Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 136

Memuat...

Song Kim menjadi marah dan menyerang. Akan tetapi tiba-tiba, dengan menggeluarkan pekik yang melengking, tubuh Kiki yang mundur-mundur itu terpeleset dan tubuhnya mencelat! Ternyata dara perkasa ini membuat poksai (jungkir balik) ke belakang, tangan kirinya menangkap ujung bambu, tangan kanan yang memegang senjata itu menyerang ke arah kaki lawan, sedangkan kaki kanannya dengan gerakan yang amat cepat telah menendang ke arah dada Song Kim! Gerakan ini sungguh sama sekali tidak tersangka oleh Song Kim sehingga dadanya kena ditendang.

“Bukkk!!” Untung di belakangnya ada tambang dimana tangan kanannya cepat menyambar tambang, sedangkan tangan kiri yang memegang golok itu diayun ke bawah menangkis senjata Kiki. Gadis itu maklum bahwa ia berada dalam bahaya, maka sambil kembali mengeluarkan suara melengking nyaring, tubuhnya melayang ke bawah sambil membuat gerakan salto sampai lima kali.

“Byurrrr!”

Tubuhnya jatuh ke air di luar perahu musuh. Ia cepat menyembul kembali dan memberi aba-aba kepada para anak buahnya untuk mundur. Semua bajak cepat kembali ke perahu mereka dan melarikan diri setelah meninggalkan korban hampir setengah jumlah mereka. Mereka mengalami kekalahan besar dan masih untung bahwa pemimpin mereka tidak tewas dan perahu naga itupun tidak mengalami kerusakan.

Song Kim marah sekali. Mencoba untuk menyerang kapal yang melarikan diri itu dengan tem bakan meriam, akan tetapi tanpa hasil karena meriamnya tadi sudah dirusak oleh para bajak. Setelah diperbaiki dan dapat dipergunakan, perahu bajak itu telah pergi terlalu jauh di luar jangkauan peluru meriam. Memang dia memperoleh kemenangan dan telah menghajar para bajak. Akan tetapi yang membuat dia penasaran sekali adalah karena dia tidak berhasil menangkap Kiki.

Dengan uring-uringan, terpaksa Song Kim memerintahkan orang-orangnya untuk kembali saja ke daratan.

Seorang gadis yang manis menunggang kuda memasuki pintu gerbang kota raja. Wajahnya cerah dan sinar matanya jenaka, walaupun ada bayangan bahwa gadis ini keras hati dan galak. Yang membuat ia nampak manis sekali adalah setitik tahi lalat di pipi kirinya. Caranya menunggang kuda membuat banyak pria yang memandang dengan hati tertarik menjadi mundur teratur untuk berani menggoda. Penunggang kuda seperti itu yang demikian sigap dan duduknya tegak, dengan keseimbangan yang begitu sempurna, bukanlah seorang gadis yang boleh diganggu begitu saja!

Memang tidak keliru dugaan orang. Gadis itu bukan lain adalah Kiki! Dia memenuhi perintah ayahnya agar segera melaksanakan keputusan mereka untuk mengembalikan atau mengirimkan kitab-kitab dalam peti hitam kepada puteri Pangeran Cen Tiu Ong di kota raja, dan selain itu, juga menyelidiki keadaan Lee Song Kim. Semenjak mendengar tentang perbuatan Song Kim terhadap perahu naga mereka dan membunuh banyak anak buah bajak, kebencian Hai-tok terhadap bekas muridnya itu semakin menghebat, dan dia ingin cepat-cepat tahu dimana dia menemukan bekas murid itu untuk dihukumnya.

Kiki seorang gadis yang cerdik sekali. Ia menduga bahwa kalau seorang pangeran dalam keadaan terancam maut masih teringat kepada sepeti kitab- kitab kuno, hal itu hanya berarti bahwa kitab-kitab itu amatlah berharga, setidaknya bagi sang pangeran atau puterinya. Karena itu, setelah tiba di kota raja di luar tembok kota raja, ia sengaja menyembunyikan peti itu di rumah seorang petani sederhana yang sudah diberinya uang, dititipkannya peti berisi kitab-kitab yang bagi si petani tentu tidak berarti.

