"Apa akalmu untuk membinasakan seluruh keluarga Peng Si-ong beserta antek-anteknya" Lekas katakan!" Tan Kin-Iam tersenyum .
"Sebaiknya kita pikirkan caranya bersama-sama!" katanya, "Kalau hanya aku seorang diri, mana mungkin menemukan akal yang sempurna?" "Ah!" seru Tay Hong tertahan Dia melepaskan cekalan tangannya, Tampaknya dia agak kecewa mendengar jawaban Tan Kin-Iam .
Kin Lam mengulurkan tangannya ke arah Bhok Kiam-seng .
"Siau ongya, kita masih harus bertepuk tangan dua kali lagi!" katanya mengingatkan .
"Benar!" sahut pangeran dari Inlam itu .
Dia juga mengulurkan tangannya dan mereka pun melanjutkan dua kali tepukan tangan yang tertunda tadi .
Si Hoa bangkit dengan sikap menghormat Tan Cong tocu ingin membasmi Go Samkui, aku si orang she Lie bersedia menerima segala titahmu, Tan Cong tocu, seandainya aku yang rendah beruntung bisa membunuh pengkhianat itu, tidak ada hal lain yang kuharapkan kecuali dapat mengangkat saudara denganmu dan diijinkan saling memanggil dengan kakak dan adik!" Kin Lam tertawa .
"Lie hiante kau terlalu memandang tinggi kepadaku!" katanya yang langsung memanggil "hiante" atau tidak, "Baiklah! Ucapan seorang laki-laki sejati sekali dikeluarkan, empat ekor kuda pun sukar mengejarnya!" Siau Po menyaksikan gerak-gerik kedua orang itu, hatinya tertarik sekali semangatnya seperti terbangun Dia menyesalkan dirinya yang masih terlalu kecil, Coba kalau usianya sedikit lebih tua dan ilmu silatnya setinggi Lie Si-hoa, tentu dia akan membawa sikap yang sama gagahnya .
Sementara itu, Kin Lam menitahkan agar barang hidangan lekas disajikan Dia ingin menjamu para tamunya, Ketika pesta sedang berlangsung, Lie Si-hoa selalu berbicara dengan nada gembira, Ternyata pengetahuannya luas sekali Tetapi sejauh itu, dia masih tidak menjelaskan asal-usulnya .
Di situ juga Hoan Kong dan Hian Ceng memperkenalkan orang-orang lainnya, Ketika berhadapan dengan Siau Po yang dikatakan merupakan salah seorang hiocu dari Tian te hwe, Lie Si-hoa menjadi heran .
Namun setelah dijelaskan bahwa bocah itu adalah muridnya Tan Kin-lam, sang ketua, dia berkata dalam hati: "Oh, rupanya demikian!" Setelah mengeringkan beberapa cawan arak, Si Hoa yang pertama-tama mohon diri .
Dia diantar oleh Tan Kin-Iam sampai di depan pintu dan ketu Tian-te hwe itu berbisik kepadanya, "Lie hiante, tadi kakakmu ini belum tahu apakah kau merupakan kawan atau lawan kami, karena itu aku telah mencekal kakimu dengan sedikit tenaga .
Tanpa disengaja aku telah keliru mengenaimu .
Hiante, dua jam lagi kakimu akan terasa nyeri berbahaya sekali kalau kau tidak tahu cara me obati lukamu itu, atau kau gunakan cara lain dengan terpaksa, Hiante, kau harus menggali sebuah lubang yang dalam dan tingginya sesuai dengan be tuk tubuhmu, kemudian kau masuk ke dalamn lalu kau urug kembali dengan tanah sampai sebatas leher .
Kau harus berdiam di dalam lubang itu lama empat jam dan tujuh hari berturut-turut dengan demikian lukamu akan sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi!" Si Hoa terkejut setengah mati mendengar terangan itu .
"Oh, jadi aku telah terkena pukulan "Geng-hi sin jiau" (Sambaran kuku pembeku darah)?" tanyanya .
"Jangan cemas, Tidak perlu takut, hiante," kata Tan Kin-lam .
