Liu Pang sendiri bersama limapuluh orang pengawal yang selalu membantu dan melindungi- nya, menerjang ke arah gedung gubernuran untuk menduduki gedung yang menjadi pusat pemerintah-an di daerah itu. Akan tetapi usahanya ini tidak-lah mudah karena selalu dirintangi oleh pasukan musuh yang agaknya hendak mempertahankan ge-dung, itu dengan mati - matian. Apa lagi, jalan be-sar menuju ke gedung kepala daerah itu penuh dengan rakyat tua muda yang berlarian mengungsi dan menyelamatkan diri, sehingga mereka ini menghambat majunya Liu Pang yang selalu me-larang anak buahnya mengganggu rakyat.
Dengan menunggang seekor kuda putih yang besar, Liu Pang terus menghajar musuh dengan gagahnya. Dia sudah berhati - hati sekali agar ja-ngan sampai salah tangan melukai rakyat yang berlari - larian mengungsi, akan tetapi karena sua-sana begitu kacau, tanpa disengaja kudanya me-langgar tubuh seorang laki-laki berpakaian pela-yan yang setengah tua. Pelayan tua itu diiringkan oleh beberapa orang pelayan lain dan dia jatuh tunggang langgang ketika terlanggar oleh kuda putih besar itu.
Liu Pang terkejut sekali dan sesuai dengan wataknya yang gagah dan selalu memperhatikan orang kecil, diapun cepat melompat turun dari atas kudanya dan membantu orang tua itu untuk ba-ngun. Dengan ramah Liu Pang minta maaf dan sekalian bertanya kepada kakek itu di mana letak-nya gedung sang gubernur.
"Tak jauh lagi , di sana . . . . . . ."kakek itu menunjuk ke arah barat. Kemudian, tertatih- tatih orang itu melanjutkan perjalanannya mengungsi dipapah para pelayan pengikut yang lain.
Liu Pang tidak memperhatikan lagi rombongan pelayan itu dan melanjutkan penyerbuannya ke arah gedung kepala daerah seperti yang ditunjukkan oleh pelayan tua tadi. Dan sekarang terjadi hal yang mengherankan. Perlawanan pasukan musuh tidaklah seketat tadi, bahkan kini mereka dapat maju sampai ke gedung gubernuran tanpa banyak halangan! Cepat Liu Pang memimpin pasukannya menyerbu ke dalam gedung, dan ter-nyata gedung itu sudah kosong. Seniua penghuni-nya agaknya telah kabur. Bahkan para pelayan dan pengawalnya juga tidak ada lagi, gardu - gardu penjaga kosong. Para perwira pasukan asing yang katanya mondok di gedung itupun tidak nampak bayangannya. Sungguh aneh, bagaimana mereka mampu meloloskan diri dari gedung di kota yang sudah dikepung dan diserbu itu ? Apakah mereka mungkin melarikan diri dengan menyamar, lalu menjadi satu dengan rakyat yang berlari-larian dan mengungsi berbondong. - bondong itu ? Ti-ba - tiba dia teringat akan rombongan pelayan yang tadi ditabrak kudanya. Ah, kini dia teringat. Muka pelayan tua itu. Tidak pantas sebagai pelayan, mukanya terlalu putih dan gerakannya terlalu ha-lus. Dan pelayan tua itu diiringkan banyak sekali pelayan - yang membawa banyak buntalan pula. Ah, betapa bodohnya !
"Tolol sekali aku! Orang itu tentu gubernur dan para pengawalnya !" Cepat Liu Pang keluar dari gedung dan melarikan kudanya, pergi menyu-sul. Akan tetapi, ke manapun dia mencarinya, dia tidak berhasil menemukan rombongan gubernur yang mengungsi itu. Pintu gerbang terbuka lebar dan padat oleh para penghuni yang mengungsi keluar kota.
Menjelang senja, pertempuran berakhir. Sisa pasukan penjaga kota melarikan diri dan kota Lok-yang diduduki oleh Liu Pang. Tentu saja pasukan Liu Pang menjadi gembira dan besar hati oleh ke-menangan gemilang ini. Jenderal Lai juga melari-kan diri, dan banyak perwira yang tewas. Gui-ciangkun diterima sebagai pembantu Liu Pang dan pasukannya bergabung dengan induk pasukan besar dari pendekar itu yang kini menjadi semakin besar.
