Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 138

Memuat...

"Sama-sama, pinto juga mengucapkan selamat kepadamu!" Dua orang kakek tu tersenyum dan saling memberi hormat.

"Nah, tentang upacara pernikahan-iya, kami serahkan kepada kalian berdua. Kami berdua akan berkelana dan menikmati keindahan Gunung Thai-san. Kelak kalau sudah ada ketentuan waktunya ilian boleh mencari kami ke Thai-san mtuk memberitahu." kata Pek I Tojin lan bersama Hek Bin Hwesio, dia lalu pergi meninggalkan dua orang muda itu yang segera berlutut untuk mengantar kepergian guru mereka.

Setelah dua orang kakek itu lenyap, Han Beng bangkit berdiri, juga Giok Cu. Mereka berdiri berhadapan, saling pan¬dang dan Han Beng melangkah maju.

"Giok Cu !"

Han Beng yang merasa berbahagia sekali, bukan saja karena ikatan perjodohan antara mereka, akan tetapi juga teringat akan ucapan gadis tadi yang menyatakan cinta kepadanya, segera merangkul.

"Han Beng !" Giok Cu membenamkan mukanya di

dada peniuda yang di cintainya.

"Giok Cu, kita saling mencinta, dan guru-guru kita menjodohkan kita. Betapa bahagianya rasa hatiku, Giok Cu. bisik Han Beng di dekat telinga gadis itu. Dan tiba-

tiba Giok Cu menangis tanpa mengangkat mukanya dari dada Han Beng. Air mata menembus baju dan membasahi dada pemuda itu.

Han Beng terkejut, akan tetapi lalu tersenyum dan tangannya membelai rambut kepala kekasihnya. Tentu kekasihnya itu menangis karena bahagia, menangis karena terharu, barangkali teringat bahwa ia tidak mempunyai orang tua lagi.

Dia menunduk dan mencium rambut itu, mencium dahi itu, lalu berbisik! "Giok Cu, jangan berduka sayang. Memang kita berdua sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi, akan tetapi kita kini saling memiliki bukan? Biarlah aku menjadi pengganti Ayahmu dan engkau menjadi pengganti Ibuku! Dan kelak, kita pergi ke perkampungan keluarga kita, kita mencari keluarga orang tua kita yang masih ada. Bukankah berarti kita akan memiliki keluarga lagi?"

Akan tetapi, ucapan hiburan Itu bahkan membuat Giok Cu semakin tersedu-sedu. Han Beng membiarkannya sebentar, lalu perlahan-lahan dia mengangkat dagu , disitu, menatap wajah yang nampak legitu sedih. Mata itu terpejam, akan tetapi setiap kali dibuka sedikit, air matanya mengalir keluar. Dengan hati penuh rasa haru dan sayang, akan tetapi juga khawatir, Han Beng mengecup pipi yang basah air mata itu sehingga terasa asin olehnya. Akan menyegarkan hati rasa itu andaikan hatinya tidak begitu hawatir, andaikan tangis itu tangis bahagia, bukan tangis yang demikian sedihnya.

"Giok Cu , Moi-moi sayang, hentikanlah tangismu

dan katakan kepadaku, kenapa engkau begini sedih? Bukan ah sepatutnya kita bergembira, berbahagia? Aiiih, Giok Cu, jangan katakan bahwa engkau berduka karena dijodohkan dengan aku. "

Tiba-tiba Giok Cu membuka matanya. Nampak kemerahan mata itu dan menggeleng kepala, mempererat rangkulannya. "Tidak, Han Beng, tidak! Jangan salah sangka ah, aku ........... aku berhagia sekali menjadi jodohmu akan

tetapi aku ........ aku ”

"Engkau kenapa, sayang? Kenapa?"

Giok Cu menggeleng kepala dalam rangkulan pemuda itu. "Aku tidak bisa menjadi isterimu, Han Beng. Tidak mungkin

................. uhu-hu-hu !"

"Ehhh?" Han Beng terkejut seper disengat lebah. "Kenapa, Giok Cu? Kenapa engkau berkata demikian?"

Giok Cu menggulung lengan baju kirinya dan melirik ke arah tanda bintik merah kecil di bawah siku kiri, lalu menangis lagi, membenamkan mukanya di dada kekasihnya. Han Beng menjadi seakin bingung. Berbagai macam dugaan timbul di dalam benaknya. Jelas bahwa kekasihnya sedih, bukan karena berjodoh dengan dia, melainkan oleh suatu sebab lain mengenai diri kekasihnya itu. Di mengerutkan alisnya. Apakah Giok hendak mengatakan bahwa ia bukan perawan lagi? Hal itu bukan tidak mungkin, mengingat bahwa gadis itu pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li! Andaikata demikian, dia

dia tidak akan peduli! Han Beng mengatupkan giginya kuat- kuat. Dia mencinta Giok Cu, bukan mencinta keperawanannya! Atau ada hal lain? Bagaimanapun juga, Giok Cu harus bicara sejujurnya. Kalau tidak, dia akan selalu merasa tersiksa oleh segala macam dugaan yang sewaktu- waktu tentu akan timbul.

Dia lalu memegang kedua pundak Giok Cu, didorongnya lembut sehingga mereka saling berpandangan, kemudian dengan suara tenang namun tegas dia berkata, Giok Cu, pandang padaku dan dengarkan kata-kataku baik-baik. Kita adalah orang-orang yang menghargai kegagahan, bukan? Kita adalah orang-orang yang siap menghadapi kesukaran apapun juga, bukan orang-orang lemah yang cengeng, bukan? Aku pun tahu bahwa engkau seorang pendekar g gagah perkasa, bukan seorang gadis yang cengeng. Nah, usirlah semua perasaan sedih itu, kekasihku, sayangku, dan ceritakan kepadaku apa yang lelah terjadi maka engkau menjadi begini berduka setelah dijodohkan dengan aku."

