Musyawarah lalu dimulai. "Jelaslah bahwa gu-bernur wilayah ini telah bersekongkol dengan pasukan asing yang dipimpin oleh orang Mongol. Mereka itu akan menjebak kita di lembah malam ini dan mengharapkan kita akan datang merampas jenazah. Kita telah berhasil mendahului mereka dan makam itu telah kita tutup kembali sedangkan para penjaga itu dalam keadaan pulas akibat ban-tuan kakek sakti sehingga mereka tidak tahu bahwa jenazah telah kita rampas. Adanya pasukan asing itu sungguh amat berbahaya bagi negara kita, maka kewajiban kita adalah untuk menghancurkan pasukan asing itu. Dan kalau bala tentara kerajaan yang berada di bawah kekuasaan para pembesar setempat membantu pasukan asing, berarti mereka itu, adalah pengkhianat - pengkhianat yang harus kita hancurkan pula."
Dengan panjang lebar Liu Pang lalu memberi gambaran keadaan di waktu itu. Bahwa ada keku-atan lain yang memberontak terhadap kaisar, yang bersekongkol dengan pasukan asing. "Kita bukan membela kaisar pribadi, melainkan membela negara agar tidak dicengkeram oleh para pemberontak yang mementingkan diri pribadi untuk merampas kedudukan, juga harus menghancurkan pasukan asing agar jangan menduduki tanah air kita. Kalau perlu, kita rampas dusun dan kota yang berada di bawah kekuasaan bala tentara pemerintah yang memberontak dan bersekongkol dengan pasukan asing." Demikian antara lain dia berkata.
Mereka lalu mengatur siasat. Jumlah anak buah Liu Pang yang telah berkumpul di sekitar tempat itu tidak kurang dari tigaratus orang. Ka-rena dia tahu bahwa kekuatan pasukan penjaga kota Yen - tai dan pasukan asing akan dikerahkan untuk menjebak mereka di lembah itu sehingga kota Yen - tai akan ditinggalkan kosong atau tidak terjaga kuat, dia mengambil keputusan untuk me-nyerbu dan menduduki kota Yen - tai!
"Kita pecah kekuatan kita menjadi dua. Murid-ku, nona Ho ini memimpin para sahabatnya yang berilmu tinggi dibantu oleh belasan orang yang memiliki kepandaian tinggi, pergi ke lembah malam ini, pura - pura hendak mengambil jenazah. Hal ini akan menarik seluruh perhatian dan pemusatan kekuatan musuh ke lembah. Sementara itu, sisa seluruh kekuatan kita akan kupimpin sendiri me-nyerbu kota Yen - tai, mendudukinya dan membe-baskan ratusan teman-teman kita yang tertawan."
Sehari itu, para pendekar ini mengatur siasat dan membagi - bagi pekerjaan. Ada pula yang bertugas memancing perhatian musuh dengan me-nyelidiki keadaan lembah sehingga menimbulkan kesan bahwa malam nanti para pendekar hendak mendahului pasukan pemerintah membongkar ma-kam ! Sementara itu, diam - diam beberapa orang anggauta rombongan yang berkepandaian tinggi melakukan penyelidikan ke kota Yen - tai dan me-lihat gerak - gerik dan gerakan pasukan di kota itu. Memang tepat dugaan Liu Pang seperti yang telah dipaparkan kepada teman - temannya. Setelah menyebar berita desas-desus bahwa malam itu pa-sukan hendak membongkar makam Menteri Ho, dan setelah melihat adanya orang-orang yang melakukan penyelidikan ke makam, maka pasukan pemerintah dibantu oleh pasukan asing dipusatkan ke sekeliling lembah. Lembah itu seperti mereka kepung untuk menanti datangnya rombongan pen- dekar untuk menjebak dan membinasakan mereka seperti yang telah dilakukan kemarin. Dan karena pemusatan kekuatan ke lembah itu, maka kota Yen - tai hanya dijaga oleh pasukan kecil saja.
