Halo!

Darah Pendekar Chapter 146

Memuat...

Pasukan berkuda itu segera bertebaran dan mulailah mereka menyerang dengiui anak panah ke arah benteng. Bouw-ciangkun tentu saja se-gera bersembunyi dan berlindung karena dari ben- tengpun datang anak panah seperti hujan sebagai serangan balasan. Korban kedua pihak mulai ber-jatuhan- Kini seluruh pasukan Bouw - ciangkun dikerahkan dan jumlah mereka tidak berselisih banyak dengan pasukan Gui - ciangkun.

Perang anak panah itu amat gencar akan tetapi sampai tengah malam, belum juga Bouw - ciangkun yang dibantu oleh pasukan kecil bangsa asing itu mampu menyeberangi parit. Beberapa usaha mereka lakukan, akan tetapi mereka selalu mengha-dapi perlawanan gigih. Perahu-perahu yang mereka kerahkan tenggelam dan mereka terpaksa mundur kembali ketika pasukan dari benteng me-lempar - lemparkan batu - batu besar ke arah pe-

rahu - perahu itu dan menghujani anak buah pera-hu - perahu itu dengan anak panah. "Bakar saja benteng itu !" teriak Bouw-ciangkun marah.

Melihat betapa anak buah Bouw-ciangkun kini mempersiapkan bahan - bahan bakar dan panah-panah berapi, hati Liu Pang menjadi gelisah juga. "Celaka," pikirnya. "Kalau digunakan api, tentu habislah benteng itu!" Dia tidak tahu bagaimana dia seorang diri akan mampu menolong benteng itu.

Akan tetapi, sebelum perintah menyerang de-ngan panah api dikeluarkan, tiba - tiba terdengar bunyi terompet tanda bahwa ada pembesar datang. Yang muncul adalah seorang pembesar gagah ber-kuda, diapit oleh dua orang perwira tinggi dan dikawal oleh pasukan pengawal yang berpakaian indah. Kiranya dia adalah Jenderal Lai, yaitu panglima daerah timur dan sepanjang pantai, pang-lima yang menjadi pembantu Jenderal Beng Tian itu. Tentu saja para komandan di kota Lok-yang termasuk bawahannya dan melihat munculnya panglima ini, Bouw - ciangkun cepat memberi hor-mat dan menyambutnya sehingga penyerangan dengan panah api itu tertunda.

Dengan muka merah dan alis berkerut, Jende-ral Lai menegur, "Bouw - ciangkun apa artinya pe-ngepungan dan penyerangan terhadap benteng re-kannya sendiri itu." Bouw-ciangkun lalu melaporkan tentang apa yang telah terjadi, tentang ben-trokan antara anak buahnya dan anak buah Gui-ciangkun. Tentu saja dalam laporan kepada atas-annya ini dia menimpakan semua kesalahan kepada Gui - ciangkun yang dicapnya pemberontak.

"Saya mengundangnya baik-baik untuk saya bawa menghadap Lai-goanswe, akan tetapi dia tidak mau, bahkan menggunakan kata-kata kasar dan menantang. Saya sudah menegurnya dan mengancamnya agar dia menyerah tanpa perlawan-an, akan tetapi Gui - ciangkun membangkang dan menentang," demikian perwira gendut itu menutup pelaporannya.

Jenderal yang terhitung masih muda, baru ber-usia empatpuluh lima tahun itu mengerutkan alis-nya dan suaranya terdengar tegas, "Bouw-ciang-kun ! Seorang perajurit, apapun pangkatnya, ha-rus mentaati peraturan dan berdisiplin. Engkau sendiripun telah melakukan pelanggaran dalam hal ini. Tanpa surat perintahku untuk membawa-nya menghadap, mana mungkin Gui - ciangkun mentaatimu ? Kami tidak berpihak siapapun dalam keributan ini. Besok pagi akan kupanggil Gui- ciangkun. Aku ingin agar suasana menjadi jernih . Kekuatan kita tidak boleh dipecah - pecah seperti ini karena hal itu hanya akan mengeruhkan sua-sana dan melemahkan kedudukan kita sendiri. Nah, sekarang tariklah pasukanmu dan kembalilah ke bentengmu sendiri!"

