Melihat sikap gugup ketakutan dan mendengar suara yarig menggigil dan tersendat-sendat itu, tentu saja para perwira menjadi semakin curiga. "Kepung ! Tangkap penjahat !"
"Heh, mereka adalah tawanan - tawanan yang meloloskan diri itu!"
Tentu saja keadaan menjadi geger dan para perajurit lari mendatangi dan kereta itu dikepung. Seng Kun dan Bwee Hong sudah melompat turun dan mereka berdua mengamuk. Biarpun dikepung dan dikeroyok banyak perajurit, kalau mereka menghendaki, dua orang kakak beradik ini agaknya akan mudah untuk melarikan diri. Akan tetapi mereka teringat akan A - hai yang masih saja du-duk di tempat kusir dan memandang perkelahian itu dengan bingung. Banyak perajurit sudah ro-boh terkena tamparan dan tendangan kakak ber-adik yang tangguh itu.
"Saudara Seng Kun! Nona Hong, kalian larilah saja dan jangan hiraukan aku !" Berkali - kali A-hai minta mereka melarikan diri. Dia tahu bahwa ka-kak beradik itu tidak mau lari karena hendak me-lindungi dia. Hal ini membuat hatinya terasa amat tidak enak. Dia sendiri tidak mampu melawan. Apa lagi melawan, bahkan melihat mereka berdua di-keroyok saja hatinya sudah menjadi gelisah sekali.
Bwee Hong mengerutkan alisnya. Harus ada akal untuk menyelamatkan A-hai, dan satu- satu-nya akal hanyalah membuat pemuda itu menga-muk ! Kalau ia dan kakaknya harus membawa A-hai dari situ sambil melawan pengeroyokan, sungguh tidak mungkin. Selain A-hai tidak akan mau, juga kalau muncul lawan berat seperti putera Tai - bong - pai, akan berbahaya sekali. Akan teta-pi bagaimana ia harus berbuat untuk dapat mem-buat A - hai kumat dan timbul kelihaiannya ?
Seorang pengeroyok menyerang Bwee Hong dari samping dengan tusukan tombaknya. Bwee Hong menangkap tombak itu dan tiba-tiba men-jerit, lalu roboh bersama penusuknya, mandi darah! Melihat ini, Seng Kun terkejut bukan main. Ham-pir dia tidak percaya bahwa adiknya akan roboh sedemikian mudahnya, diserang oleh seorang pe-rajurit biasa dengan tombak. Tubuhnya meloncat dan meluncur bagaikan halilintar menyambar dan para pengeroyok adiknya terpelanting ke kanan
kiri. Dengan muka pucat dia melihat adiknya menggeletak berlumuran darah. "Hong-moi !" teriaknya. Akan tetapi pada
saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan se-pasukan perajurit datang dipimpin oleh Kwa Sun Tek yang lihai. Bahkan kepala Suku Mongol yang tinggi besar itupun datang bersama pemuda Tai-bong - pai itu !
Celaka, pikir Seng Kun. Matilah mereka seka-rang. Adiknya yang merupakan pembantu amat lihainya, telah menggeletak dan agaknya terluka cukup parah. Dia seorang diri mana mampu ber- tahan ? Apa lagi kalau harus melindungi adiknya yang terluka dan A - hai yang masih duduk di atas kereta. Melihat datangnya pasukan bantuan yang kuat, kini para perajurit sudah mulai maju lagi menge-royok Seng Kun yang terpaksa harus melindungi tubuh adiknya. Pada saat itu, tiba - tiba saja ter-dengar teriakan yang amat dahsyat dan memekak-kan telinga, lengkingan yang seperti bukan keluar dari mulut manusia, disusul berkelebatnya sesosok tubuh manusia yang melayang turun dari atas kereta. Tubuh itu melayang ke arah Bwee Hong yang masih rebah miring mandi darah, lalu dengan mata beringas dia menggunakan tangan kiri me-nyambar tubuh Bwee Hong dan memanggul di atas pundaknya. Orang ini bukan lain adalah A-hai yang telah "kumat" gilanya ketika melihat Bwee
Hong roboh mandi darah. Kini, dengan tubuh Bwee Hong dipanggul di atas pundaknya, dia me-mandang ke depan dengan sikap beringas menge-rikan, sepasang matanya mencorong dan mengan-dung penuh nafsu membunuh.
