Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 133

Memuat...

Hati Kiki mulai merasa tertarik. Ketika masih kecil, ayahnya pernah mengajaknya pesiar ke kota raja dan dia samar-samar masih teringat betapa hebat dan besarnya kota raja. Besar dan indah sekali. Dan kalau ditemukannya Pangeran Ceng Tiu Ong, tentu dia akan dapat sementara tinggal di dalam istana pangeran itu. Dan hal inipun akan menambah banyak pengalaman hidup dan pengetahuannya.

“Engkau benar, ayah. Baiklah, nanti kalau sudah ada saat dan kesempatan yang baik, aku akan mencarinya dan mengantarkan peti ini.”

“Kenapa tidak sekarang?”

“Ayah, baru saja aku melakukan pukulan berat kepada pemerintah dengan membakar sebuah perahunya dan membajak pangeran itu. Di antara anak buah pasukan, tentu ada yang berhasil meloloskan diri dengan berenang. Kalau sekarang aku berkeliaran di kota raja dan ketahuan oleh mereka, apakah hal itu tidak amat berbahaya?”

Hai-tok mengangguk-angguk membenarkan pendapat puterinya. Memang, kota raja tidak boleh dibuat main-main. Di sana banyak sekali terdapat tokoh yang amat sakti, bahkan dia sendiri tidak berani sembarangan merajalela di kota raja. Pihak orang kulit putih merasa marah juga ketika beberapa di antara perahu-perahu mereka juga tidak luput dari gangguan Bajak Naga Laut. Sudah ada empat buah perahu mereka dibajak dan dibakar.

Admiral Elliot tersinggung kehormatannya. Walaupun empat buah perahu yang dibajak dan dibakar itu hanya perahu-perahu kecil dan dia hanya kehilangan beberapa orang perajuritnya, namun hal itu merupakan pukulan baginya. Kekuatan pasukannya terletak pada armadanya, dan kini ada perahu- perahunya yang dibakar oleh hanya bajak-bajak laut saja. Dia sudah menyuruh orang untuk melakukan penyelidikan dimana sarang Bajak laut itu.

Orang-orangnya, terutama sekali orang-orang Harimau Terbang, hanya tahu bahwa sarang bajak laut itu adalah Pulau Layar, dikepalai oleh Hai-tok Tang Kok Bu. Akan tetapi, ketika mereka ke sana, pulau itu sudah dibumihanguskan dan tak seorangpun tahu dimana sarang baru dari para bajak laut yang berani itu.

Tentu saja sisa-sisa pasukan Harimau Terbang yang sudah ditinggalkan Koan Jit itu, dan masih dipergunakan oleh Kapten Elliot atas persetujuan Admirai Elliot, kini dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Mereka dianggap lebih paham dan mengenal daerah perairan di lautan itu, juga mengenal para bajak laut. Dan pasukan Harimau Terbang yang kini sisanya tinggal kurang lebih limapuluh orang itu dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing sepuluh orang menunggang sebuah perahu yang diperlengkapi meriam untuk mencari bajak laut dan membasminya, atau kalau mereka merasa tidak kuat, melaporkannya kepada Kapten Elliot yang akan mengirim kapal untuk menghancurkannya.

Demikianlah, kini mulai nampak perahu-perahu yang memakai hiasan meriam itu berkeliaran di sepanjang pantai lautan timur. Para anak buah Harimau Terbang adalah orang-orang yang berilmu silat didikan Koan Jit. Mereka itu orang-orang kasar yang sudah biasa mengandalkan kekuatan dan kekerasan, maka tentu saja mereka seringkali bersikap sewenang-wenang terhadap para nelayan. Kalau tidak merampas ikan-ikan hasil jerih payah semalam, tentu suka mengganggu wanita-wanita pelayan yang muda dan cantik. Dengan demikian, nama Harimau Terbang terkenal sebagai pengganggu keamanan, bahkan mereka itu lebih dibenci oleh kaum nelayan dari pada para bajak laut sendiri, karena bajak-bajak laut itu tidak pernah mau mengganggu para nelayan.

