Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 130

Memuat...

Apapun alasannya, apapun propaganda yang diajukan orrang-orang yang berkepentingan untuk mendorong rakyat untuk berperang, untuk berbunuh bunuhan, adalah keji? Dan celakanya, ini merupakan kenyataan pahit sekali yang terpaksa harus kita telan, mereka yang mempropagandakan perang itu dengan dalih agama, potitik, bangsa, negara, tanah air, bendera, atau apa saja, mereka yang menjadi pendorong-pendorong perang ini sendiri, tidak pernah ikut berperang!

Mereka hanya berkaok-kaok senyaring mungkin untuk mendorong rakyat seperti orang yang menghasut segerombolan serigala, dan apabila keadaan membahayakan bagi diri mereka, apabila sudah tidak ada lagi harapan menang bagi mereka, maka beberapa gelintir manusia ini, paling dulu melarikan diri sambil tidak lupa membawa barang berharga, menyelamatkan diri tanpa memperdulikan lagi kepada mereka yang tadinya berperang karena mereka hasut, dan tidak perduli lagi kepada mereka yang sudah mengorbankan nyawa, harta dan keluarga!

Terkutuklah mereka itu! Dan ini bukan dongeng, bukan pula fitnah, melainkan dapat kita lihat setiap waktu, dapat kita pelajari dari sejarah, bahkan peda saat Anda membaca ini, masih terjadi di segala pelosok dunia ini!

Menyedihkan, bukan? Kalau begitu, mengapa kita begini bodoh? Karena sesungguhnva, kitalah yang bodoh! Kitalah yang membiarkan diri kita menjadi kerbau kerbau yang dicocok hidungnya dan dituntun ke ‘rumah jagal’. Bagaimana kalau kita semua, seluruh rakyat di dunia ini, tidak lagi mau mengangkat senjata. Tidak mau berbunuh-bunuhan? Kalau ada para pembesar, para kepala negara, dan kepala atau komandan balatentara, ingin perang, biarlah mereka sendiri yang maju. Jenderal lawan jenderal, kepala negara lawan kepala negara, menteri lawan menteri. Dan kita, rakyat sedunia, menjadi penonton saja seperti kalau kita nonton pertandingan tinju. Lucu dan menyenangkan sekali, bukan?

Serangan di malam hari itu tidak hanya melenyapkan Giok-liong-kiam dan beberapa benda pusaka dari tangan Koan Jit, akan tetapi bahkan juga melenyapkan Koan-Jit dalam benteng! Pasukan Harimau Terbang lalu dibubarkan oleh pasukan lnggeris karena komandannya hilang atau menghilang. Sebaliknya, Admiral Elliot juga kehilangan Ong Siu Coan yang pergi tanpa pamit sambil membawa sedikitnya dua puluh buah senapan dan pistol yang dicurinya bersama gurunya.

Dan mulai saat itu, Ong Siu Coan, dibantu Thian-tok, mulai mengumpulkan para anak buahnya, bekas anak buah Thian-te-pang yang setia kepadanya, banyak pula menerima pemuda-pemuda dari luar, dan dia mulai membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Pai Sang-ti Hui (Perkumpulan Pemuja Tuhan). Perkumpulan ini bentuknya seperti perkumpulan Agama Kristen, dan karena melihat bahwa yang menjadi pemimpin adalah Ong Siu Coan dan semua anggautanya mengaku sebagai orang Kristen, juga karena Pai Sang-ti Hui ini nampaknya tidak memusuhi orang-orang kulit putih, maka hubungan antara perkumpulan ini dengan orang kulit putih nampak baik.

Pai Sang-ti Hui ini hanya bergerak memusuhi pemerintah Ceng saja. Akan tetapi, karena Ong Siu Coan adalah orang yang sejak kecilnya digembleng ilmu silat dan Agama Buddha, Taoism, dan juga Khong-hu-cu, maka Agama Kristen yang dipimpinnya itu sudah banyak menyeleweng dan aselinya, bahkan berbau mistik! Juga tidak mengharamkan atau melarang perbuatan yang sifatnya penggunaan kekerasan, karena memang semua anggautanya diajar ilmu silat dan ilmu perang.

Seperti telah disangka semula, pasukan Ceng yang marah karena kegagalan mereka membasmi para pemberontak di dalam guha tepi pantai lautan dimana diadakan pesta hari ulang tahun Hai-tok, mereka lalu mengerahkan perahu-perahu dipenuhi pasukan dan berlayarlah mereka menuju ke Pulau Layar, tempat tinggal Hai-tok dan keluarganya. Diserbulah pulau itu, akan tetapi ketika mereka tiba di pulau itu, Hai- tok dan keluarganya telah lama meninggalkan pulau. Karena itu, para tentara Mancu menjadi marah dan mereka menghancurkan segala yang berada di pulau itu setelah merampasi semua benda berharga, bahkan lalu membakar semua bangunan yang berada di pulau.

Tak seorangpun anak buah Hai-tok yang tinggal di situ dan tidak jatuh korban. Dengan kecewa, akan tetapi mengangkut barang-barang perabot rumah tangga yang lumayan karena Hai-tok yang menjadi majikan pulau itu merupakan seorang kaya, pasukan Ceng itu pulang ke daratan membawa barang-barang rampasan mereka.

Kemana perginya Hai-tok, keluarganya dan anak buahnya? Kakek yang cerdik ini sudah dapat menduga akan datangnya serbuan, maka sebelum serbuan datang, dia mengajak anak buahnya untuk meninggalkan Pulau Layar dan mereka bersembunyi di sebuah pulau yang lebih jauh dan terpencil lagi, pula pulau ini amat berbahaya karena di situ terdapat banyak sekali ular-ular berbisa.

