"Siapa tidak marah ? Tadinya keributan terjadi hanya soal perebutan pelacur, hal yang biasa saja. Akan tetapi mereka berani mengatakan bahwa pa-sukan kita katanya akan dilucuti dan dipenjarakan karena Gui-ciangkun kita berani menentang ke-hendak kepala daerah dan tiga komandan lainnya. Bahkan katanya, Gui - ciangkun akan dihukum mati karena beliau berani menyarankan agar kita semua mendekati Liu - bengcu dengan jalan damai dan bersahabat. Huh, mereka sungguh menghina. Jumlah kita ada seribu orang, masa akan begitu mudah saja dilucuti dan dipenjarakan ?"
"Mereka sombong dan membual !" kata yang lain-lain.
Akan tetapi si kumis mengerutkan alisnya. "Belum tentu kalau ancaman mereka itu hanya bu-al kosong saja. Dalam keadaan seperti sekarang ini, apapun dapat saja terjadi. Kita harus waspada dan siapa tahu komandan kita dalam bahaya. Bagai-manapun juga, jumlah mereka semua itu kalau digabung ada empat lima kali lipat dari pada ke-kuatan pasukan kita, dan masih ada pasukan liar yang membantu. Sebaiknya kita lekas kembali ke markas dan melaporkan kepada Gui - ciangkun !"
Setelah membayar harga makanan, delapan orang perajurit itu lalu meninggalkan kedai. Akan tetapi baru saja mereka tiba di luar kedai, mereka berpapasan dengan duabelas orang perajurit yang melihat seragam mereka agak kuning tentu bukan rekan - rekan dari delapan orang perajurit pertama. Dan mereka berhadapan di depan kedai dengan sikap tegang. Ternyata duabelas orang perajurit itu adalah anak buah pasukan Bouw - ciangkun ! Karena, kedua rombongan yang sudah saling mendendam ini berpapasan tepat di depan pintu, maka bentrokan agaknya tak dapat dihindarkan lagi.
"Minggir kalian ! Kami hendak masuk !" bentak seorang di antara duabelas orang perajurit seragam kuning itu.
"Kalian yang minggir dan biarkan kami keluar dulu !" bentak seorang di antara kelompok perajurit si kumis yang seragamnya agak biru,
"Nona Ho, engkau duduk saja di sini. Agaknya mereka akan berkelahi dan aku akan membantu anak buah Gui - ciangkun," bisik Liu Pang kepada muridnya dan Pek Lian mengangguk. Tentu saja gurunya ingin membantu anak buah Gui-ciangkun dan menentang pasukan - pasukan yang bersekong-kol dengan pasukan asing itu.
Perang mulut segera disusul perkelahian. Dua-belas orang itu mencabut senjata dan hal ini me-ngejutkan delapan orang perajurit anak buah Gui-ciangkun. Biasanya, perkelahian antara perajurit hanya menggunakan tangan kosong sehingga tidak sampai membunuh lawan. Akan tetapi agaknya duabelas orang anak buah Bouw - ciangkun ini sudah begitu nekat sehingga begitu menyerang mereka menggunakan senjata tajam. Tentu saja merekapun segera mencabut golok masing - masing dan ributlah di depan kedai itu. Para tamu yang makan minum di dalam kedai menjadi seriba salah dan panik. Mau keluar, di depan justeru menjadi medan perkelahian. Maka mereka semua ber-bondong-bondong lari ke belakang, hendak mela-rikan diri dari pintu belakang dan karena pintu belakang itu kecil sekali, melalui lorong kecil, mereka berebutan, berhimpitan sehingga keadaan di dalam kedai itu tidak kalah kacaunya dengan keadaan di luar.
