"Tek Hoat...., Tek Hoat, mengapa engkau menyiksa hatimu sampai begini? Mengapa engkau begini sengsara, Saudaraku....?"
Dia memegang lengan yang tegap kuat itu. Tek Hoat menunduk.
"Entahlah, mungkin darah yang jahat dari Ayah kita lebih banyak mengalir dalam tubuhku. Biarlah, Ceng Ceng, biarlah aku yang menanggung semua dosa Ayah kita.... kudoakan saja engkau berbahagia.... biarlah aku seorang yang menanggungnya...."
"Tek Hoat....!"
Wan Ceng sejenak merangkul pundak itu, kemudian dia bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Dia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, sebaiknya membiarkan dua orang itu bertemu dan bicara berdua saja, setelah Syanti Dewi sadar. Akan tetapi Tek Hoat tidak bangkit dari berlututnya. Dia mengambil keputusan untuk terus berlutut sampai menerima pengampunan dari mulut Syanti Dewi! Dia memperhatikan pernapasan Syanti Dewi dan merasa lega bahwa keadaan wanita itu memang tidak lagi mengkhawatirkan, dan agaknya Syanti Dewi da-lam keadaan tidur. Satu jam lebih Tek Hoat berlutut di depan pembaringan dan akhirnya Syanti Dewi bergerak, membuka mata dan mulutnya berbisik,
"Tek Hoat...., Tek Hoat...."
Tek Hoat merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Syanti Dewi memanggil-manggil dia!
"Aku.... aku di sini...."
Katanya dengan suara gemetar dan muka menunduk, tidak berani memandang wanita itu. Syanti Dewi bangkit duduk, matanya terbelalak dan ketika dia melihat pengemis yang berlutut di depan pembaringan itu, dia mengeluh,
"Tek Hoat....!"
Isaknya membuat dia sesenggukan dan tidak kuasa mengeluarkan suara lagi. Setiap dia memandang keadaan pria itu, dia mengguguk menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya dan air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari-jari tangannya.
"Syanti.... Syanti Dewi.... ampunkanlah aku.... aku datang hanya untuk minta ampun kepadamu, kau ampunkanlah aku, Syanti.... agar aku dapat melanjutkan hidup ini...."
"Tek Hoat...."
Sejak tadi Syanti Dewi hanya mampu menyebut nama ini, nama yang sudah terlalu sering disebutnya dalam mimpi, bahkan yang selalu bergema di dalam hatinya semenjak dahulu sampai sekarang.
"Syanti.... aku tidak ingin mengganggumu, sungguh mati.... biar aku dikutuk Tuhan jika aku berniat buruk kepadamu.... tidak, lebih baik aku mati daripada mengganggumu, Syanti. Aku tadinya sudah hendak pergi diam-diam, tapi.... tapi Im-kan Ngo-ok muncul dan kau terancam.... sekarang, kau katakanlah bahwa engkau sudi mengampuniku.... biar kucium ujung sepatumu, Syanti, kau ampunkanlah aku.... biarkan aku berani untuk melanjutkan hidup yang tak berapa lama lagi ini...."
"Tek Hoat.... duhai, Tek Hoat.... mengapa engkau sampai menjadi begini....?"
Syanti Dewi berkata, terengah-engah dan tersedu-sedu, dan kini tangan dengan jari-jari halus itu meraba kepala Tek Hoat, meraba muka yang penuh brewok itu, meraba baju yang penuh tambalan, jari-jari tangan yang gemetar.
"Mengapa.... mengapa engkau menjadi begini....?"
"Sudah sepatutnya aku menerima hukuman, Syanti, memang sudah sepatutnya aku manusia rendah ini hidup dalam keadaan yang serendah-rendahnya. Tapi aku belum merasa puas kalau belum mendapat ampun darimu, Syanti...., kau ampunkanlah aku.... kau ampunkanlah aku...."
Dan pria itu lalu menunduk, hendak mencium ujung sepatu Syanti Dewi.
"Tek Hoat, jangan....!"