“Lebih baik kuselidiki dulu malam nanti,” pikir Kiki.

Ia ingin sekali mengenal lebih dahulu keadaan keluarga itu sebelum menghubunginya. Dengan mudah ia mendapatkan sebuah kamar di sebuah hotel yang sedang saja, dan sambil memberi sekedar uang, ia menyuruh seorang pelayan hotel untuk mengurus kudanya.

Setelah malam tiba, Kiki mengenakan pakaian yang ringkas, dengan rompi berkembang. Tentu saja rompi kulit buaya itu tak pernah dipakainya di tempat seperti ini. Setangkai bunga dan emas permata tak lupa menghias rambutnya, dan itulah satu-satunya hiasan yang menempel di tubuhnya. Setelah keluar dan hotel, ia langsung menuju ke jalan besar dimana berdiri gedung keluarga Pangeran Ceng Tiu Ong dengan megah, kuno, dan sunyinya. Tembok yang mengelilingi rumah itu mengingatkan Kiki pada sebuah benteng. Betapa tebalnya tembok itu dan juga lebih tinggi dari pada tumah-rumah lain di sekitarnya yang dibangun belakangan.

Menjelang tengah malam, keadaan di jalan raya depan rumah itu sudah sepi sekali, tak nampak seorangpun manusia lewat di situ. Setelah meneliti ke kanan kiri dan yakin bahwa tidak ada orang yang melihatnya, Kiki lalu menggunakan ginkangnya, dengan tubuh yang ringan sekali ia meloncat ke atas tembok yang melingkari gedung itu. Ia berdiri di atas tembok itu dan kembali celingukan memandang ke kanan kiri, depan dan belakang. Kini nampak olehnya sebuah kebun yang terawat indah, dan bangunan itu walaupun nampak dan luar amat kuno, ternyata di sebelah dalamnya juga terawat bersih.

“Hauuuunggg!”

Tiba-tiba terdengar auman harimau! Bukan main kagetnya hati Kiki sampai hampir saja ia terguling jatuh dan atas tembok itu. Ia tentu saja tidak takut berhadapan dengan harimau, akan tetapi di tempat seperti itu mendengar auman harimau, sungguh mengejutkan bukan main, karena tidak tersangka sama sekali. Andaikata ia mendengar auman itu di tengah hutan, tentu sedikitpun ia tidak akan merasa kaget. Ia memandang ke dalam, mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi tidak melihat seekorpun harimau, ekornyapun tidak.

Dan kini tidak terdengar suara apa-apa lagi. Tentu di gedung itu dipelihara seekor harimau, pikir Kiki, harimau dalam kerangkeng. Dan agaknya semua penghuninya sudah tidur, buktinya, auman harimau itupun tidak menimbulkan keributan dan agaknya para penghuni rumah itu tidak ada yang perduli dan tidur saja terus.

Dengan amat hati-hati, Kiki mengerahkan seluruh ilmu Ginkangnya sehingga tubuhnya melayang turun bagaikan sehelai daun kering saja, ia masuk ke dalam kebun. Sejenak ia berindap-indap seperti maling. Biarpun ia puteri tunggal Hai-tok, biarpun ia pemimpin perahu Bajak Naga Laut, namun selama hidupnya belum pernah Kiki melakukan pencurian. Kini memasuki rumah orang tanpa diketahui pemiliknya, mendatangkari rasa berdebar-debar di jantungnya sehingga degup jantungnya sampai terdengar di dalam telinganya sendiri. Ia seorang yang keras hati dan memiliki ketabahan luar biasa, akan tetapi memasuki rumah orang seperti maling sungguh merupakan suatu pengalaman baru yang mendebarkan.

Dengan mudahnya, Kiki memasuki pekarangan terus ke belakang dan sebuah pintu kecil yang nembus ruangan belakang dapat dibukanya dengan mudah pula. Tanpa mengeluarkan terlalu banyak tenaga, ia dapat mematahkan kunci daun pintu itu, membuka daun pintunya perlahan-lahan.

“Geriiiittt!”

