'Siapa pemberontak ?" A - hai balas memben-tak. "Jangan menuduh orang sembarangan dan tentang hina itu, kiranya kalianlah yang hina kare-na menuduh orang dengan fitnah keji !"
Akan tetapi jawaban A - hai itu tidak diperduli-kan dan tigapuluh orang itu sudah menyerbu untuk menangkap mereka. Agaknya, melihat bahwa di antara empat orang itu terdapat dua orang dara yang begitu cantik - cantik dan manis - manis, mereka itu berlumba untuk menangkap Bwee Hong dan Siok Eng sehingga Seng Kun dan A - hai tidak ada yang menyerang!
Bagaikan serombongan srigala menyerang dua ekor domba mereka menubruk ke arah Bwee Hong dan Siok Eng, dengan tangan terulur panjang, jari-jari tangan terbuka hendak mencengkeram daging lunak kulit mulus itu. Akan tetapi, segera terde-ngar teriakan - teriakan mereka ketika dua orang gadis itu menyambut serangan mereka dengan tamparan dan tendangan yang membuat sedikitnya ada lima orang terjungkal!
Tentu saja teman - temannya terkejut sekali dan pemimpin mereka yang tinggi kurus itu lalu me-ngeluarkan aba - aba, "Serang dan bunuh mereka ! Hati-hati, mereka ini lihai, gunakan senjata I"
Dan kini mereka menyerbu dengan senjata pe-dang atau golok! Mengamuklah Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, sedangkan A - hai hanya ber-diri bengong saja sambil berkali - kali mencoba untuk melerai dengan kata - kata dan nasihat - na-sihat ! Masih untung bagi A - hai bahwa Seng Kun selalu menjaganya sehingga tidak ada seorangpun pengeroyok dapat mendekatinya. Dan tiga orang yang mengamuk itu adalah orang-orang muda keturunan orang - orang sakti yang telah memiliki ilmu kepandaian hebat, maka biarpun kepungan itu ketat, sampai puluhan jurus lewat, tiga orang muda itu masih belum dapat mereka lukai, apa lagi mereka merobohkan. Bagaimanapun juga, Seng
Kun maklum bahwa mereka terancam bahaya. Ka-lau tidak ada A - hai di situ, mereka bertiga tentu dapat melarikan diri.
Tiba - tiba tercium bau asap hio yang keras dan lima orang pengeroyok roboh dengan mata men-delik dan dari lubang pori- pori di tubuh mereka nampak bintik - bintik darah ! Itulah pukulan sakti dari Tai - bong - pai dan melihat ini, Seng Kun
berseru, "Nona Kwa, jangan bunuh orang !!"
Dia merasa ngeri membayangkan betapa dara yang amat cantik dan sikapnya juga halus ini dapat membunuh orang secara demikian kejinya, walau pun dia tahu bahwa memang gadis itu adalah pu-teri ketua Tai-bong-pai yang tentu saja mewarisi ilmu - ilmu yang sakti dan keji dari Tai
- bong - pai.
"Tidak, taihiap, bukan aku "
Bau asap hio semakin keras dan kembali ada lima orang pengeroyok yang roboh dan mati mendelik seperti lima orang pertama. Melihat ini, para pengeroyok terkejut sekali dan pemimpin mereka agaknya sudah mendengar akan ilmu ke-saktian ini. Dia berteriak ketakutan, "Iblis - iblis
Tai - bong - pai datang ! Lari !" Dan
larilah mereka tunggang-langgang, meninggalkan mayat sepuluh orang kawan mereka itu.
Terdengar suara ketawa halus dan muncullah seorang nenek berusia limapuluh tahun lebih yang cantik, berpakaian serba putih sederhana.
"Ibu !" Kwa Siok Eng cepat merangkul
wanita itu yang ternyata adalah Kwa-hujin (nyo-nya Kwa) isteri ketua Tai - bong - pai.
