Mendengar ini, Kiki cepat menoleh ke sana. Memang belum nampak karena terhalang oleh alunan gelombang, akan tetapi ia cepat memerintahkan agar perahunya memutar haluan ke kanan. Tak lama kemudian, benar saja nampak sebuah perahu besar sekali, hampir dua kali lebih besar daripada perahunya sendiri, sedang berlayar ke arah barat, ke daratan. Dan dari keadaan serta bendera kapal itu, mudah diduga bahwa kapal atau perahu besar itu milik pemerintah.
Bukan main girangnya hati Kiki. Ia amat membenci pemerintah Mancu. Bukan hanya membenci karena Bangsa Mancu sudah menjajah sampai ratusan tahun, bukan pula hanya karena pemerintah Mancu bersikap lemah dan pengecut terhadap orang-orang barat, melainkan pertama karena pemerintah Ceng membakar Pulau Layar, dan kedua karena ia sudah mendengar bahwa suhengnya, Lee Song Kim, kini menjadi kaki tangan pemerintah penjajah. Bahkan ada kabar bahwa Lee Song Kim yang mengkhianati guru sendiri, dan dialah pelapor kepada pasukan Ceng ketika diadakan ulang tahun ayahnya sehingga pesta itu digempur dan diserang oleh pemerintah Ceng. Ia benci pemerintah Ceng. Ia benci suhengnya!
“Tambah kecepatan, dan potong jalan, jangan membiarkan perahu anjing- anjing Mancu itu mencapai daratan lebih dulu dan kita!” teriak Kiki dengan gembira dan seluruh urat di tubuhnya sudah menegang dalam gairahnya untuk segera turun tangan menyerang perahu musuh itu.
Kiki sama sekali tidak perduli melihat besarnya kapal, walaupun ia dapat menduga bahwa pasukan yang berada di kapal itu menurut ukuran kapal, tentu kurang lebih dua kali lebih besar dari pada jumlah pasukannya sendiri. Perahu Naga itu bentuknya memang dibuat istimewa sehingga dapat berlayar dengan luar biasa cepatnya. Mereka memotong jalan dari kiri dengan kecepatan yang membuat perahu itu meluncur seperti terbang. Mereka sudah mendekati perahu besar berbendera pangkat seorang pejabat tinggi. Dan tentu saja pasukan yang berada di perahu besar itu sudah melihat munculnya perahu itu, bahkan sudah mengenalnya sebagai perahu bajak.
Terdengar teriakan-teriakan menyambut Bajak Naga Laut, dan para perajurit dengan tombak di tangan siap berjajar di tepi perahu. Betapapun ganasnya bajak itu dikabarkan orang, para perajurit yang merasa lebih banyak itu tidak takut, apalagi mereka kini sedang mengawal seorang pembesar istana yang berpangkat Pangeran. Sang Pangeran yang sudah tua itu, di kamarnya mendengar akan adanya bajak laut dan dengan tenang dia mengatakan bahwa kalau bisa agar dihindarkan bentrokan, kecuali kalau tidak ada jalan lain.
Pangeran itu bernama Ceng Tiu Ong, seorang pangeran tua yang di kota raja terkenal sebagai seorang pejabat yang menjadi penasihat kaisar. Pangeran ini disegani orang karena adil dan berani, akan tetapi karena adil dan beraninya itu, diapun dibenci banyak pembesar yang korup, dan karena kaisar mengalami hasutan-hasutan mereka, Pangeran Ceng Tiu Ong ini agak disingkirkan atau dijauhi sehingga kedudukannya kini tidak penting lagi, hanya pengurus perpustakaan istana saja, karena dia memang seorang ahli sastera. Pangeran Ceng Tiu Ong ini seorang peranakan Mancu, ayahnya seorang pangeran Mancu dan ibunya dari selir, seorang perempuan hari dari utara.
