Dari atas tebing itu, Kwan Hok dan teman-te-mannya dapat melihat pasukan yang mengepung bukit. Dia lalu mengatur penjagaan. Batu - batu dan anak panah dipersiapkan dan para pendekar siap untuk menghujankan anak panah atau batu-batuan ke bawah apa bila ada perajurit berani mencoba untuk melalui lorong. Setelah mengatur penjagaan dan memerintahkan teman-teman untuk berjaga secara bergilir, Kwan Hok mengajak tiga orang tamunya turun ke bawah tebing dan dia lalu mengumpulkan sisa teman - temannya yang tidak sedang tugas berjaga untuk mengadakan ra-pat. Rapat diadakan di tempat terbuka, di lapangan puncak itu, di depan pondok - pondok kecil mereka.
Seng Kun, Bwee Hong, dan A - hai yang oto-matis telah diterima sebagai segolongan atau bah-kan kawan seperjuangjan, juga ikut menghadiri ra-pat itu. Bahkan dengan jujur Kwan Hok minta nasihat mereka karena menganggap bahwa mereka yang sudah mengenal Liu - bengcu ini tentu se-dikit banyak dapat membantunya mengatur siasat. "Kita berkekuatan limapuluh tiga orang," Kwan Hok berkata, lebih banyak ditujukan kepada tiga orang tamunya dari pada kawan - kawannya wa-laupun mereka semua berkumpul dan mendengar-kan. "Sedangkan menurut taksiranku, jumlah pa-sukan yang mengepung bukit ini ada enamratus
orang. Kita harus mencari siasat yang baik untuk dapat meloloskan diri dari kepungan yang berba-haya ini"
"Kulihat tempat ini amat baik untuk bertahan. Betapapun kuatnya dan besarnya jumlah pasukan musuh, kalau jalan masuk hanya melalui satu lorong sempit itu, sampai bagaimanapun mereka tidak mungkin dapat menyerbu naik ke puncak. Akan tetapi, kalau mereka terus mengepung, kitapun tidak dapat keluar dan kita dapat menjadi kehausan atau kelaparan !" kata Bwee Hong.
"Pendapat nona memang benar sekali. Karena baiknya tempat pertahanan ini, maka kami sengaja memilihnya sebagai markas kami. Tentang mi-numan, tidak perlu kita khawatir karena di bela-kang puncak terdapat sumber air. Akan tetapi mengenai makanan, kami hanya mempunyai per-sediaan untuk dua tiga hari saja."
"Bagaimana kalau kita mengajak damai saja? Aku sudah bosan dengan perang dan bunuh- mem-bunuh ini!" Tiba - tiba A - hai berkata dan semua orang memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi agaknya Kwan Hok sudah dapat menduga bahwa tamu yang satu ini memang aneh sekali wataknya. Dan sebagai murid Yap-lojin ketua Thian - kiam - pang, tentu saja diapun tidak mera-sa heran karena di dunia kang - ouw, di antara orang - orang sakti, banyak memang yang berwatak aneh - aneh.
"Yang memulai dengan kekerasan adalah mereka, mengajak mereka berdamai sama dengan mengajak srigala - srigala kelaparan untuk berda-mai," kata Kwan Hok.
"Bagaimana kalau kita serbu saja keluar malam ini ? Biar kita akan jatuh banyak korban, akan te-tapi kitapun dapat membunuh mereka sebanyak-nya dan tentu ada sebagian dari kita yang dapat lolos !" kata seorang pendekar penuh semangat.
"Musuh terlalu kuat, perbandingannya satu lawan sepuluh. Itu hanya akan menjadi bunuh diri yang sia - sia belaka," kata Kwan Hok tidak setu-ju. Kemudian dia teringat sesuatu dan menarik napas panjang penuh penyesalan. "Sayang, kalau suteku berada di sini, tentu dia akan dapat men-cari akal. Dia cerdik sekali dan selalu mempunyai akal yang baik."
"Siapakah sutemu itu ?" tanya Seng Kun. "Dia putera guruku sendiri."
"Dan siapakah gurumu ?"
"Guruku adalah ketua Thian - kiam - pang " "Ahh !!" seru Bwee Hong dan Seng Kun
hampir berbareng dan dara itu melanjutkan, "Ki-ranya saudara adalah murid dari Yap - pangcu ? Sungguh pertemuan yang menggembirakan sekali"
"Nona mengenal suhu?"
"Bukan hanya mengenal lagi, akan tetapi beliau pernah menyelamatkan aku di lautan, bahkan kami pernah bersama - sama mengalami hal - hal yang mengerikan di Ban - kwi - to !" jawab Bwee Hong. Tentu saja Kwan Hok merasa semakin girang dan semakin dekat dengan tiga orang tamunya setelah dia mendengar bahwa tiga orang tamunya ini ber-sahabat baik dengan gurunya.
"Sebaiknya kita mencari siasat. Mari kita tinjau keadaan puncak, siapa tahu ada jalan baik bagi kita untuk lolos," kata Seng Kun.
"Baiklah, akupun ingin memeriksa lagi perse-diaan pangan kita," jawab Kwan Hok. Lalu ber- sama tiga orang tamunya, Kwan Hok pergi ke be-lakang puncak, menyuruh kawan - kawannya tetap melakukan penjagaan secara bergilir dan jangan sembarangan bergerak sebelum menerima petun-juknya, kecuali para penjaga lorong di atas kedua tebing yang sudah mendapat perintah untuk turun tangan mencegah apa bila ada pihak musuh yang berani mencoba untuk memasuki lorong.
