Halo!

Darah Pendekar Chapter 142

Memuat...

Gubernur Ci adalah seorang yang cerdik, apa-lagi dia adalah sekutu pemberontak Chu Siang Yu yang telah memberi rencana siasat kepadanya. Be-gitu melarikan diri dari Yen - kiri, gubernur ini bersama pasukan pengawalnya dan pasukan - pa-sukan lain yang melarikan diri, langsung menuju ke Cin - an dan mendatangi Lai - goanswe yang menjadi panglima yang berkuasa atas benteng dan bala tentara kerajaan di daerah timur. Gubernur itu lalu memberi laporan dan tentu saja dia me-mutarbalikkan kenyataan. Dia melaporkan bahwa pemberontak Liu Pang melakukan gerakan tiba-tiba di timur, menduduki kota Yen - tai dan Yen - kin, dan kini mengumpulkan barisan pemberontak yang jumlahnya selaksa orang dan hendak bergerak ke barat.

Mendengar laporan ini, Lai - goanswe (Jenderal Lai), terkejut sekali. Tentu saja dia sudah men-dengar nama besar Liu Pang sebagai pemimpin rakyat, sebagai bengcu yang mengepalai para pen-dekar dan yang ikut memprotes tindakan - tindakan kaisar terhadap ditangkapnya para menteri. Dan dia juga maklum bahwa Liu Pang adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi, seorang pendekar dan jagoan pedang yang disuka oleh para pende-kar kang-ouw. Baru pemberontakan - pemberon-

34 takan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu dan yang bergerak di daerah barat saja sudah amat memu-singkan, apalagi kalau Liu Pang kini memberontak pula. Lai - goanswe adalah seorang jenderal ber-usia empatpuluh lima tahun yang pandai dan juga gagah perkasa, merupakan pembantu utama dari Jenderal Beng Tian dan seorang perajurit sejati yang tidak melibatkan diri dengan politik, dan ha-tinya bulat menjunjung tugasnya, yaitu membela negara dan mentaati perintah atasan.

Begitu mendengar tentang pemberontakan Liu Pang, Lai - goanswe cepat mempersiapkan pasu-kannya yang selaksa orang jumlahnya. Dan diapun mempergunakan sisa pasukan dari Gubernur Ci untuk memperkuat pasukannya. Akan tetapi tentu saja ketika menghadap Jenderal Lai, Gubernur Ci sama sekali tidak bercerita tentang persekutuannya dengan Chu Siang Yu, apa lagi dengan bantuan pasukan asing! Dan jenderal itupun tidak tahu sama sekali bahwa dia telah ditipu dan diadu dom-ba dengan Liu Pang oleh Gubernur Ci. Tentu saja Liu Parig terkejut bukan main me-lihat pasukan besar Jenderal Lai datang dan me-nyambutnya dengan serangan. Dia sama sekali tidak bermaksud melawan pasukan pemerintah. Semua yang dilakukan hanyalah membasmi pasu-kan asing dan menentang para pejabat yang berse-kutu dengan orang-orang asing. Akan tetapi, sudah tidak ada waktu lagi. baginya untuk menjer-nihkan kesalahpahaman ini. Pasukan Jenderal Lai sudah datang menyerbu. Bahkan diam-diam Liu Pang menjadi penasaran sekali dan mengira bahwa memang kaisar berhati palsu dan bercabang, di satu pihak pura - pura membetulkan kesalahannya dan hendak mengangkat kembali para menteri jujur, di lain pihak menggunakan tangan besi menentang para pendekar patriot Maka Liu Pang lalu mela-wan dan mengerahkan pasukannya.

Pertempuran yang amat dahsyat dan seru ter-jadilah di luar kota Cin - an. Setelah kedua pihak kehilangan banyak perajurit, pasukan kerajaan ter-desak sehingga terpaksa mundur dan melakukan pertahanan di dalam kota yang dikepung oleh pasukan Liu Pang. Di luar kehendaknya sendiri, Liu Pang mulai hari itu secara resmi dianggap sebagai pemberontak oleh kerajaan.

Bentrokan langsung dengan pasukan pemerintah ini membuat Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong merasa kikuk dan bingung. Tidak mungkin mereka dapat membantu Liu Pang dan pasukannya untuk menentang pemerintah sendiri! Ayah mereka, Pangeran Chu Sin yang kini telah menjadi kepala kuil istana yang berjuluk Bu Hong Sengjin, adalah seorang anggauta keluarga istana yang pen-ting. Seng Kun sendiri menerima tugas dari kaisar untuk mencari Menteri Ho, berarti diapun seorang utusan dan petugas kaisar bagaimana mungkin dia berada di dalam pasukan para pendekar yang kini telah digempur pasukan pemerintah sebagai pemberontak ? Seng Kun tidak dapat menyalahkan Liu Pang dan dia dapat memaklumi bahwa sesung-guhnya bukanlah kehendak Liu Pang dan pasukan-nya untuk memberontak.

