"A - hai, sebenarnya, di manakah tempat ting-galmu, maksudku kampung halamanmu ?" Bwee Hong bertanya, memancing dan mencoba kalau-kalau pemuda itu dapat mengingatnya.
A-hai menundukkan mukanya. "Entahlah, aku tidak ingat sama sekali. Nona tentu Sudah tahu bahwa aku sudah lupa sama sekali tentang diriku, lupa siapa aku ini, siapa orang tuaku. Bagaimana aku tahu di mana kampung halamanku ?"
"Akan tetapi engkau tentu masih ingat akan tempat - tempat yang kaukunjungi untuk yang pertama kali dan yang terakhir kali, bukan ?"
"Tentu saja," jawab A - hai sambil tersenyum sedih. "Tempat yang terakhir adalah di sini, bu-kan ?" Dia menepuk tanah di mana dia duduk dekat api unggun.
"Dan yang pertama kali kaukunjungi ? Yang masih kauingat pada pertama kalinya sesudah waktu yang terlupakan olehmu itu, di manakah itu ?"
A - hai mengerutkan alisnya, seperti hendak menggali dalam benaknya ingatan - ingatan lama. Sampai berkeringat wajahnya. Seng Kun memper-hatikan dan diam saja. Dia menyerahkan hal itu kepada adiknya saja, akan tetapi dengan cermat dia memperhatikan wajah A - hai. Wajah itu kini berkeringat, seolah - olah pekerjaan mengingat-ingat merupakan pekerjaan yang amat berat dan melelahkan baginya.
"Sapi kuda kerbau domba ......
ah, pendeknya banyak ternak dan aku menggem- balanya, di padang rumput , benar, di padang rumput yang segar dan hijau."
"Padang rumput ? Menggembala ternak ?" Bwee Hong bertanya sambil saling pandang dengan ka-kaknya
"Benar, tempat itulah yang bisa kuingat, sampai kini. Lebih lama dari waktu itu aku tidak ingat lagi."
"Jadi saat engkau menjadi penggembala
itulah saat terakhir yang dapat kauingat dan sebelum saat itu engkau lupa ?"
"Benar. Menjadi penggembala di padang rum-put itulah bagiku menjadi permulaan dari hidupku sampai sekarang. Aneh, bukan ?" A-hai tersenyum getir.
Tiba - tiba Seng Kun meloncat bangun, diikuti oleh Bwee Hong, sedangkan A - hai tetap duduk saja, tidak tahu bahwa kakak beradik itu telah mendengar suara orang datang ke tempat itu. Ba-rulah A - hai memandang dengan kaget ketika melihat munculnya dua orang yang bukan lain, adalah Kwa Sun Tek dan Malisang, diikuti oleh para perwira anak buah mereka. Kiranya setelah men-dapat teguran keras dari Jenderal Lai, pemuda Tai - bong - pai ini mati - matian mencari jejak buronan mereka dan akhirnya dapat menemukan tiga orang muda itu di situ. Biarpun Kwa Sun Tek sendiri merasa gentar melihat A - hai yang masih enak - enak duduk di dekat api unggun, namun dia mengandalkan pasukannya dan bertekad untuk menangkap kembali tiga orang itu.
Seng Kun dan Bwee Hong maklum bahwa menghadapi mereka ini tidak ada gunanya untuk banyak cakap lagi, maka kakak beradik ini segera menerjang ke depan. Seng Kun menyerang Kwa Sun Tek sedangkan Bwee Hong menandingi Mali-sang. Akan tetapi, beberapa belas orang perwira pengawal ikut mengeroyok sehingga keadaan kedua orang kakak beradik ini sebentar saja terdesak hebat. Celakanya, A - hai berada dalam keadaan normal sehingga seperti biasa, pemuda ini hanya memandang dengan bingung saja.
Selagi dua orang kakak beradik itu terdesak hebat, tiba - tiba terdengar suara orang melengking nyaring dan panjang dan nampak pula dua gulung sinar putih berkelebatan menyilaukan mata, disusul patahnya senjata - senjata para pengeroyok dan robohnya beberapa orang di antara mereka. Mun-cullah seorang pemuda gagah tampan berpakaian putih - putih yang mengamuk dengan sepasang pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat.
"Yap-twako !.!" Bwee Hong berseru girang sekali ketika mengenal pemuda ini.
Kiranya yang datang adalah Yap Kiong Lee, pemuda lihai dari Thian-kiam-pang itu. Permain- an pedangnya hebat bukan main dan ketika pemuda itu akhirnya terjun ke dalam perkelahian mem-bantu Seng Kun dan Bwee Hong, pemuda Tai-bong - pai dan pembantunya si raksasa Mongol itupun merasa kewalahan. Tiga orang pendekar ini mengamuk dan akhirnya para pengeroyok itu terpaksa mundur. Kiong Lee lalu mengajak mereka melarikan diri. Seng Kun cepat menyambar lengan A - hai dan diajaknya pemuda itu lari. Mereka menghilang di dalam kegelapan malam dan karena Kwa Sun Tek merasa jerih terhadap pemuda yang memegang sepasang pedang, pengejaran yang dilakukannya amat terlambat dan hanya seperti orang membayangi dari jauh saja.
