Halo!

Darah Pendekar Chapter 162

Memuat...

Koksu atau pemimpin suku liar Mongol itu, si raksasa Malisang, kini harus memeras keringat menghadapi pengeroyokan empat orang setelah Pek Lian maju. Melihat betapa Yap Kim yang terluka parah maju, tadi Liu Pang diam saja karena memang lawannya amat tangguh. Akan tetapi melihat ada Pek Lian yang datang membantu, Liu Pang berseru agar Yap Kim mundur karena perkelahian amat membahayakan dirinya. Akan tetapi, pemuda ini amat pemberani dan berhati baja, maka biarpun diteriaki agar mundur, tetap saja dia melanjutkan pengeroyokannya. Repotlah Malisang oleh penge-royokan empat orang ini. Terutama sekali pedang dari Kwan Hok dan Liu Pang amat merepotkan dirinya. Kwan Hok telah membagi pedangnya, menyerahkan sebatang dari sepasang pedangnya kepada pemimpin ini.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi antara para pendekar melawan pasukan pengawal Kwa Sun Tek juga makin memuncak. Ramai dan seru-Akan tetapi, makin lama makin nampak bahwa pa-ra pendekar dapat mendesak musuh. Banyak anak buah pasukan musuh roboh dan terbunuh. Perke-lahian antara Yap Kiong Lee dan Kwa Sun Tek juga sudah mencapai puncaknya dan sedikit demi sedikit Kiong Lee mulai dapat mendesak lawannya. Kwa Sun Tek melawan dengan gigih dan keduanya sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengelu-arkan semua ilmu simpanan mereka.

"Hiaaaatttt !" Suara lengkingan nyaring

keluar dari tenggorokan Kiong Lee ketika pemuda ini menangkis pukulan lawan sambil membarengi melontarkan sebuah tendangan kilat dengan kaki kirinya.

"Desss !" Kaki itu tepat menghantam ping- gang dan tubuh Kwa Sun Tek terlempar ke bela-

kang, menghantam sebatang pohon dengan amat kerasnya. Pohon itu tumbang seketika ! Akan te- tapi, dengan cekatan Kwa Sun Tek dapat meloncat bangun, tubuhnya bergoyang - goyang dan dari hidung serta mulutnya keluarlah darah segar. Dia telah terluka cukup parah oleh tendangan kilat tadi.

Akan tetapi Kiong Lee merasa betapa kaki ki-rinya nyeri sekali. Cepat dia mengeluarkan sebu-tir pel yang segera ditelannya, kemudian memerik-sa kakinya. Ternyata sepatunya ada tanda

- tanda darah dan ketika dia membukanya, nampaklah da-rah merembes keluar dari pori - pori kakinya sam-pai sebatas mata kaki kirinya. Kiong Lee merasa ngeri juga. Lawannya benar-benar memiliki ilmu yang menyeramkan.

Pada saat itu, terdengar sorak-sorai dari keja-uhan. Seorang pendekar datang berlari-lari dan berkata kepada Liu Pang yang masih mendesak si raksasa Malisang, "Liu-bengcu, pasukan, pemerintah di bawah pimpinan Jenderal Lai datang !"

Tentu saja para pendekar terkejut dan kecewa mendengar ini. Mereka sudah hampir berhasil menguasai keadaan dan mengalahkan musuh, akan tetapi sekarang datang barisan yang dipimpin oleh Jenderal Lai. Tentu saja mereka tidak berani menghadapi ancaman pasukan besar itu. Liu Pang lalu menganjurkan para pendekar untuk melarikan diri. Malisang dan Kwa Sun Tek tidak berani me-ngejar, karena selain anak buah mereka banyak yang sudah tewas, juga keadaan Kwa Sun Tek yang sudah terluka parah itu tidak memungkinkan pemuda ini untuk bertanding lagi.

Liu Pang lalu mengajak semua orang untuk melarikan diri kembali ke perkemahan pasukannya, di lembah Huang - ho. Mereka disambut oleh pa-sukan pendekar dan Liu Pang lalu memperkenalkan Yap Kiong Lee dan Kwan Hok, dua orang murid Thian - Idam - pang itu, kepada para pembantunya. Semua orang menjadi kagum terhadap Kiong Lee ketika mendengar betapa pemuda perkasa ini mampu menandingi bahkan mengalahkan tokoh Tai - bong - pai yang memiliki ilmu penghisap darah yang mengerikan itu.

