Halo!

Suling Naga Chapter 169

Memuat...

Kao Hong Li terkejut bukan main. Pedangnya telah menusuk perut, akan tetapi rasanya seperti menusuk segumpal baja saja dan pedangnya kini patah-patah menjadi tiga potong! Ia membuang gagangnya dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak, dan melihat betapa kakek itu tersenyum-senyum dan memandang sambil mengejek, ia marah sekali dan dengan nekat kini ia menyerang dengan kedua tangannya yang terkepal.

"Heh-heh-heh, engkau setan cilik yang nakal!"

Dan kini Hong Li mengalami hal yang membuatnya semakin terkejut dan heran. Tubuhnya terhalang sesuatu yang tidak nampak, seolah-olah ada tenaga yang menahannya dari depan sehingga gerakannya terhalang dan ia tidak dapat mendekati kakek itu! Betapa kuatnya ia menerjang, selalu ia bertemu dengan tenaga itu dan tubuhnya bahkan terdorong ke belakang. Setelah beberapa kali mencoba dan tidak berhasil, akhirnya Hong Li berdiri diam dan hanya menatap kakek itu dengan sinar mata tajam dan penuh kemarahan. Ia tahu bahwa kakek itu sakti sekali dan ia tidak berdaya, namun Hong Li tidak merasa takut sedikitpun juga.

"Kakek jahat, engkau pengecut besar!"

Tiba-tiba ia membentak. Kakek itu yang sedang tersenyum, tiba-tiba menghentikan senyumnya dan memandang kepadanya dengan alis berkerut dan ada kemarahan membayang pada mata yang tajam mencorong itu.

"Hemm. setan cilik, kenapa engkau berani memaki aku pengecut besar?"

"Kalau engkau bukan pengecut, tentu engkau tidak akan memusuhi aku, seorang anak kecil! Kalau engkau memang gagah dan memiliki kepandaian, tentu engkau akan menantang ayahku atau ibuku, bukan menculik dan melarikan diriku. Beranimu hanya mengganggu anak kecil, akan tetapi terhadap ayah dan ibuku, engkau melarikan diri sampai terkencing-kencing. Huh, pengecut besar tak tahu malu!"

Akan tetapi kini kakek itu tertawa bergelak.

"Haha-ha, dan engkau setan cilik amat gagah berani, sungguh mengagumkan sekali. Engkau memang berjodoh dengan pinceng, anak baik. Namamu Kao Hong Li, bukan? Heh-heh, dan aku bernama Ang I Lama. Engkau lihat sendiri, kepandaianku setinggi langit dan engkau beruntung sekali dapat ikut bersamaku!"

"Huh, kepandaianmu tidak ada artinya kalau engkau berani melawan ayah dan ibuku!"

Hong Li berseru mengejek, pada hal di dalam hatinya ia meragu apakah ayah dan ibunya akan mampu menandingi kakek yang selain lihai ilmu silatnya, juga lihai ilmu sihirnya ini. Menurut penuturan ibunya, kakek buyutnya yang bernama Suma Han berjuluk Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, selain sakti juga memiliki ilmu sihir yang amat hebat. Juga nenek Teng Siang In, isteri dari paman kakeknya yang bernama Suma Kian Bu dijuluki Pendekar Siluman Kecil, memiliki juga kekuatan sihir. Sayang ibunya sendiri tidak pernah mempelajari ilmu sihir dan hanya ahli dalam hal ilmu pawang ular yang pernah ia pelajari sedikit itu. Karena kakek itu hanya tertawa saja dan tidak menjawab, Hong Li lalu bertanya, suaranya masih terdengar ketus akan tetapi sedikitpun ia tidak memperlihatkan perasaan takut,

"Kakek jahat, engkau bernama Ang I Lama, seorang pendeta yang mestinya melakukan kebaikan di dunia ini. Akan tetapi kenapa engkau menculik aku tanpa sebab?"

"Ha-ha, sebabnya karena aku suka kepadamu, Kao Hong Li. Engkau akan menjadi muridku dan menemani hidupku yang sunyi."

"Hemm, kakek jahat, ke mana engkau hendak membawaku?"

Hong Li mulai merasa ngeri, membayangkan bahwa ia selanjutnya harus hidup bersama kakek mengerikan ini.