"Liu-bengcu, harap maafkan kami berdua. Dalam kedudukan saya sebagai utusan kaisar yang berarti bahwa saya adalah seorang petugas kera-jaan, keadaan sekarang ini tentu tidak memungkin-kan saya untuk terus berkumpul dengan pasukan bengcu lebih lama lagi. Kami berdua akan kembali ke kota raja dan membuat laporan tentang apa yang terjadi atas diri Menteri Ho."

Liu Pang menarik napas panjang dan nampak-nya menyesal sekali. "Sungguh kami sendiri tidak pernah mengira bahwa akibatnya akan menjadi begini. Akan tetapi, sungguh kebetulan sekali kalau ji - wi hendak menghadap sri baginda kaisar. Selama beberapa hari ini, semenjak terjadi pertem-puran secara terbuka dengan pasukan pemerintah, saya memikirkan dan mencari jalan bagaimana ca-ranya agar kesalahpahaman antara kami dengan kaisar tidak sampai berlarut-larut. Ji-wi telah beberapa lama mengikuti gerakan kami dari de-kat, bahkan membantu kami menghadapi pasukan asing. Maka kami percaya bahwa ji - wi tentu akan dapat melaporkan secara sejujurnya kepada sri baginda kaisar apa yang sebenarnya telah terjadi dan bagaimana sesungguhnya kedudukan kami."

"Tentu saja, Liu - bengcu. Kami berdua kakak beradik tentu akan berusaha menjernihkan suasana yang tidak enak ini !" kata Chu Seng Kun dengan suara pasti.

Melihat kedua orang kakak beradik itu berpa-mit, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi memandang kepada Bwee Hong lalu berkata, "Akupun akan pergi. Kalau kalian boleh, aku akan ikut pergi. Aku sungguh tidak betah berada di sini. Aku membenci pertempuran, membenci bunuh - membunuh yang kejam itu!"

Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong tentu saja tidak dapat menolak permintaan pemuda sinting itu. Apa lagi karena pemuda itu dengan mati-mati-an telah menyelamatkan Bwee Hong ketika dara itu berada dalam tangan Tiat - siang - kwi, tokoh ke dua dari Ban - kwi - to. Di samping itu, kakak beradik yang menjadi ahli waris Bu-eng Sin-yok ong ini memang merasa tertarik akan keadaan A-hai dan kalau mungkin mereka ingin mencoba kepandaian mereka dalam hal pengobatan untuk memeriksa dan menyembuhkan pemuda aneh itu.

"Tentu saja engkau boleh ikut bersama kami, saudara A - hai," jawab Seng Kun dengan ramah.

"Kebetulan sekali sayapun mempunyai keinginan yang sama, Liu - bengcu," tiba - tiba Kwa Siok Eng berkata. "Saya harus segera pulang dan melapor-kan semua pengalaman saya kepada ayah dan ibu, terutama sekali, tentang penyelewengan kakakku dan juga tentang hasil perjalanan saya. Karena itu, sayapun berpamit untuk mengundurkan diri." Liu Pang menarik napas panjang. Kemudian dia menengadah dan seolah - olah berkata kepada diri sendiri, "Betapa gembira berusia muda bebas dari segala ikatan, bebas lepas seperti burung di udara, ke manapun hendak pergi tidak ada yang melarang, tidak ada ikatan yang membelenggu kaki tangan. Akan tetapi, ahhh setelah terbelenggu oleh ikatan yang demikian kuat ini, yang telah menjadi tugas yang mendarah daging, mana mung-kin aku mengikuti jejak orang - orang muda yang bebas lepas ?"

Biarpun tidak secara berterang, namun pemim-pin para pendekar itu mengeluhi nasib sendiri dan agaknya iri hati melihat orang-orang, muda itu. Seng Kun melihat bahwa sebenarnya keadaan dirinya tidaklah jauh bedanya dengan pemimpin ini karena bukanlah dia sendiri juga terikat oleh tugas yang diberikan oleh kaisar kepadanya ? Mende-ngar keluhan gurunya itu, Pek Lian yang wataknya polos dan tidak suka menyembunyikan perasaan-nya itu berkata, "Akan tetapi, suhu. Apa artinya hidup ini kalau tidak ada tugas - tugas yang meng-ikat kita ? Bukankah kegembiraan terasa apa bila kita berhasil melaksanakan tugas kita ? Hidup akan kosong tanpa ikatan, dan untuk ikatan itu kita ber-juang dalam hidup!"

Gurunya tersenyum dan menggeleng kepala. "Nona Ho, engkau masih terlalu muda untuk dapat mengerti tentang ikatan - ikatan dalam kehidupan."

"Maaf, suhu. Akan tetapi saya kira suhupun masih muda, atau belum terlalu tua untuk meng-anggap saya masih terlalu muda !" bantah nona itu.

Liu Pang tersenyum lebar dan wajahnya ber-seri. Begitu dia tersenyum lebar, nampaklah bah-wa tokoh ini memang belum tua benar. Usianya memang baru tigapuluh enam tahun, akan tetapi perjuangan dengan segala kepahitannya menggem-blengnya lahir batin sehingga dia nampak jauh lebih tua dari pada usianya.