Setelah pasukan Bouw - ciangkun ditarik kem-bali, tempat itu menjadi sunyi kembali. Hanya di dalam benteng itu saja yang masih terjadi kesi-bukan, yaitu para perajurit merawat teman - teman yang terluka. Gui - ciangkun memeriksa anak bu-ahnya dan memerintahkan agar penjagaan dilan-jutkan dengan ketat.

Liu Pang melihat semua itu dan pemimpin para pendekar ini merasa prihatin sekali. Keadaan di daerah sungguh kacau-balau. Pasukan saling han-tam sendiri dan agaknya pemerintah tidak akan dapat mengatasi keadaan. Kalau dibiarkan berla-rut - larut, di sernua tempat tentu akan muncul pemberontakan - pemberontakan dan kalau api itu sudah membakar negara, akan sukarlah untuk dipa-damkan. Kaisar dan para pembantunya di kota raja agaknya tidak tahu atau tidak memperdulikan keadaan negara yang terancam bahaya gawat ini. Mereka itu hanya pandai mengumbar nafsu, ber-senang-senang di kota raja dan menganggap ringan pemberontakan - pemberontakan itu. Bahkan kaisar agaknya hanya tahu bahwa yang melakukan pem-berontakan adalah Chu Siang Yu saja, di utara dan barat. Padahal, keadaan di timur dan selatan tidak kalah gawatnya. Daerah yang dianggap aman ini sebenarnya sedang bergolak dan sewaktu - waktu akan meledak menjadi pemberontakan yang akan menghancurkan pemerintah. Pasukan asing ber- keliaran di daerah ini dan banyak pembesar dan

1

pasukan yang bersekongkol dengan mereka. Ce-lakanya, pemerintah pusat bahkan percaya akan laporan para pembesar yang sebenarnya merupakan musuh dalam selimut itu, para pembesar yang bersekongkol dengan orang - orang asing, percaya akan laporan mereka bahwa Liu Pang dan para pendekarlah yang memberontak! Padahal, yang menjadi dasar pada gerakannya adalah untuk me-nyelamatkan negara dan pemerintah, untuk meng-halau pasukan asing dan menghajar para pembesar yang bersekongkol dengan mereka.

"Pasukan pemerintah yang kuat kini hanya tinggal yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian, demikian dalam persembunyiannya Liu Pang ber-pikir. "Dan Beng - goanswe itu kini sibuk mengerahkan tenaga untuk membendung gerakan Chu Siang Yu. Dan pergolakan di timur dan selatan tidak akan ada yang dapat mencegah lagi. Siapa lagi yang dapat menyelamatkan negara dari tangan pasukan asing dan penjual - penjual negara itu ?"

Dengan pikiran ini, bulatlah tekad di hati Liu Pang untuk menyelamatkan negara, apapun akibat-nya. Dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menduduki daerah, membasmi pasukan asing, menghancurkan pula kekuatan-kekuatan yang ber-sekongkol dengan pasukan asing dan hendak mem-berontak. Mulai saat itu, berobahlah pendirian Liu Pang. Kalau tadinya dia masih merasa segan dan takut-takut untuk menentang kaisar karena di dasar hatinya terdapat kesetiaan terhadap peme-rintah, kini perasaan itu semakin menipis, bahkan lenyap karena dia mulai menimpakan kesalahan kepada kaisar yang dianggapnya tidak cakap meng-atur pemerintahan sehingga negara terancam baha-ya. Dia sudah mengambil keputusan untuk me- lanjutkan gerakannya, memperbesar pasukannya dan memperluas daerah kekuasaannya untuk me-nyaingi Chu Siang Yu. Mula - mula Liu Pang memang didorong oleh jiwa patriot, akan tetapi kini mulai bercampur dengan ambisi.

