Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 140

Memuat...

berkumpul, lalu aku harus meninggalkan engkau untuk selamanya. "

"Tidak! Kita tetap berdampingan sampai kematian memisahkan kita, Giok Cu. Dan percayalah, sebelum engkau mendapatkan obat pemunah racun terkutuk itu, aku tidak akan menggaulimu. Bagiku, melihat engkau di dekatku dalam keadaan sehat saja sudah merupakan suatu kebahagiaan besar.Giok Cu, berjanjilah, engkau tidak akan meninggalkan aku lagi. !" Mendengar ini, Giok Cu merangkul dan mencium pipi pemuda itu dengan penuh keharuan, lalu berbisik di dekat telinganya. "Aku berjanji, Koko (Kanda). Aku berjanji selamanya tidak akan meninggalkanmu lagi dan akan mentaati semua perintahmu."

Han Beng bernapas lega, lega puas dan bahagia. Dia merangkul semakin erat. "Moi-moi (Adinda). , terima

kasih..... terima kasih. "

Sampai lama mereka duduk berdekapan di tepi tebing itu. Ketika matahari muncul di bawah sana, muncul dari balik bukit jauh di seberang sungai, Han Beng menuding.

"Lihat, Cu-moi, betapa indahnya fajar menyingsing. Lihat, masa depan yang cerah menanti kita, seperti munculnya Sang Surya. Kita tidak boleh putus asa. Kita harus berikhtiar dan kalau kita berusaha dengan kesungguhan hati, Thian pasti akan memberi jalan kepada kita."

Giok Cu mengangkat mukanya dari dada kekasihnya dan menengok. Ia mengeluarkan seruan kagum dan mereka duduk bersanding, menyambut munculnya sang matahari sambil duduk bersila dan mengatur pernapasan. Latihan seperti ini tidak asing bagi mereka karena dalam sinar matahari yang baru muncul terkandung kekuatan dahyat yang mereka coba tampung melalui pernapasan dan meditasi.

Setelah matahari mulai menyengat kulit, barulah mereka menghentikan latihan itu.

"Ah, sekarang aku ingat. Ada jalan untuk mencari jejak Ban- tok Mo-li!" kata Han Beng.

"Bagaimana, Beng-koko? Apakah jalan itu?" "Aku teringat akan Kakak angkatku, yaitu Coa Siang Lee dan isterinya, Sim Lan Ci."

Giok Cu memandang dengan wajah berseri, la pun baru teringat sekarang.

"Ah, Suci Sim Lan Ci adalah puteri Ban-tok Mo-li! Benar, Koko, mungkin ia tahu ke mana Ban-tok Mo-li melarikan atau menyembunyikan diri." ;

"Mari kita ke sana, Cu-moi." Han Beng bangkit berdiri sambi menggandeng tangan kekasihnya dan mereka pun menuruni bukit karang itu. Baru sekarang mereka merasa betapa tubuh mereka lelah bukan main, juga perut mereka lapar. Selama tiga hari ini mereka lupa makan lupa tidur ketika mencari-cari Ban-tok Mo-li.

"Kita cari dusun atau kota dulu, Koko. Perutku lapar sekali "

Han Beng tersenyum dan mencium dahi kekasihnya. "Kasihan engkau, Guan Cu. Kita sampai lupa makan. Aku lapar. Mari, kita cari dusun di bawah sana, baru melanjutkan perjalanan ke tempat tinggal Kakak angkatku Coa Sian Lee!"

Mereka menemukan dusun dan berhasil membeli makanan dan minuman sederhana. Setelah makan minum, baru mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang ringan dan awan kedukaan sudah lenyap dari wajah mereka.

***

"Thian Ki !" Han Beng memanggil ketika melihat seorang

anak laki-laki berusia kurang lebih empat tahun bermain-main seorang diri di depan rumah itu. Anak itu sedang membuat boneka dari tanah liat sehingga kedua tangan, bahkan pakaiannya, berlepotan lumpur, juga mukanya. Nampak lucu sekali.

"Thian Ki, benar engkau Thian Ki!" kata pula Han Beng sambil mendekat.

Giok Cu juga ikut menghampiri, memandang kepada anak itu dengan kagum.

Seorang anak laki-laki yang sehat, wajahnya putih kemerahan dan matanya tajam dan pandangnya lembut, juga membayangkan kecerdikan.

"Paman dan Bibisiapakah. ?" tanya anak itu dan kembali

Giok Cu kagum. Suara itu demikian nyaring dan bening, akan tetapi mengandung kelembutan pula!

Han Beng tertawa. Ketika dia mengangkat saudara dengan Coa Siang Lee setahun yang lalu, anak ini baru berusia tiga tahun sehingga tentu saja tak dapat mengenalnya. Dia menggoda. "O..kau terka siapa aku ini, Coa Thian Ki

.Tahukah engkau siapa aku?"