Namun, Hai-tok adalah seorang sakti dan bersama anak buahnya, dia membasmi dan mengusir ular-ular ini dan tinggal di pulau yang bentuknya memanjang seperti tubuh ular, melingkar dan karena bentuknya itu, maka pulau ini disebut Pulau Naga. Memang bukan pulau yang terlalu subur, kalah baik dengan Pulau Layar, akan tetapi untuk tempat persembunyian, lebih menguntungkan karena pulau ini dilindungi ombak-ombak yang besar dan berbahaya sehingga sukarlah bagi musuh untuk menyerangnya. Dan pula, Hai- tok membawa pula harta bendanya, dan sebagai orang kaya raya, dia tidak begitu membutuhkan tanah subur. Semua keperluan makan mudah dibeli dan karena kini mereka kehilangan rumah dan perabot-perabot sehingga harus mengeluarkan banyak uang, maka Hai-tok dan anak buahnyapun kembali kepada pekerjaannya yang dahulu, yaitu menjadi bajak laut!

Pada suatu hari, di waktu lautan amat tenang dan matahari amat cerah, nampak sebuah perahu layar yang cukup besar dan penuh dengan anak buah. Perahu itu panjang dan bentuknya seperti seekor naga, bahkan kepalanya juga diukir dengan amat indahnya. merupakan kepala seekor naga yang selain indah juga nampak seperti hidup saja. Juga bendera besar hitam yang berkibar di ujung tiang layar itu disulam gambar seekor naga laut yang amat mengerikan, moncongnya terbuka lebar, matanya mencorong dan cakarnya siap untuk menerjang. Layarnya sendiripun digambar dengan garis-garis berwarna putih, hijau dan hitam, lorek-lorek seperti perut naga. Anak buahnya memakai pakaian seragam pula, gagah-gagah dan bersenjata lengkap. Layarnya berkembang sampai menggembung ditiup angin laut dan kapal itu meluncur cepat sekali.

Seorang yang bertubuh ramping berdiri sambil memandang jauh ke depan, tangan kirinya memegang sebatang tongkat putih yang runcing. Itulah tulang binatang laut yang amat kuat dan keras seperti baja dan mengerikan. Akan tetapi, orang yang jelas merupakan pimpinan dan anak buah di perahu naga itu ternyata adalah seorang wanita. Masih amat muda lagi, dan amat cantik jelita. Usianya tidak akan melebihi delapanbelas atau sembilanbelas tahun, namun sikapnya amat berwibawa.

Pakaiannya ringkas, dan bajunya yang berlengan panjang itu ditutup rompi yang terbuat dari kulit buaya laut yang melindungi tubuhnya dari pundak sampai ke lutut. Pingangnya yang kecil ramping memakai sabuk yang lebar berwarna kuning dan biarpun tubuhnya memakai rompi, namun pakaian rangkap itu tidak mampu menyembunyikan tonjolan dadanya yang menggembung keras dan padat. Rambutnya dibiarkan terurai, hanya kepalanya di atas telinga diikat dengan sehelai kain putih. Tidak ada hiasan menaburi dirinya, kecuali setangkai bunga dan emas yang menempel di ikat kepalanya, di atas telinga kiri. Itulah Kiki, puteri tunggal Hai-tok yang kini menjadi pemimpin bajak laut di atas perahu besarnya yang berbentuk naga laut!

Sejak beberapa bulan, ia malang-melintang di atas lautan, tak pernah melepaskan perahu-perahu atau kapal-kapal pemerintah Ceng terutama, walaupun ada pula perahu saudagar dirampas barang-barangnya. Kalau perahu-perahu saudagar, hanya dirampas barang-barangnya saja. Akan tetapi jangan harap perahu pemerintah Mancu akan diampuni. Bukan hanya dibajak, akan tetapi semua orangnya dibunuh dan juga kapalnya dibakar! Bahkan kadang-kadang, pemimpin bajak yang luar biasa beraninya ini berani menyerang kapal asing, kapal orang-orang kulit putih sehingga beberapa kali hampir saja perahunya celaka terkena serangan meriam-meriam orang kulit putih.

Para anak buah perahu layar besar Naga Laut inipun bukan orang-orang blasa, melainkan anak buah Hai-tok yang pilihan. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, dan terutama sekali, setiap dari mereka itu pandai sekali berenang dan menyelam, mahir ilmu di dalam air seperti ikan-ikan saja, walaupun tentu saja kalau dibandingkan dengan Kiki, kepandaian mereka itu belum ada artinya. Biarpun baru beberapa bulan saja beroperasi sejak pindah ke Pulau Naga, karena banyaknya korban yang sudah jatuh ke tangan para bajak ini, maka terkenallah nama bajak laut Naga Laut ini, yang mudah dikenal dari bentuk perahunya dan bentuk benderanya. Para anak buahnya bersenjata lengkap, ada regu bertombak, regu berpedang, dan ada pula regu golok dan perisai. Jumlah mereka yang menjadi anak buah Kiki itu tidak kurang dari lima puluh orang, kesemuanya ahli-ahli silat dan ahli renang yang sudah biasa berkelahi seperti ikan-ikan hiu yang haus darah.

Tiba-tiba seorang anak buah perahu itu yang tadi memanjat tambang ke atas puncak layar, berseru.

“Ahoooiiii… perahu besar di depan, samping kanan!”

Post a Comment