Halo!

Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 136

Memuat...

"Maksudmu bagaimana, Tai-hiap?" Tanya Yap Ciangkun. "Can Hong San menantangku, maka terpaksa harus

kulayani. Juga Bu Giok Cu mempunyai urusan dengan Ban-tok

Mo-li dan Hok-houw Toa-to Lui Seng Cu. Maka, kami berdua ingin menyelesaikan urusan ini melalui pertandingan silat." Yap Ciangkun mengerutkan alisnya.

"Tapi tapi justeru mereka bertiga itulah pucuk

pimpinan perkumpulan sesat ini yang harus kami tangkap dan kami seret ke pengadilan. Kalau mereka mati, bagaimana kami dapat menuntut mereka?"

"Omitohud, jangan khawatir, Ciangkun." kata Hen Bin Hwesio sambil terkekeh. "Ada pin-ceng (aku) di sini dan ada pula Pek I Tojin, tidak akan yang mati, ha-ha-ha!"

"Benar, kami dua orang tua tidak suka melihat pembunuhan. Kami yang akan mencegah agar jangan ada pembunuhan." kata Pek I Tojin.

Biarpun di dalam hatinya Giok tidak setuju dengan pendapat gurunya akan tetapi ia tidak berani membantah. Ia harus membunuh Ban-tok Mo-li untuk membalas kematian ayah ibunya.

Yap Ciangkun mengangguk-angguk "Baiklah kalau begitu, akan tetapi anak buah yang lain itu harus ditangkap dulu!" Dia lalu memberi isyarat kepada pasukan pengawalnya untuk menangkap semua orang kecuali Ban-tok Mo-li, Lui Seng Cu, dan Can Hong San.

Merasa bahwa mereka pun memiliki kepandaian, Siangkoan Tek mencabut pedangnya. Juga Ji Ban To, murid Ouw kok Sian, telah mencabut sepasang golaknya. Dua orang pemuda lain, yaitu Siok Boan dan Poa Kian So, murid-murid Lui Seng Cu, juga sudah siap dengan senjata golok di tangan. Empat orang pemuda ini agaknya tidak mau menyerah begitu saja. Mereka adalah murid-murid datuk sesat, tentu saja merasa malu kalau harus menyerah tanpa melawan. Melihat sikap empat orang itu, Bu Giok Cu maklum bahwa dua belas orang pengawal Yap Ciangkun belum tentu akan mampu menandingi mereka, maka ia pun berkata, "Yap Ciangkun, biar aku yang menangkapkan empat ekor anjing kecil ini untukmu!" Giok Cu menerima pedang tumpul Seng-kang-kiam dari tangan Hek Bin Hwesio, kemudian ia pun maju menghampiri empat orang pemuda yang sudah siap itu. Melihat ini, Han Beng merasa tidak tega. Kalau dikeroyok empat, berbahaya juga bagi Giok Cu, maka dia pun melangkah maju.

"Biar aku membantu Giok Cu!"

Melihat para lawannya memegang senjata tajam, Han Beng yang tidak biasa menggunakan senjata tajam, melolos sabuk suteranya. Dia telah mewarisi llmu sabuk dari Sin-tiauw Liu Bhok Ki dan biarpun sabuk sutera itu lemas dan lunak, namun di tangannya dapat menjadi senjata yang ampuh.

Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia tahu akan nama besar Huang-ho Sin-liong Si Han Beng maka belum apa-apa dia sudah merasa jerih untuk menghadapi pendekar itu Terhadap Bu Giok Cu dia tidak begitu gentar karena sepanjang pengetahuannya gadis itu hanyalah murid Ban-tok Mo li. Tentu saja dia tidak tahu bahwa gadis itu telah menjadi murid Hek Bin Hwesio yang membuat ia menjadi jauh lebih lihai daripada ketika ia masih menjadi murid Ban-tok Mo- li. Karena menganggap bahwa lebih menguntungkan kalau bertanding melawan Giok Cu, maka sambil mengeluarkann bentakan nyaring dia sudah menggerakkan pedangnya menyerang Giok Cu. Ji Ban To meniru Siangkoa Tek dan dia pun sudah menggerakkan pasang goloknya, membantu Siangkoan Tek dan mengeroyok Giok Cu. Gadis itu mengeluarkan suara mengejek dari hidungnya.