Setelah rencana diatur matang berangkatlah Pek Lian bersama Seng Kun, Bwee Hong, Siok Eng dan tidak ketinggalan pula A - hai, disertai pula oleh beberapa orang pendekar sehingga jumlah mereka ada limabelas orang menuju ke lembah. Mereka itu sengaja mengambil jalan menyusup-nyusup seperti orang-orang yang sungguh-sungguh hendak melakukan pekerjaan rahasia, memasuki lembah. Tentu saja gerakan mereka itu diketahui oleh pasukan yang sudah berjaga - jaga dan para pemimpin pasukan sudah menggosok-gosok tangan dengan gembira dan puas, merasa betapa siasat mereka berhasil baik dan para pendekar telah berdatangan ke lembah. Mereka itu percaya bahwa yang datang tentu banyak pendekar, tentu dengan jalan menyusup - nyusup dari berbagai jurusan.
Para pemimpin pasukan itu menanti sampai tidak nampak lagi adanya musuh yang menyusup memasuki lembah. Cuaca mulai remang-remang karena senja telah mendatang ketika lembah yang sunyi itu tiba - tiba menjadi gempar oleh suara terompet sebagai tanda bagi pasukan
- pasukan itu untuk menyerbu ke dalam lembah. Dan mereka itu dihadapkan pada suatu kenyataan yang mem-bingungkan ! Ternyata yang berada di dalam lem-bah itu hanya ada limabelas orang saja, di antara-nya malah tiga orang gadis cantik. Dan empatbe-las orang di antara mereka, karena yang seorang biarpun nampak gagah perkasa hanya tinggal diam saja, sudah menyambut pasukan dengan senjata pedang di tangan, lalu empatbelas orang pendekar itu menerjang dan mengamuk. Dan biarpun yang terjadi kemudian adalah sebuah pertempuran yang terlalu berat sebelah, empatbelas orang melawan beratus - ratus perajurit pemerintah yang dibantu oleh perajurit-perajurit asing, namun para perajurit itu benar-benar merasa kecelik karena ternyata bah-wa empatbelas orang ini lihai bukan main dan dalam waktu singkat saja sudah ada puluhan orang perajurit yang roboh! Melihat ini, para pimpinan pasukan cepat merobah siasat dan tak lama kemu-dian, yang maju mengeroyok hanyalah perajurit-perajurit yang pandai ilmu silat dibantu oleh per-wira - perwira yang lihai. Juga mereka ini mempergunakan senjata panjang seperti tombak dan toya agar tidak usah terlalu berdekatan dengan para pendekar yang lihai itu. Setelah diadakan siasat seperti ini, ditambah pula dengan bantuan para perajurit yang luar biasa banyaknya, mulailah para pendekar itu terdesak dan terhimpit!
Pek Lian melihat keadaan yang tidak mengun-tungkan. Memang, mereka telah berhasil mero-bohkan banyak lawan, akan tetapi pihaknya mulai terdesak dan ada dua orang pendekar yang sudah menderita luka cukup parah sehingga mereka itu mulai lemah. Tugas pasukan kecil ini memang hanya untuk memancing dan mengalihkan perha-tian, agar musuh memusatkan kekuatan di lembah ini sementara Liu Pang dan pasukannya menyerbu kota. Akan tetapi untuk menyuruh teman - teman-nya mundur, Pek Lian khawatir kalau - kalau hal itu akan menggagalkan usaha gurunya. Ia harus dapat bertahan selama mungkin dan baru setelah melihat tanda rahasia gurunya, yaitu sorak - sorai dan panah api ke udara ia boleh meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, keadaan pasukannya yang kecil mulai terhimpit dan hanya ia sendiri, Siok Eng, Seng Kun dan Bwee Hong sajalah yang masih kelihatan segar. Namun, berapa lama mereka akan dapat bertahan menghadapi lawan yang begini ba-nyaknya ? Tiba-tiba Pek Lian teringat kepada A-hai. Pemuda ini masih berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat menyaksikan pertempuran. Ia ta-hu bahwa pemuda itu amat membenci perkelahian dan merasa ngeri kalau melihat darah. Darah ! Itulah yang akan membuat A - hai kumat dan kalau pemuda itu kumat dan ia dapat mempergunakan kedahsyatan kepandaian A - hai, tentu ia dan ka-wan - kawannya akan dapat tertolong dan perta-hanan itu dapat dilakukan cukup lama sehingga gurunya mendapatkan kesempatan cukup banyak untuk melakukan penyerbuan ke kota Yen - tai.