Kiong Lee segera mengobati Yap Kim, ditung-gui oleh Kwan Hok. Dia menegur Yap Kim dengan halus. Seperti biasa, Yap Kim diam saja dan hama menunduk, merasa bahwa dia memang bersalah. Akan tetapi ketika kakak angkat yang juga menja-di kakak seperguruan yang membimbingnya dalam ilmu silat itu mengajaknya pulang, dia menolak keras. "Tidak, twako. Aku tidak mau pulang ke rumah yang sunyi membosankan itu. Aku tidak mau bertemu dengan ayah yang selalu mengasing-kan diri di tempat samadhinya. Aku tidak mau bertemu dengan ibu yang selalu berdiam di istana membantu kaisar lalim itu. Ibu selalu bersahabat dengan pembesar - pembesar lalim penindas rak-yat. Aku ingin bersama kawan - kawan berjuang di antara rakyat. Kalau twako memaksa aku pu-lang, lebih baik engkau bunuh sajalah aku !"

Mendengar ucapan sutenya ini, Kiong Lee ter-mangu - mangu. Di dalam hatinya dia harus meng-akui bahwa apa yang diucapkan oleh adiknya itu memang benar. Gurunya seperti sudah mengasing-kan diri dari dunia ramai, kerjanya hanya bersa-madhi saja di dalam kamarnya. Sedangkan subo-nya bahkan telah memisahkan diri dari suhunya, subonya begitu ambisius untuk menjadi tokoh istana. Dia dapat mengerti bagaimana perasaan Yap Kim sebagai putera tunggal dari ayah dan ibu yang saling berpisah dan saling bertolak belakang itu. Dia sendiripun, yang hanya menjadi murid utama dan putera angkat, kadang - kadang juga merasakan kepahitan kenyataan ini.

Sementara itu, di bagian belakang perkemahan pusat, Liu Pang juga bercakap - cakap dengan muridnya. Dia ingin sekali tahu apa yang telah terjadi dengan muridnya yang tiba - tiba menghi-lang kemudian secara mendadak muncul pula ber-sama Yap Kiong Lee.

"Suhu, kita semua harus berterima kasih kepa-da Yap - twako. Tanpa ada dia yang turun tangan, agaknya kita semua sukar untuk menyelamatkan diri. Aku sendiripun tentu akan celaka kalau tidak ada dia yang menolong."

Dara itu lalu menceritakan pengalamannya malam itu. Seperti kita ketahui, ia disuruh oleh Liu Pang untuk mencari air dan membuat minuman teh. Ketika ia pergi ke belakang rumah, ke sebuah sumur yang agak jauh terpencil di tempat sunyi dan selagi ia hendak menimba air tiba - tiba ia dikejutkan oleh bayangan orang berkelebat. Ia mengangkat muka dan kiranya di situ telah mun-cul seorang laki - laki bertubuh kecil pendek, ber-pakaian mewah dan tangannya memegang sebatang cambuk. Biarpun cuaca hanya diterangi oleh bulan sepotong, namun Pek Lian segera mengenal orang itu. Dia mengenal laki - laki bertubuh pendek kecil bermata sipit yang duduk di pagar sumur itu. Si cebol itupun memandang tajam lalu tersenyum menyeringai.

"Hi - hi - hik, kita bertemu lagi, nona manis! Ternyata dunia ini tidak begitu luas lagi, hi-hi- hik! Di manakah kawan - kawanmu yang cantik-cantik itu ?" Suaranya juga kecil mencicit seperti suara tikus.

Pek Lian bergidik dan teringat akan barisan tikus di lorong - lorong bawah tanah. Bagaimana-kah iblis ini bisa sampai di tempat ini ? Iblis ini adalah putera Te - tok - ci Si Tikus Beracun, iblis muda yang berjuluk Siauw - thian - ci. Apakah orang - orang Ban - kwi - to telah keluar dari sarang mereka semua ?

Tentu saja Pek Lian tidak sudi menyerah be-gitu saja dan tanpa menjawab sedikitpun, ia sudah menyerang dengan pedangnya- Siauw - thian - ci tertawa dan menghadapi gadis itu dengan meng-gunakan cambuknya. Terjadilah perkelahian yang sengit. Sebenarnya, ilmu silat dari si katai ini tidaklah berapa tinggi. Orang - orang Ban-kwi-to memang tidak memiliki ilmu kepandaian yang ter-lalu hebat. Mereka hanya mengandalkan penggu-naan racun saja, maka Siauw - thian - ci, biarpun menjadi putera dari orang pertama Ban - kwi - to, juga hanya memiliki ilmu silat yang seimbang saja dibandingkan dengan Pek Lian. Biarpun gerakan cambuknya aneh dan buas, namun menghadapi pedang dara itu, dia tidak mampu mendesaknya. Setelah perkelahian itu berlangsung puluhan jurus dan belum juga dia mampu menundukkan Pek Lian, Siauw - thian - ci menjadi penasaran dan ma-rah sekali.