Pesta kemenangan dirayakan ! Dalam keadaan seperti itu, para perajurit makan minum sampai mabok dan mereka itu sama sekali lupa akan te-man - temannya yang gugur dalam pertempuran itu. Yang teringat hanyalah bahwa mereka masih hidup dan menang !
Di dalam pesta ini, Liu Pang lalu mulai meng-atur pasukannya. Dia berpikir bahwa kalau pa- sukannya yang semakin besar itu dibiarkan kacau tanpa peraturan, akhirnya dia sendiri yang tidak akan mampu mengendalikan. Kini sudah tiba saatnya pasukannya harus merupakan bala tentara yang teratur, dengan pembantu - pembantunya dijadikan perwira - perwira sesuai dengan kepandaian, jasa dan kedudukan masing - masing seperti dalam ketentaraan. Untuk menyusun peraturan-peraturan ini, tenaga Gui - ciangkun sangat ber-guna dan bersama Gui - ciangkun, Liu Pang mulai menyusun pasukannya dan pembantunya. Di da-lam benteng itu mereka telah menyita banyak se-kali pakaian dan kini para pembantu dibagi - bagi pakaian sesuai dengan kedudukan dan pangkat mereka yang ditentukan oleh Liu Pang. Suasana pesta menjadi gembira sekali.
Karena mereka itu sebagian besar, yaitu para pembantu utama, terdiri dari pendekar- pendekar yang ahli ilmu silat, maka pesta ini tak dapat di-hindarkan lagi lalu diramaikan dengan pertunjukan ilmu silat yang sekaligus menjadi arena pibu (mengadu kepandaian silat) secara persahabatan. Pibu diadakan karena Liu Pang ingin mengenal kepandaian para pembantu baru dan ingin me-milih pembantu - pembantu baru yang pandai.
Ho Pek Lian mewakili gurunya untuk bertin-dak sebagai penguji. Beberapa orang pimpinan pasukan maju, akan tetapi tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan Pek Lian. Bahkan bekas guru pertamanya sendiri, Ouw Kui Lam seorang di antara Huang - ho Su - hiap, tidak mampu menan-dinginya. Ilmu kepandaian Pek Lian memang su-dah cukup tinggi. Bukan saja dara ini telah me-warisi ilmu - ilmu dari empat pendekar Huang-ho Su - hiap dan kemudian dilatih ilmu pedang oleh
Liu Pang sendiri, akan tetapi juga gadis ini selama ini telah digembleng oleh pengalaman- pengalam-an yang hebat, bertemu orang - orang pandai dan menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh keturunan orang - orang sakti. Setelah melihat bahwa tidak ada lagi yang berani maju melawan-nya, Pek Lian hendak mundur dan mengaso. Akan tetapi tiba - tiba muncullah seorang pemuda yang berwajah tampan sekali, seorang pemuda yang keluar dari kelompok perajurit rendahan. Pakaian-nya amat sederhana, dari bahan yang murah, akan tetapi nampaknya rapi dan bersih. Pemuda ini agaknya tidak mau mempergunakan kesempatan dalam kemenangan itu untuk melucuti pakaian lawan dan memakainya, melainkan tetap menge-nakan pakaian biasa seorang petani.
"Harap nona sudi memberi petunjuk kepada-ku," katanya sederhana. Pek Lian mengerutkan alisnya dan memandang heran. Di antara para pengikut pibu tadi, semua terdiri dari para pimpinan pasukan, tidak ada se-orangpun perajurit biasa yang berani maju. Pemuda ini jelas hanya seorang perajurit biasa saja. Hal ini sudah mengherankan, pula, ia merasa seperti per-nah melihat wajah tampan ini, akan tetapi ia lupa lagi kapan dan di mana. Bagaimanapun juga, pibu itu diadakan secara terbuka dan tanpa batas, maka siapapun juga yang maju haruslah dilayani.
