"Jarum beracun? Akan tetapi hal itu tentu sudah terjadi
belasan tahun yang lalu dan sampai sekarang engkau masih sehat kuat. ”
"Racun itu baru akan bekerja kalau bintik itu lenyap, Han Beng."
"Ehhh? Dan sudah belasan tahun tidak lenyap, takut apa? Biarkan bintik itu tidak lenyap, tidak mengurangi keindahan lenganmu." "Tapi, begitu bintik itu lenyap, dalam waktu sebulan nyawaku akan melayang dan tidak ada obat di dunia ini yang akan mampu menyelamatkan aku."
"Tapi..... tapi..... bintik itu masih ada dan. "
"Ya, bintik merah itu akan lenyap kalau aku. aku tidak
perawan lagi. ”
"Ahhhhh. ??!" Han Beng memandang wajah kekasihnya
dengan mata terbelalak. Baru kini dia mengerti mengapa tadi kekasihnya menangis! Kalau Giok Cu menikah dengan dia, kalau gadis itu menjadi isterinya, dalam waktu sebulan ia akan mati keracunan!
"Itulah sebabnya mengapa aku. aku tidak dapat menjadi
isterimu, Han Beng. "
Tiba-tiba Han Beng meloncat berdiri dan menarik tangan gadis itu. Giok Cu juga meloncat berdiri dan memandang bingung. "Mari kita pergi sekarang juga”
"Ehhh? Ke mana?"
"Ke mana lagi? Menyusul Ban-tok Mo-li. la menjadi tawanan. Aku akan menemuinya dan memaksanya mengobatimu, memberi obat pemunah racun itu. Kalau ia menolak, akan kucabuti semua rambut di kepalanya, kucabuti semua kuku dari jari-jarinya, kucabuti semua otot-otot dari tubuhnya!" Suara Han Beng mengandung desis dan Giok Cu yang ditarik ikut pula berlari, agak bergidik karena di dalam suara kekasihnya itu mengandung ancaman yang mengerikan bagi Ban-tok Mo-li. Agaknya kemarahan telah membuat Han Beng berubah menjadi kejam dan sadis, walaupun itu baru dalam kata-kata saja. Mereka tidak bicara lagi, berlari cepat dan Giok Cu menyerahkan segalanya kepada kekasihnya. Hatinya terasa lega karena bagaimanapun juga, rahasia itu tidak ditanggungnya sendiri, kini telah dibuka kepada Han Beng. Bahkan calon suaminya itu yang kini mengambil alih darinya untuk mencarikan jalan keluarnya.
Hari telah siang ketika mereka tiba di benteng, disambut oleh Yap Ciangkun yang kelihatan lelah karena penyerbuan semalam. Akan tetapi ternyata kemuraman wajah Yap Ciangkun bukan hanya karena lelah, dan hal itu baru diketahui Han Beng dan Giok Cu ketika Han Beng bertanya tentang Ban-tok Mo-Ii.
"Kami harap agar Ciangkun mengijinkan kami bicara sebentar dengan Ban-tok Mo-li yang menjadi tawanan. Ada urusan pribadi yang amat penting hendak kami bicarakan dengan Ban-tok Mo-Ii. kata Han Beng.
Mendengar ini, Yap Ciangkun menggebrak meja. "Inilah! Justeru baru saja kami memarahi para petugas, akan tetapi semua kesalahan terletak pada pundak empat orang penjaga yang sudah mati. Sungguh celaka! Sialan mereka itu!"
"Apa yang telah terjadi, Ciangkun?” tanya Giok Cu, bingung melihat ulah perwira tinggi itu.
"Semalam, Ban-tok Mo-li menjadi tawanan dan ditahan di dalam sel, dijaga oleh empat orang pengawal yang dapat dipercaya. Akan tetapi, pagi-pagi sekali tadi, sel itu terbuka, empat orang penjaga mati tanpa luka dan Ban-tok Mo-li telah lenyap dari dalam selnya."
"Ahhhhh. !!" Wajah Han Beng menjadi berubah agak
pucat saking kaget dan kecewanya. "Bagaimana hal itu dapat terjadi?" Yap Ciangkun mengepal tinju dan kelihatan marah dan penasaran sekali. "Tidak ada yang tahu bagaimana hal itu terjadi. Akan tetapi ada seorang perajurit yang malam hari itu, sebelum dia meninggalkan tugas jaga untuk bertugas di tempat lain, melihat betapa Ban-tok Mo-li bersikap manis dan akrab sekali dengan empat orang penjaga itu, nampak mesra. Tidak ada yang tahu.
