Halo!

Kisah Pendekar Pulau Es Chapter 185

Memuat...

Memang harus diakui bahwa Kaisar Kian Liong, sejak mudanya, sejak masih pangeran, suka bergaul dengan rakyat jelata sehingga dia amat populer di kalangan rakyat. Bahkan sejak dia masih pangeran, para pendekar selalu melindungi dan menjaga keselamatan pangeran yang dianggap sebagai calon kaisar yang baik dan menguntungkan rakyat jelata ini.

Akan tetapi di balik semua kebaikan yang memang harus diakui ada pada diri Kian Liong, dia memiliki suatu kelemahan, yaitu suka pelesir dan berhubungan dengan wanita-wanita cantik. Akan tetapi karena memang perangainya baik dan terdidik sebagai seorang sasterawan, dia tidak pernah mau mengganggu wanita baik-baik dengan kekerasan, tidak mau mempergunakan kedudukannya atau kekayaannya untuk memaksa wanita baik-baik menjadi kekasihnya.

Dia lebih suka mengunjungi rumah-rumah pelacuran. Tentu saja banyak pula gadis-gadis dan wanita baik-baik yang tertarik kepada pangeran itu, baik karena kedudukannya maupun ketampanannya, yang menyerahkan diri tanpa paksaan. Maka tersiarlah berita bahwa Kaisar Kian Liong mempunyai banyak anak yang lahir dari wanita-wanita yang berhubungan dengan dia di waktu dia masih pangeran yang sempat berkelana dan bertualang itu.

Sejak masih pangeran, Kian Liong mempunyai seorang kepercayaan yang memungkinkan dia sering pergi meninggalkan istana dan menyamar sebagai pemuda biasa dan kepercayaannya ini pula yang memungkinkan dia mengunjungi rumah-rumah pelacuran dan berhubungan dengan pelacur-pelacur paliing terkenal di kota raja dan kota-kota besar lainnya. Orang kepercayaannya ini adalah seorang thaikam (pelayan kebiri) yang amat cerdik, bernama Siauw Hok Cu.

Ketika Kian Liong masih menjadi pangeran, di dalam istana sendiri terjadi suatu peristiwa yang kalau ketahuan orang luar atau kalangan istana sendiri tentu akan mendatangkan aib dan kehebohan. Akan tetapi, thaikam Siauw Hok Cu demikian pandai menjaga rahasia majikannya dan memang Pangeran Kian Liong sendiri amat cerdik sehingga peristiwa itu merupakan rahasia yang tidak pernah diketahui orang lain.

Peristiwa itu dimulai dengan pertemuan antara Pangeran Kian Liong yang pada waktu itu baru berusia delapan belas tahun dengan nyonya Fu Heng, kakak iparnya sendiri karena nyonya ini adalah isteri seorang pangeran yang menjadi kakak tiri Kiang Liong terlahir dari selir. Bertemu dengan nyonya yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun ini, Pangeran Kian Liong seketika jatuh cinta dan bahkan tergila-gila.

Akan tetapi, karena nyonya itu adalah isteri kakak tirinya, tentu saja dia tidak berani bersikap kurang ajar dan hanya menyimpan kerinduan hatinya itu di dalam dada saja. Nyonya Fu Heng memang cantik jelita, kulitnya putih halus tanpa cacad, mukanya putih itu agak kemerahan tanpa alat kecantikan, mukanya bulat telur, sepasang matanya sipit akan tetapi lebar dan seperti sepasang bintang berkilauan, hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak naik seperti menantang, dan terutama sekali mulutnya amat mungil, dengan bibir yang selalu kemerahan dan selalu basah dan segar. Dalam usianya yang tiga puluh tahun dan belum mempunyai anak, tubuh wanita ini penuh dan matang, dengan gerak gerik lembut penuh daya pikat yang amat kuat.

Hanya thaikam Siauw Hok Cu yang tahu akan penyakit rindu berahi yang menyerang majikannya, ketika Pangeran Kian Liong seringkali nampak termenung di dalam kamarnya atau di kebun bunga.

"Pangeran, harap paduka jangan banyak termenung berduka. Seekor kumbang tidak akan kehabisan akal untuk dapat menghisap madu kembang yang disukai dan dipilihnya.! Thaikam gendut itu menghibur sambil mendekati majikannya yang sedang duduk termenung pada suatu malam dalam taman bunga.

Pangeran Kian Liong mengangkat muka, memandang orang kepercayaannya itu dengan heran dan bertanya.

"Hok Cu, apa maksudmu? Jangan kau main-main!! Karena hatinya sedang kesal, kata-kata yang belum dimengerti maksudnya itu dianggap mengganggu hatinya.Akan tetapi thaikam gendut itu tersenyum. Mukanya yang seperti muka anak-anak yang gendut dan sehat itu berseri, sepasang matanya menjadi semakin sipit sampai hampir terpejam.

"Pangeran, hendaknya paduka ketahui bahwa nyonya Fu Heng adalah sahabat baik sekali dari Sang Puteri Kim.!

Mendengar ini, Pangeran Kian Liong memandang dengan penuh perhatian. Dia kagum akan kecerdikan orangnya ini, yang agaknya sudah dapat menerka apa yang disusahkan. Puteri Kim adalah puteri istana yang juga menjadi saudara iparnya. Akan tetapi disebutnya nama nyonya Fu Heng jelas membuktikan bahwa orang kepercayaannya ini tahu akan isi hatinya.

"Kau tahu....?!

Thaikam itu mengangguk.

"Jangan khawatir, hanya hamba seoranglah yang dapat mengetahuinya.!

"Lalu, apa maksudmu mengatakan bahwa ia sahabat baik Puteri Kim?!

"Pangeran, sudah beberapa kali nyonya Fu menjadi tamu Puteri Kim, bahkan sampai bermalam selama satu dua hari. Biasanya, nyonya itu berkunjung atas undangan sang puteri dan keduanya bersantai di Taman Musim Semi!!

"Lalu, kalau begitu mengapa?! tanya sang pangeran yang masih belum mengerti apa yang dimaksudkan pelayan yang mukanya penuh senyum gembira itu.

"Apa artinya Cang-cun-yuan (Taman Bahagia Musim Semi) itu bagiku?!

"Pangeran tentu ingin sekali bertemu berdua saja dengan nyonya Fu Heng, bukan?!

Wajah sang pangeran menjadi kemerahan. Bagaimanapun juga, memalukan sekali diketahui rahasia hatinya bahwa dia jatuh cinta kepada kakak iparnya sendiri! Akan tetapi orang ini adalah satu-satunya orang yang dipercayanya, maka diapun mengangguk.

"Nah, kalau begitu hamba yang tanggung bahwa pada besok malam, paduka akan dapat menjumpainya seorang diri saja di taman itu.!

"Di Cang-cun-yuan? Bagaimana caranya?!

"Mudah saja, pangeran. Hamba akan membuat surat undangan atas nama Sang Puteri Kim, mengundang nyonya itu untuk berkunjung ke Taman Musim Semi. Nah, hamba akan menyogok para dayang di taman itu agar dapat diatur sebaiknya, mempersiapkan pertemuan antara paduka dan nyonya cantik jelita itu.!

Wajah sang pangeran berseri gembira.

"Ah, engkau cerdik sekali. Kau lakukanlah itu, Hok Cu, kau lakukan itu, akan tetapi hati-hati, jangan sampai bocor dan awas, jangan gagal, karena ini menyangkut nama baik keluarga istana, kau tahu?!

"Tanggung beres, pangeran. Hamba jamin dengan nyawa hamba yang tidak berharga!!

Post a Comment