Delapan orang perajurit anak buah Gui-ciang-kun itu pasti akan celaka karena mereka kalah banyak, kalau saja tidak ada uluran tangan secara diam - diam oleh Liu Pang. Dengan menggunakan segenggam kacang goreng, Liu Pang membantu mereka. Tanpa diketahui orang, berjejal di antara mereka yang berani nonton perkelahian di luar kedai, Liu Pang menggunakan jari-jari tangannya untuk menyentil kacang - kacang itu ke arah para anak buah Bouw - ciangkun. Biarpun hanya sebu-tir kacang goreng, akan tetapi kalau meluncur de-ngan amat cepatnya dan menyambar mata, hidung, pipi atau mulut, sama nyerinya dengan kalau di-sambit dengan batu. Dalam keadaan kesakitan itu, mudah bagi anak buah Gui - ciangkun untuk membabat dan merobohkan mereka dengan golok. Akhirnya, duabelas orang itu roboh semua, terluka oleh bacokan-bacokan golok anak buah Gui-ciangkun, bahkan di antaranya ada yang tewas ! Melihat akibat perkelahian itu, si kumis menjadi khawatir sekali. "Hayo kita cepat kembali ke mar-kas melapor kepada ciangkun !" katanya dan de-lapan orang itupun berlari-larian menuju ke mar-kas mereka.
Liu Pang mengajak muridnya untuk pergi membayangi setelah membayar harga makanan kepada pengurus kedai yang sudah pucat dan menggigil ketakutan itu. Akan tetapi, dasar peda- gang, biarpun di depan kedainya terjadi perkelahi-an dan kini ada duabelas orang mandi darah menggeletak di situ, dia tidak pernah salah meng-hitung harga makanan dan minuman, dan biarpun tangannya menggigil, sigap saja dia menerima pembayaran !
Akan tetapi, sebelum delapan orang itu tiba di markas mereka, di tengah jalan mereka disusul serombongan perajurit berkuda, anak buah pasu-kan Bouw - ciangkun yang sudah mendengar akan terjadinya perkelahian di depan kedai makanan itu. "Itu dia ! Mereka pembunuh kawan - kawan kita di depan kedai itu. Tangkap mereka! Lucuti sen-jata mereka sekarang. Bunuh! Mereka agaknya hendak memberontak !"
Delapan orang itu melawan, akan tetapi belasan orang perajurit berkuda itu dibantu oleh tiga orang perajurit asing dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Liu Pang tidak dapat membantu secara menggelap seperti tadi karena mereka ber-ada di tempat terbuka. Pula, bagi pemimpin ini, ada hal - hal yang jauh lebih penting lagi untuk dilaksanakan dari pada hanya menyelamatkan nya-wa delapan orang perajurit itu. Menolong mereka secara berterang berarti membuka penyamarannya dan hal ini amat merugikan bagi tugasnya.
"Nona, engkau cepat kembali ke pasukan kita. Katakan kepada gurumu Hek - coa Ouw Kui Lam itu dan para saudara lain bahwa aku memerintah, kan agar mereka mengatur pasukan untuk mengurung kota ini. Besok pagi - pagi sebelum matahari terbit, pasukan kita harus sudah berada di luar benteng. Kita hancurkan pasukan asing dan pasu-kan pengkhianat di kota ini!" "Suhu sendiri bagaimana ?" "Aku akan metoemui Gui - ciangkun dan me-nyelamatkan sisa pasukannya, setidaknya sampai besok pagi. Kalau aku berhasil menggerakkan hati Gui - ciangkun, maka kita dapat menggempur kota dari luar dan dalam. Pasukan yang seribu orang kekuatannya bukan main - main, kalau pandai menggunakan dapat berguna sekali." "Baiklah, suhu."
"Seperti biasa, aku akan melepas panah api hi-jau sebagai tanda penyerbuan !"
Pek Lian lalu menyelinap pergi dan cepat me-ninggalkan kota, kembali ke pasukannya. Semen-tara itu, Liu Pang membalik dan melihat betapa delapan orang perajurit anak buah Gui - ciangkun itu dibantai habis oleh pasukan berkuda yang di-bantu oleh tiga orang asing tinggi besar yang kalau dia tidak salah duga tentulah orang - orang liar dari luar Tembok Besar, dari daerah Mongol.