"Ke mana lagi kalau tidak ke Tibet?"

"Tidak, aku tidak mau!"

Kata Hong Li.

"Biar engkau akan membunuhku sekalipun, aku tidak sudi menjadi muridmu, tidak sudi ikut bersamamu!"

Setelah berkata demikian, Hong Li lalu meloncat keluar dari ruangan itu melalui pintu yang terbuka. Ia bermaksud melarikan diri dengan nekat. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara kakek itu berkata di depannya,

"Hong Li, aku di sini!"

Dan tahu-tahu kakek itu telah menghadang di depannya. Hong Li menengok dan dengan mata terbelalak me-lihat bahwa kakek tadi masih berada di dalam ruangan itu. Bagaimana mungkin kakek itu berubah menjadi dua orang? Ia lalu memutar tubuh ke kiri untuk melarikan diri melalui lorong di depan kamar, akan tetapi kembali terdengar suara kakek itu.

"Hong Li, aku berada di sini!"

Dan di depannya kembali sudah menghadang kakek itu. Ketika ia menengok, ternyata kakek yang berada di dalam kamar maupun yang pertama kali menghadangnya masih berada di tempat masing-masing. Dengan demikian, kini ada dua orang kakek yang sama! Ia memutar tubuh lagi dan kembali melihat munculnya seorang kakek lain yang sama sehingga sebentar saja ia sudah dikepung oleh banyak orang kakek yang sama! Hong Li dapat menduga bahwa ini tentu permainan sihir, maka dengan nekat ia menerjang ke depan.

"Ha-ha-ha, anak keras kepala berhati baja. Engkau memang nakal!"

Dan tiba-tiba Hong Li merasa banyak tangan menangkapnya sehingga ia tidak mampu bergerak lagi. Kemudian, kakek itu mengikat kaki tangannya dengan ikat pinggang, lalu memondong tubuhnya dan melemparkannya pula ke atas dipan yang tadi dan sama sekali tidak mampu bergerak karena ikatan kaki tangannya itu kuat sekali. Dan kini ia melihat bahwa kakek yang tadinya banyak itu kembali menjadi seorang saja. Kakek itu berdiri di dekat dipan, menyeringai.

"Heh-heh, bagaimana, anak nakal. Apakah engkau sekarang sudah menyerah dan mau ikut bersamaku dengan suka rela?"

"Tidak sudi!"

Hong Li membentak, masih galak walaupun kaki tangannya tidak mampu bergerak lagi.

"Engkau memilih mati?"

"Ya! Aku tidak takut mati!"

Kata Hong Li dengan gagah. Kakek itu memandang kepada Hong Li dengan sinar mata-penuh kagum.

"Bagaimana kalau sebelum mati kusiksa dulu? Engkau berani menghadapi siksaan?" "Tak perlu cerewet lagi! Mau bunuh, mau siksa, terserah, akan tetapi aku tidak sudi menyerah!"

"Huh, bocah tak tahu disayang! Biar kuberi engkau waktu semalam lagi untuk berpikir panjang. Besok aku datang lagi dan kalau engkau tetap menolak, aku akan menyiksamu sampai engkau merasa menyesal telah dilahirkan di dunia ini!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat kakek itupun lenyap dari situ. Hong Li rebah seorang diri dan setelah kakek itu pergi, barulah ia merasa ngeri membayangkan betapa ia akan disiksa sampai mati pada besok hari kalau ia tidak mau menyerah. Tidak, ia harus dapat melarikan diri, pikirnya. Ia tidak sudi menyerah, juga tidak ingin mati konyol. Mulailah ia berusaha menggerakkan kaki tangannya untuk melepaskan ikatan, namun sia-sia saja. Ikatan itu terlalu kuat sehingga kedua kaki tangannya sama sekali tidak mampu berkutik.