Mereka berempat lalu menuju ke belakang pun-cak. Setelah melakukan pemeriksaan sendiri, Seng Kun dan Bwee Hong terpaksa membenarkan pen-dapat Kwan Hok bahwa tidak ada jalan lain bagi para pendekar untuk meloloskan diri. Hanya ada dua pilihan, yaitu menyerbu keluar lewat lorong dan melawan mati - matian, atau bertahan di situ sampai mereka tidak kuat lagi karena kelaparan !
"Hemm, agaknya sekarang banyaknya persedia-an pangan menjadi soal terpenting!" kata Seng Kun.
"Demikian pula perhitunganku," jawab Kwan Hok. "Mari kita memeriksa persediaan pangan itu. Kami sembunyikan di dalam sebuah gua di bawah tanah agar aman dan tidak sampai terbakar apa bila musuh menggunakan panah api untuk mem-bakar markas kami."
Di belakang puncak itu terdapat sebuah gua yang tertutup oleh batu besar sekali. Dibutuhkan tenaga sepuluh orang untuk memindahkan batu itu. Akan tetapi, mereka bertiga, dibantu oleh A - hai yang tanpa disadarinya sendiri memiliki tenaga melebihi sepuluh orang, berhasil mendorong batu itu ke pinggir. Hal ini amat mengagumkan hati Kwan Hok dan dia makin merasa yakin bahwa tiga orang tamunya itu, termasuk pemuda ketolol - to-lolan, adalah orang - orang muda yang berilmu tinggi. Setelah batu besar itu tergeser, nampaklah sebuah mulut gua yang besarnya hanya cukup di-masuki dua orang. Akan tetapi ketika mereka su-dah masuk, nampak jalan menurun dan ternyata gua itu menembus ke bawah tanah, di mana ter-dapat sebuah ruangan yang luas juga, dapat me-muat seratus orang lebih! Yang amat menyenang-kan, di sudut kiri gua itu terdapat lubang-lubang besar dari mana hawa dapat keluar masuk, dan lubang - lubang ini berada di lambung tebing se-hingga tidak dapat dicapai oleh orang luar, juga tidak nampak dari puncak karena terhalang tebing. Hanya burung - burung sajalah kiranya yang dapat
memasuki gua bawah tanah itu dari lubang - lu-bang yang merupakan jendela - jendela buatan alam itu. Bersama hawa, masuk pula sinar matahari yang membuat gua itu cukup terang.
Tepat seperti yang diperhitungkan oleh Kwan Hok, persediaan gandum dan sayur kering hanya cukup untuk dua tiga hari saja, atau paling lama lima hari kalau dihemat sekali. Akan tetapi Seng Kun tidak memperhatikan persediaan itu, melain-kan termenung dan termangu - mangu sehingga Bwee Hong menegurnya.
"Koko, ada apakah ?"
"Aku ada akal !" Tiba-tiba Seng Kun ber- kata dan wajahnya berseri.
"Ah, bagus sekali. Akal yang bagaimana ?" ta-nya Kwan Hok.
"Gua ini cukup luas untuk menjadi tempat per-sembunyian kita semua, dan hawa udaranyapun cukup. Kita biarkan musuh mengira kita kelaparan dan kita masuk ke dalam guha ini, lalu menutupnya dengan batu. Di depan batu dan di atasnya kita tumpuki kayu - kayu bakar yang banyak sekali, ke-mudian kita bakar dan kita meninggalkan pakaian atas kita di antara kayu-kayu bakar itu sehingga menimbulkan dugaan bahwa para pendekar, karena kelaparan dan tidak mampu melawan lagi, telah membunuh diri. Bukankah hal itu patut dilakukan oleh para pendekar yang tidak sudi ditawan dan lebih baik mati membakar diri beramal - ramai se-telah tiada tenaga lagi untuk melawan ?"
Kwan Hok terbelalak. Akal yang aneh sekali, akan tetapi setelah dipikir - pikir, merupakan siasat yang baik juga. Memang andaikata mereka semua kelaparan dan tiada tenaga untuk melawan, apakah mereka akan membiarkan menjadi orang - orang tawanan ? Masuk di akal pula siasat membunuh diri beramai - ramai dengan membakar diri itu.
"Akan tetapi untuk melakukan pembakaran ka-yu - kayu itu harus ada seorang yang tinggal di luar gua!" kata Bwee Hong.
"Benar !" sambung Kwan Hok. "Bagaimana hal itu dapat dilakukan dan siapa yang akan tinggal di luar ?"
"Memang kenyataannya begitu. Harus ada se-orang yang berani berkorban demi keselamatan kawan - kawannya, dan tinggal di luar untuk mem-bakar kayu - kayu itu dan untuk memberi keterang-an kepada musuh kabur dia ditawan bahwa para pendekar telah membunuh diri semua," jawab Seng Kun. "Kurasa ini jauh lebih baik dari pada bertahan sampai kelaparan atau membunuh diri dengan jalan menyerbu dengan nekat melalui lo-rong. Hanya ada dua kemungkinan, yaitu kalau musuh percaya, tentu mereka meninggalkan tem-pat ini dan kita selamat. Andaikata musuh tidak percaya dan berhasil menemukan guha itu, masih belum terlambat bagi kita untuk menyerbu keluar dan melawan mati - matian, membuka jalan darah berusaha lolos."
"Bagus sekali!" Kwan Hok kini memandang dengan wajah berseri gembira. "Tentang orang yang mau mengorbankan diri dan tinggal di luar, kurasa banyak yang mau melakukannya, bahkan aku sen-diripun, tidak ragu - ragu untuk melakukannya. Mari kita jumpai kawan-kawan dan merunding-kan akal baik ini !"