Anak itu memicingkan kedua matanya, nampak lucu dan mungil. Sepasang alisnya berkerut dan tiba-tiba dia membelalakkan matanya sambil berkata dengan wajah berseri. "Paman tentu Paman Si Han Beng, Huang-ho Sin- liong!"

Tawa Han Beng terhenti dan dia terbelalak. Juga Giok Cu semakin kagum. Dari Han Beng ia sudah mendengar tentang peristiwa kekasihnya itu dengan keluarga ini. Ia mendengar betapa guru kekasihnya, Sin-tiauw Liu Bhok Ki yang terkenal keras hati itu, menjadi luluh kekerasan hatinya oleh sikap dan ulah Thian Ki yang baru berusia tiga tahun "Heiiiii! Bagaimana engkau bisa tau bahwa aku adalah Pamanmu Si Han Beng?" Han Beng berseru heran.

Anak itupun tertawa senang ketika Han Beng mengangkatnya tinggi-tinggi, tanpa mempedulikan betapa kaki, tangan dan pakaian anak itu kotor oleh lumpur.

"Ayah dan Ibu bercerita banyak-banyak tentang Paman, tentang wajah Paman sehingga aku dapat mengenal Paman. Siapakah Bibi ini?"

"Aku Bibi Bu Giok Cu, Thian Ki. Aku calon isteri Pamanmu ini." kata Giok Cu tanpa sungkan lagi. Terhadap orang dewasa saja dara ini tidak sungkan bicara, apalagi terhadap seorang anak kecil berusia empat tahun!

"Wah, Adikku Han Beng. !" terdengar teriakan wanita dan

muncullah seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun lebih. Pakaian wanita itu serba hitam sehingga kulitnya yang putih nampak semakin mulus, wajahnya cantik manis akan tetapi sikapnya sederhana dan lembut. Akan tetapi wanita itu menghentikan seruan dan sikapnya yang gembira ketika melihat Giok Cu, seorang gadis yang tidak dikenalnya.

"Ibu, Paman Han Beng datang bersama calon isterinya, Bibi Giok Cu. !" teriak Thian Ki yang masih berada dipondongan

Han Beng.

"Ahhhhh. mari, mari, silakan masuk. Thian Ki, turun kau!

Lihat, engkau membikin kotor pakaian Pamanmu!"

Han Beng menurunkan Thian Ki sambil tertawa dan pada saat itu muncul Coa Siang Lee yang berseru, "Siapa bilang Han Beng datang bersama calon isterinya?"

"Aku, Ayah. Nah, ini Bibi Giok Cu, calon isteri Paman!" Mereka semua saling memberi hormat. "Aih, kalau begitu, kionghi (selamat) Adikku! Kami girang sekali dapat bertemu dengan calon Adik ipar kami!"

Coa Siang Lee yang pakaiannya serba putih, berlawanan dengan warna pakaian isterinya, menggandeng tangan Han Beng sedangkan Sim Lan Ci menggandeng tangan Giok Cu. Mereka semua memasuki rumah, diikuti oleh Thian Ki.

Setelah mengajak tamu mereka duduk di ruangan dalam, Coa Siang Lee dan Sim Lan Ci saling pandang. Hubungan antara suami isteri ini sedemikian akrabnya sehingga ada hubungan batin yang kuat di antara mereka sehingga pandang mata mereka saja sudah cukup untuk mereka saling mengutarakan isi hati mereka. Keduanya memandang kepada Thian Ki dan ayah anak itu berkata.

"Thian Ki, karena kegirangan engkau lupa memberi hormat kepada Paman dan Bibimu. Hayo beri hormat kepada mereka."

"Dan sesudah itu, pergi mencuci badanmu, dan bertukar pakaian. Boleh engkau bermain lagi di luar, akan tetapi jangan masuk di sini dulu sebelum kami panggil. Kami ingin bicara penting dengan Paman dan Bibimu." kata ibu anak itu.

Thian Ki lalu melangkah maju menghadapi Han Beng dan Giok Cu, mengangkat kedua tangan di depan dada dengan sikap hormat. "Paman Si Han Beng dan Bibi Giok Cu, terimalah hormat Coa Thian Ki!"

Han Beng dan Giok Cu saling pandang, lalu tertawa gembira Giok Cu mengangkat tubuh Thlan Ki dan menciumi kedua pipinya, lalu menurunkannya kembali. Thian Ki tersipu lalu berlari kekamarnya untuk mengambil pengganti pakaiandan pergi mandi seperti diperintahkan ibunya. Dia tidak membantah, tidak mengomel, melainkan taat dengan gembira. Sungguh seorang anak yang penuh pengertian!

"Nah, duduklah, Adik-adikku. Bagaimana kabarnya, Beng- te (Adik Beng)' Sudah lama sekali kami merindukan kunjunganmu." kata Coa Siang Lee. "Di hari ini engkau muncul bersama calon isterimu yang begini gagah dan cantik. Sungguh kami merasa gembira dan bangga!"

Post a Comment