Dan kini Syanti Dewi juga merosot turun dari atas pembaringan, ikut berlutut di depan Tek Hoat dan merangkulnya! Tek Hoat terkejut, dan undur dan terbelalak.
"Jangan begitu, Syanti. Jangan kau mengotorkan dirimu. Sungguh, aku tidak ingin mengganggumu. Engkau.... engkau sudah sepatutnya, sungguh pantas menjadi isteri Pangeran Mahkota, kelak menjadi permaisuri.... wahai Syanti Dewi, sungguh mati aku ikut merasa bahagia melihat kebahagiaanmu...."
Kini Syanti Dewi yang memandang dengan mata terbelalak.
"Apa katamu? Engkau.... engkau akan merasa girang kalau aku menjadi isteri orang lain? Kau.... kau rela....?"
"Tentu saja, Syanti Dewi, aku merelakan apa pun, bahkan nyawaku, demi kebahagiaanmu...."
"Kalau begitu, engkau.... engkau sudah tidak cinta lagi kepadaku?"
"Ehhh....? Mengapa engkau bertanya demikian? Syanti Dewi.... aku..... cintaku.... ah, orang macam aku ini mana ada harganya bicara tentang cinta? Kau ampunkan aku, Syanti...."
"Tidak! Kalau engkau merelakan aku menjadi isteri orang lain, sampai mati pun aku tidak akan mengampunimu. Tek Hoat...., Tek Hoat.... sampai usia kita sudah tua begini, apakah engkau masih belum dewasa? Bertahun-tahun aku menantimu di sini, sampai hampir mati rasanya aku menantimu, dan kini.... begitu engkau muncul.... engkau hanya mau menyatakan bahwa engkau rela kalau aku menjadi isteri orang lain! Ya Tuhan, tidak akan ada hentinyakah engkau merusakhancurkan hati dan perasaanku, Tek Hoat?"
Syanti Dewi lalu menangis lagi sesenggukan. Tek Hoat yang masih berlutut itu memandang bengong seperti orang kehilangan ingatan, atau seperti orang yang tolol. Semua ucapan dan sikap Syanti Dewi sungguh, tak pernah terbayangkan olehnya sehingga dia terkejut dan kesima. Akhirnya dia dapat juga berkata-kata, karena dia harus mengatakan sesuatu melihat Syanti Dewi menangis mengguguk seperti itu.
"Tapi.... tapi, Syanti.... aku melihat sendiri, mendengar sendiri betapa engkau telah memilih Pangeran Mahkota menjadi jodohmu.... malah aku bersyukur...."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena Syanti Dewi sudah menurunkan kedua tangan dan melalui air matanya memandang kepadanya seperti orang merasa penasaran dan marah.
"Tentu saja engkau tidak tahu! Yang kau ketahui hanya dirimu sendiri saja, kesusahanku sendiri saja! Pangeran sengaja melakukan itu untuk menolongku, mengertikah engkau? Aku tidak mungkin dapat menjadi isteri orang lain dan sudah kukatakan ini kepada Pangeran yang menjadi sahabatku terbaik, maka dialah yang akan memban-tuku keluar dari sini tanpa menyinggung perasaan Enci Ouw Yan Hui. Aahhh, perlukah aku menjelaskan semuanya lagi? Tidak cukupkah kalau aku katakan bahwa aku tidak dapat menikah dengan orang lain kecuali dengan engkau? Bahwa hanya engkaulah satu-satunya pria yang pernah kucinta, yang masih kucinta, dan yang selamanya akan kucinta? Atau haruskah aku bersumpah kepadamu?"
Dua mata Tek Hoat menjadi basah dan air matanya menggelinding turun satu-satu. Dia bangkit berdiri, memandang wantta itu, sinar harapan baru muncul dalam pandang matanya.
"Syanti.... Syanti Dewi...., be...., benarkah itu? Benarkah itu....?"
"Bodoh! Engkau laki-laki canggung yang bodoh! Ahh, betapa gemas hatiku....! Mari, mari kubuktikan....!"
