Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 137

Memuat...

Terdengar langkah kaki menuruni anak tangga di depan. Mula-mula yang nampak hanya sepasang kakinya yang bersepatu mengkilap hitam, lalu pakaiannya yang ternyata adalah pakaian seorang panglima perang dan pedang yang tergantung di pinggang itu adalah pedang yang tadi tergantung di dinding dan yang menjadi umpan jebakan. Kemudian nampaklah wajah dan kepala yang bertopi itu, dan Kiki menjadi bengong. Terpesona ia memandang wajah itu. Wajah seorang panglima muda yang demikian tampan dan halus. Seumur hidupnya, belum pernah ia melihat seorang pemuda yang demikian tampannya! Matanya begitu redup, dengan bulu mata panjang melengkung, hidung kecil mancung dan mulut yang seolah-olah dibuat hanya untuk mencium dengan mesra! Begitu tampan! Dalam mimpipun, belum pernah Kiki melihat seorang pria yang demikian gantengnya! Ganteng dan lemah lembut. Baru langkahnya saja demikian gagah, satu-satu seperti langkah harimau.

Harimau! Memang benar ada harimau di belakangnya, dan kini Kiki terbelalak, bukan karena kagum akan ketampanan pria seperti tadi, melainkan karena ngeri. Ia bukan seorang penakut, dan kalau menghadapi harimau saja, agaknya ia tidak akan lari dan ia sanggup melawan seekor harimau dengan tangan kosong kalau perlu. Tapi bukan harimau seperti yang muncul, di belakang pemuda tampan itu. Harimau ini luar biasa besarnya dan selain nampak galak dan buas, juga ukurannya besar dan nampaknya kokoh kuat bukan main! Seekor harimau loreng yang sudah dewasa dan sedang kuat- kuatnya, jantan dan nampak galak. Sepasang matanya saja sudah cukup membuat hati merasa tergetar dan aumannya tadi dapat melumpuhkan orang karena ketakutan. Apa lagi ketika harimau yang berada di belakang pemuda tampan itu melihat seorang asing di dalam kerangkeng, dia memperlihatkan taringnya yang mengerikan saking besar dan runcingnya, juga keempat kakinya mempunyai kuku yang melengkung kuat dan runcing. Ngeri membayangkan tubuh dicakar kaki itu, apalagi sampai dirobek-robek oleh taring-taring itu.

Mendengar ejekan Kiki, opsir muda tampan itu tersenyum mengejek dan kem bali Kiki terpesona. Setelah tersenyum, pemuda itu menjadi lebih ganteng lagi! Lalu terdengar suaranya, suara yang halus dan terdengar sopan, tanda bahwa pemuda itu adalah seorang terpelajar.

“Nona, engkau datang sebagai seorang pencuri, setelah tertangkap engkau memaki maki. Sungguh sulit mencari orang sekurang ajar engkau ini. Apa sih yang kauandalkan maka engkau bersikap sesombong ini?”

Lalu dia menyambung.

“Melihat betapa engkau terjatuh dan lubang jebakan tanpa luka, mungkin saja engkau memiliki sedikit ilmu kepandaian. Kalau memang ada, coba perlihatkan kepandaianmu sebelum aku mengambil keputusan apa yang harus kulakukan terhadap seorang pencuri wanita.”

Tentu saja Kiki marah bukan main. Beberapa kali ia dim aki pencuri.

“Aku bukan pencuri! Kalau kau tidak menarik kembali omonganmu itu, akan kurobek mulutmu yang lancang itu.”

Opsir muda itu memhelalakkan matanya yang tajam dan jernih, yang berkilauan tertimpa sinar api obor besar.

“Kau hendak menampar mulutku? Wah,wah, bagaimana caranya?” “Kaukira aku tidak mampu keluar dan tempat ini!” bentak Kiki, dan gadis

perkasa ini lalu mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dan menerjang pintu besi dari tempat tahanan itu. Tang Ki adalah puteri tunggal Tang Kok Bu yang berjuluk Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia. Ia sudah mewarisi semua ilmu ayahnya, bahkan Ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu (Tenaga Besar Bersinar Emas) yang ampuh dan amat sukar itu sudah dipelajarinya dengan cukup baik. Kini, dengan ilmu itu ia menerjang pintu.