"Bocah bandel, engkau belum juga mau me-nyerah ?" bentaknya dan tiba - tiba cambuknya meledak ketika dia menyerang. Pek Lian mengelak dan balas menusuk, akan tetapi dia terkejut sekali melihat sinar hitam meluncur keluar dari dalam cambuk itu! Ternyata musuh mempergunakan senjata rahasia yang agaknya dipasang di dalam cambuk dan kini ada beberapa batang jarum hitam menyambar ke arah leher dan dadanya. Terpaksa ia menarik kembali pedangnya dan memutar senjata itu, menyampok runtuh semua jarum yang menyambar ke arahnya. Pada saat itu, tangan kiri Siauw - thian - ci mengebutkan sehelai saputangan lebar berwarna hitam dan ada debu hijau me-nyambar ke depan. Pek Lian terkejut dan melon-cat ke belakang, akan tetapi hidungnya sudah mencium bau yang amis memuakkan. Tak tertahan-kan lagi ia muntah - muntah karena perutnya mual dan pada saat ia muntah - muntah itu, ujung cam- buk Siauw - thian - ci mematuk pergelangan tangan-nya. Seketika Pek Lian merasakan lengannya lumpuh dan pedangnya terlepas, dan di lain saat, cambuk panjang itu seperti seekor ular telah mem-belit tubuhnya. Ia sudah terbelenggu dan tidak mampu bergerak ketika Siauw - thian - ci meno-toknya sambil tertawa - tawa.

Pek Lian tak mampu bergerak lagi ketika ia dipondong dan dilarikan dari sumur itu. Kiranya tak jauh dari situ terdapat seekor kuda dan tubuh-nya lalu ditelungkupkan di atas punggung kuda. Si cebol sudah meloncat ke atas punggung kuda dan melarikan binatang itu.

Pek Lian tidak tahu dibawa ke mana ia, akan tetapi akhirnya ia melihat bahwa ia dibawa masuk ke dalam pintu gerbang sebuah kota. Agaknya para perajurit yang berjaga di situ sudah mengenal Siauw - thian - ci karena pintu gerbang dibuka dan para perajurit tertawa - tawa fnelihat si cebol ini datang membawa tangkapan seorang dara cantik.

Darah 22

17

Sambil tertelungkup melintang di atas punggung kuda, Pek Lian mendengar suara para penjaga itu.

"Hemm, dia sudah mendapatkan seorang gadis cantik lagi. Hampir setiap malam dia selalu men-cari pengganti baru!"

"Husssh, jangan keras - keras bicara. Jangan - ja-ngan engkau nanti hanya tinggal tulang- tulang saja digerogoti tikus - tikusnya yang mengerikan. Hiih, kemarin itu untung ada Kwa - taihiap yang mence-gahnya, kalau tidak tentu akupun sudah habis di-makan tikus - tikusnya."

Mendengar percakapan itu, Pek Liari merasa ngeri. Kiranya manusia tikus ini telah bersekutu dengan tokoh Tai - bong - pai dan pasukan asing. Ia tidak mampu bergerak, akan tetapi matanya dapat mengerling dan ia melihat bahwa si cebol itu menghentikan kudanya di depan sebuah rumah penginapan. Malam sudah larut dan suasananya sunyi sekali. Penginapan itupun sudah tutup daun pintunya dan Pek Lian merasa ngeri ketika ia dipondong turun dari kuda, kemudian si katai itu mengetuk daun pintu. Ketika daun pintu terbuka, ternyata di ruangan depan masih terang

- bende-rang. Di sudut ruangan itu nampak sepasang laki-laki dan wanita setengah tua sedang asyik bermain catur. Tentu saja Pek Lian terkejut sekali ketika mengenal mereka itu. Suami isteri cabul dari Ban-kwi - to, Im - kan Siang - mo !

Bouw Mo - ko, kakek berusia enampuluh tahun lebih yang kecil kurus itu tanpa menoleh agaknya sudah tahu akan kedatangan Siauw - thian - ci, dan dia menegur, "Engkau baru datang ? Mana pa-man - paman dan bibi - bibimu yang lain ?"

Si Tikus Muda itu melihat paman dan bibi gurunya, menjadi gembira, "Ah, kiranya paman guru dan bibi guru sudah datang lebih dulu ! Aku belum melihat yang lain - lain."

Post a Comment