Dia menutup kata-katanya.
"Dan bagaimana Ayah dan Ibu dapat mengenal nama Bu Siok Lan? Apakah yang telah terjadi?"
Kini dialah yang ingin sekali mendengar dari mereka tentang Siok Lan yang tak pernah dijumpainya semenjak mereka berpisah sebagai musuh.
"Jadi dia itu puteri Panglima Nepal? Sialan!"
Wan Ceng mengepal tinjunya dan nampak marah sekali.
"Ini penghinaan namanya!"
"Tenanglah, isteriku. Ingat bahwa ayahnya adalah Bu-taihiap, seorang pendekar besar yang pernah menyelamatkan Pangeran...."
"Tidak peduli ayahnya pendekar atau dewa sekalipun, ibunya adalah seorang Panglima Nepal, panglima musuh. Bagaimana mereka itu berani menemui kita dan bicara tentang perjodohan?"
Nyonya itu berkata lagi dengan marah.
"Ayah, Ibu, apa yang sesungguhnya telah terjadi? Siapakah mereka yang datang menemui Ayah Ibu dan bicara tentang perjodohan?"
Cin Liong ingin sekali mendengar keterangan mereka. Karena melihat isterinya marah-marah, Kao Kok Cu mewakili isterinya, memandang kepada puteranya dan bertanya, suaranya sungguh-sungguh,
"Cin Liong, katakanlah, apakah ada hubungan cinta antara engkau dan Nona Bu Siok Lan itu?"
"Apa.... apa maksud Ayah....?"
Cin Liong bertanya dengan heran.
"Mendengarkan penuturanmu tadi, jelaslah bahwa antara engkau dan dia terdapat hubungan persahabatan, sungguhpun hubungan di pihakmu itu terjadi sebagai siasatmu untuk menyelamatkan pasukanmu yang terkepung. Akan tetapi di samping itu, apakah engkau jatuh cinta kepada gadis itu?"
Cin Liong mengerutkan alisnya dan membayangkan keadaan yang lalu ketika ia masih menjadi sahabat Siok Lan dan juga Ci Sian. Cintakah dia kepada Siok Lan? Terbayang wajah Ci Sian dah dia lalu menjawab tenang,
"Tidak, Ayah! Aku memang suka padanya karena dia seorang gadis yang amat baik, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku cinta padanya."
"Nah, apa kataku? Mereka itu tidak tahu malu!"
Wan Ceng berkata lagi.
"Mengapakah mereka, Ibu?"
Cin Liong bertanya.
"Keluarga yang tak tahu malu itu pernah bertemu dengan Pangeran Kian Liong dan hanya karena mereka kebetulan menyelamatkan Sang Pangeran maka mereka itu telah minta kepada Pangeran untuk menjadi perantara bagi mereka untuk memberitahukan kami bahwa mereka itu secara tak tahu malu sekali hendak mengikatkan perjodohan antara anak perempuan mereka itu denganmu!"
"Ahh....!"
Cin Liong terkejut juga mendengar berita ini. Tak disangkanya bahwa Panglima Nandini, yang telah dikalahkannya, yang tentu malah mendendam kepadanya, kini malah hendak menjodohkan puterinnya yang tunggal itu dengan dia!
"Kita harus menghadapi urusan ini dengan kepala dingin."
Kao Kok Cu berkata, sambil memandang kepada isterinya yang masih cemberut.
"Jadi sudah jelas bahwa antara engkau dan gadis itu tidak ada hubungan cinta, Cin Liong?"
"Tidak, Ayah."
"Dan bagaimanakah pendapatmu tentang uluran tangan mengadakan ikatan jodoh ini? Ingat, urusan perjodohan adalah urusanmu sendiri, Cin Liong, maka engkaulah yang berhak untuk memutuskan sendiri. Apalagi dalam hal ini, kami sebagai Ayah Bundamu belum pernah melihat gadis itu dan tidak tahu bagaimana watak-wataknya, sebaliknya engkau malah sudah bersahabat dengan dia sehingga engkau tentu mengerti pula bagaimana keadaan dan wataknya. Nah, bagaimana pendapatmu?" Pemuda yang sudah menjadi, jenderal dan sudah terbiasa dengan hal-hal yang hebat-hebat, bahaya yang besar-besar, namun sekali ini, ditanya tentang perjodohan, dia tidak mampu menyembunyikan rasa malunya dan wajahnya menjadi merah sekali.