"Anak nakal, baru sekarang engkau pulang? Ah, kiranya engkau bersama dengan kedua orang penolong kita dan penyelamat nyawamu ? Bu-kongcu, Bu - siocia, selamat bertemu !" Nyonya itu menyapa halus kepada Seng Kun dan Bwee Hong. Dua orang muda yang kini shenya sudah berganti menjadi Chu itu tidak membantah dan cepat maju memberi hormat kepada nyonya yang lihai itu.
"Bibi datang menyelamatkan kami, terima ka-sih," kata Seng Kun dan Bwee Hong juga memberi hormat.
"Ilmu bibi sungguh sadis sekali! Membunuh orang begitu mudah dan mengerikan! Aih, sung- guh merupakan ilmu siluman !" A - hai berkata sambil bergidik ngeri.
Nyonya Kwa mengerutkan alisnya dan perla-
han - lahan menoleh ke arah A - hai, kedua tangan- nya menegang. Ada orang berani mencela seperti itu, berarti harus mati! Kwa Siok Eng dapat me- lihat sikap ibunya ini, maka ia mempererat rang- kulannya dan berbisik, bisikan halus yang hanya terdengar oleh ibunya saja, "Ibu, dia seorang sa- habat baik, hanya otaknya agak miring. Ha- rap ibu maafkan" Nyonya itu terbelalak lalu menarik napas pan-jang. Heran ia mengapa puterinya dan dua orang penolong itu mau saja bersahabat dengan seorang gila! Akan tetapi iapun tidak mau lagi memper-dulikan pemuda itu dan ia segera menegur puteri-nya, "Sampai begitu lama engkau tidak pulang, juga kakakmu pergi tanpa memberi tahu. Engkau hendak pergi ke manakah bersama kedua orang penolong ini ?"
"In-kong hendak ke kota raja dan aku ikut ke sana, kemudian dia hendak mengantar aku pulang, ibu," jawab Siok Eng.
"Hemm, negara sedang kalut, suasana sedang kacau dan berbahaya begini, lebih baik engkau ikut bersamaku lekas pulang. Ayahmu sudah ma-rah - marah terus."
"Tapi, ibu "
Seng Kun merasa tidak enak. "Nona Kwa, se-baiknya kalau nona ikut ibu nona pulang lebih dulu."
"Tapi tapi bukankah in - kong mau singgah di tempat kami ?" Nada suara gadis itu ke- cewa bukan main.
"Baiklah, setelah urusanku selesai, aku akan menyediakan waktu untuk berkunjung."
Wajah yang manis itu berseri. "Harap in-kong jangan melanggar janji. Aku sudah menjelaskan jalan menuju ke Tai - bong - pai. Aku akan menan-
ti - nanti siang malam, in - kong, jangan lupa " "Baiklah."
Mereka lalu berpisah. Gadis Tai - bong - pai itu dan ibunya lalu berangkat, diantar oleh belasan orang Tai - bong - pai yang muncul seperti setan saja, tanpa suara, tanpa mengatakan sesuatu dan gerakan mereka mengerikan dan penuh rahasia.
A - hai bergidik. "Ihh ! Tak sangka bahwa nona Kwa punya ibu seperti iblis ! Dan para pengikutnya itu. Baunya dupa lagi. Ih, seperti sekumpulan arwah - arwah saja."
Seng Kun tersenyum. "Sudahlah, saudara A-hai, mari kita lanjutkan perjalanan kita."
"Nanti dulu ! Apakah sepuluh mayat itu dibi-arkan begitu saja ? Kita harus mengubur mereka lebih dulu !"
Diam - diam Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang dengan kagum. Biarpun gila, sinting atau tolol, pemuda ini sungguh masih memiliki budi yang luhur. "Jangan sentuh mereka itu, saudara A - hai. Tubuh mereka telah keracunan dan me-nyentuh mereka saja dapat membuat kita kehi-langan nyawa. Nanti tentu teman-temannya akan datang dan mengurus mayat mereka ini. Mari kita pergi sebelum teman - teman mereka ini datang dan mengganggu kita lagi."