Empat orang muda itu berlari terus dan setelah malam terganti pagi, baru mereka berhenti di tepi jalan gunung. A - hai terengah - engah dan meng-omel panjang pendek. "Orang - orang tak berperi-kemanusiaan itu ! Mengejar - ngejar dan hendak membunuh, membikin orang menjadi hidup tak aman saja!" Dia menyusuti keringatnya dengan ujung lengan bajunya.
Seng Kun dan Bwee Hong menjura kepada Yap Kiong Lee. "Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan Yap - twako sehingga kami dapat lolos dengan selamat."
"Ah, di antara kita, masih perlukah bersikap sungkan ?" jawab Yap Kiong Lee dengan seder-
hana.
"Sungguh kemunculan Yap - twako selalu seperti seorang dewa penyelamat saja," kata
Bwee Hong. "Ketika aku terancam gelombang lautan, engkau muncul dan menyelamatkan aku, dan sekarang, selagi kami dikurung dan didesak, engkau muncul
pula menolong kami. Yap-twako, bagaimana eng-kau bisa muncul di tempat ini ?"
Pendekar berpakaian putih itu menarik napas panjang. "Orang yang benar selalu dilindungi Thian. Tentu kalian adalah orang - orang yang benar maka setiap kali terancam bahaya, ada saja yang kebetulan datang membantu. Aku diutus oleh suhu lagi. Urusan apa lagi kalau bukan urusan siauw - sute yang nakal itu ? Dia telah kabur lagi dan sekali ini dia mengajak Ngo - sute Kwan Hok."
"Kwan Hok ?" Seng Kun berseru. "Ah, adikmu yang ke lima itu sekarang menjadi pemimpin para pendekar yang melawan pemerintah daerah yang memberontak. Kami bersama dia kemarin dulu dan kalau tidak salah dia dan kawan - kawannya akan menggabungkan diri dengan pasukan Liu - beng-cu."
"Apakah kalian tidak melihat siauw-sute Yap. Kim ?" tanya Yap Kiong Lee yang menjadi kaget dan juga gembira mendengar keterangan itu.
"Tidak, kami tidak melihatnya."
"Aih, di mana lagi si bengal itu?" Kiong Lee termenung kesal. Ngo - sutenya telah diketahui kabarnya, akan tetapi ternyata Ngo - sutenya itu berpisah dari Yap Kim. Gurunya memesan kepada-nya agar menemukan sutenya itu. Negara sedang dalam keadaan ricuh, di mana - mana terjadi per-tempuran. Kepandaian Yap Kim memang sudah cukup tinggi, akan tetapi wataknya yang aneh itu bisa mencelakakan dirinya sendiri. Seperti peris-tiwa beberapa waktu yang lalu, sutenya itu gu-lung-gulung dengan seorang dari Ban - kwi - to, yaitu Si Kelabang Hijau. Padahal semua orang di dunia kang - ouw tahu belaka betapa jahatnya iblis - iblis Kepulauan Ban - kwi - to itu.
"Ngo - sutemu itupun tidak tahu ke mana per-ginya siauw - sutemu," kata Bwee Hong. "Biarlah, aku akan menemui Ngo - sute dulu, baru kami akan mencarinya. Kalian bertiga
hendak pergi ke manakah ?" tanya Kiong Lee.
"Kami hendak ke kota raja, menghadap sri baginda kaisar," kata Seng Kun singkat. Karena dia percaya penuh kepada tokoh Thian - kiam - pang ini, maka diapun menceritakan bahwa dia diutus kaisar untuk mencari Menteri Ho dan kini dia hendak melaporkan hasil penyelidikannya. "Bah-kan aku akan bentangkan semua peristiwa yang aneh-aneh di daerah, tentang bersihnya perjuangan Liu - bengcu dan palsunya para pejabat daerah yang bersekongkol dengan orang - orang asing dan mereka inilah yang sebenarnya hendak membe-rontak."
"Ah, kalian terlambat!" kata Yap Kiong Lee. "Apa maksudmu ?" tanya Seng Kun terkejut.
"Kaisar tidak berada di istana. Sudah sebulan lebih sri baginda tidak berada di istana." Pemuda perkasa itu nampak ragu - ragu, menoleh ke kanan kiri, kemudian berkata dengan suara berbisik, "Sebaiknya jangan memasuki istana dalam saat-saat ini. Berbahaya sekali. Sri baginda kaisar tidak ada di istana, dan yang berkuasa adalah Perdana Menteri Li Su. Orang ini luar biasa palsu, kejam dan liciknya. Beberapa hari yang lalu dia mengi-rimkan putera mahkota ke utara, ke tempat Jen-deral Beng Tian memimpin pasukan yang ber-tempur melawan pemberontak."
Chu Seng Kun terkejut dan merasa heran. "Putera mahkota dikirim ke medan pertempuran ?
Untuk apa ?"