Maka iapun tersenyum ramah dan melangkah kembali ke depan, ke tenglah ruangan indah itu, karena pertemuan pesta itu dilakukan di ruangan luas dari gedung gubernur yang lantainya marmar licin dan bersih. "Baiklah, silahkan maju," katanya sambil memasang kuda - kuda.
"Maafkan !" Pemuda itu lalu membuka serang-an. Gerakannya biasa saja, seenaknya dan seperti tidak bertenaga. Akan tetapi, ketika Pek Lian mengelak dan mulai membalas, diam - diam dara itu terkejut. Serangannya dapat dipatahkan dengan amat mudahnya oleh pemuda perajurit rendahan ini! Tentu saja ia merasa penasaran dan mulailah ia memberi "isi" kepada serangan berikutnya. Akan tetapi sama saja, berturut - turut ia menyerang dan semua serangannya kandas tanpa hasil! Bahkan pemuda itupun membalas dengan serangan - se-rangan yang tidak kalah cepatnya. Ramai sekali perkelahian pibu itu sampai semua orang meman-dang dengan mata terbelalak. Terdengar pujian-pujian di sana - sini dan semua orang merasa ke-celik. Tak ada seorangpun mengira bahwa pemuda sederhana itu ternyata memiliki ilmu silat yang cukup lihai sehingga mampu menandingi Pek Lian sampai belasan jurus. Makin lama, makin kagum dan heranlah mereka karena yang belasan jurus itu akhirnya menjadi sampai puluhan jurus dan men- dekati seratus jurus akan tetapi pemuda itu belum juga terdesak, apa lagi kalah ! Ternyata permainan silat mereka nampak seimbang. Bahkan diam-diam Liu Pang yang memandang dengan penuh perhati-an juga dapat menduga bahwa pemuda itu tentu memiliki tenaga sinkang yang kuat dan bahwa pemuda itu sengaja mengalah terhadap Pek Lian dan tidak mengerahkan seluruh tenaganya. Seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, pikirnya ka-gum.
Sementara itu, si pemuda tampan agaknya me-rasa sudah cukup menguji kepandaian dan dia sengaja memperlambat elakannya ketika tamparan tangan kiri Pek Lian menyambar ke arah kepalanya sehingga biarpun kepalanya tidak sampai terkena pukulan, akan tetapi bahu kanannya tertampar dan diapun terhuyung ke belakang. Cepat dia menjura kepada Pek Lian.
"Banyak terima kasih atas petunjuk nona!" Lalu diapun kembali ke tempat duduknya disam- but sorak - sorai para perajurit yang merasa kagum kepada rekan mereka yang muda namun lihai ini.
Akan tetapi sebelum pemuda itu tiba di tempat duduknya, nampak bayangan berkelebat dan ter-nyata Liu Pang telah berdiri di depannya dan pemimpin ini tersenyum.
"Aku merasa sangat kagum atas kepandaianmu, saudara muda. Tidak kusangka bahwa di antara rekan - rekan yang membantuku, terdapat seorang pendekar muda yang amat lihai. Nah, terimalah rasa kagumku dengan secawan arak!" Liu Pang yang sudah membawa secawan arak itu lalu mem-berikan cawan penuh arak itu kepada si pemuda. Melihat betapa pemimpin besar ini menghormati-nya dengan secawan arak, wajah si pemuda men-jadi merah seketika karena girang, bangga dan juga terharu dan maluy Dan kenyataan bahwa Liu Pang dapat berkelebat cepat membawa secawan penuh arak tanpa tumpah, membuktikan betapa lihainya pemimpin ini.
"Terima kasih, sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi saya," pemuda itu menjawab dan menerima cawan arak itu. Akan tetapi, begitu ta-ngannya menyentuh cawan, dia terkejut bukan main karena terasa hawa panas dan tenaga kuat mendorongnya dari tangan Liu Pang! Tahulah dia bahwa pemimpin ini memang sengaja hendak mengujinya dengan tenaga sinkang. Pemuda itu tersenyum dan diapun melanjutkan gerakannya menerima cawan arak. Terjadi pertemuan dua tenaga sinkang dan akibatnya, cawan arak itu pin-dah ke tangan si pemuda akan tetapi keduanya tergetar dan mundur! Liu Pang mundur sampai tiga langkah sedangkan si pemuda mundur sampai empat langkah, akan tetapi arak itu sedikitpun ti-dak tumpah dari cawannya.