"Huh, monyet-monyet kecil, memang sudah sejak dahulu kalian harus kuhajar!" Dan dia pun menggerakkan pedang tumpulnya untuk menyambut serangan dua orang pemuda.

"Trang-trang-tranggggg !" Pedang yang tumpul itu

berkelebat dengan kepalan yang sukar diikuti pandang mata oleh dua orang pemuda itu dan mereka terkejut setengah mati ketika merasa betapa tangan mereka yang memegang senjata seperti lumpuh. Kekejutan mereka bertambah ketika mereka melihat betapa senjata mereka itu patah ujungnya!

Giok Cu tersenyum mengejek menatap wajah mereka yang berubah pucat itu. "Hi-hik, kalian takut? Hayo berlutut dan menyerah menjadi tawanan Yap Ciangkun!"

Siangkoan Tek adalah putera tokoh esat Siangkoan Bok yang terkenal sebagai majikan Pulau Hiu. Dia sudah menganggap diri sendiri sebagai seorang tokoh yang tinggi ilmu silatnya. Tentu saja dia memiliki keangkuhan dan biarpun dia memang gentar menghadapi pedang butut yang ternyata ampuh itu tentu saja dia tidak sudi untuk berlutut dan menyerah sedemikian mudahnya. Demikian pula dengan Ji Ban To, murid Ouw Kok Sian seorang tokoh yang menguasai daerah Pegunungan Liong san Dia merasa penasaran sekali dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menyerang lagi dengan sepasang goloknya yang sudah buntung ujungnya. Siangkoan Tek juga membantunya dan tiga batang senjata itu berkelebatan mendesing-desing, menyerang Giok Cu bagaikan hujan lebat. Namun gadis ini tersenyum mengejek, dengan amat mudahnya menghindarkan diri dengan loncatan ke sana-sini. Sementara itu, Siok Boan dan Poa Kian So, dua orang murid Lui Seng C tentu saja merasa malu kalau harus menyerah begitu saja. Apalagi mereka melihat guru mereka yang menjadi kauw-cu dari Thian-te-kauw, masih berdiri tegak dan menantang. Mereka adalah murid Kauw-cu, tentu saja kedudukan mereka cukup tinggi dan terhormat di perkumpulan itu. Kini, melihat majunya Giok Cu dan Han Beng, mereka berdua lalu menggerakkan golok besar di tangan mereka, mengeroyok Han Beng yang hanya memegang sehelai sabuk sutera putih. Dari kanan kiri mereka menyerang golok mereka berubah menjadi gulungan sinar putih yang menyambar- nyambar ke arah tubuh Han Beng.

Pemuda tinggi besar ini dengan sikap tenang menghindarkan diri dengan geseran-geseran kaki yang amat gesit. Kalau dia menghendaki tentu dengan sekali pukul dia akan mampu merobohkan bahkan menebaskan dua orang lawan yang terlalu lemah baginya itu, namun dia tidak ingin membunuh orang, hanya ingin membantu Yap Ciangkun untuk menangkap mereka. Oleh karena itu, dia pun hanya mengelak ke sana-sini sambil menannti kesempatan baik untuk membuat mereka berdua itu tidak berdaya tanpa harus melukai mereka.

Dalan hal ini, Han Beng yang berhati-hati tegar tidak melukai lawan kalah cepat dengan Giok Cu. Giok sendiri tidak mau membunuh dua orang pengeroyoknya karena memang dia berjanji membantu Yap Ciangkun hanya untuk menangkap para pimpiran Thian te-pang, akan tetapi ia bukan pantas melukai, bahkan ingin menghajar ke dua orang pemuda yang pernah bersikap kurang ajar terhadap dirinya. Kalau membayangkan perbuatan dua orang pengeroyoknya itu, Siangkoan Tek dan Ji Ban To ketika ia masih menjadi murid Ban-tok Mo li, ingin rasanya ia membunuh mereka! Siangkoan Tek pernah mengganggunya secara keterlaluan hingga terpaksa ia menggunakan akal memancing Siangkoan Tek yang ketika itu lebih lihai darinya untuk masuk laut. Ia lebih pandai berenang maka menyeret Siangkoan Tek ke laut dan. perutnya kembung. Apalagi Ji Ban To Bersama sutenya, mendiang Cak Su, berberdua pernah menangkapnya dan inginmemperkosanya. Untung muncul Ban tok Mo-Ii yang membunuh Cak Su melukai Ji Ban To. Mengingat perbuatan mereka itu saja, ingin benar rasanya menghajar mereka sampai sepuas hatinya. Akan tetapi, Giok Cu masih tahu bahwa di situ hadir Hek Bin Hwesio gurunya yang telah berhasil merubah sifatnya yang tadinya ganas dan keras. Ia rasa tidak enak dan malu kepada gurunya itu kalau sampai ia bertindak terkeras terhadap dua orang pengeroyoknya itu.

