"Aku akan berterima kasih sekali, bibi."
Wanita itu tersenyum. Manis sekali kalau tersenyum.
"Apa gunanya terima kasih untukku? Dengar, Hong Li. Aku akan menandingi Ang I Lama dan kalau berhasil mengalahkannya, aku akan membebaskanmu. Akan tetapi, untuk itu aku minta engkau berjanji bahwa engkau akan mengangkat aku sebagai ibu dan guru."
"Eh, mengapa sebagai ibu?"
Hong Li terheran.
"Aku.... aku merindukan seorang anak dan engkau pantas menjadi anak angkatku, Hong Li. Nah, maukah engkau?"
"Menjadi anak angkat dan murid?"
"Bukan itu saja. Engkau harus berjanji mengangkat aku sebagai ibu dan guru, kemudian juga bahwa selama lima tahun engkau akan hidup bersamaku, mempelajari ilmu dan menemani aku sebagai ibu angkatmu."
Hong Li merasa bimbang. Permintaan yang aneh-aneh. Akan tetapi wanita ini hendak mempertaruhkan nyawa menolongnya dan kalau benar dapat mengalahkan Ang I Lama, memang wanita ini patut menjadi gurunya. Juga apa salahnya mengangkat seorang wanita baik yang menyelamatkannya sebagai ibu?
"Hanya itu?"
Ia bertanya lagi.
"Hanya itu, juga engkau harus berjanji bahwa selamanya, melindungi aku dari gangguan dan serangan siapapun juga."
Tentu saja permintaan terakhir ini tidak berat, bahkan tanpa diminta sekalipun, siapa yang tidak akan melindungi dan membela ibu angkatnya dari serangan orang lain? Kembali ia mengangguk.
"Baiklah, aku berjanji...."
"Hong Li, urusan ini bukan main-main, melainkan persoalan hidup atau mati bagiku, juga menyangkut kebahagiaan hidupku selanjutnya, karena itu, tidak cukup engkau berjanji. Bersumpahlah!"
Kembali Hong Li terkejut. Selamanya belum pernah ia bersumpah dan permintaan wanita ini agar ia bersumpah mengejutkannya dan membuatnya bimbang. Akan tetapi hanya untuk sebentar saja. Janji dan sumpahnya untuk sesuatu yang baik, apa salahnya kalau ia akan diselamatkan dan ditolong oleh wanita ini.
"Baikiah, subo (ibu guru). Saya bersumpah kalau subo dapat membebaskan aku dari tangan Ang I Lama, aku akan mengangkatmu sebagai ibu dan juga sebagai guru, dan aku akan membela dan melindungimu dari gangguan siapa-pun juga!"
Wanita itu nampak girang bukan main, membungkuk dan mencium pipi Hong Li dengan bibirnya.
"Anakku sayang, muridku yang hebat! Kau tunggu saja, agar jangan mendatangkan curiga, sementara engkau rebah dalam keadaan terikat dulu. Aku akan menghadang Ang I Lama di luar dan aku akan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaianku untuk mengalahkannya." Setelah berkata demikian, wanita itu meloncat dan lenyap dari dalam kamar itu. Hong Li termenung. Hatinya diliputi kebimbangan. Memang, dari gerakannya ketika meloncat atau menghilang tadi, ia dapat mengetahui bahwa wanita yang belum diketahui namanya itu memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi, mampukah wanita itu mengalahkan Ang I Lama yang demikian saktinya? Apa lagi kalau diingat bahwa Ang I Lama memiliki ilmu sihir, ia bergidik. Andaikata wanita cantik itu memiliki ilmu silat tinggi seperti ibunya dan mampu menandingi Ang I Lama dalam perkelahian, akan tetapi bagaimana kalau kakek Tibet itu mempergunakan ilmu sihir? Kalau wanita itu sampai kalah dan tertawan, terluka atau bahkan terbunuh, ia akan merasa semakin menyesal karena berarti bahwa kematian wanita itu adalah karena membelanya! Waktu terasa merayap lambat sekali bagi Hong Li yang tenggelam dalam ketegangan sejak munculnya wanita cantik itu. Ia bahkan terkejut ketika muncul Ang I Lama dari pintu. Kakek itu menjenguknya lalu tertawa melihat betapa ia masih rebah terlentang dengan kaki tangan terikat.
"Ha-ha-ha, sudah cukupkah engkau merenungkan nasibmu? Nanti kalau, matahari mulai memasukkan sinarnya melalui jendela itu, aku akan datang dan minta keputusanmu, apakah engkau mau menyerah ataukah memilih mati tersiksa. Ha-ha-ha!"
Ang I Lama lalu keluar lagi sambil tertawa. Tiba-tiba perhatian Hong Li tertarik oleh suara yang terdengar dari luar kamar itu. Terdengar suara gedebugan dan gerakan orang berloncatan, disusul bentakan Ang I Lama,
"Sin-kiam Mo-li, berani engkau menyerangku?"
Lalu terdengar jawaban yang mendebarkan hati Hong Li karena ia mengenal suara wanita cantik tadi
"Ang I Lama, tinggalkan tempat ini dan biarkan aku yang mengurus Kao Hong Li karena ia berjodoh untuk menjadi anak angkatku!"
"Ha-ha-ha, Sin-kiam Mo-li, apakah engkau hendak mengantar kematianmu maka berani mencampuri urusanku? Nah, terimalah kematianmu!"