Melihat ini, tentu saja beberapa orang perajurit mengepung dan menyerangnya. Akan tetapi, sam-bil mengeluarkan suara mendengus pendek, A-hai menggerakkan tangan kanannya dengan cepat dan terdengarlah jerit - jerit mengerikan dan lima orang perajurit telah roboh dengan tubuh kaku dan mata mendelik, mati! Tidak ada setetespun darah ke-luar, tidak ada sedikitpun luka nampak di tubuh mereka. Tentu saja hal ini menimbulkan kegem-paran dan para perajurit menjadi ngeri ketakutan. Bahkan Seng Kun sendiripun yang melihat jelas akibat gerakan tangan A-hai itu, diam-diam merasa serem dan ngeri. Ilmu apakah yang diper-gunakan A-hai sehingga akibatnya sedemikian hebatnya ?
Melihat kelihaian dua orang pemuda yang mengamuk itu, majulah Kwa Sun Tek yang diban- tu oleh Malisang, raksasa Mongol kepala suku yang menjadi sekutu pemberontak itu. Dia menubruk ke arah A-hai yang memanggul gadis pingsan itu, menggunakan kedua lengannya yang panjang dan besar itu untuk mencengkeram ke depan se-perti gerakan seekor biruang menerkam.
Akan te
tapi, A - hai kembali mendengus pendek dan tangan kanannya menyambut dengan dorongan.
"Bresss !" Pertemuan dua tenaga besar
seolah - olah menggetarkan udara dan akibatnya, raksasa Mongol itu terjengkang dan terbanting jatuh, lalu bergulingan dan meloncat bangun kem-bali. Matanya terbelalak saking kagetnya dan hampir dia tidak dapat percaya bahwa ada seorang pemuda yang menggunakan sebelah tangan saja untuk menyambut tubrukannya yang mengan-dung tenaga amat besar itu. A
- hai sendiri tergetar karena besarnya tenaga lawan, akan tetapi dia hanya melangkah mundur sebanyak empat langkah saja. Melihat kehebatan pemuda ini, Malisang maju lagi dan kini dia dibantu oleh beberapa orang perwira pengawalnya yang sudah mencabut pe-dang, Namun, A - hai menyambut pengeroyokan tujuh orang itu dengan sebelah tangan kanan saja dan hebatnya, pemuda yang biasanya lemah dan bodoh itu kini tiba-tiba saja berobah menjadi se-orang yang selain gagah perkasa, juga cerdik dan lengan kanannya itu kebal senjata, bahkan jari-jari tangannya dapat dipergunakan untuk menangkis senjata tajam lawan tanpa terluka sedikitpun! Se-pak terjangnya menggiriskan sehingga Malisang minta bantuan lebih banyak temannya lagi.
Sementara itu, Seng Kun juga sudah bertan-ding melawan Kwa Sun Tek, tokoh muda Tai- bong - pai. Mula - mula mereka berdua berkelahi dengan tangan kosong, akan tetapi melihat betapa pemuda jangkung tampan itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat, terlalu kuat baginya, Kwa Sun Tek lalu mempergunakan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang cangkul penggali kuburan. Terjadilah perkelahian yang amat seru, akan tetapi karena Kwa Sun Tek juga dibantu oleh banyak orang, Seng Kun mulai terdesak pula. Juga A-hai terdesak karena pemuda ini selalu harus melin-dungi sambaran senjata yang mengancam tubuh Bwee Hong yang dipanggulnya.
Seng Kun menggeser kedudukannya agar men-dekati A - hai dan dia berseru, "Saudara A - hai, mari kita melarikan diri!"
Berkali - kali dia mendesak, akan tetapi A - hai sama sekali tidak memperdulikannya, bahkan ke-tika Seng Kun terlalu mendekatinya, pemuda sin-ting ini menggunakan tangannya untuk menyam-pok sehingga Seng Kun terhuyung! Kiranya se-telah kumat, A - hai sama sekali tidak mengenal-nya lagi! Maka terpaksa Seng Kun menjauh lagi dan melanjutkan amukannya. Diam - diam dia me-ngeluh. Tidak mungkin bagi mereka berdua, be-tapapun lihainya A - hai, akan dapat bertahan menghadapi pengeroyokan sedemikian banyaknya anak buah pasukan.
