Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 132

Memuat...

Pada saat-itu, para bajak laut sudah menerjang dan menyerang lagi pasukan itu, dan perkelahian sudah berlangsung lagi, lebih seru dari pada tadi. Kiki tidak menyerang kakek itu. Entah bagaimana, ia merasa sungkan untuk menyerang kakek itu dan ia lalu mengamuk di antara pasukan Mancu. Bukan main hebatnya sepak terjang Kiki, dan mayat-mayat para pasukan Mancu bergelimpangan. Karena mereka itu semakin terdesak, akhirnya sisa pasukan itu lari dan benloncatan keluar dari perahu mereka untuk berenang dan menyelamatkan diri.

Anak buah bajak bersorak-sorai karena merasa memperoleh kemenangan, sama sekali tidak perduli lagi bahwa banyak pula teman mereka yang tewas atau terluka. Akhirnya hanya tinggal kakek itu sendiri yang masih berdiri dengan muka membayangkan kengerian melihat pembantaian antara manusia itu. Dan para bajak itu lalu melempar-lemparkan mayat-mayat dan orang-orang yang terluka pihak lawan ke dalam lautan. Ada pula yang mulai merampoki barang-barang berharga di perahu itu.

“Kau pergilah!” kata seorang bajak dan tiba-tiba dia menyeret Pangeran Ceng Tiu Ong dan melemparkannya ke luar perahu.

“Byuurrr!”

Tubuh kakek itu terbanting ke air, dan pada saat itu, sinar bayangan orang yang kehijauan telah meloncat dan terjun ke air. Orang itu adalah Kiki! Entah apa yang mendorongnya, melihat kakek ini dilempar ke air, iapun lalu terjun dan sekali menyelam ia berhasil menarik kakek itu ke atas permukaan air. Ia lalu menaruh tubuh kakek yang lemas itu ke atas sebuah di antara perahu kecil bajak.

“Kami tidak akan membunuhmu, kaupergilah dengan baik-baik dari sini,” katanya.

Dua orang perajurit juga naik ke perahu itu dan mendayung perahu itu menjauhi perahu mereka yang dibajak, sedangkan Kiki cepat naik kembali ke atas perahu dengan pakaian basah kuyup.

Ketika ia melihat anak buahnya ada yang membawa sebuah peti hitam penuh kitab, ia menghardik.

“Berikan itu kepadaku! Itu bagianku!”

Anak buahnya terkejut dan memberikan peti hitam itu kepada Kiki. Setelah meneliti sejenak. Kiki mendapatkan bahwa peti itu memang berisi kitab-kitab kuno yang tulisannya tak dapat ia membacanya. Akan tetapi ia tidak membuang peti itu dan memerintahkan anak buahnya untuk membawa peti berisi kitab-kitab itu pulang ke Pulau Naga.

Setelah perahu besar itu dirampok habis, lalu perahu itu dibakar di bawah sorak-sorai para penjahat itu sampai akhirnya tenggelam. Para bajak banyak yang merasa kecewa. Perahu besar yang ditumpangi seorang pangeran itu ternyata tidak membawa banyak barang berharga.

“Pangeran pailit! Pangeran miskin! Hanya kutu buku!”

Mereka mengomel, akan tetapi diam-diam Kiki kagum sekali kepada kakek itu. Kalau seorang kakek macam ayahnya bersikap gagah berani dan tidak mengenal takut, hal itu tidaklah aneh karena ayahnya seorang pria yang berilmu tinggi. Akan tetapi kakek pangeran tadi hanya seorang kutu buku yang lemah. Akan tetapi, sikapnya demikian gagah berani, penuh wibawa menimbulkan kekaguman hatinya. Diapun merasa gembira dan lega hatinya bahwa ia telah menyelamatkah kakek pangeran itu dan kematian tenggelam di lautan. Kalau sampai kakek itu terbunuh, tentu kata-kata kakek itu akan selalu terngiang di hatinya dan akan selalu mendatangkan perasaan tidak enak.

Bahkan peti terisi kitab-kitab kuno itupun kini mulai mengganggu hatinya. Bukankah pangeran itu mengatakan bahwa kitab-kitab kuno itu amat penting bagi puterinya yang bernama Ceng Hiang? Kalau ia bisa mengirimkannya kepada gadis itu, alangkah akan lega dan senang hatinya!

