"Perdana Menteri Li Su mengirimkannya dengan dalih agar putera mahkota dapat menambah peng-alaman dan membantu Panglima Beng Tian. Akan tetapi, semua orang juga tahu bahwa dia hanya ingin menyingkirkan putera mahkota sehingga dalam istana yang sedang kosong itu dia boleh berkuasa sebebasnya tanpa pengganggu atau sa-ingan. Semua orang tidak berani menentang kare-na sebagai perdana menteri, kalau sri baginda tidak ada, dialah yang paling berkuasa."
"Ah, tidak kusangka keadaan di istana sekacau itu !" kata Seng Kun penasaran.
Yap Kiong Lee menarik napas panjang. "Mudah dilihat bahwa negeri kita ini terancam malapetaka, sebentar lagi tentu akan porak-poranda. Di luar istana keadaan begini kacau, penuh dengan pem-berontakan dan pejabat-pejabat daerah ingin berkuasa sendiri, orang-orang jahat mempergunakan kesempatan untuk mencari keuntungan seba-nyaknya, di mana - mana terjadi perebutan keku-asaan. Sedangkan di dalam istana sendiri sudah mulai nampak kericuhan. Semua orang yang tidak disukainya, disingkirkannya dengan kekuasaannya, diganti kedudukan mereka dengan antek - antek-nya. Karena kekuasaan mutlak berada di tangan-nya, para menteri yang setia kepada kerajaan tidak ada yang berani menentangnya."
"Apakah di istana tidak ada keluarga kerajaan yang dapat mempengaruhinya ?" tanya Bwee Hong.
"Tidak ada! Subo sendiri, yang masih sanak dekat, bibi dari sri baginda kaisar, sama sekali ti- dak pernah mencampuri pemerintahan. Putera mahkota yang tahu akan urusan pemerintahan dikirim ke garis depan pertempuran. Sedangkan putera-putera sri baginda yang lain masih kecil, sedangkan puteri-puterinya tentu tak banyak dapat berdaya. Memang sebenarnya ada seorang pange-ran lagi yang sudah dewasa, yaitu adik tiri putera mahkota. Akan tetapi dia jarang berada di istana. Tabiatnya sangat jahat dan nakal. Sejak kecil sri baginda sendiri tidak menyukainya. Bahkan sri baginda selalu dengan halus mengusahakan agar putera yang satu ini jangan berada di dalam istana."
"Eh, aku belum mendengar tentang hal ini!" kata Seng Kun heran. "Bagaimanakah dia sebagai pangeran dianggap nakal dan tidak disukai oleh sri baginda yang menjadi ayahnya sendiri
?"
Entahlah, entah rahasia apa yang ada di balik kelahiran pangeran ini sebagai putera kaisar. Yang jelas, dia nakal sekali, sejak kecil tidak me-nurut dan selalu membawa kemauan sendiri. Ka- barnya sejak kecil dia suka mempelajari ilmu silat, dan melakukan hal - hal yang memalukan. Setelah besar dia bergaul dengan orang - orang jahat, dan kalau di istana, kerjanya hanya mengganggu selir-selir ayahnya dan mencuri benda - benda berharga dan pusaka - pusaka istana."
"Ihhh !" Bwee Hong berseru tak senang.
"Sri baginda kaisar tahu akan keadaan putera-nya yang lihai ilmu silatnya, maka sering diberi tugas membasmi penjahat atau memadamkan pem-berontakan. Malah ketika terjadi pembantaian para sasterawan yang menentang pembakaran ki-tab-kitab, karena takut kalau kalau para sastera- wan dilindungi oleh para pendekar, sri baginda juga mengutus puteranya ini untuk mengepalai pasukan dan melaksanakan pembantaian itu."
"Apakah dia lihai sekali ?" tanya Seng Kun, tertarik.
"Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya, apa lagi bertanding. Dia putera kaisar, siapa be-rani menentangnya ? Akan tetapi kabar angin mengatakan bahwa dia memang lihai bukan main, mempelajari banyak macam ilmu silat, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam."
"Kalau dia begitu lihai, apa dia tidak dapat mempengaruhi perdana menteri ?" tanya Seng
Kun. Yap Kiong Lee tersenyum pahit dan menarik napas panjang. "Perdana Menteri Li Su orangnya cerdik dan licik sekali. Pangeran itu kini memang berada di istana, akan tetapi dia dininabobokkan oleh Perdana Menteri Li Su, setiap hari berpesta pora, bahkan dengan bantuan perdana menteri, wanita manapun di istana, baik masih gadis mau-pun isteri pembesar lain, dapat saja diambilnya dan menjadi permainannya. Nah, bukankah keadaan-nya amat berbahaya di istana ? Seolah - olah di sana berkumpul binatang - binatang buas yang se-dang merajalela."
Seng Kun masih merasa penasaran. "Yap-twako, bukankah Menteri Kang dan para menteri lain yang jujur, yang tadinya dipecat, kini telah bekerja kem-bali, kecuali Menteri Ho ? Bukankah mereka itu merupakan sekumpulan menteri yang takkan ting-gal diam saja kalau Perdana Menteri Li Su bertin-dak sewenang - wenang di istana ?"
Kiong Lee menghela napas. "Agaknya engkau belum tahu akan perkembangan selanjutnya setelah para menteri yang jujur ditarik kembali. Keadaan di istana sudah berkembang sedemikian buruknya sehingga setelah para menteri yang jujur itu kem-bali, kekuasaan pemerintahan menjadi terpecah-belah. Mereka selalu bermusuhan, akan tetapi ka-rena fihak Perdana Menteri Li Su dan antek-antek-nya masih jerih terhadap wibawa sri baginda kaisar yang didukung oleh Jenderal Beng Tian sehingga mereka tidak berani bersikap sewenang-wenang. Akan tetapi, kini Panglima Beng Tian sendiri repot mengurus pemadaman pemberontakan di utara dan barat, sedangkan sri baginda juga pergi, maka tentu saja keadaan menjadi berobah sama sekali."