Dengan lembut pula Giok Cu melepaskan kedua tangan, kekasihnya yang memegang kedua pundaknya, mengguraikan kedua ujung baju menyusut air matanya dan menghentikan tangisnya. Kemudian, dengan kedua mata merah, ia memandang Han Beng, mencoba untuk mengumpulkan kekuatan hatinya dan membuka mulut untuk memberi penjelasan.

"Han Beng ..........., aku ............ aku aku tidak pantas

menjadi isterimu. " Ia berhenti lagi dan memejamkan

mata karena tidak kuat melanjutkan.

"Lanjutkan, Giok Cu. Jelaskan mengapa? Mengapa engkau menganggap dirimu tidak pantas menjadi isteriku? Mengapa?"

Giok Cu menoleh ke kanan kiri. Para perajurit masih melakukan pembersihan dan menggeledah di semua tempat. "Han Beng, mari kita pergi dari sini bicara di tempat yang sepi."

Han Beng mengerti, menggandeng tangan kekasihnya yang terasa dingin lalu mereka keluar meninggalkan tempat itu. Langit di ufuk timur mulai kemerahan, tanda bahwa pagi akan segera muncul menggantikan malam. Mereka terus berjalan sampai mereka tiba di lereng bukit yang sepi. Han Beng mengajak kekasihnya menghampiri sebatang pohon besar di sana burung-burung sudah mulai sibuk menyambut datangnya fajar.

"Nah, di sini sepi, Giok Cu. Keluarkanlah isi hatimu dan ceritakan segalanya kepadaku. Ingat, aku adalah orang yang kaucinta dan mencintamu, aku adalah calon suamimu, juga satu-satunya orang yang dapat kaupercaya. Nah, ceritakan semuanya!"

Mereka berdiri berhadapan, dekat. Giok Cu menatap wajah kekasihnya dalam keremangan subuh. "Han Beng, aku.............. aku " kembali gadis itu tidak

anggup melanjutkan. Ia tidak tega melihat bagaimana nanti pemuda itu me¬nyambut keterangannya, la tidak tega melihat pembahan yang akan terjadi pada wajah yang dicintanya itu. Betapa wajah itu akan diselimuti kedukaan dan kekecewaan yang amat mendalam. Kalau ia memberi penjelasan, sama saja denga menusuk jantung kekasihnya dengan batang pedang berkarat! la tidak tega!

"Han Beng, aku aku tidak mampu menerangkan

................"

Kembali kedua tangan Han Beng menangkap kedua pangkal lengan kekasihnya dan mengguncangnya sedikit.

"Giok Cu engkau harus mampu! Harus! Tidak boleh engkau membiarkan ada rahasia di antara kita!"

Dia benar, pikir Giok Cu. Dia benar, akan tetapi. "Han

Beng, peluklah aku, sembunyikan mukaku agar aku dapat menceritakannya kepadamu. " Dan iapun menjadi lemas

dan tentu terhuyung kalau saja Han Beng tidak cepat memeluknya. Han Beng memondong tubuh yang lemas itu dan mengajaknya duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah. Dia setelah memangku gadis itu yang merebahkan kepalanya di dada yang bidang, menyembunyikan mukanya di dada itu. Kini dia tidak akan melihat perubahan pada wajah kekasihnya dan iapun mulai tenang, lalu dengan lirih, namun jelas, ia bercerita.

"Han Beng, sebelumnya kau maafkan aku. Maukah kau?"

Han Beng mencium rambut itu. "Tentu saja, bahkan tidak perlu ada maaf dariku karena apapun yang telah kau lakukan, kuanggap semua itu sudah berlalu dan tidak ada lagi. Nah, ceritakan."

"Dahulu, ketika kita saling berpisah, aku berusia sepuluh tahun!"

"Ya, ya, dan aku berusia dua belas tahun."

"Aku ditolong oleh Ban-tok Mo-li yang kemudian menjadi guruku."

"Dan aku menjadi murid Sin-tiauw Lim Bhok Ki yang dilanjutkan pula oleh Sin-ciang Kai-ong." "Ketika aku dibawa pulang oleh Ban-tok Mo-li dan diambil murid, ia telah menggunakan jarum menusuk lenganku yang kiri ini. Lihat, Han Beng, kaulihat bintik merah kecil ini?" Giok Cu menggulung lengan bajunya yang kiri dan mendekatkan lengannya. Lengan yang kecil penuh dan berkulit putih halus. Han Beng tak tahan untuk tidak menyentuh kulit dengan yang halus lembut itu dengan hidungnya.

"Lenganmu indah sekali, Giok Cu."

Giok Cu merasa betapa seluruh bulu di badannya meremang ketika lengannya dicium Han Beng, lalu menarik lengan itu. "Ihhh, Han Beng, dengarkan ceritaku dan pandanglah bintik merah bawah siku ini. Engkau melihatnya?"

"Aku melihatnya. Bintik merah itu menambah indah lenganmu."

"Hentikan rayuanmu itu dan dengar baik-baik. Bintik itu adalah akibat tusukan jarum dari Ban-tok Mo-li, jarum beracun yang jahat sekali!"

"Ehhhhh...!!" Kini seluruh kemesraan terbang dari kepala Han Beng dan dia memandang terbelalak, khawatir sekali.

Post a Comment