Pada hari itu, dia bertugas mengambil kitab-kitab kuno dari sebuah kuil tua di Mukden, dan karena penjalanan darat selain jauh melelahkan juga berbahaya dengan adanya pemberontakan-pemberontakan, maka dari Mukden dia dikawal sampai ke tepi laut dan kini hendak kembali ke kota raja melalui lautan, dikawal oleh seratus orang perajurit. Selama dalam pelayaran siang malam, dia berada di dalam kamar kapal saja mempelajari kitab-kitab kuno yang amat banyak jumlahnya dan merupakan benda-benda kuno yang amat besar harganya dan nilainya itu. Ketika dia menerima kabar akan munculnya perahu Bajak Naga Laut, dia tenang-tenang saja dan masih melanjutkan, memeriksa buku, hanya memesan kepada anak buahnya agar jangan menyerang mereka, bahkan kalau mungkin menghindarkan bentrokan- bentrokan.
Diam-diam di lubuk hatinya, pangeran ini tidak menaruh kebencian, sebaliknya malah mengagumi para patriot yang berjuang untuk membebaskan tanah airnya dari penjajah Bangsa Mancu. Pangeran ini, biarpun peranakan Mancu, namun dari banyak membaca sejarah dan kitab-kitab kuno, tahu betapa busuknya penjajahan dah betapa menderitanya rakyat yang terjajah. Juga dia banyak membaca, bahkan berkenalan dengan para pendekar dan patriot walaupun dia tidak mau mengotori tangannya dengan mencampuri urusan pemberontakan, apa lagi persekongkolan.
Pada waktu melaksanakan tugas mengambil kitab-kitab dari kuil kuno di Mukden ini, dia pergi sendirian saja, tidak mengajak keluarganya. Akan tetapi dia tidak mengenal Kiki dan watak gadis yang seperti ikan hiu ganasnya itu. Kiki telah memerintahkan orang-orangnya untuk menurunkan perahu-perahu kecil dan setiap perahu ditumpangi lima orang anak buahnya, kemudian perahu-perahu kecil yang amat lincah itu didayung cepat-cepat membentuk formasi yang mengepung perahu besar yang hendak dibajak.
Sebelumnya ia telah mengatur siasat dan kini para anak buahnya, dengan menumpang delapan perahu, berjumlah empatpuluh orang, sudah berluncuran mengepung perahu besar. Para perajurit di geladak perahu besar itu sudah siap dengan tombak mereka dan berteriak-teriak memaki, karena mereka sama sekali tidak takut melihat jumlah bajak yang hanya setengah jumlah mereka itu. Akan tetapi Kiki mengeluarkan seruan nyaring disusul oleh tiupan tanduk yang mengeluarkan suara berdengung dalam dan sampai terdengar jauh, dan itulah tanda penyerangan bagi dua buah perahu kecil yang berada di depan kapal lawan. Sepuluh, orang anak buahnya berloncatan dan memanjat tali kapal itu, menyerang ke atas. Mula-mula ketika mendekati kapal, mereka berlindung di balik perisai untuk menghindarkan diri dari serangan anak panah, kemudian setelah memanjat mereka berlindung pada tubuh perahu lawan. Tentu saja para perajurit yang berada di atas dek berusaha untuk
mencegah mereka naik dengan penyerangan tombak-tombak mereka. “Sayap kiri maju!”
Kiki membentak sambil menudingkan telunjuk tangan kanannya ke arah bagian kiri dan tangan kirinya memegangi tombak tulang ikan yang menggiriskan itu. Pembantunya meniupkan aba-aba itu, dan sepuluh orang anak buah dan dua perahul lainnya mulai memanjat dan berloncatan ke atas, disusul pula oleh aba-aba yang dikeluarkan Kiki, sehingga kini empatpuluh orang anak bahnya secara bertubi-tubi telah mulai menyerang ke atas.
Serangan yang dulakukan dari empat penjuru itu sempat mengacaukan pertahanan para perajurit yang berlarian ke sana ke mari. Apalagi ketika Kiki kembali memberi aba-aba, dan sepuluh orang sisa anak buahnya, setelah perahu naga mendekat, lalu melayangkan anak panah berapi yang tentu saja membuat suasana di kapal menjadi semakin panik karena ada panah api yang mengenal layar dan membakar perahu itu!
Tang Ki atau Kiki memang hebat. Ia bukan saja mempelajari ilmu silat tinggi dan ilmu dalam air dari ayahnya, akan tetapi juga mempelajari siasat pertempuran dengan kapal, dan dalam kecerdikannya dan kelincahanya, ia malah tidak kalah oleh ayahnya sendiri.