“Brakkkk!”

Daun pintu itu jebol engselnya dan terbuka! Akan tetapi Kiki juga telah menggunakan terlalu banyak tenaga sinkang sehingga mukanya menjadi pucat dan dadanya terasa agak nyeri dan dia terhuyung keluar. Pada saat itu, terdengar auman keras dan harimau itupun menerjang ke depan menyerang Kiki!

Karena gadis itu baru saja mengerahkan tenaga sinkang yang amat besar, maka untuk mengerahkan sinkang lagi, ia tidak berani, terpaksa hanya melindungi dirinya dan menggunakan kedua tangan mendorong, menyambut harimau yang menubruknya. Akan tetapi karena tenaganya sudah banyak berkurang dan harimau itu beratnya ada lima atau enam berat orang dewasa, Kiki tidak kuat menahan dan iapuri terjengkang.

Harimau itu mengaum dan mencakar. Untung bahwa Kiki menggunakan sinkangnya sehingga yang terkait robek, hanyalah kedua celana di bagian pahanya saja sehingga kulit pahanya yang putih itu nampak. Akan tetapi kulitnya tidak terluka, dan iapun mendapat kenyataan bahwa binatang yang sudah terpelihara dan terlatih baik itu agaknya memang tidak ingin membunuhnya, hanya menakut-nakutinya.

Kini binatang itu mengaum dan mukanya dekat sekali dengan muka Kiki yang sudah jatuh terduduk, sehingga ia dapat mencium bau napas binatang itu yang memuakkan. Celaka, pikirnya, harimau itu sudah siap mencakar dan menggigit. Andaikata dengan sinkang ia mampu melindungi tubuhnya, setidaknya semua pakaiannya akan dicabik-cabik dan mungkin saja ia akan ditelanjangi oleh harimau ini di depan perwira tampan itu. Pikiran ini membuat ia nekat, dan ia sudah mengerahkan tenaga, hendak memukul kepala harimau itu dengan Ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu, walaupun hal itu akan dapat mendatangkan luka di dalam tubuhnya.

Akan tetapi pada saat itu, opsir tampan bersuit nyaring dan harimau itu tiba-tiba loncat ke belakang seperti ditarik ekornya saja. Sambil menggereng- gereng marah, harimau itupun bersembunyi di belakang si opsir, persis seperti seekor kucing yang jinak. Opsir itu berdiri sambil bertolak pinggang, menghadapi Kiki sambil berkata, matanya tetap halus akan tetapi nadanya mengejek.

“Kiranya engkau boleh juga. Kulitmu tidak lecet oleh kuku kucingku. Akan tetapi kalau hanya dengan kepandaian seperti itu, engkau berani masuk ke sini, hendak melakukan pencurian, sungguh engkau bodok sekali.”

Kiki ingin menjerit dan menangis saking marahnya. Ia meloncat dan menghadapi opsir ganteng itu matanya melotot lebar.

“Berani engkau mengatakan aku pencuri lagi? Akan kurobek mulutmu itu!” Dan Kiki pun sudah menyerang kalang kabut dan karena ia dapat menduga bahwa opsir itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, ia sudah menyerang

dengan ilmu yang paling diandalkan, yaitu Thai-lek Kim-kong-jiu. “Haiiiittt...”

Ia membentak dan tangan kanannya dengan jari terbuka menghantam ke arah dada opsir itu. Angin pukulan dahsyat menyambar panas ke arah dada opsir itu yang diam-diam terkejut sekali, karena baru dia tahu benar bahwa gadis yang berani memasuki rumahnya ini benar-benar memiliki ilmu silat yang hebat dan tenaga sinkang yang kuat sekali. Akan tetapi diapun tahu bahwa tadi, ketika menjebol pintu besi, hal yang amat luar biasa, gadis itu telah mengerahkan seluruh tenaganya, sehingga kini, kalau dia menangkis dengan sinkang, mungkin saja gadis itu akan terluka lebih parah lagi. Karena itu, dia cepat mengelak dengan amat mudahnya, sambil menggeserkan kakinya secara aneh dua kali ke kanan dan ke belakang.