"Kalau kau ikuti cara yang kukatakan tadi, niscaya kau tidak akan mengalami kejadian apa-apa, Sekali lagi kakakmu mohon agar kau tidak berkecil hati karena kesembronoanku tadi!" Pertama-tama Lie Si-hoa memang terkejut tapi akhirnya dia menjadi tenang kembali .
"Salahku sendiri." sahutnya kemudian .
"Hari ini mataku baru terbuka, Di atas langit masih ada langit, di antara para jago masih ada lagi yang lebih jago!" Sekali lagi dia merangkapkan sepasang tangannya menjura kemudian ia membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu .
Liu Tay-hong yang mendengar perkataan Tan Kin-lam barusan, segera bertanya .
Tan Cong tocu, jadi tadi kau menggunakan ilmu "Ceng-hiat sin Jiau" untuk menghadapi pemuda itu" Menurut apa yang pernah kudengar, siapa yang terkena serangan ilmu itu, dalam waktu tiga hari darah di seluruh tubuhnya akan membeku, dan orang itu tidak bisa bergerak sama sekali serta tidak dapat disembuhkan lagi, Benarkah?" Tan Kin-Iam menarik nafas panjang, "Pada dasarnya, sifat ilmu itu memang keji sekali," sahutnya, "Aku sebenarnya tidak berniat menggunakan ilmu itu, tapi cara kedatangannya sungguh luar biasa dan dia sudah mendengar percakapan rahasia kita, ilmunya juga lihay sekali dan kita belum tahu maksud kedatangannya, Untu menjaga diri kita semua terhadap hal yang tid diinginkan, terpaksa aku menggunakan ilmu itu, perbuatanku tadi sama sekali tidak mirip seora laki-laki sejati dan aku menjadi malu karenanya!" "Tapi," Bhok Kiam-seng ikut bicara, "Perbuatanmu ada benarnya juga, seandainya dia adalah mata-mata musuh atau bawahannya Go Sam-kui dia memang berbahaya bagi kita, Kalau Cong tocu tidak memberi pelajaran kepadanya lalu dia membawa berita tentang kita kepada junjungannya, celakalah kita semua .
Syukurlah Cong tocu bisa menguasainya.. .
Tan Cong tocu, kepandaianmu tinggi sekali, kau benar-benar membuat kami kagum!" Pesta di lanjutkan kembali Akhirnya tiba juga saatnya Bhok Kiam-seng dan rombongannya berpamitan .
"Siau ongya," kata Siau Po pada pangeran itu "Sebaiknya Siau ongya pindah tempat, Sebab entah siang atau malam ini juga, ada kemungkinan ban Tatcu nanti mengirim orangnya untuk mengepung dan melakukan penangkapan atas diri Siau ongya Mungkin Siau ongya tidak takut, tapi kita harus sadar dengan kekuatan kita sekarang ini, kita masih belum sanggup melawan tentara yang jumlah laksaan jiwa...." Mendengar ucapan bocah itu, Liu Tay tertawa lebar .
"Saudara cilik, apa yang kau katakan memang benar!" katanya dengan nada gembira, "Saudara kecil, sekali lagi terima kasih, terutama untuk saran-mu ini .
Baiklah, kami akan segera pindah tempat!" Kiam Seng pun turut berkata .
"Pembicaraan kita sudah selesai, Hari ini juga kami akan pergi dari kota ini .
Tan Cong tocu, Wi hiocu, serta semua sahabat baik yang ada di sini, selama gunung masih menghijau dan sungai masih mengalir, tentu akan ada perjumpaan lagi bagi kita kelak!" Begitu rombongan itu berlalu, Tan Kin-lam memanggil muridnya, "Siau Po, kemari!" katanya, "Aku ingin lihat, selama beberapa bulan ini, sudah sampai di mana kemajuanmu?" Jantung Siau Po langsung berdebaran .
wajahnya pun berubah seketika, urusan ini paling dikhawatirkan olehnya, Tapi pada dasarnya dia memang cerdik, dia sudah memikirkan jawaban yang masuk akal .