Kini empatpuluh orang anak buahnya itu telah berhasil naik ke atas perahu lawan dan sudah terjadi pertempuran yang mati-matian. Iapun cepat menyuruh anak buahnya mendekatkan perahu dan dalam jarak duapuluh lima meter, ia sendiri yang memegang tombak itu yang ujungnya berkait dan dipasangi tali panjang, dan dilontarkannya tombak itu yang tepat mengenai tubuh kapal dan mengait! Dua perahu itu sudah bergandeng kini dan dengan cara yang demonstratip sekali, setelah anak buahnya menjaga agar tali itu tetap menegang, Kiki sambil membawa senjatanya lalu meloncat ke atas tambang menuju ke kapal musuh!
Melihat ini, semua anak buahnya kagum, dan pihak musuh terbelalak dan merasa jerih sekali. Apalagi setelah dengan teriakan peanjang yang melengking nyaring, Kiki meloncat ke atas geladak perahu musuh, dan begitu disambut oleh empat orang perajurit, sekali ia menggerakkan tombaknya derigan putaran cepat, empat orang perajurit itu mengaduh dan terjungkal tewas! Makin serulah kini perkelahian di atas geladak kapal musuh itu, antara empatpuluh anak buah bajak melawan seratus orang perajurit di atas perahu Ceng itu.
Akan tetapi amukan Kiki memang hebat. Senjata-senjata tajam yang menuju ke arah tubuhnya yang terbungkus kulit buaya laut itu dibiarkannya saja dan bacokan pedang atau golok, tusukan tombak, semua meleset ketika hinggap di kulit buaya yang melindungi tubuhnya yang ramping. Akan tetapi setiap tusukan atau pukulan tombak tulang ikan di tangannya itu pasti merobohkan lawan, karena senjata ini mengandung bisa yang ampuh!
Teriakan-teriakan dan guncangan-guncangan yang terjadi itu mengejutkan Pangeran Ceng Tiu Ong yang sedang tenggelam di dalam sebuah kitab kuno yang dipelajari isinya. Dia bukan ahli silat, akan tetapi dari kepandaiannya membaca huruf-huruf kuno sekali, tahulah dia bahwa kitab yang dibacanya itu merupakan sebuah kitab rahasia peninggalan pendeta Buddhis Tat Mo Couwsu yang entah bagaimana dapat terselip di dalam kumpulan kitab-kitab kuno di kuil Mukden itu! Hatinya merasa girang sekali. Biarpun dia sendiri lebih suka ‘bersilat’ dalam kitab-kitab kuno, akan tetapi puteri tunggalnya, yang pada waktu itu berusia sembilanbelas tahun, merupakan seorang ahli silat tingkat tinggi yang amat disegani orang di kota raja. Bahkan dengan adanya puterinya itulah, maka sampai sekarang dia selamat karena musuh-musuhnya tidak ada yang berani sembarangan turun tangan.
Hal ini tidak mengherankan, karena puterinya itu adalah seorang murid dari keturunan keluarga Pulau Es yang terkenal memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi!
“Wah, ini kitab untuk anakku. Tentu ia senang sekali kalau sudah kuterjemahkan untuknya,” pikirnya, dan pada saat itulah dia diganggu kegaduhan di atas dek.
Pangeran Ceng Tiu Ong menyimpan kembali kitab itu dan diapun melangkah ke luar dari dalam kamarnya. Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat pertempuran di atas dek itu, lebih kaget lagi melihat mayat-mayat bergelimpangan dan darah membanjiri dek kapalnya!
“Berhenti! Tahan senjata dan berhentilah berkelahi!” teriaknya.
Para perajurit yang sudah kehilangan seperempat jumlah pasukannya segera menahan senjata dan mundur.
Melihat munculnya seorang laki-laki yang meneriakkan agar pertempuran dihentikan, Kiki juga berseru agar orang orangnya mundur dan menahan senjata mereka. Biarpun di antara orang-orangnya ada yang tewas dan terluka, namun jumlahnya kurang dari sepuluh orang, berarti bahwa pihaknya sedang mendesak dan memperoleh kemenangan. Melihat laki-laki itu yang ditaati para perajurit, ia dapat menduga bahwa tentu itulah pemimpinnya, maka dengan langkah tegap dan gagah, iapun maju menghampiri dan menghadapi Pangeran Ceng Tiu Ong. Pangeran ini sejenak memandang dengan heran, kagum dan juga penasaran. Inikah pemimpin para bajak yang liar dan ganas ini? Sungguh sukar dipercaya.
