“Jahanam busuk!” kembali dia membentak, dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, ke perahu pasukan Harimau Terbang itu.
Tentu saja semua orang terkejut setengah mati ketika tiba-tiba melihat seorang pemuda tampan berada di perahu mereka. Si muka bengis, pemimpin mereka, yang sudah memegang sebatang golok, tahu bahwa yang muncul ini tentu pihak musuh, maka dia pun cepat membacokkan goloknya yang amat tajam itu ke arah Song Kim. Pemuda ini tidak mengelak, melainkan cepat menotok siku kanan pemegang golok, dan tiba-tiba saja tangan kanan itu menjadi lumpuh. Sebelum si muka bengis itu tahu apa yang terjadi, nampak sinar goloknya yang sudah pindah tangan itu berkelebat dan tersemburlah darah muncrat-muncrat dari leher yang sudah buntung itu!
Song Kim menyambar kepala yang mencelat itu, menjambak pada rambutnya. Muka yang sudah tidak berbadan agi itu masih nampak bengis, matanya melotot, alis berkerut dan mulutnya membentuk kebengisan setengah terbuka, amat mengerikan!
Melihat betapa kepala pasukan itu tewas dengan leher putus dan kini kepalanya dijambak tangan kiri pemuda itu, para anak buahnya terkejut, ngeri akan tetapi juga marah. Mereka lalu mencabut golok masing-masing dan maju mengeroyok. Terjadilah perkelahian di atas perahu itu. Akan tetapi mana mungkin perajurit-perajurit Harimau Terbang itu mampu melawan Lee Song Kim? Sekali saja golok itu berkelebat, seorang perajurit robek perutnya dan yang kedua hampir putus lehernya, sedangkan yang ketiga menjerit karena melihat betapa muka pemimpinnya itu tiba-tiba mencium mukanya dengan keras! Sempat dia menjerit ngeri, akan tetapi dadanya segera ditembus golok di tangan Song Kim! Kini pemuda itu mengamuk dan tak seorangpun di antara sepuluh orang itu yang sempat melarikan diri, semua habis dibabat golok rampasannya dan tubuh mereka kini malang melintang di atas dek perahu, yang sudah kebanjiran darah. Bau amis amat memuakkan. Song Kim lalu membuang golok
rampasannya dan meloncat ke air, menyelam dan lenyap dan situ.
Biarpun Song Kim telah berhasil membunuh sepuluh orang anggauta Harimau Terbang itu, namun dia kehilangan dua orang pembantunya, dan hal ini membuat hatinya menjadi marah sekali. Dia cepat pulang ke kota raja, membuat laporan kepada komandannya bahwa sebelum dia sempat menemukan tempat persembunyian Bajak Naga Laut, dia bentrok dengan orang-orang Harimau Terbang yang mengakibatkan dua orang kawannya tewas.
Komandannya juga penasaran dan marah, maka Lee Song Kim lalu diutus mengepalai sebuah perahu besar dengan anak buah sebanyak seratus orang tentara pilihan, bukan hanya untuk mencari dan menumpas bajak laut, akan tetapi juga untuk menumpas pasukan Harimau Terbang kalau berani mengganggu perahu pemerintih Ceng.
Perahu besar itu memang nampaknya saja mempunyai anggauta seratus orang pasukan, akan tetapi Song Kim tidak sebodoh itu, membiarkan perahunya hanya dijaga seratus orang. Bukankah perahu Pangeran Ceng Tiu Ong juga dikawal seratus orang perajurit dan apa jadinya? Sebagian besar perajurit itu tewas dan perahunya dibakar! Dan diapun tidak mungkin hanya mengandalkan kepandaiannya sendiri, karena selain pihak bajak itu banyak, juga dipimpin oleh orang pandal pula. Kalau benar sumoinya, Kiki, yang memimpin bajak itu, tentu dia sendiri sudah akan repot menandingi sumoinya dan tidak akan dapat melindungi anak buahnya dengan baik dari serbuan para bajak. Apalagi kalau yang memimpin bajak itu Hai-tok, bekas gurunya sendiri. Akan tetapi diapun tidak takut terhadap Hai-tok. Semua ilmu silat dan kakek itu sudah dikuasainya, dan kakek yang kaya raya itu mana akan mampu menandingi kekuatannya yang masih muda?
Karena cerdiknya, opsir muda ini lalu menyembunyikan seratus orang lagi pasukan di bagian bawah perahunya. Jadi, kekuatannya hanya nampaknya saja seratus orang, padahal sebenarnya duaratus orang. Dan perahunya juga bukan perahu biasa, melainkan perahu besar yang sudah diperlengkapi dengan meriam! Benderanya besar, bendera tanda milik pemetintah Ceng-tiauw, dapat nampak dari jauh. Dan pasukannya juga dipilih pasukan yang jagoan dan yang sudah berpengalaman bertempur di atas perahu.
Pendeknya, Lee Song Kim sudah membuat persiapan yang cermat untuk menghadapi segala kemungkinan, baik melawan pasukan Harimau Terbang maupun pasukan Bajak Naga Laut.