"Ayah.... Ibu.... terus terang saja, aku belum mempunyai pikiran tentang perjodohan...."
"Jadi, berarti engkau menolaknya?"
"Ya, begitulah. Bukan menolak karena Siok Lan bukan seorang gadis yang baik, melainkan karena aku belum mempunyai pikiran untuk menikah, Ayah."
"Baiklah, kalau begitu, kami dapat memberi jawaban yang tegas kalau sampai keluarga itu datang menemui kami."
Urusan itu tidak diusik lagi dan keluarga ini lalu melanjutkan makan siang, kemudian Kao Kok Cu dan isterinya beristirahat, demikian pula Cin Liong yang baru saja pulang dan masih merasa lelah. Mereka mengambil keputusan untuk pergi atau berangkat melakukan tugas baru mencari pedang pusaka itu tiga hari kemudian. Akan tetapi pada keesokan harinya, lewat pagi menjelang siang, serombongan tamu datang mengunjungi rumah Jenderal Kao Cin Liong.
Cin Liong keluar menyambut dan terkejutlah dia ketika melihat Siok Lan yang datang bersama laki-laki setengah tua yang gagah perkasa, dan tiga orang wanita cantik, seorang di antaranya dikenalnya sebagai Panglima Nandini! Dia sudah diceritakan oleh ibunya yang mendengarnya dari Pangeran Kian Liong bahwa ayah Bu Siok Lan yang terkenal dengan julukan Bu-taihiap itu memiliki banyak isteri, dan Panglima Nandini, ibu Siok Lan adalah seorang di antara isteri-isterinya, entah isteri yang keberapa! Baru saja Cin Liong keluar, dia sudah disusul oleh ibunya dan ayahnya. Melihat Puteri Nandini dan Siok Lan yang sudah dikenalnya, Cin Liong segera maju memberi hormat dan bersikap biasa sebagai kenalan, seolah-olah puteri atau panglima itu bukan merupakan bekas panglima musuhnya.
"Ah, kiranya Bibi dan Adik Siok Lan yang datang berkunjung. Selamat datang, dan siapakah Paman dan para Bibi yang lain ini?"
Sejak tadi, dengan sepasang mata yang mencorong tajam itu Bu-taihiap sudah memandang kepeda pihak tuan rumah dan dia kagum bukan main melihat pemuda yang gagah perkasa itu, juga dia agak terkejut kemudian kagum memandang pria berlengan satu itu. Tak perlu diperkenalkan iagi, dia dapat menduga siapa adanya pria berlengan satu itu.
"Ah, kalau mataku yang sudah mulai tua ini tidak salah lihat, agaknya kami sekeluarga berhadapan dengan pendekar sakti yang namanya menjulang tinggi di langit, Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu, benarkah dugaan saya?"
Kata Bu-taihiap sambil menjura dengan sikap hormat namun terbuka dan sederhana. Melihat sikap dan mendengar ucapan ini saja, Kao Kok Cu sudah merasa tertarik sekali. Dia dapat mengenal orang yang sikapnya terbuka dan membayangkan pemandangan yang luas dan tajam. Dia pun cepat membalas penghormatan orang dan menjawab.
"Dan saudara yang perkasa tentulah pendekar yang dikenal dengan Bu-taihiap, bukan?"
"Ha-ha-ha, orang macam saya ini mana pantas disebut pendekar oleh Si Naga Sakti Gurun Pasir?"
"Silakan, silakan masuk, biarlah kami mewakili putera kami untuk mempersilakan tamu masuk ke ruangan dalam untuk bicara."