"Akan tetapi, bagaimana kalau pada suatu hari ayah ibuku dapat menemukan kita, subo?"
"Mungkin saja, karena mereka orang-orang yang lihai. Dan kalau terjadi hal itu, tentu mereka akan memaksa untuk membawamu pergi, dan aku akan mempertahankan. Kalau sudah begitu, aku hanya mengharapkan kebijaksana-anmu dan kejujuranmu juga kesetiaanmu akan janji dan sumpahmu."
"Jangan khawatir, subo"
Kata anak perempuan itu dengan sikap gagah.
"Aku sudah berjanji dan bagiku, janji adalah kehormatan. Seorang gagah lebih mengutamakan kehormatan daripada nyawa. Dan aku yakin bahwa ayah dan ibu juga tidak ingin melihat anak mereka menjadi seorang pengkhianat yang melanggar sumpahnya sendiri!"
"Bagus, anakku yang baik, muridku yang hebat kelak engkau akan amat berguna bagiku. Aku girang sekali telah menolongmu, Hong Li. Mari ikutlah aku, kita pulang."
"Pulang?"
"Ya, pulang."
Sin-kiam Mo-li tersenyum.
"Kau kira aku tidak mempunyai tempat tinggal? Marilah, dan engkau akan merasa senang sekali tinggal di rumahku, eh, sekarang menjadi rumah kita."
Akan tetapi, ternyata bahwa mereka harus melakukan perjalanan sampai puluhan hari untuk dapat tiba di tempat tinggal Sin-kiam Mo-li, karena tempat itu berada di tepi Sungai Cin-sa di kaki Pegunungan Heng-tuan, di tapal batas sebelah barat dari Propinsi Secuan!
Dengan melakukan perjalanan yang cepat dan jarang berhenti, Kao Cin Liong dan Suma Hui akhirnya tiba juga di Lhasa, di kota terbesar daerah Tibet itu, tempat yang menjadi pusat dari pemerintahan para Dalai Lama, dan juga menjadi pusat para pendeta Lama. Tempat ini dianggap keramat oleh para pendeta Lama dan oleh seluruh rakyat di Tibet. Kao Cin Liong adalah seorang yang sudah banyak pengalaman. Ketika dia menjadi seorang panglima kerajaan, dia pernah memimpin pasukan sampai di Tibet, dan sebagai seorang panglima, dia amat dikenal di jaman itu. Maka, kini dia memasuki daerah Tibet tanpa merasa asing. Isterinya, Suma Hui yang belum pernah melihat kota Lhasa, memandang penuh kagum dan diam-diam merasa khawatir.
Tembok kota Lha-sa demikian kokoh kuat, dan istana yang menjadi pusat para pendeta Lama itu demikian megah, besar dan indah. Kalau puterinya berada di dalam istana itu, bagaimana ia akan mampu mengeluarkannya? Akan tetapi. ketenangan suaminya menimbulkan kembali kepercayaan diri dan keyakinannya bahwa mereka berdua pasti akan dapat menemukan dan membawa pulang puteri mereka tercinta, anak tunggal mereka. Para pendeta Lama yang menjadi pimpinan di situ, banyak di antaranya yang mengenal bekas Panglima Kao Cin Liong dan merekapun menyambut kunjungan suami isteri itu dengan hormat dan ramah. Suami isteri pendekar itu tidak mau menceritakan kehilangan anak mereka, dan mereka hanya mengatakan bahwa mereka mempunyai urusan pribadi yang penting dengan seorang pendeta Lama berjuluk Ang I Lama.
"Mohon petunjuk para suhu apakah di sini terdapat seorang suhu yang berjuluk Ang I Lama, karena kami berdua sengaja datang dari jauh untuk mencarinya, untuk suatu urusan pribadi yang penting antara suhu Ang I Lama dan kami,"
Demikian antara lain Kao Cin Liong menyatakan keperluan kunjungan mereka di tempat suci itu.
