Halo!

Darah Pendekar Chapter 152

Memuat...

Dari fihak pasukan pemerintah daerah, bukan tidak ada usaha untuk menyerbu naik ke puncak bukit. Akan tetapi karena jalan naik hanya mela-lui lorong, setelah beberapa kali mereka mencoba untuk menyerbu dan selalu disambut hujan anak panah dan batu yang menewaskan beberapa orang perajurit, mereka tidak lagi berahi mencoba.

"Biarkan mereka mampus sendiri kelaparan di sana!" kata pemimpin mereka dengan marah. Pe-mimpin mereka itu adalah seorang laki - laki ber-usia tiga puluh tahun, berwajah tampan namun dingin dan matanya menyeramkan, berpakaian ser-ba putih dan rambutnya riap - riapan, tangannya memegang senjatanya yang luar biasa, yaitu sebu-ah cangkul panjang melengkung, seperti cangkul para penggali kuburan. Dia ini bukan lain adalah Kwa Sun Tek yang berjuluk Song

- bun - kwi (Setan Berkabung), putera dari ketua Tai - bong - pai itu. Seperti telah kita ketahui, Kwa Sun Tek ini telah mengabdikan dirinya kepada pemberontak Chu

Siang Yu untuk mengadakan persekutuan dengan para penguasa di daerah timur dan selatan, untuk mengacau pemerintah dan membagi-bagi kekuatan pemerintah sehingga pergerakan Chu Siang Yu dari barat dapat dilakukan lebih lancar lagi. Dan se-perti kita ketahui, usaha Kwa Sun Tek itu berhasil baik. Dia dapat bersekongkol dengan para pengu-asa daerah dan para pasukan asing, lalu mengguna-kan siasat mengadu domba antara pasukan peme-rintah yang setia kepada kaisar dengan pasukan-pasukan Liu Pang, tentu saja dengan tujuan agar kekuatan pemerintah berkurang dan juga untuk menghantam Liu Pang yang dianggap sebagai saingan.

Melihat betapa pasukan pemerintah daerah ti-dak mampu menyergap ke puncak bukit, bahkan ada belasan orang luka - luka atau tewas tertimpa batu dan terkena anak panah, Kwa Sun Tek men-jadi marah sekali. Dia menasihatkan komandan pasukan untuk memperketat kepungan dan tidak membiarkan para pendekar di puncak itu lolos. Setiap hari dia sendiri mencoba penjagaan musuh dengan memasuki lorong dan setiap kali ada batu-batu dan anak panah turun, dia dengan mudah dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi pada hari ke tiga, ketika Kwa Sun Tek berjalan memasuki lorong, hanya ada bebe-rapa buah batu kecil dan anak panah yang luncurannya lemah menyerangnya. Melihat ini, giranglah hatinya.

"Mereka telah lemah kelaparan ! Mari kita me-nyerbu ke atas!" teriaknya dan benar saja, ketika mereka menyerbu dan memasuki lorong sempit itu, tidak ada serangan terlalu hebat, bahkan lalu tidak ada serangan sama sekali dari kedua tebing. Akan tetapi, lorong itu terlalu sempit sehingga membu-tuhkan banyak waktu bagi semua perajurit untuk dapat lewat.

Sementara itu, para pendekar telah berkumpul di depan gua yang batunya telah digeser dan di mana telah tersedia tumpukan kayu yang banyak sekali. Mereka kini berebut, memperebutkan tugas untuk tinggal sendirian di luar gua! Melihat ini, Kwan Hok lalu melangkah maju. "Kalian semua masuklah ke gua dan aku sendiri yang akan tinggal di sini!" Ketika semua orang mengajukan keberat-an, pendekar muda ini membentak, "Ini sebuah perintah ! Aku yang akan berjaga di sini membakar kayu ini dan kalian harus cepat masuk. Tanggalkan baju atas kalian!"

Para pendekar itu menanggalkan baju atas mereka dan memandang kepada Kwan Hok dengan muka pucat, bahkan ada yang matanya basah kare-na melihat betapa pemimpin mereka hendak me-ngorbankan diri demi keselamatan mereka. Seng Kun dan Bwee Hong memandang dengan terharu. Betapa gagahnya murid Yap-lojin ini! Begitu beraninya mengorbankan diri demi teman-teman-nya, demi perjuangan membela nusa bangsa! Terlepas dari baik buruknya alasan perjuangan, namun sikap ini saja, yang sudah melenyapkan ke-pentingan diri pribadi, sungguh amat mengagum-kan, gagah perkasa dan patriotik !

