"Engkau harus mempertanggungjawabkan keja-hatan gurumu !" bentaknya dan tiba - tiba gadis itu menyambar pedang yang tadi diletakkan di atas tanah dan dengan pedang itu diserangnya Kwee Tiong Li yang menjadi terkejut sekali.
"Trang - trang - tranggg ! !" Tiga kali Tiong Li mengangkat tongkat untuk menangkis serangan pedang itu dan dia sengaja tidak mengerahkan te-naga agar pedang di tangan gadis yang sedang kalap itu tidak sampai terlepas. Sementara itu, yang lain - lain sudah cepat turun tangan melerai.
"Nona Ho, dalam keadaan seperti ini, tidak baik sembarangan saja menuduh orang," kata Liu Pang. Pemimpin inipun melihat bahwa sikap pemuda dan kakek itu tidak seperti musuh, maka diapun ber-hati - hati dan tidak mau menyangka orang tanpa melihat buktinya lebih dahulu.
"Nona, aku tidak tahu-menahu dan tidak men-campuri urusan ini!" kata Tiong Li dengan wajah berduka.
"Nona, semenjak kita saling berpisah, Tiong Li selalu bersamaku. Dia tidak mempunyai hubungan lagi dengan segala macam pemberontakan," kakek Kam Song Ki juga menerangkan.
Pek Liian sadar akan kelancangannya, maka de-ngan muka merah ia memandang kepada Tiong Li sambil berkata, "Maafkan pikiranku sedang kacau "
Tiong Li tersenyum kasihan. "Tidak mengapa nona. Aku mengerti."
Liu Pang lalu mengeluarkan segulung kain lebar dan jenazah itu dibungkus, kemudian mereka pergi meninggalkan lembah itu. Setelah tiba di luar lembah, kakek Kam Song Ki berkata, "Kami berdua harus pergi dari sini. Selamat tinggal!" Dan sekali berkelebat, kedua orang itupun lenyap dari depan mereka.
Melihat ini, Liu Pang menggeleng - geleng ke-palanya dengan penuh kagum. "Di jaman ini masih ada orang dengan ginkang seperti itu, sungguh sukar untuk dipercaya kalau tidak melihatnya sen-diri."
"Suhu, kakek itu adalah murid ke tiga dari mendiang Sin - yok - ong locianpwe," kata Pek
Lian.
Liu Pang mengangguk-angguk dan menjadi semakin kagum, juga diam - diam dia merasa
heran mengapa kini bermunculan keturunan dari para datuk sakti di jaman dahulu. Apakah ini menjadi pertanda akan terjadinya perobahan besar di dunia? Pemimpin ini sama sekali pada saat itu tidak per-nah mengira bahwa dialah orangnya yang akan mendatangkan perobahan besar itu seperti terbukti dalam sejarah bahwa Liu Pang inilah yang kelak akan menjadi kaisar yang berkuasa penuh !
* * * Jenazah Menteri Ho dipanggul oleh Liu Pang sendiri dan fajar telah menyingsing ketika rom- bongan itu tiba kembali di dalam hutan, di mana para pendekar berkumpul. Jenazah itu dengan upacara sederhana namun penuh hormat, menerima penghormatan para pendekar itu, kemudian dipe-rabukan.
Setelah upacara penyempurnaan jenazah Men-teri Ho selesai, pada pagi hari itu juga Liu Pang mengadakan musyawarah dengan para pimpinan pendekar, dihadiri pula oleh Pek Lian, Bwee Hong, Siok Eng, Seng Kun, dan A - hai. Sebelum mu-syawarah dimulai, Liu Pang yang sudah mendengar keterangan muridnya tentang kawan - kawan mu-ridnya itu berkata, "Saudara sekalian hendaknya maklum bahwa Chu - taihiap ini dan adiknya, ada-lah dua orang utusan pribadi sri baginda kaisar..."
"Ahhh ! !" Beberapa orang pendekar kaget dan memandang dengan mata terbelalak.
Liu Pang mengangkat tangan menyuruh mereka tenang. "Harap kalian tenang. Mereka ini adalah putera dan puteri dari Bu Hong Sengjin kepala kuil istana Thian - to - tang yang berpihak kepada para menteri yang baik. Dan mereka ini diutus oleh kaisar untuk menyelamatkan Menteri Ho. Jadi, pekerjaan mereka ini sama sekali tidak bertentang-an dengan perjuangan kita." Mendengar ini, para pendekar itu mengangguk-angguk dan tidak men-jadi gelisah lagi.
"Dan nona Kwa Siok Eng ini adalah puteri dari ketua Tai - bong - pai "
Kembali para pendekar menjadi terkejut dan gelisah. "Pemuda kurus yang bernama Kwa Sun Tek itupun putera ketua Tai - bong - pai dan dia membantu persekutuan pemberontak!"
"Kwa Sun tek adalah kakak kandungku, akan tetapi dia menyeleweng dari peraturan Tai - bong-pai yang tidak membolehkan semua anggautanya melibatkan diri dengan urusan orang lain, apa lagi urusan pemberontakan. Jadi, kalau dia bersalah, harap kalian jangan melibatkan Tai - bong - pai yang tidak tahu apa - apa, itu adalah kesalahan pribadinya."
Keterangan nona itu cukup jelas dan dapat di-terima karena orang - orang muda itu adalah sa-habat - sahabat dari nona Ho Pek Lian, maka merekapun dapat mempercaya keterangan gadis Tai - bong - pai itu.
"Dan saudara A - hai ini adalah seorang sahabat yang sudah banyak membantuku." Pek Lian me-lanjutkan keterangan gurunya karena tidak ada seorangpun di antara mereka yang tahu betul siapa sebenarnya pemuda aneh ini. Bahkan orangnya sendiripun tidak tahu asal - usulnya sendiri.