Dan dia menuding ke atas. Semua orang memandang dan benar saja, di atas sebatang balok melintang nampak seorang laki-laki tinggi besar bersembunyi dan hendak melarikan diri. Beberapa orang komandan pengawal bergerak dengan sigap, berloncatan ke atas dan menyerang Si Pembunuh yang terpaksa meloncat lagi ke bawah, ke dalam ruangan itu. Dia seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya memakai kedok hitam.
Gerakannya gesit dan ringan ketika dia meloncat turun, akan tetapi dia segera disambut oleh saorang panglima yang berkepandaian tinggi. Terjadilah perkelahian yang tidak memakan waktu terlalu lama karena pembunuh itu dikeroyok oleh banyak panglima dan komandan pengawal yang rata-rata berilmu silat tinggi dan yang pada waktu itu memang sedang berkumpul di ruangan itu. Pembunuh itu roboh oleh sebuah tendangan dan sebelum dia sempat meloncat bangun, dia telah diringkus! Seorang panglima merenggut kedoknya terlepas dan terkejutlah semua orang ketika mengenal orang itu sebagai seorang di antara pengawal-pengawal dalam istana! Seorang perwira pengawal yang biasanya bertugas mengawal di dalam harem Kaisar, tentu saja di bagian luar karena di bagian dalam hanya mempunyai penjaga-penjaga para thaikam (laki-laki kebiri).
"Plak! Plakk!"
Pangeran Yung Ceng sudah meloncat ke depan dan menampari muka orang ini yang masih diringkus oleh dua orang panglima.
"Hayo katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan pembunuhan ini?"
Pertanyaan Sang Pangeran ini nyaring sekali, terdengar oleh semua orang dan kini keadaan menjadi sunyi karena semua orang juga ingin mendengar jawaban dari mulut penjahat itu. Pembunuh itu memandang dengan muka pucat, kemudian dia menuding ke arah Pangecan Yung Lok, yaitu Pangeran ke empat sambil berkata, suaranya menggigil,
"Dia.... dialah yang menyuruhku.... Pangeran Ke Empat...."
"Bohong kau! Keparat busuk, berani kau memfitnah?"
Pangeran Yung Lok berteriak dengan nada marah sekali.
"Pembunuh busuk!"
Teriakan ini terdengar dari mulut Yung Ceng dan sebelum ada yang tahu atau dapat mencegah, pangeran ini telah mencabut pedangnya, dan memasukkan pedangnya itu ke dada Si Pembunuh sampai tembus ke punggungnya! Tentu saja dua orang panglima yang meringkusnya itu melepaskan dan tubuh Si Pembunuh itu terpelanting, dan sambil mendekap dada dengan tangan kiri, dia menudingkan tangan kanan ke arah Pangeran Yung Ceng, lalu tangan itu membentuk cengkeraman seolah-olah dia hendak mencengkeram Pangeran itu. Akan tetapi tenaganya habis dan dia pun terkulai lemas karena pedang yang ditusukkan tadi telah menembus jantungnya!
"Seorang pengacau dan pembunuh harus dibasmi!"
Kata Pangeran Yung Ceng dengan suara lantang, seolah-olah hendak membela diri dengan perbuatannya itu.
"Dan pembacaan surat wasiat tidak boleh ditunda lagi!"
Lan-thaikan, sebagai kepala di istana, lalu membuka gulungan kertas wasiat yang tadi telah diselamatkannya ketika kertas itu terlepas dari tangan pembesar Coa, kemudian membacanya dengan suara lantang. :
"Dengan ini kami meninggalkan pesan terakhir kami, bahwa setelah kami meninggal dunia, kami mewariskan tahta kerajaan dan kedudukan sebagai kaisar baru kepada putera kami, Pangeran Ke Empat Belas, dan agar penobatan segera dilakukan sehingga singgasana tidak terlalu lama dibiarkan kosong.
Tertanda:
Kaisar Kang Hsi.
Begitu mendengar isi surat wasiat ini terdengar habis, semua orang, seperti diberi komando oleh suara yang hanya terdengar oleh mereka, menjatuhkan diri berlutut dan semua orang berseru,
"Ban-swe, ban-banswe"
Yang artinya sama dengan "Hidup", sebagai penghormatan kepada Pangeran yang diangkat menjadi Kaisar baru dan menjadi junjungan mereka yang baru itu. Demikianlah, Pangeran Yung Ceng dengan resmi diangkat menjadi kaisar dan perintahnya yang pertama kali adalah agar Pangeran Ke Empat yaitu Pangeran Yung Lok, ditangkap dan dihukum mati! Akan tetapi, para panglima yang terkejut mendengar ini, maju berlutut dan mintakan ampun. Dengan sikap bijaksana untuk menimbulkan kesan, Sang Kaisar baru berkata bahwa mengingat akan kesetiaan para panglima itu, dia mau mengampuni Pangeran Yung Lok dan membuang Pangeran itu ke selatan. Demikianlah sedikit riwayatnya Kaisar Yung Ceng yang ketika masih muda memang dia seorang yang memiliki kekerasan dan kemauan hati yang amat kuat, akan tetapi sayang sekali,
Kekerasan ini pula yang masih mendorongnya ketika dia mulai melakukan penyelewengan-penyelewengan dalam hidup, sama kuatnya dengan ketika dia mengejar-ngejar ilmu di Siauw-lim-si. Setelah Pangeran ini menjadi kaisar, dia semakin haus akan kekuasaan, bahkan sering kali dia bertindak sewenang-wenang hanya untuk memperlihatkan kekuasannya. Lebih parah lagi, dia mulai tergelincir ke dalam lembah nafsu berahi sehingga dia seperti tiada puasnya mendapatkan wanita-wanita yang di kehendakinya. Dia tidak segan-segan untuk mengganggu isteri-isteri para pejabat, para pembesar di istana. Tentu saja di antara para pembesar itu banyak terdapat penjilat-penjilat yang memang sengaja mempergunakan isterinya yang cantik untuk mencari jasa sehingga mereka boleh mengharapkan anugerah dari Kaisar berupa kenaikan pangkat dan sebagainya.
Mula-mula para murid Siauw-lim-pai masih menganggap Kaisar ini sebagai seorang saudara seperguruan mereka sehingga ada pula yang datang berkunjung ke istana. Dan mereka ini selalu diterima oleh Kaisar Yung Ceng dengan ramah, diperlakukan sebagai tamu agung dan sebagai saudara seperguruan sendiri. Akan tetapi, mulailah para anak murid Siauw-lim-pai geger ketika pada suatu hari, ketika seorang murid wanita Siauw-lim-pai yang terhitung sumoi (adik seperguruan) dari Kaisar sendiri datang berkunjung, Kaisar Yung Ceng yang memandang gadis pendekar itu dengan sinar mata lain, telah memaksa sumoinya itu untuk menuruti kemauannya! Gadis Siauw-lim-pai itu dirayu dan digauli dengan setengah paksa.