"Suhu, selama ini kesehatanku agak terganggu, beberapa kali aku jatuh sakit dan asal aku berlatih sebentar saja, perutku langsung terasa nyeri!" Kin Lam merasa heran sehingga dia memperhatikan muridnya dengan tajam .
"Kau sakit?" tanyanya, "Sakit apa?" Dia langsung mengajak muridnya ke kamar sebelah timur Setelah merapatkan pintu kamar itu, dia langsung mencekal tangan kanan muridnya .
"Aih!"Tan Kin-lam sampai mengeluarkan seruan tertahan setelah ia meraba denyut nadi Siau Po .
Cepat-cepat dia memeriksa nadi sebelah kirinya .
"Ini.. .
ini.,." saking gugupnya, dia sampai tidak sanggup mengatakan apa-apa .
pikirannya langsung bekerja .
"Selain terluka parah, kau juga keracunan .
Usiamu masih begini muda, bagaimana kau bisa bermusuhan dengan tokoh-tokoh dunia kangouw yang memiliki kepandaian setinggi ini" siapakah musuhmu itu?" Di hadapan orang lain, Siau Po suka sok gagah, Tetapi di hadapan gurunya ini, dia langsung menangis terisak-isak .
"Perbuatan si nenek sihir dan kura-kura tua itulah yang mencelakai muridmu ini..." katanya .
Tan Kin-lam semakin bingung, Dia menatap muridnya lekat-lekat "Apa yang yang kau maksud dengan kura-kura tua serta nenek sihti?" tanya gurunya .
"Siapakah mereka?" Siau Po segera menceritakan tentang Hay kongkong yang telah meracuninya dan ibu suri yang telah menepuk punggungnya sehingga dia terluka dalam .
Dia juga menceritakan bagaimana ibu suri berhasil mengancamnya .
Kin Lam berpikir dengan keras .
"Apakah kau membawa obat yang diberikan ibu suri kepadamu?" tanyanya penasaran .
"Ya," sahut Siau Po langsung mengeluarkan obat yang selalu dibawanya kemanamana itu .
Kin Lam memeriksa obat itu, dia mengendusnya berkali-kali .
Bahkan dia memasukkan sebutir pil ke dalam mulutnya kemudian dia gigit sampai hancur dan dengan lidah dia mencicipi, tiba-tiba dia menyemburkan obat itu dengan meludah dan kemudian mengomel .
"Oh, dasar nenek sihir!" makinya, "Obat ini juga dicampur dengan racun, Dengan memberimu obat ini, dia ingin membuat kau mati secara perlahan-lahan!"
Mendengar gurunya juga memaki ibu suri sebagai nenek sihir, tanpa dapat dipertahankan lagi, Siau Po tertawa geli, Ternyata sang guru juga sudah terbawa atau terpengaruh dengan kata-katanya sehingga tanpa terasa dia ikut menyebut ibu suri sebagai nenek sihir, Sebuah perkataan yang tidak selayaknya terucap dari mulut seorang ketua dari perkumpulan besar seperti Tian-te hwe .
Siau Po sendiri sudah terbiasa dengan sebutannya yang kotor dan berbagai ragam karena dia benci sekali kepada wanita itu, meskipun dia adalah seorang ibu suri .
Tapi, setelah tertawa, dia menangis lagi, Dia percaya penuh dengan ucapan gurunya itu, Artinya dia sudah terluka parah dan keracunan Mungkin-kah dia tertolong" Dia menjadi kecil hati, Tadinya dia masih dapat menguatkan hatinya, namun sekarang di depan gurunya, dia kembali lagi sebagaimana biasanya seorang bocah kecil serta tak dapat mempertahankan lagi ketabahannya yang luar biasa .
"Tahukah kau asal-usul ilmu silat Hay tayhu dan ibu suri itu?" tanya Kin Lam kepada muridnya kemudian .
Siau Po segera menceritakan pembicaraan yang berlangsung antara Hay kongkong dengan ibu suri baru-baru ini di taman bunga .