Tahu-tahu mereka berempat terdapat tewas di tempat penjagaan dan Ban-tok Mo-li sudah tidak berada di dalam tahanan. Pintu kamar tahananpun tidak rusak kuncinya, bukan dibuka dengan paksa."
Han Beng mengerutkan alisnya. "Apakah tidak ada kemungkinan tawanan itu dibantu orang dari luar yang meloloskarinya?"
"Segala kemungkinan memang ada, akan tetapi penjagaan amat ketat sehingga sukarlah bagi orang luar untuk dapat masuk tanpa diketahui. Setidaknya, empat orang yang bertugas jaga itu tentu mengadakan perlawanan mati-matian dan memberi tanda bahaya. Akan tetapi sama sekali tidak ada perlawanan, sama sekali tidak terdengar teriakan atau tanda bahaya lain."
"Maaf, Ciangkun.Bagaimana matinya empat orang itu? Adakah luka-luka atau tanda lain?"
Yap Ciangkun mengerutkan alis dan menggeleng-geleng kepala. "Memang aneh sekali. Tidak ada luka. Hanya dua diantara mereka mati dengan mulut biru menghitam. "
"Hemmm, ciuman maut. I" kata Giok Cu, tenang akan
tetapi ia pun mengerutkan alisnya karena ia sudah dapat menduga bagaimana caranya iblis betina bekas gurunya itu berhasil meloloskan diri. "Dua orang yang lain tewas dengar biru menghitam di leher dan pangkal paha mereka, seperti bekas terkena gigitan. "
"Hemmm, itu bekas kuku beracun!"
"Ehhh? Apa yang kau maksudkan dengan ciuman beracun dan kuku beracun, Li-hiap?" tanya perwira itu, heran.
"Ban-tok Mo-li adalah seorang iblis betina. Nama julukannya saja sudah menyebutkan keadaan dirinya. Ban-tok Mo-li (Iblis Betina Selaksa Racun) memiliki banyak ilmu beracun, di antaranya adalah ciuman beracun dan kuku beracun. sekali cium dan sekali gores dengan kuku sudah cukup untuk membunuh orang. Agaknya iblis betina itu mempergunakan kecantikannya untuk merayu sehingga ia berhasil keluar atau dikeluarkan dari kamar tahanan oleh empat orang penjaga itu.Ia pura-pura suka diajak bermesraan, lalu membunuh mereka dengan mudah selagi bermesraan." Kalau bukan Giok Cu, gadis lain tentu akan bermerah muka dan segan memberi keterangan seperti itu. Akan tetapi Giok Cu adalah seorang gadis yang sudah digembleng oleh keadaan yang keras dan beraneka macam kehidupan.
"Hemmm, sungguh keji seperti iblis!" kata Yap Ciangkun. "Mari kita mengejarnya!" Han Beng yang teringat akan
keadaan kekasihnya, sudah menggandeng tangan gadis itu
dan keduanya meloncat pergi dengan amat cepatnya, membuat Yap Ciangkun merasa kagum bukan main. Dia lalu teringat akan tawanan yang lain. Mereka adalah orang-orang yang lihai, maka dia tidak ingin kehilangan tawanan lagi. Diperintahkan orang-orangnya untuk membelenggu kaki tangan para tawanan itu dan mengawal mereka dengan ketat sampai mereka itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan.
Selama tiga hari tiga malam Han Beng hampir tidak pernah mau berhenti, mengajak Giok Cu untuk menjari jejak Ban-tok Mo-li. Namun, semua usahanya sia-sia belaka. Mereka tidak mampu menemukan jejak iblis betina itu. Ban-tok Mo-li lenyap tak meninggalkan jejak, seperti ditelan bumi!
