Halo!

Darah Pendekar Chapter 141

Memuat...

"A - hai, jangan menyerang teman yang memakai kain kuning di rambutnya !" Demikian Pek Lian dan Bwee Hong berseru kepada A - hai.

"Baik ! !" jawab A - hai dan kini pemuda itu mengangguk sambil melihat ke arah rambut setiap orang yang digempurnya. Gegerlah keadaan di tempat itu dan terpaksa para pimpinan dua pasukan itu mengerahkan orang - orangnya yang terpandai karena para pendekar itu, terutama pemuda tinggi tegap yang mengamuk secara meng-giriskan itu, merupakan lawan yang amat lihai dan tangguh. Setelah A-hai mengamuk, rombongan itu tidak begitu terdesak lagi. Bahkan pasukan itu kocar-kacir dan sebagian besar dari mereka menjadi gentar sekali dan menjauhkan diri.

Sementara itu, di kota Yen - tai juga terjadi hal yang amat hebat. Liu Pang dengan pasukannya yang terdiri dari para pendekar dan berjumlah se-kitar tigaratus orang menyerbu gedung kepala dae-rah. Serangan ini terjadi amat tiba - tiba karena para pendekar itu telah menyelundup dengan di-am - diam ke dalam kota. Tentu saja kota menjadi geger. Pasukan pengawal dan penjaga melakukan perlawanan, dipimpin sendiri oleh pembesar yang menjadi kepala daerah Yen - tai. Namun, para pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang itu ternyata jauh lebih kuat dan kepala daerah itu terpaksa melarikan diri dikawal oleh pasukan pengawalnya, menuju ke kota gubemuran.

Liu Pang membebaskan para tawanan sehingga kini jumlah mereka mendekati limaratus orang dan mereka segera menduduki kota, melakukan penja-gaan di pintu - pintu gerbang dan rakyat menyam-but mereka dengan gembira. Mereka ini memper-oleh simpati dari rakyat oleh karena sikap para anak buah pasukan Liu Pang ini memang gagah perkasa dan sopan. Mereka adalah pendekar - pendekar dan terdiri dari rakyat jelata pula, maka tentu saja mereka tidak mau mengganggu rakyat. Liu - Pang lalu memerintahkan anak buahnya untuk melepas panah - panah berapi sebagai tanda keberhasilan mereka kepada Pek Lian dan kawan - kawannya yang bertugas di lembah.

Melihat panah - panah berapi itu meluncur di udara arah kota Yen - tai, dibarengi sorak - sorai para pendekar dan rakyat, Pek Lian gembira bukan main. "Suhu berhasil! Mereka telah menduduki kota Yen - tai! !"

Sebaliknya, pasukan yang mengeroyok mereka terkejut sekali. Para pimpinan mereka lalu meme-rintahkan mereka untuk meninggalkan lembah. Apa lagi, para pendekar yang berada di lembah itu hanya limabelas orang saja, tidak cukup berharga untuk dibasmi, kalaupun mereka mampu melaku-kannya karena para pendekar itu benar-benar lihai bukan main. Amukan mereka itu telah merobohkan puluhan orang perajurit.

A - hai tetap mengamuk biarpun para perajurit telah mengundurkan diri. Para pendekar melihat dengan penuh takjub. Bahkan Seng Kun sendiri memandang dengan mata terbelalak. Pemuda itu memang hebat bukan main. Kini pemuda itu ber-silat secara aneh, gerakannya mantap, kedua ka-kinya bergeser - geser ke depan, bukan melangkah dan kedua tangannya memukul - mukul ke depan dengan telapak tangan terbuka. "Set - set - settt !" kedua kaki itu bergeser ke depan dan ketika kedua tangan itu memukul-mukul dengan dorongan kuat, nampak hawa yang seperti sinar putih keluar dari kedua telapak tangan dan tiap kali kedua telapak tangan itu bergesekan, terdengar suara meledak dan nampak seperti ada bunga api berpijar! Tangan kanan itu meluncur ke kanan, ke arah bayangan hitam yang mungkin dianggap musuh oleh A - hai. lain. "Braaaakkkk !" Dan robohlah sebatang pohon besar.

A - hai memukul ke kiri sambil membalikkan tubuh, menghantam ke arah bayangan hitam,

"Blaarrrr !" Sebongkah batu karang besar pecah berantakan dan terguling!

"Bukan main ! Itu agaknya Thai – lek Pek - kong - ciang !" kata Seng Kun dengan takjub. Dia pernah mendengar cerita dari Bu Kek Siang tentang ilmu pukulan mujijat itu akan tetapi belum pernah menyaksikannya. Dan kalau sekarang pemuda sinting itu mampu melakukan ilmu pukulan mujijat itu sedemikian baiknya, maka asal - usul pemuda itu sungguh menjadi semakin menarik dan penuh rahasia.

Pek Lian yang maklum bahwa kalau dibiarkan berlarut-larut, keadaan A-hai bisa berbahaya, lalu menggandeng tangan Bwee Hong dan mende-kati pemuda itu. Keduanya membujuk, "A - hai, lihatlah kami... jangan mengamuk lagi, jangan berkelahi lagi, sudah tidak ada musuh yang harus dilawan !"