"Hyaaaaattttt !!" Tiba-tiba Giok Cu mengeluarkan

teriakan melengking nyaring dan pedang tumpul di tangannya nyambar dengan amat cepatnya.

"Trak! Trak! Trak!" Dua orang pengeoyok itu mengeluarkan seruan kaget karena senjata mereka kini buntung dan hanya tinggal gagangnya saja. Sebelum mereka sempat menenangkan hati, tangan kiri Giok Cu telah menampar pundak mereka. Terdengar bunyi tulang patah dan dua orang itu terpelanting dan tangan kiri memegang pundak kanan yang terasa nyeri bukan main karena tulang pundak kanan mereka telah remuk oleh tamparan tangan Giok Cu tadi. Empat orang perajurit pengawal segera maju dan meringkus mereka, membelenggu tangan mereka dan membawa mereka keluar.

Melihat betapa Giok Cu telah merobohkan dua orang pengeroyoknya, Han Beng merasa tidak enak. Dia pun mengeluarkan bentakan nyaring, sabuk sutera putih di tangannya menyambar tahu-tahu telah membelit golok besar dua orang kakak beradik seperguruan dan sekali tarik, golok mereka telah terlepas dari pemiliknya. Setelah lepaskan golok- golok itu ke samping kembali sabuk itu berkelebat dua kali kini menjadi seperti tongkat dan ujungnya menotok jalan darah di dada kedua orang lawan. Siok Boan dan Poa Kian mengeluh dan roboh lemas tak mampu bergerak lagi karena telah tertotok! dengan cepat empat orang pengawal menyeret mereka keluar dari ruangan itu. Kini, Giok Cu dan Han Beng berhadapan dengan Ban-tok Mo-li, Lui Seng Cu, dan Can Hong San. Giok Cu yang tak ingin kedahuluan Han Beng karena ia ingin sekali menghadapi Ban- tok Mo-li, segera melangkah maju. "Kalian bertiga adalah tokoh-tokoh utama Thian-kauw dan Thian-te-pang. Nah, sekarang aku yang maju lebih dulu. Siapa di antara kalian bertiga yang ingin melawati aku? Kutantang Ban-tok Mo-li untuk melawan aku!"

"Dan aku menantang Can Hong San untuk melawan aku!" kata Han Beng mendahului, maklum bahwa di antara mereka bertiga, Hong San yang paling pandai.

"Kalian tidak mengandalkan pengeroyokan?" Ban-tok Mo-li bertanya dengan sikap curiga.

"Ban-tok Mo-li, kami bukanlah orang-orang berjiwa pengecut macam kalian?" Giok Cu membentak marah. "Kita bertanding satu lawan satu, tidak ada yang boleh dibantu orang lain. Di sini ada Suhuku Hek Bin Hwesio yang menjadi saksi, dan ada pula Yap Ciangkun dan para perajurit yang menjadi saksi!"

"Bagus! Kalau begitu, engkau akan mampus di tanganku!" bentak Ban-tok Mo-Ii yang sudah menjadi nekat karena ia pun tidak melihat jalan keluar.

"Nanti dulu, Pangcu!" kata Lui Seni Cu sambil maju ke depan. "Sebelum Pangcu yang maju, biarlah aku sebagai Kauw-cu (Kepala Agama) dari Thian-te-kauw yang lebih dulu maju. Bu Giok Cu, kutantang engkau untuk bertanding melawanku kalau engkau berani!" Lui Sen Cu juga sudah putus asa melihat betapa tempat itu telah dikepung oleh pasukan apalagi di situ terdapat dua orang kakek yang sakti. Dia tidak akan dapat melarikan diri, oleh karena itu, dia pun ingin melawan sampai akhir dan daripada melawan yang paling akhir, sendirian saja lebih baik dia maju lebih dulu selagi masih ada teman-temannya. "Bagus! Aku memang ingin sekali menghajarmu, Lui Seng Cu. Engkau dahulu adalah seorang perampok jahat kemudian engkaulah yang menyeret Ban Tok Mo-li sehingga ia ikut- ikutan dalam perkumpulan iblis Thian-te-kauw itu. Majulah!"