Pada saat itu, sebatang tombak menyambar dan menusuk ke arah lambungnya dari kanan. Pek Lian membiarkan saja tombak itu lewat, hanya miringkan sedikit tubuhnya dan begitu nampak bayangan tombak lewat, cepat ia menangkap ba-tang tombak dengan tangan kirinya, lalu membetot dengan pengerahan sinkang dan berbareng tubuh-nya membalik ke kanan, pedangnya menyambar dan terdengarlah pekik mengerikan ketika lawan yang memegang tombak itu roboh dan darah muncrat dari dadanya. Pek Lian melangkah maju dan se-ngaja membiarkan tangan kirinya terkena percikan darah yang cukup banyak. Setelah itu, sekali lon cat ia telah mendekati A- hai yang memandang de-ngan mata terbelalak.
"A - hai bantulah aku !" kata Pek Lian sambil menangkap lengan kanan pemuda itu dengan tangan kirinya yang bernoda darah.
"Ah, aku...... aku tidak berani, Pek Lian... aku tidak suka berkelahi" jawab A-hai menggelengkan kepalanya.
"Lihat, lenganmu berlepotan darah, A-hai !"
Tiba - tiba Pek Lian menepuk lengan itu dengan keras dan begitu A-hai melihat ke arah lengan-nya, seketika wajahnya menjadi pucat, matanya terbelalak, dan tubuhnya gemetaran.
"Darah... ! Darah... ! Ahhh, ibuuuu... darah... darah... !!" Makin keras tubuh itu gemetar dan kini dengan hati ngeri Pek Lian men-dengar suara berkerotokan di seluruh tubuh pemuda itu !
Pada saat itu, dua orang musuh sudah mener-jang Pek Lian dari kanan kiri, menggunakan golok mereka. Kedua orang ini adalah perwira-perwira
musuh yang cukup lihai. Pek Lian yang sudah melihat betapa terjadi perobahan pada diri A - hai, cepat mengelak sambil menarik lengan A - hai ke arah dua orang penyerang itu dan berkata, "A - hai, tolonglah aku !"
"Bresss... !" Tubuh A-hai bertemu dengan terjangan kedua orang itu dan sebatang golok menghantam pundaknya, akan tetapi golok itu mental dengan keras seperti bertemu baja.
"Aku menolongmu, Pek Lian, aku menolong-mu!" A-hai berkata di antara tangisnya dan se- kali kedua tangannya merenggut, dia sudah men-jambak rambut dua orang perwira itu dan menga-du kepala mereka.
"Prakkk... !" Pecahlah dua kepala perwira itu dan A-hai melontarkannya ke depan, lalu diapun mengamuk ! Siapa saja yang dekat dengan dia, tentu terkena sambaran angin pukulannya yang cukup membuat orang terlempar, terbanting dan semaput! Semua senjata yang mengenai dirinya, mental seperti mengenai baja sehingga tentu saja keadaan menjadi geger! Akan tetapi celakanya, A - hai tidak memandang bulu. Ketika dia kebe-tulan dekat dengan Seng Kun, diapun menghantam dan Seng Kun yang sudah tahu akan kehebatan pemuda ini, cepat menggulingkan tubuhnya karena untuk mengelak sudah tidak keburu lagi. Diapun terguling - guling dan meloncat bangun dengan muka pucat, maklum betapa berbahayanya pu-kulan A - hai tadi.