Tentu saja semua ini dilihat jelas oleh Bwee Hong yang dipondong oleh A-hai. Dara ini tadi memang hanya pura-pura saja membiarkan dirinya
seolah - olah terkena serangan senjata lawan. Pa-dahal, darah yang menodai pakaiannya itu bukan-lah darahnya sendiri, melainkan darah lawannya. Ia berhasil mengelabuhi A-hai dan berhasil pula membikin pemuda itu kumat sintingnya. Akan te-tapi sungguh celaka, kini A - hai mengamuk dan tidak mau melarikan diri seperti yang dianjurkan berkali - kali oleh kakaknya. Iapun tahu bahwa betapapun lihainya A-hai, tidak mungkin dapat bertahan kalau terus-menerus menghadapi penge-royokan ratusan, bahkan ribuan orang perajurit. Maka, diangkatnya kepalanya mendekati telinga pemuda sinting itu dan iapun berbisik, "A - hai, lihatlah, kakakku sudah terdesak. Mari kita pergi dari sini !"
"Hemmm ? Pergi ?" A - hai menun- duk dan memandang wajah dara itu. Matanya yang buas itu membuat Bwee Hong sendiri men- jadi ngeri.
"Koko, mari kita lari! A - hai, hayo loncati tembok di sana itu!" Bwee Hong berseru sambil menekan - nekan pundak A - hai.
Seng Kun girang sekali melihat bahwa adiknya ternyata selamat dan kini kakak ini baru mengerti bahwa robohnya Bwee Hong tadi ternyata hanya-lah siasat untuk "membangkitkan" A - hai.
"Baik, mari kita pergi!" katanya sambil mero-bohkan dua orang perajurit dan pemuda inipun mempergunakan ginkangnya yang amat hebat untuk melayang ke arah tembok bagaikan seekor burung terbang saja.
"Hayo kita pergi, A - hai !" kata pula Bwee Hong. "Pergi ? Baik, ibu !" Dan A - hai lalu me-
loncat dengan kecepatan yang membuat Bwee Hong terkejut dan ngeri. Akan tetapi, lebih terke- jut dan heran lagi hatinya ketika tadi ia mendengar A - hai menyebutnya "ibu" !
"Kejar!" "Tangkap !" "Bunuh !!"
Teriakan - teriakan itu menggerakkan para pe-rajurit untuk mengejar, akan tetapi begitu A - hai menggerakkan tangan ke belakang dan empat orang roboh terpelanting dan tewas, mereka menjadi jerih dan akhirnya mereka bertiga dapat lolos dari pe-ngejaran para perajurit. Tentu saja Kwa Sun Tek menjadi marah dan khawatir. Tawanan - tawanan itu diserahkan kepadanya dan menjadi tanggung jawabnya, raaka tentu saja sama sekali tidak boleh lolos ! Dia mengerahkan pasukannya, dibantu oleh Malisang, melakukan pengejaran secepatnya.
Ketika pasukan itu tiba di pintu gerbang, baru saja pintu gerbang dibuka, terdengar derap kaki kuda dan muncullah Jenderal Lai diikuti oleh pa-sukan pengawalnya. Melihat jenderal ini, tentu saja Kwa Sun Tek terkejut dan cepat memberi hormat bersama para pembantunya.
Jenderal Lai mengerutkan alisnya dan meman-dang tajam. "Ada kejadian apa lagi ini ?
Kenapa sampai terdengar dipukulnya tanda bahaya segala?"
Tentu saja Kwa Sun Tek merasa canggung dan gugup. Akan tetapi dia tidak mungkin dapat me-nyembunyikan kenyataan, maka dengan hati-hati dia lalu bercerita bahwa tiga orang tawanan itu memberontak dan melarikan diri dengan jalan kekerasan. "Kami sedang berusaha mengejar mere-ka, Lai - ciangkun."
Jenderal Lai terkejut sekali mendengar ini. Dia marah. "Hemm, mengapa engkau begini ceroboh dan membiarkan tawanan penting lolos ?" "Kami tentu akan dapat menangkap mereka kembali!" kata Malisang melihat kemarahan jen- deral itu. Jenderal Lai menengok dan melihat rak-sasa rambut putih itu dia membentak, "Siapa pula orang ini ?"
Kwa Sun Tek sudah terkejut sekali mendengar Malisang ikut bicara tadi, dan kini dengan gugup dia menjawab. "Dia adalah seorang pengawal pribadi saya, goanswe!"
"Hayo kejar dan tangkap mereka kembali!" Akhirnya sang jenderal memberi perintah sambil memutar kudanya memasuki kota kembali. Kwa Sun Tek bersama Malisang lalu mengerahkan pa- sukan dan melakukan pengejaran keluar kota.