"Omitohud.... aneh sekali kalau ada tamu mencari Ang I Lama untuk urusan pribadi, karena setahu kami, sudah hampir dua tahun Ang I Lama mengasingkan diri dan tidak pernah berurusan dengan dunia luar. Akan tetapi kalau taihiap ingin mengetahui tempat tinggalnya, Ang I Lama kini berada di dalam guha di puncak Bukit Biruang Putih, tidak jauh dari sini."
Suma Hui tidak dapat menahan keinginan tahunya. Setelah suaminya mengucapkan terima kasih atas keterangan itu, iapun bertanya,
"Cu-wi losuhu, kalau tidak salah, suhu Sai-cu Lama juga berasal dari sini, bukan?"
Mendengar pertanyaan ini, para pendeta Lama saling pandang dan muka mereka menjadi kemerahan.
"Omitohud....!"
Seorang di antara mereka menjura ke arah Suma Hui.
"Semoga Sang Buddha mengampuni kami. Memang benar, lihiap, Sai-cu Lama berasal dari sini. Akan tetapi dia murtad dan untung ada Tiong Khi Hwesio yang menolong kami dan menundukkannya. Sahabat kami Tiong Khi Hwesio sudah mengunjungi kami beberapa hari yang lalu dan sudah menceritakan bahwa dia berhasil melenyapkan Sai-cu Lama berkat bantuan para pendekar dan di antara mereka yang membantu untuk membasmi komplotannya termasuk ji-wi. Karena itu, dalam kesempatan ini, pinceng mewakili saudara kami sekalian menghaturkan terima kasih kepada ji-wi."
Kao Cin Liong dan isterinya cepat membalas penghormatan itu, dan bekas panglima itu merasa tidak enak melihat sikap para pendeta Lama yang menjadi kikuk ketika disebut nama Sai-cu Lama yang dianggap mengotorkan nama para pendeta Lama di Tibet.
"Harap cuwi losuhu memaafkan kami. Isteriku menyebut nama Sai-cu Lama karena kami menduga bahwa ada hubungan antara Sai-cu Lama dan Ang I Lama."
Dengan ucapan ini, Cin Liong sengaja memancing keterangan tentang kedua orang pendeta Lama itu.
"Omitohud.... dugaan ji-wi memang tepat sekali, Ang I Lama adalah sute dari mendiang Sai-cu Lama, akan tetapi biarpun mereka itu saudara seperguruan, sungguh perbedaan antara mereka seperti bumi dengan langit. Sai-cu Lama menyeleweng dari pada kebenaran dan tersesat mengingkari ajaran-ajaran agama, sebaliknya Ang I Lama adalah seorang yang benar-benar taat kepada agama, bahkan selalu prihatin dan bertapa untuk mencari penerangan dan kedamaian."
Akan tetapi, keterangan bahwa ada hubungan saudara seperguruan antara kedua pendeta Lama itu, menambah keyakinan hati suami isteri itu bahwa mereka telah menemukan jejak yang benar. Tentu Ang I Lama menculik puteri mereka karena hendak membalas dendam atas kematian suhengnya, Sai-cu Lama pikir mereka. Mereka tahu bahwa dendam dapat saja membutakan mata batin manusia, dan bukan tidak mungkin kalau Ang I Lama yang katanya tekun bertapa itu tidak dapat menahan dendam sakit hatinya.
Setelah memperoleh keterangan dan petunjuk tentang tempat tinggal atau tempat bertapa Ang I Lama, suami isteri pendekar itu lalu menghaturkan terima kasih dan meninggalkan istana para pendeta Lama di kota Lhasa itu, dan dengan cepat mereka mendaki bukit yang bernama Bukit Biruang Putih karena dari jauh memang bentuknya seperti seekor biruang. Di musim dingin, puncak itu diliputi salju sehingga nampak seperti seekor biruang putih, dan di musim panas, masih nampak putih karena puncaknya adalah batu kapur yang gundul. Hari telah siang ketika suami isteri itu akhirnya tiba di depan guha besar, sebuah guha di puncak bukit kapur dan guha itu sudah memakai pintu kayu buatan manusia. Sunyi sekali di situ dan pemandangan alam dari depan guha memang amat indahnya.