Liu Pang segera meninggalkan tempat itu dan seorang diri dia mencari benteng pasukan yang dipimpin oleh Gui - ciangkun. Tidak sukar baginya untuk mencarinya karena setiap orang tahu belaka di mana adanya bentengi kecil itu. Sebuah barak pasukan yang dikelilingi oleh parit yang lebar dan dalam. Terdapat sebuah pintu gerbang besar dan yang menghubungkan pintu besar itu dengan se-berang parit adalah sebuah jembatan gantung dari besi
Liu Pang mempergunakan ilmunya untuk men-dekati parit, menyelinap ke tempat gelap dan mempelajari keadaan benteng itu. Dari luar sudah nampak kesibukan di dalam benteng. Jembatan gantung terangkat ke atas dan agaknya di setiap
penjuru terjaga ketat. Banyak pula yang mondar-mandir dengan sikap tegak. Suasananya jelas me-nunjukkan kesiapsiagaan dan agaknya berita ten-tang perkelahian itu sudah sampai pula di dalam benteng. Liu Pang tetap bersembunyi, memikirkan rencana yang kiranya dapat dilakukan untuk me-nyelamatkan benteng ini dan menggandeng pasu-kan Gui - ciangkun sehingga dapat dimanfaatkan besok, membantu penyerbuan pasukannya dari luar benteng.
DIA masih sangsi apakah Gui - ciangkun mau menerimanya kalau dia datang berterang. Apa lagi dia menyamar sebagai seorang; kakek pe-tani dan tidak ada seorangpun yang mengenal wajah Liu - bengeu.
Tiba-tiba, selagi Liu Pang mencari akal dan me-renung, terdengarlah sorak - sorai dan derap kaki kuda yang banyak sekali mendatangi tempat itu. Sepasukan tentara yang berjumlah ratusan, bahkan mungkin ada seribu orang, datang mengepung ben-teng itu. Dari seragam mereka yang agak keku-ningan, Liu Pang dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak buah Bouw - ciangkun. Dugaan-nya memang tepat, bahkan yang memimpin pasukan itu adalah Bouw - ciangkun sendiri, seorang perwira yang bertubuh pendek gendut. Di sebelah pembe-sar ini nampak beberapa orang perwira pasukan asing.
Terdengar bunyi terompet dan pintu gerbang di seberang terbuka. Muncullah seorang perwira tinggi kurus. Perwira ini bukan lain adalah Gui
ciangkun sendiri yang sengaja keluar menyambut kedatangan pasukan berkuda yang dipimpin oleh Bouw - ciangkun, rekannya. Kota Lok - yang dijaga oleh empat pasukan besar, dan dua di antaranya dikepalai oleh Gui - ciangkun dan Bouw-ciangkun. Jembatan gantung tidak diturunkan dan kini dua orang komandan pasukan itu berdiri berhadapan, dipisahkan oleh parit yang lebar itu.
"Gui - ciangkun, menyerahlah engkau dan pa-sukanmu dengan baik-baik dari pada harus di- gempur dan dihancurkan !" teriak Bouw-ciangkun dengan sikap garang. Perutnya yang gendut sekali itu bergerak - gerak ketika dia bicara. Gui-ciangkun mengerutkan alisnya. "Bouw-ciangkun, kita adalah rekan, sama - sama menjaga keselamatan kota ini sebagai komandan pasukan kita masing-masing. Engkau tidak berhak bicara seperti itu kepadaku, apa lagi untuk menangkap-ku dan minta pasukanku menyerah
!"
"Hemm, engkau masih belum menginsyafi do-sa - dosamu ? Engkau membiarkan anak buahmu membunuhi anak buahku di depan kedai !" teriak Bouw - ciangkun.
"Perkelahian antara perajurit adalah soal biasa. Akan tetapi anak buahku yang delapan orang itu dibantai oleh belasan orang-orangmu yang dibantu oleh orang-orang liar. Kinipun aku melihat engkau bersanding dengan perwira - perwira bangsa liar, sungguh menjemukan sekali, dan engkau berani bicara tentang pasukanku harus menyerah ?"
"Orang she Gui, engkau hendak memberontak?'' "Orang she Bouw, engkaulah yang hendak mem-berontak dengan bersekongkol bersama pasukan-pasukan asing yang liar!"
Bouw - ciangkun marah sekali. Dia mencabut pedangnya, mengangkat pedangnya ke atas sambil
berteriak, "Pasukan panah, seraaanggggg !"