Tang Ki, sebagai puteri seorang datuk persilatan yang tinggi ilmunya, mengenal langkah yang aneh itu, dan tahulah dara ini bahwa iapun berhadapan dengan lawan yang pandai. Sebelum ia menyerang lagi, opsir ganteng itu sudah mengeluhkan sebutir pel dan saku bajunya, pel yang terbungkus kain putih.

“Engkau terluka ketika merobohkan pintu tadi. Telanlah dulu pel ini, baru kita lanjutkan perkelahian, karena kalau engkau roboh karena luka dalam akibat membongkar pintu tadi, berarti bukan aku yang mengalahkanmu. Pel itu akan memulihkan keadaanmu dan kau boleh melawanku sekuat tenaga tanpa bahaya.”

Dia melemparkan pel itu ke arah Kiki yang menangkapnya dengan tangan kiri. Ayah Kiki seorang datuk sesat yang tentu saja tidak asing dengan bangsa racun. Maka melihat pel itu, Kiki lalu menciumnya dan menjilatnya. Tahulah dara ini bahwa pel itu bukan racun, dan memang berbau obat untuk menyembuhkan luka dalam atau menjaga agar tidak mudah menderita luka akibat guncangan tenaga sakti. Ia tidak ragu-ragu lagi, dan karena hatinya masih marah dituduh pencuri, ia tidak berterima kasih melainkan menelan pel itu begitu saja. Ada rasa hangat di perutnya dan sebentar kemudian, rasa nyeri di dada nyapun lenyap sama sekali.

“Nah, mari kita lanjutkan perkelahian kita…” tantangnya, dan iapun sudah menerjang maju agi.

Akan tetapi kembali opsir itu menghindarkan dengan langkah-langkah ajaibnya, dan berkata sambil melompat ke belakang.

“Nanti dulu, aku malu kalau berkelahi dengan gadis yang celananya robek dan nampak kulit pahanya. Mungkin kulit pahamu yang mulus itu yang akan menyelewengkan perhatianku sehingga aku kalah. Akan kucarikan ganti untukmu!”

Dia meloncat ke atas anak tangga dan lari ke atas, diikuti dengan setia oleh harimaunya. Benar saja, tak lama dia datang lagi dan melemparkan sebuah celana sutera biru ke arah Kiki. Gadis ini menyambutnya dan kagum. Sebuah celana wanita yang amat indah. Tidak kalah indahnya dengan celana- celananya di rumah, padahal sebagai anak orang kaya, pakaiannya termasuk pakaian-pakaian yang indah dan mahal. Kain sutera celana itu halus dan tebal, sungguh merupakan celana indah yang mahal harganya.

“Pakailah celana itu dulu. Jangan khawatir, aku tidak akan mengintai dan biar harimau ini jantan, dia sudah biasa tanpa pakaian, jadi kau tak usah malu kepadanya.”

Setelah berkata demikian, opsir itu membalikkan tubuhnya membelakangi Kiki. Hampir saja Kiki tertawa mendengar ucapan yang lucu itu. Tentu saja harimau selamanya telanjang, dan memang tak perlu malu kalau ia berganti celana ditonton harimau, walaupun harimau itu jantan dan masih muda juga! Ia, entah bagaimana, percaya begitu saja bahwa opsir muda yang amat sopan halus itu tentu tidak akan membalik sebelum ia selesai, maka iapun lalu melepaskan celananya sendiri yang tadi cabik-cabik dicakar harimau, dan kini hanya nampak celana dalamnya yang tipis. Cepat-cepat, sambil matanya tak pernah meninggalkan punggung pemuda itu, ia mengenakan celana biru itu dan sungguh amat mengherankan. Celana itu ukurannya pas benar dengan dirinya, seoah-olah ia berganti celananya sendiri saja!

“Aku sudah selesai!” katanya sambil membuang celananya yang cabik- cabik itu ke sudut. Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan matanya yang sudah lebar itu membelalak penuh kagum.

“Waduhh… engkau semakin cantik jelita saja memakai celana biru itu, nona!”

Post a Comment