Kikia tersentak kaget, lalu tersenyum seorang diri. Gobloknya, pikirnya, masih derit pintu saja membuat ia kaget setengah mati seperti mendengar suara setan. Dengan hati-hati, ia memasuki ruangan belakang itu dan ternyata ruangan itu menyerupai sebuah gudang. Tidak ada seorangpun manusia di situ, dan gudang itu penuh dengan bahan makanan. Gandum, dendeng, bumbu-bumbu. Baunya menyentuh hidung. Bau yang bercampur aduk, jadi tidak enak. Ia sempat terheran, mengapa kalau semua bahan ini sudah dimasak, bau dan rasanya menjadi nikmat.

Pintu yang terdapat di gudang ini tanpa daun, dan ketika ia memasukinya, ternyata di sebelah itupun terdapat sebuah gudang kecil lainnya berisi senjata- senjata seperti pedang, tombak, golok, anak panah, ruyung, toya dan pendeknya, ada delapanbelas macam senjata pokok terkumpul di situ. Ia merasa heran. Tempat seperti ini hanya patut dimiliki orang yang suka berlatih ilmu silat. Senjata-senjata itu bukan barang pusaka, hanya senjata-senjata biasa, dan melihat betapa gagang-gagang senjata itu licin dan kehitaman, ia mengerti bahwa senjata-senjata itu seringkali dipergunakan orang, mungkin untuk berlatih. Dan memang benar, di luar gudang senjata ini terdapat ruangan luas yang jelas adalah sebuah lian-bu-thia (ruangan berlatih silat), dan di dindingnya banyak digantungi tulisan-tulisan yang gagah, pendirian-pendirian para pendekar seperti ‘Membela kebenaran dan keadilan di atas segala’, ‘Lebih baik mati seperti seekor harimau dari pada hidup seperti seekor babi’, dan lain- lain lagi.

Akan tetapi, tiba-tiba mata Kiki yang sudah agak biasa dengan cuaca remang-remang di tempat itu karena hanya diterangi sebuah lampu tempel kecil di sudut, melihat sebatang pedang bersarung yang indah sekali di dinding yang tidak ada tulisannya. Agaknya pedang itu merupakan pedang pusaka atau pedang keramat, karena di depan dinding itu terhampar sehelai permadani merah.

Kiki tertarik sekali dan cepat dihampirinya dinding itu. Akan tetapi ketika kedua kakinya sudah menginjak permadani, tiba-tiba saja lantai yang diinjaknya terjeblos ke bawah dan tubuhnya ikut terbawa jatuh ke bawah, jelaslah bahwa jebakan ini digerakkan orang. Ia sudah berhati-hati dan tadi menginjak dulu dengan satu kaki dan tidak terjadi apa-apa. Baru setelah ia berdiri dengan kedua kaki, tempat itu tiba-tiba terjeblos dan tentu saja ja tidak mampu menghindarkan diri ikut jatuh ke bawah!

Akan tetapi Kiki memang seorang gadis yang hebat! Biarpun sudah terjeblos jatuh, ia masih mampu berjungkir balik dan meluncur ke bawah dengan kedua kaki lebih dulu, kemudian hinggap di atas tanah dengan ringan. Kiranya lantai di atas tadi tidak ikut terjeblos melainkan permadaninya. Sebuah alat jebakan yang amat cerdik dan berbahaya. Dan dara itu kini telah berada dalam sebuah kerangkeng yang lebarnya hanya dua meter persegi dan mempunyai sebuah daun pintu besi! Dan ruangan bawah tanah ini luas juga, nampak dari kerangkengnya betapa ruangan itu berdinding tebal. Sebuah obor besar menyala tak jauh dan tempat dimana ia tertahan dan suasana di situ sunyi sekali.

Kesunyian inilah yang membuat la merasa agak takut. Dan tiba-tiba kembali terdengar auman harimau seperti tadi! Ia terlonjak kaget dan melihat sekitarnya. Tidak ada harimau dalam kerangkeng itu dan hatinya lega.

“Hei, pengecut besar! Kalau memang kau gagah, keluarlah dan jangan hanya bersembunyi, mengandalkan segala jebakan curang dan harimau ompong yang hanya pandal mengaum!” teriaknya marah, sengaja menggunakan kata-kata yang menusuk untuk membikin marah orang yang menjebaknya agar mau keluar.

Post a Comment