Pada hari ke empat, pagi-pagi setelah semalam suntuk mereka mencari di perbukitan di tepi jurang atau tebing sungai Kuning, Giok Cu telah menjadi putus asa. Ia memandang Han Beng yang duduk bersila di tepi jurang dengan hati yang pilu. Ia merasa kasihan sekali kepada pemuda itu. Ia tahu betapa besarnya cinta Han Beng kepadanya sehingga pemuda itu seperti tidak mengenal lelah untuk dapat menemukan Ban-tok Mo-li, untuk dapat membebaskannya dari cengkeraman maut yang ditandai bintik merah di bawah siku lengan kirinya. Kalau dia membiarkan dirinya menjadi isteri Han Beng, kemudian tewas dalam waktu sebulan, tentu Han Beng akan tenggelam dalam kedukaan yang hebat.Dan sekarang, merekapun gagal untuk menemukan Ban-tok Mo-li. Andaikata mereka dapat menemukannya sekalipun, belum tentu iblis betina itu mau memberikan obat penawarnya, itupun kalau ada obat seperti itu. Ah, ia hanya menjadi beban, hanya menyusahkan Han Beng saja dengan ikatan perjodohan itu. Tidak, itu tidak boleh menyusahkan Han Beng. Ia terlalu sayang kepada pemuda itu. Biarlah dia memperoleh jodoh gadis lain yang sehat, yang akan membahagiakannya, bukan ia yang menderita penyakit maut, yang hanya akan menyusahkannya.
Giok Cu mengerling ke arah Han Beng. Pemuda itu masih duduk bersila dan agaknya tenggelam dalam siu-lian
Rambutnya kusut, pakaiannya kusut, wajahnya menunjukkan kelelahan. Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya. Han Beng membuka matanya, terkejut mendengar suara angin itu. Dan dia menjadi lebih kaget ketika tidak melihat lagi Giok Cu berada di situ.
"Giok Cu. !!" Dia berteriak memanggil sambil meloncat
berdiri. Tiada jawaban. "Giok Cu, di mana engkau?" Han Beng kini mencari ke sekeliling tempat itu sambil memanggil-manggil. Ketika menjenguk ke bawah tebing, dia bergidik membayangkan Giok Cu terjatuh ke sana. Akan tetapi dia tidak melihat apa-apa di bawah sana. Lalu dia berlari menuruni bukit karang itu.
"Giok Cu. !!!" Dia berteriak semakin keras. Suaranya
melengking terbawa angin dan menimbulkan gema jauh dibawah sana.
Wajah Han Beng menjadi pucat, hatinya gelisah sekali ketika sampai di bawah bukit, dia belum juga melihat bayangan Giok Cu.
"Giok Cu.....! Kembalilah. ! Aku tak sanggup hidup
sendirian tanpa engkau. !" teriaknya berulang kali.
Dia berlari mendaki bukit di depan dan akhirnya, dia melihat gadis itu dipuncak bukit batu karang itu, di tepi tebing yang lebih curam daripada yang tadi.Gadis itu menangis tersedu- sedan, berlutut hampir menelungkup. Agaknya teriakannya yang terakhir itu, yang diulang-ulang, terdengar oleh gadis itu dan teriakan itu yang menahannya, membuat kedua kakinya lemas dan iapun menjatuhkan diri berlutut di situ dan menangis tersedu-sedu.
"Giok Cu. !" Han Beng lari menghampiri, menubruk dan
merangkul gadis itu yang menangis semakin menjadi-jadi Han Beng mendekap kepala itu ke dadanya, seolah takut kalau sampai kehilangan dan terlepaslagi. "Aih, Giok Cu kenapa engkau meninggalkan aku....Kenapa. ?"
Giok Cu terisak-isak.Ketika ia mengangkat muka memandang melalui genangan air matanya, ia melihat pemuda itu menangis! Hal ini membuat ia menjadi semakin terharu dan sedih. "Han Beng. !" Ia menjerit dan merangkul pemuda itu.
Mereka bertangisan dan berpelukan di tepi jurang yang curam itu.
"Han Beng, lepaskan aku. biarkan aku pergi. Aku hanya
menyusahkan saja, Han Beng. Aku tidak dapat menjadi isterimu. "
"Giok Cu, jangan putus harapan. Aku akan mencarikan obat untukmu, sampai dapat. Percayalah, aku akan dapat menolongmu, jangan engkau khawatir akan keselamatan dirimu, Giok Cu. "
Gadis itu menyusut air matanya. ”Han Beng, engkau salah sangka. Aku tidak takut mati. Aku rela mati setelah menjadi isterimu selama satu bulan. Aku rela dan aku tidak takut. Hanya aku. aku tidak tega membayangkan engkau
menangisi kematianku, Han Beng. Tidak, lebih baik kita tidak menikah, engkau carilah gadis lain yang sehat. "
"Giok Cu! Kenapa engkau berkata demikian? Ucapanmu menusuk perasaanku. Hidup ini tidak ada artinya bagiku tanpa engkau di sisiku, Giok Cu."
"Tapi.....tapi.....kalau kita menikah. hanya sebulan kita