Dari situ nampak kota Lhasa, bahkan istana para pendeta Lama juga nampak dari situ, kelihatan seperti mainan saja, namun amat indahnya. Suma Hui berkeringat karena ketegangan hatinya. Ia membayangkan akan dapat menemukan puterinya di dalam gua itu, maka hatinya tegang bukan main. Masih selamatkah puterinya? Dan akan mampukah ia dan suaminya merampas kembali puteri mereka kembali? Menurutkan dorongan hatinya, ingin Suma Hui menerjang dan menghancurkan pintu guha itu, namun suaminya yang maklum akan keadaan hati isterinya, menggeleng kepalanya memberi isyarat, lalu dia sendiri mendekati pintu kayu yang tertutup dan berkata dengan suara menghormat tidak keras akan tetapi karena dia mengerahkan khi-kangnya, maka suara itu dapat menembus daun pintu ke dalam guha.
"Locianpwe Ang I Lama, maafkan kalau kami datang mengganggu. Kami suami isteri Kao Cin Liong dan Suma Hui dari jauh di timur datang berkunjung untuk bertemu dan bicara dengan locianpwe!"
Keheningan menjawab suara Kao Cin Liong. Suami isteri itu menanti sampai beberapa lama, namun tidak ada jawaban. Mereka saling pandang dan kemarahan nampak di wajah Suma Hui. Wanita ini melangkah mendekati pintu dan tanpa dapat dicegah suaminya lagi, ia menggedor pintu itu.
"Dor-dor-dorrr....!"
Daun pintu itu terguncang, lalu ia berteriak, suaranya nyaring sekali.
"Ang I Lama, engkau telah menculik puteri kami! Keluarlah dan kembalikan puteri kami kepada kami atau aku akan menghancurkan daun pintu guha ini!"
Kini segera terdengar suara dari balik pintu itu,
"Omitohud.... apakah dosa pinceng maka hari ini kejatuhan fitnah yang keji ini....?"
Daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah seorang kakek yang berpakaian serba kuning dengan jubah lebar berwarna merah. Kakek ini usianya sekitar enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus, dengan sepasang mata yang tajam namun lembut sinarnya, dan wajahnya yang nampak sabar dan tenang. Dengan langkah lambat dia keluar pintu guha dan menghadapi suami isteri itu dengan sinar mata mengandung keheranan. Sejenak matanya memandang kepada suami isteri itu penuh selidik, kemudian dia berkata lagi.
"Omitohud, tadi pinceng mendengar bahwa ji-wi adalah Panglima Kao Cin Liong dan isterinya Suma Hui. Benarkah itu?"
"Saya bukan panglima lagi, locianpwe. Benar saya adalah Kao Cin Liong dan ini isteriku Suma Hui. Kami datang dari Pao-teng, sengaja untuk mencari dan menemui locianpwe."
"Omitohud.... sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagi pinceng. Sayang pinceng tidak dapat menyambut dengan kehormatan, akan tetapi, ada urusan penting apakah maka ji-wi jauh-jauh datang mencari pinceng?"
Suma Hui sudah tidak sabar lagi. Tadi ketika kakek itu muncul, ia mengharapkan kakek itu akan disertai Hong Li. Akan tetapi anak itu tidak nampak, maka ia merasa khawatir sekali.
"Bukankah engkau yang berjuluk Ang I Lama?"
Tiba-tiba ia bertanya dengan sikap ketus. Sikapnya ini membuat kakek itu memandang heran, akan tetapi dengan lembut dia mengangguk.