kelihatan masih begini muda dan cantik jelita.” “Usiaku sudah sembilanbelas tahun.”
“Wah… kalau begitu memang kau lebih tua satu tahun, enci Hiang.
Namaku Ki, she Tang, akan tetapi bisa dipanggil Kiki.”
“Kalau begitu… akupun akan menyebutmu Ki-moi atau Kiki begitu saja!” kata Ceng Hiang sambil tertawa, dan merekapun saling merasa suka dan akrab.
“Enci Hiang, aku merasa heran sekali. Engkau adalah puteri tunggal seorang pangeran yang berkedudukan tmggi, kenapa ayahmu membiarkan engkau pergi sendirian saja di tengah malam seperti ini tanpa ada pasukan yang mengawalmu?”