"Ah, begitukah ?" Bwee Hong mengeluh.
Ia tahu bahwa ayahnya sendiri, ayah kandungnya, biarpun masih terhitung paman dari sri baginda kaisar, namun kini ayahnya hanya menjadi seorang pendeta, kepala kuil yang tidak mempunyai keku-asaan, maka tentu saja tidak berani menentang perdana menteri. "Bagaimana baiknya sekarang, koko ?"
"Kalau keadaannya seperti itu, kita harus ber-hati - hati. Kita tetap ke kota raja, akan tetapi kita harus masuk pada malam hari. Kita melihat - lihat dulu suasana di sana. Yap - twako, terima kasih atas semua keteranganmu yang amat berharga ini. Dan kalau engkau hendak mencari ngo - sutemu itu, sebaiknya kalau engkau pergi ke bukit di mana kami saling berpisah. Kalau tidak ada, berarti dia sudah pergi membawa kawan-kawannya bergabung dengan pasukan besar Liu - bengcu."
Yap Kiong Lee menggeleng kepala "Suteku itu benar - benar gegabah sekali. Ini tentu akibat kebengalan siauw - sute. Ibu kandung siauw - sute adalah seorang wanita bangsawan istana, dia sen-diri masih berdarah keluarga kerajaan, masih sau-dara misan dengan sri baginda kaisar, akan tetapi sekarang dia malah bergabung dengan musuh ke-rajaan. Bukankah itu luar biasa sekali ?"
"Mengapa dunia begini kacau ?" Tiba - tiba A-hai yang sejak tadi termenung saja mendengar-kan, kini membuka mulut. "Orang - orang kaya saling memperebutkan harta, orang- orang berpang-kat saling memperebutkan kedudukan, orang-orang berilmu saling bersaing mengadu kepintaran se-hingga dunia menjadi tidak aman dan kacau! Alangkah bahagianya menjadi orang yang tidak memiliki apa - apa, tidak berpangkat apa - apa dan tidak punya ilmu apa
- apa kalau begitu !"
Tiga orang pendekar itu termangu mendengar ucapan seorang yang dianggap sinting ini karena ucapan itu begitu tepat seperti ujung pedang me-nusuk jantung, membuat mereka tak mampu men-jawab karena memang seperti itulah keadaannya!
* * *
Kita tinggalkan dulu mereka yang saling ber-pisah, yaitu Kiong Lee pergi mencari sute - sutenya dan Seng Kun bersama Bwee Hong dan A - hai pergi menuju ke kota raja. Mari kita melihat kea-daan Liu Pang dan muridnya, H o Pek Lian.
Seperti telah kita ketahui, Liu Pang dengan pasukannya yang dibantu oleh banyak petani dan
rakyat jelata, telah berhasil menduduki kota Lok-yang. Lia Pang tidak tinggal diam di kota itu, melainkan setelah memberi waktu cukup bagi pasukannya untuk beristirahat dan setiap hari mengadakan latihan - latihan untuk memperkuat barisannya, diapun menggerakkan pasukan itu ke utara. Pasukannya bergerak menyeberangi Sungai Huang-ho dan berkemah di lembah utara sungai besar itu, bermaksud untuk mulai menyerang memasuki Propinsi Shan - si. Propinsi Shan - si merupakan propinsi yang lu-as dan jalan menuju ke kota raja yang berada di sebelah barat, yaitu di Propinsi Shen - si. Lok-yang merupakan ibu kota ke dua setelah kota raja Tiang-an. Sebenarnya, untuk menuju ke Tiang - an dari Lok - yang tidak perlu menyeberangi Sungai Huang-ho, akan tetapi ini merupakan siasat dari Liu Pang. Dia ingin menyerbu dari utara dengan jalan menggunakan Sungai Wei - ho yang menjadi cabang Sungai Huang-ho. Kebetulan Sungai Wei-ho mengalir di tepi kota Tiang-an. Sebagian pula dia kerahkan melalui darat sehingga kota raja akan dapat terkepung dari berbagai jurusan.
Untuk keperluan ini, dia sengaja memecah pasukannya yang jumlahnya mencapai belasan ribu itu menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok dipimpin orang - orang kepercayaannya, termasuk pula pemuda tampan yang baru saja menjadi pengawal pribadinya. Pemuda ini memimpin seribu orang perajurit pilihan yang kesemuanya diambil dari para pendekar silat. Tugas pasukan ini adalah mengawal dan membantu Liu Pang dalam gelanggang pertempuran. Di dalam pasukan ini terdapat pula Pek Lian.
Setelah membagi - bagi barisannya, Liu. Pang memberi mereka waktu untuk beristirahat dan me-nyusun kekuatan. Diapun ingin melakukan pe-nyelidikan terlebih dahulu dan untuk tugas ini, dia sendiri yang pergi bersama Pek Lian dan pengawal pribadinya yang baru. Karena pengawal baru ini selalu merahasiakan riwayat dan asal - usulnya, maka Liu Pang memberi dia julukan Bu Beng II an (Pahlawan Tanpa Nama) dan menyebutnya Bu Beng (Tanpa Nama) saja; Pemberian nama ini diterima dengan gembira oleh si pemuda tampan.