A-hai menghentikan permainan silatnya, memandang kosong kepada dua orang dara itu dan nampak bingung. "Jangan berkelahi..... jangan membunuh..... ahhh.. Pek Lian..... Bwee Hong, jangan berkelahi..." Dan diapun menjatuhkan diri berlutut dan tubuhnya menjadi lemas.

Mereka lalu kembali ke kota Yen - tai dan di-sambut oleh Liu Pang sendiri yang memuji mereka sebagai orang-orang yang telah berhasil menunai-kan tugas penting. "Kita harus terus melakukan pengejaran dan menyerbu kota Yen - kin, menang-kap gubernur yang bersekutu dengan pasukan asing itu," katanya dan merekapun bersiap-siap. Ke-menangan Liu Pang dan pasukannya ini disambut gembira oleh rakyat dan banyaklah rakyat di sekitar daerah itu yang berdatangan dan masuk menjadi anggauta suka rela! Bahkan banyak pula bekas-bekas perajurit pasukan pemerintah yang menye-berang dan membantu gerakan Liu Pang yang hendak melakukan pembersihan terhadap para pengkhianat dan pasukan asing.

Pada kesokan harinya, Liu Pang memimpin pa-sukannya yang menjadi semakin besar jumlahnya itu menuju ke Yen - kin. Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong ikut membantu karena kakak beradik ini maklum bahwa gerakan Liu Pang itu adalah untuk membantu pemerintah menghancurkan para pengkhianat yang hendak memberontak dan yang bersekutu dengan pasukan asing.

Di sepanjang perjalanan menuju ke Yen - kin, berbondong-bondong rakyat dan perajurit kerajaan yang menyeberang menyambut dan masuk pula menjadi sukarelawan untuk mengusir pasukan asing dan menghajar pasukan pemerintah yang hendak memberontak dan berkhianat. Apa lagi karena semua orang mendengar bahwa Liu Pang adalah seorang pemimpin rakyat yang sejati, yang datang dari kalangan rakyat petani. Demikian banyaknya rakyat mendukung sehingga jumlah pasukan itu setelah tiba di Yen - kin sudah mencapai hampir sepuluh ribu orang !

Ternyata Gubernur Ci yang berkuasa di propinsi bagian timur (sekarang Shan-tung) itu telah me-nerima pelaporan kepala daerah Yen - tai dan sudah bersiap-siap dengan pasukannya, dibantu pula oleh pasukan asing yang dipimpin oleh Malisang, raksasa peranakan Mongol itu. Juga ada pula pa-sukan yang menjadi anak buah pemberontak Chu Siang Yu, yang dibantu oleh Kwa Sun Tek tokoh Tai - bong - pai bersama anak buahnya, yaitu ang-gauta - anggauta Tai-bong-pai yang dibawa me-nyeleweng oleh Kwa Sun Tek, bersekutu dengan para pemberontak untuk mencari kedudukan. Gu-bernur Ci merasa yakin akan dapat menghancurkan pasukan pimpinan Liu Pang yang dianggap sebagai penghalang cita-citanya itu karena dia menerima laporan bahwa pasukan yang menyerbu Yen-tai itu hanya berjumlah tigaratus orang lebih. Padahal, pasukan keamanan di daerahnya yang dikumpulkan itu berjumlah limaribu orang, belum lagi ratusan orang pasukan asing dan pasukan pemberontak Chu Siang Yu. Jumlah pasukannya tidak kurang dari enamribu orang. Mana mungkin musuh yang hanya tigaratus orang lebih itu akan mampu menandingi enamribu orang? Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa dalam waktu singkat, rakyat dan para perajurit yang menyeberang berbondong-bondong menjadi sukarelawan dan kini pasukan Liu Pang berjumlah selaksa orang!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya Gubernur Ci dan para sekutunya ketika mendengar bahwa Liu Pang datang dengan pasukan yang mendekati selaksa orang jumlahnya ! Terjadilah perang yang dahsyat di luar kota Yen - kin. Perang yang mema-kan waktu setengah hari lebih. Akan tetapi karena Liu Pang dibantu oleh orang - orang gagah, walau-pun sekali ini A - hai tidak ikut berperang, dan juga karena jumlah pasukan Liu Pang jauh lebih banyak, akhirnya pasukan gubernur itu lari cerai - berai dan banyak yang tewas. Gubernur dan sekutunya ter-paksa melarikan diri ke utara dan kota Yen - kin diduduki oleh Liu Pang.

Karena maklum bahwa di depan terdapat bala tentara kerajaan yang kuat dan pula dia harus membiarkan pasukannya beristirahat, Liu Pang ti-dak melakukan pengejaran dan mengatur kota Yen - kin yang didudukinya itu, mengatur penjagaan dan menyebar para penyelidik untuk menyeli-diki keadaan musuh yang melarikan diri ke arah kota Cin-an.

Post a Comment