Ia teringat kepada ayah ibunya dan tak terasa lagi, dua titik air mata membasahi pelupuk matanya. Sekarang, setelah ditinggalkan kakek itu, ia mulai merasa ketakutan. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya kalau ia membayangkan siksaan yang tak dapat ia perkirakan. Kakek itu terlalu kejam, terlalu jahat. Entah siksaan apa yang akan diterimanya. Kalau ia dibunuh seketika, hal itu tidak ditakutinya, akan tetapi kalau ia disiksa perlahan-lahan, sungguh hal ini amat menakutkan. Akan tetapi menyerah menjadi murid kakek itu? Tidak, ia tidak sudi! Kakek itu terlalu jahat. Dan kalau ia menolak, ia akan di siksa sampai mati. Tidak, ia belum ingin mati, tidak mau mengalami derita siksaan. Sampai lewat tengah malam, Hong Li diombang-ambingkan oleh perasaan takut dan benci kepada kakek itu.

Menyerah salah, menolak juga salah. Ia bingung sekali dan kalau saja sejak kecil ia tidak digembleng sehingga memiliki semangat dan kegagahan, tentu anak yang baru berusia tiga belas tahun ini sudah menangis atau menjerit-jerit. Akan tetapi tidak, Hong Li hanya diam saja, hanya ada beberapa butir air mata membasahi pipinya dan ia menggigit bibirnya untuk mencegah tangis dan jeritannya. Tiba-tiba ada gerakan di pintu. Jantung di dalam dada Hong Li berdebar penuh ketega-ngan. Apakah kakek jahat itu sudah akan memulai dengan siksaannya pada hal malam belum lewat? Hong Li merasa betapa seluruh bulu di tubuhnya meremang saking ngerinya, Akan tetapi, yang muncul bukanlah kakek Ang I Lama yang dibencinya, melainkan seorang wanita cantik! Usia wanita itu sebaya dengan ibunya akan tetapi pakaiannya mewah sekali.

Tubuhnya tinggi ramping dan rambutnya digelung ke atas dengan dihias permata dan emas yang indah. Pakaiannya dari sutera tipis berwarna merah muda dan biru. Biarpun usianya tentu ada empat puluh tahun, namun wanita itu masih nampak muda, dengan sepasang mata yang lebar dan tajam. Begitu memasuki kamar dan melihat Hong Li memandangnya, wanita itu menaruh telunjuk di depan mulutnya sebagai tanda agar Hong Li tidak mengeluarkan suara berisik. Hong Li diam saja, memandang dengan heran, akan tetapi juga dengan penuh harapan. Mudah diduga dari sikapnya bahwa kedatangan wanita asing ini tentu bermaksud baik terhadap dirinya. Ketika wanita itu menghampiri pembaringan. Hong Li mencium bau yang harum seperti bunga mawar dan begitu wanita itu tersenyum kepadanya, ia merasa suka sekali. Seorang wanita cantik dan ramah, dan tentu datang untuk menolongnya, pikirnya.

"Bibi, engkau siapakah?"

"Sstttt....!"

Wanita itu mendesis lirih.

"Aku datang untuk menolongmu, akan tetapi aku harus dapat mengalahkan dulu Ang I Lama...."

Hong Li memandang terbelalak, kagum.

"Dapatkah engkau mengalahkan dia, bibi?"

Tanyanya, penuh keraguan mengingat akan kesaktian pendeta Lama yang menculiknya itu.

"Tidakkah labih baik bibi membebaskan aku, lalu kita melarikan diri selagi dia tidak berada di sini?"

Wanita itu menggeleng kepalanya.

"Engkau tidak tahu siapa Ang I Lama. Dia akan mengejar dan akhirnya aku harus berhadapan dengan dia pula. Tidak, aku harus lebih dulu mengalahkan dia, baru aku akan dapat membebaskanmu. Engkau bernama Kao Hong Li, ayahmu Kao Cin Liong putera Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir dan ibumu cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, bukan?"

Hong Li mengangguk, tidak merasa heran kalau wanita ini mengenal ayah ibunya, karena ia tahu bahwa nama ayah dan ibunya terkenal sekali di dunia kang-ouw.

"Aku suka dan kagum kepadamu. Engkau tabah dan berani, engkau keturunan para pendekar dan keluarga yang amat terkenal. Dan aku akan menghadapi Ang I Lama dengan taruhan nyawa untuk menolongmu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau aku minta engkau ingat akan pertolonganku dan membalas budi, bukan?"

Kembali Hong Li mengangguk. Kalau wanita ini menandingi Ang I Lama dengan mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya, tentu saja ia berhutang budi dan nyawa kepadanya.

Post a Comment