Sementara itu, peristiwa yang terjadi atas diri sepuluh orang anggauta Harimau Terbang yang dibantai oleh Song Kim itu, segera diketahui oleh Kapten Elliot. Bukan main marahnya kapten ini. Dia segera memanggil Peter Dull, letnan yang gagah perkasa, bekas sahabat baik Koan Jit itu. Setelah Koan Jit melarikan diri tanpa pamit setelah markasnya diserang oleh Ong Siu Coan dan anak buahnya dibantu Thian-tok, lalu sisa pasukan Harimau Terbang diserahkan kepada Letnan Peter Dull. Jumlahnya masih ada kurang lebih tujuhpuluh orang bersama dengan para mata-matanya sendiri. Mendengar betapa anak buahnya dibantai orang, marahlah Peter Dull. Karena tidak terdapat saksi hidup, dia tidak tahu siapa orangnya yang telah membunuh sepuluh orang anak buah nya itu secara demikian kejamnya.
“Damn!” kutuknya penuh kegeraman.
“Mereka bukan manusia, melainkan iblis-iblis jahat, membunuh orang seperti itu!”
Letnan ini yang menyaksikan sendiri mayat-mayat bergelimpangan di atas perahu itu dengan leher putus, atau hampir putus, dengan dada berlubang tembus, dengan perut pecah sehingga ususnya berceceran, dek perahu yang banjir darah, bau amis, membuat dia muak dan menganggap pihak musuh membunuhi sepuluh orang anak buahnya itu itu seperti iblis.
Demikianlah kita pada umumnya. Mudah saja kita menudingkan telunjuk kepada orang lain dengan tuduhan kejam, curang, jahat dan sebagainya. Peter Dull marah marah dan menganggap perbuatan orang yang membunuh sepuluh orang anak buahnya itu kejam seperti iblis. Dia sama sekali tidak ingat kalau dia dan orangnya, entah sudah membunuh beratus atau berapa ribu orang! Dan dia mengangap bahwa membunuh dengan pistol atau bedil atau meriam itu tidaklah sekejam membunuh dengan senjata tajam. Dia sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa menyebarkan candu kepada rakyat yang jutaan banyaknya itu merupakan pembunuhan yang lebih kejam lagi, membunuh sedikit demi sedikit dengan penyiksaan lahir batin yang luar biasa kejamnya!
Inilah yang menjadi kesalahan kita semua. Kita terlalu memperhatikan orang-orang lain, terlalu menilai perbuatan perbuatan orang lain. Pikiran kita setiap detik sibuk untuk menilai perbuatan orang lain, untuk membela diri, membenarkan diri, mencari segala alasan untuk membenarkan diri sendiri, mencari segala daya upaya untuk menguntungkan diri lahir batin, sehingga kita lupa akan suatu yang teramat penting dalam kehidupan kita, yaitu : MENGAMATI DIRI SENDIRI
Kalau saja kita selalu sadar, selalu waspada untuk mengadakan pengamatan terhadap diri sendiri, BUKAN AKU mengamati AKU, melainkan ada kewaspadaan, ada kesadaran dan pengamatan yang selalu melakukan pengamatan lahir batin dan diri kita detik demi detik. Waspada kalau kita sedang melamun, kalau sedang bicara, kalau sedang bekerja, mencurahkan segala tenaga dan perhatian terhadap diri sendiri, apa yang kita lakukan baik yang terjadi di dalam maupun di luar diri. Kalau sudah begitu, kita tentu tidak akan lagi menilai orang lain. Juga tidak lagi menilai diri sendiri, karena segalanya akan sudah nampak dan dimengerti benar!
Hanya pengamatan ini sajalah yang akan mampu mengubah batin kita secara menyeluruh dan secara seketika. Perubahan lahir tidak banyak artinya. Perubahan batiniah yang penting bagi hidup, karena apa yang suka dinamakan kebahagiaan adalah urusan batin, bukan urusan lahir. Urusan badan adalah kesenangan, dan dimana ada kesenangan tentu ada kesusahan. Badan bisa merasakan enak dan tidak enak, panas atau dingin, senang atau susah. Akan tetapi, pengamatan akan membebaskan batin dan semua pengalaman badan, sehingga batin akan tetap bebas, tidak bersandar, tidak bergantung, tidak susah atau senang, tak pernah mengeluh dan tak pernah bersorak-sorai. Hanya batin yang seperti inilah yang benar-benar dapat merasakan dan mengerti apa yang sesungguhnya dinamakan bahagia itu. Hanya yang beginilah yang mengerti apa yang dinamakan cinca kasih itu.
Kebahagiaan adalah urusan batin, bukan urusan badan. Cinta kasih adalah urusan batin bukan urusan badan. Kesenangan dan nafsu berahi, itulah urusan badan, tetapi kesenangan bisa berubah menjadi kesusahan dan cinta berahi bisa berubah menjadi kebencian!
Letnan Peter Dull, perwira berusia tigapuluh lima tahun yang ganteng itu, dengan marah lalu mempersiapkan kapal yang lengkap dengan meriam- meriam besar dan membawa serdadu sejumlah tidak kurang dari duaratus orang, semua bersenjata lengkap, lalu menjelajahi lautan timur untuk mencari bajak laut. Dia mendengar tentang bajak laut yang tersohor dengan nama Bajak Naga Laut, dan dia merasa yakin bahwa tentu bajak laut itulah yang membunuh orang-orangnya. Dia bersumpah untuk membasmi Bajak Naga Laut itu.
Peter Dull amat membenci para pejuang yang dinamakannya pemberontak, bukan hanya karena mereka banyak mengganggu bangsa kulit putih, akan tetapi terutama sekali karena dia kehilangan Diana yang dicintanya.