Kini Syanti Dewi bangkit berdiri dan menyambar tangan kiri Tek Hoat, digandengnya tangan kiri pria itu dengan tangan kanannya,
Lalu diseretnya Tek Hoat keluar sehingga keduanya setengah berlari menuju ke ruangan itu. Di situ nampak Ouw Yan Hui dan Pangeran Kian Liong sedang bercakap-cakap dengan Ceng Ceng dan Kao Kok Cu, sedangkan para tamu sedang bercakap-cakap sendiri dengan asyiknya. Ketika Syanti Dewi muncul menggandeng tangan pengemis itu, semua orang menengok dan hanya Pangeran, Ceng Ceng dan Kao Kok Cu sajalah yang memandang dengan muka berseri karena tiga orang ini mengerti apa artinya itu. Ouw Yan Hui juga sudah dapat menduga, akan tetapi alisnya berkerut karena dia amat mengharapkan Syanti Dewi menjadi isteri Pangeran Mahkota Kian Liong. Para tamu terbelalak kaget dan terheran-heran, apa lagi ketika Syanti Dewi yang mukanya masih basah air mata itu kini berkata dengan suara lantang sekali,
"Cu-wi yang mulia, saya hendak membuat pengumuman, harap Cu-wi sekalian menjadi saksi bahwa saya telah memilih dan menetapkan jodoh saya, yaitu Wan Tek Hoat yang saya gandeng ini!"
Mata para tamu itu makin lebar terbelalak dan memandang tidak percaya. Syanti Dewi, wanita cantik seperti bidadari itu memilih pengemis ini menjadi jodohnya? Akan tetapi, terdengarlah tepuk tangan dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah Wan Ceng, dan Pangeran Kian Liong sendiri, dan ketika para tamu melihat siapa yang bertepuk tangan, mereka pun beramai-ramai bertepuk tangan, sungguhpun di dalam hati mereka itu terdapat rasa penasaran sekali.
Mereka tidak tahu akan riwayat percintaan antara kedua orang itu, dan yang mereka ketahui sekarang hanya bahwa Syanti Dewi adalah seorang wanita secantik bidadari sedangkan pria itu adalah seorang laki-laki yang nampak jauh lebih tua dan seperti jembel pula. Tentu saja mereka merasa penasaran. Sementara itu, melihat betapa Sang Pangeran sendiri menyambut pengumuman ini dengan tepuk tangan dan wajah berseri gembira, Ouw Yan Hui merasa terheran-heran. Akan tetapi pada saat itu Pangeran Kian Liong mendekatinya dan berkata.
"Ouw-toanio sendiri tentu sudah tahu akan riwayat mereka, maka sekarang mereka telah saling bertemu, alangkah baiknya kalau peresmian perjodohan mereka dilaksanakan di sini juga, dengan disaksikan oleh para tamu. Ouw Yan Hui memandang dengan muka agak pucat.
"Tapi.... tapi.... bukankah Pangeran...."
"Sssttt, Ouw-toanio. Enci Syanti Dewi pantas menjadi bibiku, sekarang bertemu dengan Paman Wan Tek Hoat yang sejak dahulu dicintainya, hanya untuk menghilangkan rasa tidak enak dan malu saja setelah dia menolak semua calon."
Kemudian dengan suara mendesak Pangeran itu minta kepada Ouw Yan Hui agar usulnya itu diumumkan.
Ouw Yan Hui merasa lemas, akan tetapi tidak berani menentang. Dia menarik napas panjang dan bangkit dengan tubuh lesu, lalu berkata dengan suara lantang,
"Cu-wi yang mulia, Cu-wi telah melihat sendiri bahwa Adik Syanti Dewi telah memilih jodohnya. Maka, selagi Cu-wi masih berada di sini, kami akan meresmikan perjodohan mereka pada besok pagi. Silakan Cu-wi beristirahat di dalam pondok tamu sementara kami akan membuat persiapan untuk pesta besok pagi."
Para tamu menyambut dengan gembira dan mereka kembali saling bicara sehingga suasana menjadi bising. Ceng Ceng menggandeng tangan Tek Hoat sambil berkata,