"Tidak ! Tidak boleh ini dilakukan !" Ti-

ba - tiba A - hai maju dan berkata lantang. Seng Kun dan Bwee Hong memandang terbelalak. Me- reka sudah tahu bahwa pemuda ini aneh, dan di balik kegilaannya tersembunyi suatu watak yang amat luar biasa dan mereka tidak dapat menduga lebih dahulu apa yang akan dikatakan atau dilaku- kan oleh pemuda ini.

"Apa maksudmu, saudara A - hai ?" Seng Kun bertanya.

"Tidak pantas kalau seorang di antara kalian harus tinggal di luar dan mengorbankan diri! Tidak ada seorangpun di antara kalian yang pantas untuk mengorbankan diri dan tinggal di luar untuk mem-bakar tumpukan kayu ini!"

"Eh ?" Kwan Hok terbelalak heran. "Akan teta-pi, siasat ini harus dilakukan dan sekarang pasukan pemerintah telah mulai menyerbu naik. Harus ada seorang yang melakukannya dan bagaimana sau-dara mengatakan bahwa tidak ada yang pantas melakukannya ?"

"Satu - satunya orang yang patut melakukan tu-gas itu hanyalah aku!" "A - hai !" Bwee Hong berseru.

"Saudara A - hai, engkau tidak boleh " Seng Kun juga berkata setengah berteriak.

A - hai tersenyum, bukan senyum tolol lagi se- kali ini. Dia mengangkat dadanya yang memang bidang dan kokoh itu. "Mengapa tidak boleh ?

Bahaya maut tidak hanya mengancam kelompok pejuang ini, melainkan kalian juga, terutama sekali nona Bwee Hong! Dan kalian semua masih belum tentu selamat, kalau gua itu ketahuan kalian akan membutuhkan semua tenaga untuk melawan dan menyelamatkan diri. Tenaga setiap orang amatlah penting, kecuali tenagaku. Aku tidak bisa berkela- hi dan bahkan hanya akan mengganggu kalian saja yang harus melindungiku. Nah, biarlah aku me- manfaatkan tenaga tak berharga ini untuk memba- kar kayu dan memberi keterangan bahwa para pe- juang telah membakar diri karena tidak mau terta- wan. Dan barangkali siapa tahu, belum tentu mereka membunuh orang seperti aku !"

Seng Kun memandang terbelalak penuh kagum. Dia tahu bahwa di balik penyakit yang membuat A - hai kadang - kadang menjadi linglung dan be-ringas itu terdapat watak pendekar yang amat he-bat, yang tidak berkejap mata sedikitpun dalam menghadapi maut untuk membela dan menyela-matkan orang lain !

"A - hai, jangan !" Bwee Hong berkata la-

gi. Seng Kun merangkul A-hai dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Tapi dia benar ! Dia benar sekali dan kita ha-rus menurut sarannya itu!" katanya dengan ter-haru.

Seorang pendekar datang berlarian, mengabar-kan bahwa kini hampir semua perajurit musuh sudah melalui lorong sempit.

"Masuklah kalian semua. Nona Bwee Hong, masuklah cepat!" kata A-hai dan sinar matanya tajam berseri ketika dia menatap wajah Bwee Hong. Nona itu membalas pandang matanya dan tak terasa lagi matanya menjadi panas. Karena tahu bahwa air matanya hampir runtuh, Bwee Hong mengeluh lalu membalik dan melompat masuk ke dalam gua, diikuti oleh para pendekar yang sudah menang-galkan baju atas mereka dan menumpuk serta melemparkan baju - baju itu di atas tumpukan kayu.

Barulah setelah semua orang masuk, batu besar itu digeser dari dalam dan dibantu dari luar oleh dorongan kedua tangan A - hai! Tidak ada seorangpun yang berani menyangka bahwa tanpa bantuan orang lainpun, kalau A - hai dapat meng-gunakan sinkangnya, batu itu akan dapat digeser-nya sendirian dengan amat mudah. Kinipun, dalam keadaan "penuh semangat", sebagian tenaga sin-kangnya timbul dan tanpa banyak kesukaran batu besar itu kini telah menutupi lubang gua yang dari luar hanya kecil saja itu. A-hai lalu menggunakan api membakar kayu yang bertumpuk di depan dan di atas gua. Karena tumpukan kayu itu kering se-kali, sebentar saja api berkobar besar dan A - hai terpaksa harus menjauhkan diri karena tidak tahan oleh panasnya api.