Pek Lian cepat mendekati Bwee Hong. "Enci, mari kita bujuk dia agar membantu kita dan jangan menjauh dari kita !"
Wajah Bwee Hong berobah merah dan meng-angguk, lalu menerobos di antara hujan senjata itu mendekati A - hai.
"A - hai, bantulah aku !" Pek Lian berseru.
"Pek Lian, aku membantumu !" A - hai berkata seperti orang mimpi dan diapun menubruk ke arah seorang Mongol tinggi besar yane mengeroyok Pek Lian. Orang Mongol itu bertubuh raksasa dan nampak kuat sekali, maka melihat A - hai menu-bruknya, dia menyeringai lebar dan kedua lengan-nya yang panjang dan besar itu segera diulur dan menangkap. Tangan kanan dengan jari - jari pan-jang besar itu mencengkeram pundak dan tangan kiri mencengkeram bahu, kemudian raksasa Mo-ngol yang menjadi ahli gulat itu mengerahkan te-naga hendak mengangkat tubuh lawannya yang jauh lebih kecil darinya itu untuk kemudian diban-ting. Akan tetapi, tubuh kecil itu tidak bergoyang sedikitpun juga, jangankan terangkat! Si Mongol mendengus - dengus mengerahkan kekuatannya, dari mulutnya terdengar suara ah - ah - uh - uh dan mukanya menjadi merah, otot - ototnya menggem-bung seperti orang sakit perut tak dapat buang air besar dengan lancar.
Tadinya A - hai yang sedang kumat itu agaknya bingung dan heran mengapa orang ini memeluk-meluknya, seperti tidak mengajak berkelahi, kemu-dian agaknya dia merasa bosan dan sekali kedua tangannya menangkap pinggang yang besar itu dan membentak, tubuh raksasa itu terangkat ke atas, kemudian dibanting.
"Brukkk... !!" Tubuh besar itu terbanting keras dan berkelojotan, mengeluarkan suara tidak karuan dan orang itupun sekarat karena tulang punggungnya patah ketika terbanting tadi.
"A - hai, bantulah aku... !" Bwee Hong mencoba untuk berteriak setelah dianjurkan oleh Pek Lian. Dara inipun sedang menandingi pengeroyokan empat orang lawan.
"Bwee Hong, aku membantumu !" teriak A - hai dan sekali meloncat, diapun sudah menggerakkan kedua tangan mendorong dan dua orang pengero-yok Bwee Hong terjengkang dan muntah darah, tewas tanpa tersentuh tangan pemuda itu sedikit-pun juga!
Ternyata A - hai dalam keadaan kumat itu masih teringat kepada Pek Lian dan Bwee Hong. Pek Lian berteriak kepada Siok Eng dan Seng Kun untuk mencoba pula. Akan tetapi ketika dua orang ini minta bantuan A - hai, pemuda sinting itu sama sekali tidak menjawab, bahkan dengan bingung dia menyerang Siok Eng dengan dorongan tangan kirinya. Angin pukulan dahsyat menyambar ke arah gadis itu.
"Ilihhhh ...... !" Siok Eng berseru kaget dan karena melihat tidak ada kesempatan menghindar lagi, puteri ketua Tai - bong - pai inipun lalu meng-gunakan kedua tangannya menolak dan biarpun belum sempurna, tenaga sakti Asap Hio melin-dunginya dan dari kedua tangannya meluncur uap putih. Bagaimanapun juga, tetap saja ketika dua tenaga sakti bertemu, tubuh dara ini terguling dan untung ia cepat menggulingkan tubuhnya ke kiri dan meloncat bangun dengan muka pucat.
Karena maklum bahwa A - hai hanya mengenal ia dan Bwee Hong, Pek Lian lalu mengeluarkan saputangan kuning dan merobek - robeknya, mem-bagi - bag'kan robekan kain kuning itu kepada semua anggauta rombongannya yang masih sibuk menghadapi pengeroyokan banyak musuh dan me-nyuruh mereka memasang kain kuning itu pada rambut masing - masing.