Lui Seng Cu maklum bahwa Giok Cu sekarang tidak boleh disamakan dengan Giok Cu dahulu ketika masih menjadi murid Ban-tok Mo-Ii. Tadi pun dia sudah melihat kelihaian gadis itu ketika merobohkan Siangkoan Tek dan Ji Ban To secara mudah, hal ini saja sudah membuktikan bahwa Giok Cu amat lihai. Namun dia mengandalkan kekuatan sihirnya sebagai kauw-cu Thian-te-kauw, mengandalan pula pengalamannya yang tentu sudah lebih luas dan banyak dibandingkan gadis itu. Dengan golok besar di tangan, ia pun maju menghadapi Giok Cu. Akan tetapi dia tidak segera menyerang, melainkan berdiri tegak, golok besarnya diacungkan ke arah Giok Cu, matanya memandang terbelalak tak pernah berkedip, dan mulutnya berkemak-kemik. Dia membaca mantera dan mengerahkan kekuatan sihirnya untuk menguasai gadis itu. Sihir ini biasa dia pergunakan untuk mempengaruhi korban-korban sembahyangan sehingga korban itu akan lupa diri dan menurut saja apa yang akan dilakukan atas dirinya.

Giok Cu yang melihat sikap Kauw cu itu, tadinya merasa geli, akan tetapi tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemas. Pada saat itu, terdengar suara tertawa dari Hek Bin Hwesio.

"Ha-ha-ha-ha, omitohud , lawanmu itu seperti anjing

saja pandai menggonggong, Giok Cu. Berhati-hatilah engkau!"

Dan terjadilah keanehan yang membuat semua orang terbelalak akan tetapi juga merasa geli karena tiba-tiba saja Lui Seng Cu mengeluarkan suara dan dari mulutnya. "Hung- hung-huk-huk-huk Suara itu presis suara anjing yang marah, menggonggong dan menyalak-nyalak Giok Cu tertawa dan suara ketawa ini agaknya yang menyadarkan Lui Seng Cu. Wajah Kauw-cu ini seketika menjadi pucat ketika dia menoleh kearah Hek Bin Hwesio dan tahulah dia bahwa di depan hwesio hitam itu, dia sama sekali tidak berdaya. Kiranya hwesio tua Itu tahu bahwa dia mempergunakan ilmu bilur dan sihir itu bahkan membalik dan menghantam dirinya sendiri sehingga di luar kesadarannya dia tadi menggonggong seperti anjing.Tentu saja hal ini amat memalukan. Wajah yang pucat kini berubah menjadi kemerahan dan tanpa banyak cakap lagi, tanpa mengeluarkan peringatan, dia telah mengayun golok besarnya dan menyerang Giok Cu!

"Singgggg !" Golok besar itu menyambar di atas

kepala Giok Cu karena ketika golok itu membabat leher, gadis itu cepat merendahkan tubuhnya sehingga golok itu menyambar lewat di atas kepalanya. Akan tetapi, sebagai susulan, kaki Lui Seng Cu menendang dengan kuatnya ke arah bawah pusar.

"Ihhhhh!" Giok Cu marah sekali dan ia pun meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan yang sifatnya tidak sopan itu. Agaknya Lui Seng Cu sudah tidak mengindahkan lagi aturan, dia menyerang mati-matian dan hendak mempergunakan segala cara untuk mencari kemenangan. Kini goloknya sudah menyambar-nyambar lagi dengan ganasnya. Biarpun ia memegang sebatang pedang pusaka, yaitu pedang Seng-kan kiam yang walaupun nampak butut tumpul namun ampuh bukan main, namun ia terlalu cerdik untuk menggunakan pedangnya menangkis golok lawan. Golok itu tebal dan berat, juga tenaga Seng Cu amat besar, ilmu goloknya ganas dan dahsyat sehingga tidak percuma dia berjuluk Hok-houw Toa-to (Golok Besar Penaluk Harimau). Kalau menangkis dan mengadu tenaga, biar pedangnya tidak mungkin dapat rusak namun ada bahaya pedangnya akan terlepas dari pegangan. Untuk membuntungi golok itu pun bukan hal yang mudah mengingat golok itu tebal dan berat juga ia menduga bahwa tentu golok itu terbuat dari baja yang baik dan tidak mudah dirusakkan. Giok Cu kini mempergunakan ilmunya, meringankan tubuh, mengandalkan kelincahan gerakannya untuk menghindarkan diri dari semua sambaran golok, dan setiap ada kesempaian, pedangnya meluncur dan mengirim serangan balasan yang juga amat berbahaya bagi lawan.