"Muridku, tua muda atau matang mentahnya seseorang tidak selalu ditentukan oleh usianya. Akan tetapi memang apa yang kaukatakan tadi ada benarnya. Di dalam setiap ikatan memang terdapat kesenangan, kalau tidak begitu, tidak nanti ia mengikat! Akan tetapi yang kita lupakan adalah bahwa setiap kesenangan selalu dibayangi oleh saudara kembarnya, yakni kesusahan. Dan celaka-nya, antara dua saudara kembar ini, Duka lebih banyak muncul dalam batin manusia dibandingkan dengan Suka!"

"Maaf, Liu - bengcu. Saya pernah mendengar wejangan ayah bahwa Suka - Duka itu sesungguh-nya tidak ada. Dalam setiap benda, setiap peristiwa, tidak terdapat .suka atau duka itu- Mereka ini baru muncul apa bila pikiran kita membuat ban-dingan - bandingan dan penilaian."

Liu - bengcu mengangguk - angguk. "Ayah ji-wi adalah Bu Hong Sengjin dan saya pernah men-dengar bahwa ayah ji - wi itu selain memiliki ke-pandaian silat yang tinggi, juga amat bijaksana. Tidak keliru sama sekali wejangan beliau itu. Memang suka atau duka timbul karena pikiran kita sendiri yang menilai berdasarkan untung rugi bagi diri pribadi. Yang menguntungkan menimbulkan suka dan yang merugikan menimbulkan, duka. Kita semua terseret oleh dualitas ini." "Akan tetapi, locianpwe," kata Siok Eng yang juga tertarik mendengar percakapan itu. "Bukan-kah itu sudah menjadi watak manusia pada umum-nya ? Kita semua menghendaki untung

dan senang, siapakah manusianya menghendaki rugi dan susah?"

Liu Pang mengangguk - angguk. "Pernyataan yang amat jujur dan aku memang mendengar bah-wa Tai - bong - pai mengutamakan kejujuran dan kepolosan walaupun kadang - kadang diikuti oleh tindakan yang nampaknya sadis dan kejam. Memang, umum menganggapnya demikian. Akan teta-pi, apakah umum harus selalu benar ? Umum con-dong untuk ikut-ikutan, untuk mengekor dan agak-nya tidak memperdulikan lagi tentang benar atau salah. Kita melihat bahwa kita terbelenggu, namun kita tidak berani membebaskan diri dari pada belenggu ini. Aihh, betapa lemahnya kita manusia ini!" Kembali pemimpin ini menarik napas pan-jang-

Hening sejenak dan percakapan yang menyim-pang ke soal kehidupan yang ruwet itupun macet. Menggunakan kesempatan ini, Siok Eng berkata, "Saya pamit sekarang, locianpwe dan banyak teri-ma kasih atas kebaikan semua kawan kepadaku sewaktu kita berkumpul." Dara itu bangkit dan pada saat itu. Seng Kun juga ikut bangkit dan menjura.

"Nona Kwa aku ingin bicara sedikit "

Puteri Tai - bong - pai itu memandang dengan sinar mata berseri dan ia memandang wajah pemuda tampan dan gagah itu dengan lembut. "Silahkan, in-kong." "Pada waktu ini, keadaan negara sedang dalam suasana kacau dan di mana - mana terjadi pertenr tangan sehingga tidak aman. Biarpun nona memi-liki kepandaian tinggi, akan tetapi sebagai seorang wanita muda, melakukan perjalanan sendirian saja tentu akan memancing datangnya banyak sekali halangan dan bahaya. Hatiku merasa tidak enak dan khawatir sekali membayangkan engkau mela-kukan perjalanan seorang diri."

Sejak pemuda itu bicara, sepasang mata Siok Eng yang indah tajam itu menatap tanpa pernah berkejap dan mata itu kini berseri, sepasang pipinya berobah agak kemerahan dan jantungnya berdegup kencang. Hatinya merasa senang sekali melihat kenyataan bahwa pemuda yang diam - diam dipu-janya di dalam hati semenjak ia merasa berhutang nyawa dan budi itu begitu memperhatikan kesela-matan dan keadaannya.

"Sungguh in-kong amat baik hati dan aku berterima kasih sekali atas perhatianmu. Akan tetapi, aku dapat menjaga diri dalam perjalanan, maka harap in-kong tidak merasa khawatir"

"Aku mengerti, nona... tapi bolehkah aku mengajukan suatu permintaan kepadamu ?"

Mendengar pertanyaan ini, hati Siok Eng me-rasa tergerak dan terharu. Sejak kecil ia hidup di antara lingkungan orang - orang sesat yang hampir tidak mempunyai kepekaan atau kehalusan pera-saan lagi. Akan tetapi sejak ia diobati di rumah keluarga Bu, terjadilah perobahan di dalam batin nya.

Post a Comment