A - hai terpaksa ikut pergi sambil menggeleng-geleng kepala- "Ilmu setan, dunia kejam dan gila, semua manusia kejam dan gila !" Dia mengomel terus seolah - olah dia lupa bahwa dia juga manusia dan berada di dunia yang sama.
Kini mengertilah Seng Kun bahwa perjalanan menuju ke kota raja itu bukan merupakan perjalan-an yang aman. Banyak halangan di sepanjang ja-lan, terutama sekali mereka harus dapat menghin-dari pertemuan dengan pasukan kepala daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing, dan jangan sampai diketahui oleh mata - mata mereka yang agaknya telah disebar di mana
- mana. Ketika mereka melanjutkan perjalanan, nampak jelas penga-ruh dan akibat dari perang. Dusun-dusun sepi ditinggalkan penghuninya yang pergi mengungsi jauh ke selatan. Bahkan kota - kota kecil yang tadi-nya ramai kini nampak sunyi karena para pe-dagang tidak berani berdagang. Sawah ladang tidak terpelihara, ditinggalkan begitu saja oleh para petani yang pergi mengungsi. Semenjak jaman da-hulu sebelum sejarah sampai jaman kapanpun, selama manusia belum sadar, perang masih akan selalu timbul. Perang merupakan puncak kebuda-yaan merusak dari manusia. Perang adalah keji dan kejam, apapun yang menjadi dalih dan alasannya bagi yang membela dan mempertahankannya.
Perang merupakan puncak adanya konflik lahir yang timbul dari kebencian, dan sebab adanya konflik lahir sesungguhnya didasari oleh adanya konflik batin dalam diri sendiri, diri setiap orang manusia. Karena itu, selama konflik batin dalam diri kita masing - masing belum musnah, jangan harap konflik lahir akan berhenti dan jangan mengharap pula karenanya perang akan lenyap dari permukaan bumi. Karena tidak ingin bertemu dengan pasukan-kepada kaisar, kalau ada, ataupun pasukan para penguasa setempat yang bersekongkol dengan pa sukan asing, maka Seng Kun mengajak adik dan temannya itu untuk mengambil jalan liar, masuk keluar hutan, kadang-kadang melewati lorong-lo-rong kecil bahkan jalan - jalan setapak. Seng Kun ingin sekali segera sampai di kota raja di mana dia akan cepat menghadap kaisar dan menceritakan segala-galanya agar jangan sampai kesalahpahaman antara beberapa kekuatan itu terpecah - belah dan mengakibatkan perang saudara yang menghancur-kan. Karena diapun maklum bahwa apa bila pasu-kan yang mendukung Liu Pang itu bentrok dengan pasukan penguasa daerah dibantu oleh pasukan pemerintah pusat, hal itu tentu akan berarti kehan-curan. Di daerah barat dan utara saja pasukan pemerintah sudah sibuk menghadapi pemberontakan Chu Siang Yu yang semakin kuat. Kalau Liu Pang dan pasukannya dapat berbaik kembali dengan pemerintah pusat dan dipercaya untuk menumpas pasukan asing dan mereka yang bersekongkol, mungkin pemerintah dapat diselamatkan.
Pada suatu siang ketika mereka keluar dari sebuah hutan besar, dari jauh nampak berbondong-bondong pengungsi berlari - lari hendak menyelamatkan diri ke dalam hutan besar. Melihat ini, Seng Kun segera menghampiri mereka dan men-cari keterangan apa yang telah dan sedang terjadi.
"Pasukan setempat bersama pasukan dari kota raja sedang mengadakan pembersihan besar- besar-an. Para pendekar dan siapa saja yang bisa silat ditangkapi. Orang yang menyimpan senjatapun, senjata pusaka keturunan nenek moyang, juga di-tangkap dan mereka semua dituduh sebagai anak buah Liu - bengcu," demikian seorang di antara para pengungsi memberi keterangan.
Seng Kun mengerutkan alisnya. Apa yang di-khawatirkannya telah terbukti. Agaknya pemerin-tah pusat telah terkena hasutan para penguasa se-tempat dan memusuhi Liu Pang.