Terjadilah per tandingan yang amat hebat, seru dan menegangkan hati. Karena ilmu golok Lui Seng Cu memang ganas, maka nampaknya saja dia lebih baik menyerang, menekan dan mendesak gadis itu sehingga Yap Ciangkun dan merasa pengawalnya memandang dengan alis berkerut dan hati khawatir. Namun Han Beng, Pek I Tojin dan Hek Bin Hwesio menonton dengan sikap tenang saja. Mereka bertiga maklum bahwa Giok Cu masih lebih unggul dan tidak akan kalah. Mereka mengerti bahwa gadis itu menyayangi pedangnya agar tidak sampai rusak kalau beradu dengan golok yang besar dan berat itu.

Lui Seng Cu sendiri yang merasa betapa beratnya menghadapi gadis itu. Terlalu lincah gerakan gadis itu baginya, terlalu cepat sehingga dia merasa seperti mengejar bayangannya sendiri! goloknya tak pernah dapat menyentuh lawan, padahal dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya sehingga kini napasnya mulai memburu dan tenaganya mulai berkurang. Sebaliknya, gadis itu semakin gesit saja sehingga pandang mata mulai kabur.

ooOOoo

Tiba-tiba Giok Cu mengubuh geraknya, pedangnya membuat gerakan melengkung dan pada saat golok di tangan Lui Seng Cu meluncur lewat, pedang tumpul itu menusuk ke arah lengan ya memegang golok.

"Aughhh !" Lui Seng Cu berseru keras dan tak mungkin

dapat mempertahankan goloknya lagi karena lengan kanannya tiba-tiba kehilangan tenaga sama sekali. Pedang tumpul itu hanya membuat lengan itu lumpuh saja, karena Giok Cu teringat akan ucapan Hek Bin Hwesio bahwa di situ tidak akan terjadi pembunuhan. Kakinya bergerak menendang ke arah lutut dan robohlah Lui Seng Cu. Sambungan lutut kanannya terlepas dan dia tidak mampu bangkit kembali. Empat orang pengawal segera maju dan membelenggu kedua lengannya belakang dan membawanya pergi.

"Ban-tok Mo-li, sekarang maju engkau!" Giok Cu menantang, suaranya jelas mengandung kemarahan dan dendam.

"Giok Cu, engkau mengasolah dulu, aku yang maju!" kata Han Beng yang melompat ke depan. "Can Hong San, majulah, mari kita bermain-main sejenak!"

Melihat betapa Lui Seng Cu roboh, hati Hong San sudah menjadi gentar. Akan tetapi karena tidak melihat jalan keluar, dia pun menghadapi Han Beng dengan suling dan pedangnya. Sikapnya gagah dan dia nampak tenang saja, seolah-olah dia percaya akan kemampuan diri sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah putera mendiang Cui-beng Sai-kong dan memiliki kepandaian tinggi. Namun, di lubuk hatinya, dia merasa gentar menghadapi Si Han Beng. Dia sudah tahu akan kehebatan pemuda tinggi besar itu, akan tetapi tidak ada jalan lain untuk menghindari pertandingan ini.

"Lihat pedang!" bentaknya dengan sikap gagah. Pedangnya menyambar diikuti gerakan suling yang menotok ke arah dada.

"Bagus!" Han Beng berseru sambil mengelak, kagum juga karena serangan itu selain indah juga berbahaya. Akan tetapi, baru saja dia mengelak, sinar pedang dan sinar suling itu sudah menyambar-nyambar lagi. Demikian cepatnya gerakan serangan Hong San, susul-menyusul dan sambung- menyambung. Terpaksa Han Beng meloncat ke belakang untuk melepaskan diri dari desakan serangan beruntun itu. "Han Beng, pakailah pedangku!" Giok Cu berseru sambil melemparkan pedangnya ke arah Han Beng. Sebenarnya Han Beng tidak perlu meminjam pedang, akan tetapi karena Giok Cu telah melemparkan pedangnya kepadanya, terpaksa dia menerimanya.

"Terima kasih, Giok Cu." katanya.

Post a Comment