Liu Pang memandang kaget dan juga kagum. Tahulah dia bahwa pemuda ini benar-benar lihai bukan main, jauh lebih lihai dibandingkan dengan
Pek Lian, bahkan dalam hal tenaga sinkang juga hampir dapat mengimbanginya! "Maaf, siapakah guru saudara ? Bolehkah saya mengenal namanya yang mulia ?" tanya Liu Pang, sikapnya bukan sebagai pemimpin terhadap ba-wahan, melainkan sebagai seorang pendekar yang bertemu kawan baru yang sama lihainya.
"Harap Liu - bengcu sudi memaafkan saya. Sesungguhnya, saya terseret oleh kegembiraan pesta kemenangan ini sehingga lupa diri dan tadi lancang memasuki pibu. Bukan lain hanya untuk ikut bergembira. Akan tetapi saya hanyalah seorang perajurit pejuang, dan tentang asal - usul saya, harap bengcu sudi memberi kelonggaran dan kebebasan kepada saya untuk sementara ini tidak menceritakannya."
Ucapan itu dikeluarkan dengan nada sedih dan juga dengan sikap sopan, maka biarpun hatinya merasa penasaran sekali, Liu Pang tidak menjadi marah. Sementara itu, Pek Lian memandang tajam, mengingat-ingat di mana kiranya ia pernah ber-temu dengan pemuda ini, namun ia tetap tidak mampu mengingatnya.
Liu Pang merasa sangat terkesan hatinya oleh pemuda tampan itu. Maka pemuda itu langsung saja diangkat menjadi pembantu dekatnya, sebagai pengawal pribadi karena selain suka, diapun ingin benar mengetahui asal-usul pemuda aneh yang amat lihai ini. Dia menghadiahkan pakaian per-
wira karena pemuda itu diangkatnya sebagai ko-mandan pengawal, dan diberi hadiah sebatang pedang rampasan yang amat baik. Karena gembira dan didorong oleh kawan - kawannya, pemuda itu mengenakan pakaian perwira itu dan dia kelihatan semakin tampan dan gagah. Kini dia mendapat kehormatan untuk duduk di kursi para pembantu dekat Liu Pang dan pesta dilanjutkan dengan pe-nuh kegembiraan sampai pagi.
*
**
Kita tinggalkan dulu mereka yang sedang me-rayakan pesta kemenangan di dalam kota Lok- yang yang baru mereka duduki itu dan mari kita meng-ikuti perjalanan Chu Seng Kun, Chu Bwee Hong, Kwa Siok Eng, dan A - hai.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, empat orang muda ini meninggalkan Pek Lian dan pasu-kan Liu Pang yang sedang menyusun kekuatan itu dan mereka berangkat menuju ke kota raja.
Mereka berempat itu tidak tahu bahwa gerak- g
gerik mereka semenjak meninggalkan pasukan Liu Pang telah diperhatikan orang. Mereka baru tahu akan bahaya setelah pada hari ke dua, ketika mereka memasuki sebuah hutan yang sunyi, tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah tidak ku-rang dari tigapuluh orang dari balik pohon dan semak - semak, dan mereka berempat sudah dike-pung ! Para pengepung itu rata
- rata memiliki ilmu silat yang tinggi, dan biarpun mereka itu berpakaian preman, namun gerakan mereka yang teratur itu membayangkan bahwa mereka adalah anggauta-anggauta pasukan yang terpimpin rapi. Dan memang tidak keliru karena mereka adalah pasukan pemerintah yang pilihan dan menyamar sebagai orang biasa. Pasukan seperti ini bertugas meng-gempur para pemberontak secara diam - diam dan kini mereka telah mengepung empat orang yang mereka tahu adalah anggauta - angauta pemberon-tak yang baru saja meninggalkan pasukan Liu Pang dan agaknya akan bertugas sebagai mata - mata.
"Pemberontak - pemberontak hina, menyerahlah sebelum, kami menggunakan kekerasan!" bentak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi ku-rus. Mereka ini adalah pasukan khusus di bawah kekuasaan Jenderal Lai, merupakan pasukan pilih-an.