Kemenangan dan sukses adalah hal-hal yang amat berbahaya bagi kita manusia pada umumnya. Dalam keadaan berjuang, yang ada hubungannya dengan perjuangan berdasarkan kepatriotan, memang cita - citanya nampak bersih dan murni, yakni membebaskan tanah air dari bangsa dari keadaan yang buruk, membela rakyat tertindas dan segala slogan yang baik-baik lagi. Dalam keadaan ber-juang, biasanya lubuk hati masih murni dan per-juangan dilakukan dengan setia dan jujur, bersih dari pada mementingkan diri sendiri, penuh kese-tiakawanan dan pengorbanan diri dengan rela. Akan tetapi, setelah perjuangan selesai dan keme-nangan dicapai, setelah memperoleh kemuliaan yang berupa bergelimangnya harta kekayaan dan menjulangnya nama kehormatan, maka akan ter-jadilah pembahan dalam batin kita pada umumnya.

Di dalam perjuangan, yang dituju adalah kepen-tingan bangsa dan kepentingan pribadi sudah teng-gelam ke dalam kepentingan bangsa sehingga ke-jujuran dan kesetiaan terhadap kawan amat terasa. Akan tetapi, setelah memperoleh kemuliaan, yang dipentingkan tentu saja adalah kemuliaannya sen-diri dan setiap orang yang berani menggoyahkan kedudukannya, dengan dalih apapun, dengan dalih kepentingan bangsa sekalipun, akan ditentang mati - matian. Hal ini sudah terjadi berulang kali, tercatat dalam sejarah semua bangsa di dunia. Di kala melakukan perjuangan mengejar kemenangan, semua orang tentu bersatu padu, akan tetapi sete-lah perjuangan berhasil dan kemenangan dicapai, semua orang saling berebut, memperebutkan hasil dari pada kemenangan itu. Yang berhasil memper-oleh kemuliaan akan mempertahankannya mati- matian, sebaliknya yang tidak kebagian akan ber-usaha untuk mengganggu dan memperebutkan ke-dudukan. Tentu saja kita menutupi segala keingin-an itu dengan berbagai macam dalih yang muluk-muluk, dan biasanya selalu nama rakyat dipergu-nakan untuk menutupi keinginan pribadi yang bersumber kepada pementingan diri sendiri. Ñama rakyat hanya dicatut saja, diperalat untuk mencapai apa yang dikejarnya dan kalau yang dicapai sudah dapat, rakyatpun dilupakan.

Setelah berpikir sejepak, Liu Pang cepat me-ninggalkan tempat itu dan cepat mengejar

pasu-

kan. Bouw - ciangkun yang kembali, ke benteng mereka sendiri. Dia telah mempunyai

rencana yang dianggapnya tepat untuk melancarkan pe-nyerbuan pasukannya besok pagi.

Gui-ciangkun mengadakan rapat darurat dengan para perwira pembantunya malam itu juga. Dia juga sudah mendengar akan kemunculan Jen-deral Lai dan tahulah dia bahwa Bouw - ciangkun tentu mengadukannya kepada Jenderal Lai. Meng-ingat bahwa tiga orang perwira tinggi lainnya, di kota Lok - yang telah menjadi antek kepala daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing, maka dia tentu akan kalah suara dan Jenderal Lai tentu akan lebih percaya keterangan mereka. Besok pagi dia tentu akan ditangkap dan pasukannya dianggap pemberontak.

"Tidak sudi aku menyerah!" Demikian dia mengambil keputusan di depan para pembantunya sambil menggebrak meja.

"Akan tetapi, ciangkun," seorang pembantunya menyatakan kebingungan hatinya, "apakah dengan demikian berarti bahwa kita akan melakukan pem-berontakan terhadap pemerintah secara terbuka ?"

Post a Comment