Pada suatu pagi yang cerah dan air laut amat tenangnya, hanya berkeriput- keriput kecil, nampak sebuah perahu layar kecil yang hanya ditumpangi tiga orang hilir-mudik di tengah laut, tak jauh dari pantai. Para penumpang perahu itu agaknya tidak melihat bahwa tak jauh dan pantai, ada sebuah perahu bermeriam yang mengintai. Itulah perahu yang amat ditakuti para nelayan, perahu Harimau Terbang. Pada layarnya saja terlukis harimau terbang yang menyeramkan, dan di atas perahu itu nampak sepuluh orang laki-laki tinggi besar yang kesemuanya memakai rompi kulit harimau.

Sejak tadi, perahu-perahu nelayan sudah berpencaran melarikan diri karena ketakutan. Akan tetapi perahu kecil yang ditumpangi tiga orang itu agaknya tidak mengenal kegalakan perahu Harimau Terbang, atau mungkin juga tidak memperdulikannya. Sungguh mengherankan, mana ada orang, apalagi hanya tiga orang, berani tidak memperdulikan pasukan Harimau Terbang yang terkenal galak, baik di lautan maupun di daratan itu?

Akan tetapi kalau orang mengenal siapa orang yang berada di dalam perahu layar kecil itu, orang takkan merasa heran lagi. Pemuda tampan yang berada di perahu itu, yang pakaiannya indah pesolek, menyembunyikan pedang di punggung dan sepasang pisau belati di balik pinggang, bukan lain adalah Lee Song Kim, murid tersayang dan Hai-tok!

Seperti diketahui, pemuda yang murtad terhadap gurunya sendiri itu, kini telah menjadi seorang petugas pemerintah Ceng, memiliki kedudukan yang lumayan sebagai seorang opsir. Baru-baru ini, dialah yang mengkhianati gurunya sendiri, memberi tahu kepada komandannya akan adanya rapat gelap para tokoh kang-ouw yang anti pemerintah Ceng, dan untuk laporan ini, diapun memperoleh kenaikan pangkat. Kini, dia ditugaskan melakukan penyelidikan siapa adanya bajak laut yang baru-baru ini membajak perahu besar yang bertugas mengambil kitab-kitab di kuil Mukden.

Tentu saja, Lee Song Kim sudah dapat menduga siapa pembajaknya. Siapa lagi bajak yang menggunakan perahu Naga Laut kalau bukan anak buah gurunya? Dan siapa lagi gadis cantik yang memimpin pembajakan itu kalau bukan sumoinya, Tang Ki? Setelah Pulau Layar dibakar, bukan tidak mungkin kalau gurunya itu melakukan pekerjaan lamanya, yaitu membajak. Dia dapat menduga dengan tepat dan bahkan yakin, akan tetapi tentu saja dia tidak berterus terang kepada komandannya, karena kalau ketahuan bahwa dia murid kepala bajak itu sendiri, dia tentu akan dicurigai. Dua orang lainnya juga opsir-opsir rendahan yang menjadi pembantu Song Kim. Mereka berpakaian seperti orang biasa, bukan seperti perajurit atau opsir, jadi bukan pula seperti nelayan yang pakaiannya kotor, melainkan sebagai tiga orang pelancong yang sedang bersenang-senang naik perahu layar. Dua orang pembantu Song Kim itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan merupakan dua orang opsir yang pandai ilmu silat dan juga sudah banyak mengenal daerah itu.

“Di utara sana itu, yang nampak kecil hitam dari sini, adalah Pulau Layar,” kata seorang di antara dua opsir itu kepada Song Kim.

“Di sana yang menjadi majikan adalah seorang kaya raya she Tang, yang kabarnya dulupun pernah menjadi bajak laut, dan dia terkenal pula dengan julukan Hai-tok.”

“Apa? Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia?” tanya Song Kim pura-pura.

“Benar, Lee-ciangkun. Akan tetapi sudah bertahun-tahun dia tidak lagi melakukan pekerjaan membajak karena sudah kaya raya. Dan kabarnya pulau yang sudah dibakar oleh pasukan kita itu, kini ditinggalkan dan mereka lari entah kemana, sejak terjadi penyerbuan ketika Hai-tok mengadakan pesta ulang tahun itu.”

Song Kim mengangguk-angguk. Tentu saja dia tahu semua itu. Akan tetapi dia sendiripun tidak tahu ke pulau mana gurunya itu pindah. Terlalu banyak pulau kosong di tengah lautan sana, pulau-pulau kosong yang amat berbahaya. Tiba-tiba terdengar suara rumah keong besar ditiup, suaranya dari jauh terdengar seperti suara seekor lembu menguak. Song Kim dan dua orang

temannya menengok dan Song Kim berkata. “Menjemukan benar tingkah mereka itu.”