“Siapakah engkau dan mengapa kalian menyerang perahu kami?” tanyanya, suaranya halus, akan tetapi Kiki merasakan kewibawaan pada diri kakek yang nampaknya halus dan sabar.
“Kami adalah bajak laut yang terkenal di sini… Bajak Naga Laut, dan akulah pemimpinnya. Apakah engkau pemimpin pasukan pemerintah Mancu ini? Kalau begitu, majulah dan lawanlah aku!” Berkata Demikian, Kiki melintangkan senjatanya yang istimewa itu.
Kakek itu tersenyum pahit dan memandang ke sekeliling, ke arah mayat mayat malang melintang itu dengan pandang mata sedih.
“Siancai… orang-orang berbunuh-bunuhan hanya untuk harta. Betapa rendah dan kotornya! Kalian bajak laut tentu ingin membajak kami dan mengambil barang-barang berharga kami, bukan? Nah, lakukanlah. Ambillah semua yang kalian kehendaki, asal seperti buku-buku tua itu jangan kalian ambil. Ambilah dan jangan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi.”
Kiki melongo. Belum pernah selama menjadi pemimpin bajak, ia bertemu dengan seorang pembesar seperti ini. Menyerahkan saja barangnya untuk diambil begitu saja. Betapa pengecutnya! Tentu ini seorang pengecut, seorang penakut yang mungkin sudah terkencing di celananya.
“Huh, tak tahu malu! Engkau takut mati?” bentaknya.
Dan senjata Kiki berkelebat, tahu-tahu ujung senjata yang runcing itu telah menempel di leher orang tua itu. Pangeran Ceng Tiu Ong merasa betapa benda itu amat dingin, namun berkedippun dia tidak!
“Nona, engkau masih muda… tidak pandai mengenal orang. Bagaimana aku yang sudah hidup puluhan tahun ini takut mati? Tidak, kalau engkau hendak membunuh, bunuhlah. Aku tidak takut mati. Aku hanya merasa kasihan kepadamu.”
Senjata itu turun lagi.
“Kasihan kepadaku? Maksudmu?”
“Engkau ini seorang gadis yang masih muda belia, akan tetapi melumuri kedua tanganmu dengan dosa, mengerahkan anak buahmu untuk membunuhi banyak orang, bahkan mengorbankan nyawa anak buahmu hanya untuk merampas harta. Nah, aku ingin mengindarkan engkau berbuat dosa lebih banyak. Kalau ingin harta, ambillah saja.”
Wah, kembali Kiki menjadi bengong. Orang ini memang sama sekali tidak takut dan hampir saja ia menduga bahwa orang ini agaknya memiliki kesaktian. Kalau tidak, bagaimana nyawanya sudah berada di ujung senjatanya masih bersikap demikian beraninya?
“Orang tua, siapakah engkau?”
“Aku Pangeran Ceng Tiu Ong dari kota raja,” jawab yang ditanya dengan nada suara datar, sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan atau ingin memperoleh keuntungan dari namanya.
Mendengar ini, anak buah bajak berteriak-teriak. “Bunuh dia! Bunuh pangeran Mancu!”
“Hemm, kaudengar sendiri, pangeran. Kami bukan hanya bajak biasa. Kami bajak yang berjiwa pahlawan. Kami memusuhi pemerintah penjajah Mancu dan orang-orang kulit putih!”
“Ahhh!” Pangeran itu tekejut dan sepasang matanya kini memandang kagum kepada Kiki.
“Kiranya engkau seorang patriot wanita? Wah, kalau begitu, aku tidak dapat banyak bicara lagi. Terserah kepadamu… akan tetapi, pintaku, kalau aku mati, peti terisi buku di dalam kamarku itu harap jangan dibakar atau dibuang, akan tetapi kirimkan kepada seorang puteriku di kota raja. Kitab-kitab kuno itu penting sekali untuknya. Namanya Ceng Hiang.”