Kembali terdengar suara gedebugan dan Hong Li dengan mata terbelalak dan hati berdebar penuh ketegangan dan kekhawatiran mendengar gerakan orang yang sangat ringan dan cepat. Juga terdengar suara berdesing-desing. Ia menduga bahwa yang bersenjata pedang itu tentulah Sin-kiam Mo-li karena bukankah julukannya itu sudah menunjukkan bahwa wanita itu merupakan seorang ahli pedang. Sin-kiam Mo-li (Iblis Betina Berpedang Sakti), julukan yang mengerikan. Kenapa wanita secantik dan sebaik itu dijuluki Iblis Betina, pikir Hong Li dengan penasaran. Diam-diam ia berdoa agar wanita itu memperoleh kemenangan dalam perkelahian yang terjadi di luar kamar itu. Tak lama kemudian, di antara suara gerakan orang bersilat itu, terdengar seruan Ang I Lama,
"Kiam-sutmu hebat juga. Akan tetapi lihat, apakah ini?"
Dan terdengarlah suara ledakan-ledakan yang mengejutkan hati Hong Li karena anak itu maklum bahwa tentu pendeta Lama itu telah mempergunakan ilmu sihirnya. Ia memandang khawatir sekali ke arah pintu dan melihat asap putih mengepul di luar pintu itu. Celaka, pikirnya, mampuskah Sin-kiam Mo-li menghadapi ilmu sihir yang aneh itu? Akan tetapi, terdengar suara ketawa lembut wanita itu.
"Hemm, Ang I Lama, permainan sihirmu ini merupakan permainan kanak-kanak bagiku."
Kembali terdengar suara gedebugan, disusul suara Ang I Lama berteriak seperti orang kesakitan.
"Ahhhh. engkau benar lihai....!"
Dan suara perkelahian itupun terhenti, tanda bahwa di luar kamar tidak ada lagi orang berkelahi. Hong Li sampai merasa pedas pada matanya karena sejak tadi ia memandang ke arah pintu dengan mata terbelalak, tak pernah berkedip, dengan hati tegang. Ia tidak tahu bagaimana kesudahan perkelahian itu, akan tetapi mendengar suara-suara mereka tadi, ia merasa yakin bahwa penolong-nya tidak kalah walaupun pendeta Tibet itu mempergunakan ilmu sihir. Dugaannya terbukti kebena-rannya ketika ia mendengar langkah kaki halus dan muncullah Sin-kiam Mo-li di ambang pintu. Sinar lampu yang tidak begitu cerah menimpa wajah yang nampak cantik itu dan wanita itu tersenyum.
"Subo, kau menang....! Hong Li berseru dan wanita itu semakin girang.
Sejak bersumpah, anak ini telah menyebutnya subo! Ia lalu melangkah menghampiri dipan.
"Subo, bagaimana engkau bisa melawan ilmu sihirnya? Wanita itu memperlebar senyumnya.
"Sihir merupakan permainan kanak-kanak bagiku, Hong Li. Lihat ini!"
Ia menggerakkan kedua tangannya ke arah tangan dan kaki Hong Li dan.... ikatan pada pergelangan tangan dan kaki anak itupun putus-putus dan Hong Li bebas seketika! Dengan girang dan kagum sekali Hong Li bangkit dari pembaringan, kemudian, sebagai seorang anak angkat dan murid yang tahu diri, ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki wanita itu.
"Subo, terima kasih atas pertolonganmu!"
Sin-kiam Mo-li merangkul Hong Li dan mengangkatnya bangun. Hong Li memandang wanita itu dengan wajah berseri.
"Ah, subo tentu lihai sekali mempergunakan pedang-pedang itu."
Ia menudingkan ke arah sepasang pedang yang berada di punggung Sin-kiam Mo-li. Sebatang pedang pendek dan sebatang pedang panjang.
"Mengingat akan julukan subo, Sin-kiam Mo-li, tentu subo merupakan ahli pedang yang hebat!"
Wanita itu mengangguk-angguk.
"Hong Li, engkau takkan kecewa menjadi anak angkat dan muridku."
Tiba-tiba teringatlah Hong Li bahwa ia sudah bersumpah mengangkat guru dan ibu kepada wanita ini, dan selama lima tahun ia akan ikut dengan wanita ini, bahkan berjanji akan membela dan melindunginya kelak selama hidupnya. Teringatlah ia akan orang tuanya sendiri dan tiba-tiba saja ia menjadi bingung. Sin-kiam Mo-li memiliki pandang mata yang ta-jam. Ia melihat kebimbangan menyelimuti wajah anak itu, maka iapun bertanya sambil mengerutkan alisnya,
"Ada apakah, Hong Li?"
Hong Li adalah seorang anak yang berwatak jujur. Ia memandang wajah gurunya dan berkata,
"Subo, tiba-tiba saja aku teringat kepada ayah ibuku. Memang benar bahwa aku telah berjanji dan bersumpah kepadamu, dan aku juga akan memenuhi janjiku, selain mengangkatmu sebagai ibu dan guru, juga ikut bersamamu selama lima tahun dan kelak aku akan membela dan melindungimu. Akan tetapi, subo harus tahu bahwa orang tuaku tentu kehilangan aku dan kini mencari-cariku. Bagaimana kalau subo membawa aku lebih dulu pulang untuk berpamit kepada orang tuaku? Aku pasti akan memenuhi janjiku, aku hanya tidak ingin membuat mereka berkhawatir dan berduka."
Akan tetapi Sin-kiam Mo-li menggeleng kepala-nya.
"Hong Li, permintaanmu ini tentu saja tidak mungkin dapat kupenuhi. Bayangkan saja. Kalau kita bertemu dengan ayah ibumu, apakah engkau kira mereka akan mengijinkan aku pergi membawamu? Dan aku tidak ingin bentrok dengan mereka karena memperebutkan engkau, Hong Li. Hong Li dapat mengerti akan alasan subonya.