Mereka melihat betapa beberapa orang dan perahu bermeriam itu memberi tanda agar mereka datang mendekat.

“Lee-ciangkun, melihat dan pakaiannya, mereka itu tentulah orang-orang dari pasukan Harimau Terbang. Lihat itu benderanya.”

“Hemm, kaumaksudkan Pasukan Harimau Terbang yang menjadi anjing- anjing peliharaan orang kulit, putih?”

“Benar, Lee-ciangkun. Kabarnya terjadi bentrokan hebat antara para anjing penjilat orang kulit putih yang menyebabkan banyak anggauta Harimau Terbang tewas, bahkan pemimpinnya yang bernama Koan Jit kini juga telah melarikan din. Mungkin mereka itu hanya sisa-sisanya saja yang masih dipergunakan oleh pasukan Inggeris.”

Kini perahu Harimau Terbang itu mendekat, dan seorang di antara mereka yang berkumis dan berwajah bengis membentak.

“Heii... apakah kalian tuli atau buta? Dipanggil tidak mau mendekat? Hayo kalian dayung ke sini, kami harus memeriksa apa isi perahu kalian!”

Song Kim merasa mendongkol sekali.

“Kami hanya pelancong-pelancong yang tidak membawa apa-apa. Dan situpun nampak bahwa perahu kami ini kosong. Mau diperiksa apanya?”

Mendengar jawaban yang berani dan tidak halus itu, pimpinan Harimau Terbang menjadi semakin marah. Matanya melotot. Belum pernah ada orang di sepanjang pantai ini berani bersikap kasar kepadanya.

“Apakah kau gila? Kau tahu dengan siapa kalian berhadapan? Hayo ke sini kalau kalian tidak ingin kupenggal kepala kalian dan kuberikan kepada ikan hiu!” Song Kim tak dapat menahan lagi kesabarannya.

“Aku tahu berhadapan dengan Pasukan Harimau Terbang, anjing-anjing kelaparan yang menjilat-jilat sepatu orang-orang bule, bukan?”

“Keparat! Mereka itu pemberontak-pemberontak! Kejar!” Teriak si muka bengis itu, dan kini perahu Harimau Terbang mengejar perahu layar kecil itu.

Akan tetapi, Song Kim dan dua orang kawannya sengaja mempermainkan mereka. Mereka bertiga itu memiliki perahu yang lincah dan lebih dar itu, Lee Song Kim adalah murid Hai-tok dan kepandaiannya di atas maupun di dalam air luar biasa, maka dia dapat melarikan perahunya ke kanan kiri melepaskan diri dan pengejaran lawan, bahkan mempermainkannya dengan mengelilingi perahu yang jauh lebih besar itu.

Setelah berkejaran sampai setengah jam lebih tanpa hasil, akhirnya komandan perahu Harimau Terbang menjadi marah.

“Siapkan meniam Tembak mereka!”

Lee Song Kim sama sekali tidak mengira bahwa perahu Harimau Terbang itu akan melepaskan tembakan meriam terhadap perahu yang sama sekali tidak bersalah. Maka ketika tiba-tiba terdengar ledakan keras dan perahunya kena hantaman peluru sehingga dia sendiri terlempar jauh ke laut, dia terkejut bukan main. Cepat dia mencari kedua kawannya di antara perahunya yang terbakar. Namun dia hanya menemukan dua kawan itu sudah mengambang menjadi mayat di antara kepingan-kepingan kayu dan perahunya yang terbakar dan hancur.

“Keparat busuk!”

Song Kim memaki marah sekali dan tubuhnya segera lenyap ketika dia menyelam. Tak lama kemudian dia sudah berada di dekat perahu lawan, muncul di bawah perahu tanpa terlihat oleh seorangpun. Dia mendengar betapa sepuluh orang di atas perahu itu tertawa bergelak-gelak, mentertawakan perahunya yang terbakar dan hancur, dan tentu juga mentertawakan kematian dua orang kawannya dan dia sendiri yang oleh mereka tentu dianggap sudah mati. Kemarahan membuat wajah pemuda ini menjadi beringas sekali.

Post a Comment