Banyak ahli filsafat dan para bijaksana yang mengatakan bahwa pada dasarnya, semua orang itu mempunyai sifat atau watak yang baik. Bagaikan kertas putih yang masih kosong, maka sejak anak-anak, orang telah dibentuk oleh yang mengisi kertas putih. Namun, betapapun kotornya kertas itu dicorat- coret, pada dasamya masih ada putihnya dan kadang kadang sifat kebaikan dan kebersihan ini muncul.

Benar tidaknya pendapat para ahli filsafat ini terserah kepada penilaian kita sendiri. Yang jelas saja, semua orang ini, kita semua, condong untuk melakukan kebaikan kepada orang yang mendatangkan kesan baik kepada kita. Kebanyakan dari kita bersikap dan berbuat baik kepada orang yang menyenangkan kita, dan yang menyenangkan ini berarti yang menguntungkan, baik batiniah maupun lahiriah. Dengan demikian, maka segala kebaikan seperti itu adalah perbuatan munafik belaka, yang pada bakekatnya hanya untuk menyenangkan diri sendini saja melalui lain orang. Bukankah demiklan?

Untuk dapat melihat ini, kita harus berani menghancurkan lebih dulu bayangan tentang diri kita sendiri yang kita bentuk dan bangun sejak kecil, bayangan yang nampak demikian baiknya, bahkan yang terbaik dan terbersih, dan entah ‘ter’ apalagi. Barulah akan nampak betapa munafiknya kita, betapa kotornya batin kita selama ini. Dan hanya kita sendirilah yang mampu mengubahnya. Bagaimana caranya?

Tidak ada caranya, yang terpenting, kalau kita waspada dan melihat kekotoran menempel pada diri kita, apa yang akan kita lakukan? Kecerdasan akal budi tentu akan menggerakkan tangan untuk membersihkannya dan menghentikan segala kegiatan yang menimbulkan kekotoran itu.

Kiki membawa peti berisi kitab-kitab kuno itu ke Pulau Naga. Ayahnya, Hai- tok Tang Kok Bu yang sekarang tidak begitu kaya raya lagi, memandang dengan alis berkerut. Dia sendiri tidak mengenal huruf-huruf kuno itu, hanya mengenal beberapa buah saja yang kalau dirangkai tidak ada artinya.

“Kiki, apakah kau sudah gila? Buku-buku macam itu kaubawa, apakah hanya untuk dijadikan umpan rayap? Pula, aku mendengar engkau menyelamatkan seorang pangeran Mancu dari lautan. Apa-apaan pula ini? Kau malah hendak melindungi bangsawan musuh!”

“Ayah, yang kutolong itu adalah seorang laki-laki tua yang gagah perkasa! Dia seperti sasterawan yang lemah, akan tetapi kegagahannya tidak kalah oleh kita. Ketika senjataku menempel di lehernya, dia berkedippun tidak! Dan tidak pernah marah, bahkan menawarkan seluruh barangnya untuk diambil asal jangan ada perkelahian bunuh-membunuh. Dia menitip pesan agar kalau dia dibunuh, peti kitab kitab kuno ini diserahkan kepada puterinya di kota raja yang bernama Ceng Hiang. Aku tertarik dan kagum sekali kepada orang tua gagah itu, ayah… dan pada saat itu, aku hanya tahu dia seorang mengagumkan, bukan pangeran atau bangsawan apapun.”

“Huh, kau sudah menjadi lemah hati, ahh… tapi ini merupakan kesempatan baik sekali!”

Tiba-tiba Hai-tok memukul telapak tangannya sendiri.

“Kau bisa mengantarkan peti ini ke kota raja, mencari pangeran itu dan menyerahkan peti ini!”

“Ayah… aku tidak butuh ganjaran!”

“Hushh, bukan itu, anak bodoh. Tapi engkau bisa menyelidiki keadaan Song Kim, murid murtad itu. Kalau sudah tahu dimana kedudukannya dan dimana dia, aku sendiri yang akan menghajar dan membunuh dia!” kata kakek itu penuh geram.

Post a Comment