Pasukan yang menyerbu ke puncak bukit itu terkejut melihat api besar bernyala di puncak. Kwa Sun Tek cepat berlari ke depan dan ketika melewati pondok-pondok darurat, dia menendangi semua pintu hanya untuk melihat bahwa semua pondok itu kosong! Dia merasa penasaran dan bersama anak buah pasukan dia lari ke atas. Di sana, di puncak itu, agak menurun sedikit di be- lakang puncak, mereka melihat kobaran api yang bernyala besar dan agak jauh dari situ nampak se-orang laki - laki berdiri bengong memandang ke arah api seperti orang melamun.

Tentu saja Kwa Sun Tek menjadi curiga dan cepat dia meloncat ke arah A - hai yang berdiri dengan bengong, tidak dibuat - buat karena dia seperti melihat hal - hal aneh di dalam api yang bernyala-nyala itu. Nyala api seolah - olah mem-bentuk wajah-wajah yang sekelebatan saja dan mengingatkan dia akan wajah seorang yang amat dekat dengan hatinya. Wajah Bwee Hong? Atau Pek Lian? Atau wajah ibunya, adiknya ataukah kakaknya? Dia tidak tahu dengan pasti, hanya merasa yakin bahwa yang diingatnya dan dilihatnya sekelebatan dalam api itu adalah wajah seorang wanita.

Ketika Kwa Sun Tek melakukan serangan de-ngan pukulan dahsyat ke arah A-hai, pemuda ini sama sekali tidak sadar, juga tidak mengelak atau-pun menangkis. Melihat sikap orang yang diserang-nya itu jelas tidak memiliki kepandaian silat, Kwa Sun Tek terkejut dan heran. Bukankah kabarnya yang berkumpul di puncak bukit ini adalah para pendekar ? Karena berita itulah maka dia diper-bantukan untuk menghancurkan gerombolan pen-dekar itu. Dan orang ini sama sekali tidak pandai silat. Diapun merobah pukulannya, diganti dengan cengkeraman dan ketika tangannya mencengkeram lengan A - hai, juga tidak ada sedikitpun tenaga perlawanan maka Kwa Sun Tek mengendurkan cengkeramannya. Biarpun sudah dikendurkan, tetap saja A - hai berteriak.

"Aduhhh !" Lalu dia memandang kepada

orang yang memegangi lengannya itu, juga melihat datangnya banyak perajurit. "Hei, apa salahku ? Kenapa aku ditangkap ?"

"Hayo katakan, siapa engkau ?" Kwa Sun Tek membentak. "Jangan bohong atau kubunuh kau!" Dia merasa curiga sekali melihat sikap ketolol-tololan dari pemuda itu.

"Aku ? Aku A - hai, tukang nyalakan api," jawab A - hai seenaknya, sedikitpun tidak bermak- sud membohong.

"Jawab yang betul!" bentak seorang anggauta Tai - bong - pai sambil menampar.

"Plakk !" Pipi A - hai kena tampar keras sekali, sampai pemuda itu merasa pening dan pipinya merah membengkak.

"Hei, kenapa kau pukul - pukul anak orang tan-pa dosa ? Sudah kujawab benar bahwa aku tukang nyalakan api! Apakah kau tidak melihat aku se-dang menyalakan api sekarang ? Pegang saja sen-diri dengan tanganmu, api atau bukan yang kunya-lakan itu !"

"Tolol! Apa itu tukang nyalakan api ? Tukang masak ?" bentak Kwa Sun Tek yang mencegah anak buahnya untuk memukul lagi.

"Tukang masak ? Ya, ya, aku tukang nyalakan api dan tukang masak, masak daging orang!" A-hai menjawab sambil tersenyum - senyum, lupa lagi akan tamparan tadi karena dia teringat bahwa dia harus mengatakan bahwa para pendekar telah membakar diri. Bukankah itu sama saja dengan memasak daging orang ?

Post a Comment