"Agaknya dia mengalami luka di dalam tubuhnya. Lihat ini punggungnya."
Kata Wan Ceng. Punggung yang telah dibuka bajunya itu nampak kebiruan. Kao Kok Cu lalu menempelkan telapak tangannya untuk mengobati Tek Hoat. Sementara itu, Pangeran Mahkota yang sejak tadi tenang-tenang saja menonton pertempuran, kini menghampiri dengan wajah girang.
"Wah, untung ada Paman Kao dan Bibi yang datang!"
Katanya. Melihat Pangeran yang mereka kenal baik ini, Kao Kok Cu dan Wan Ceng menjura dan Kao Kok Cu lalu melanjutkan pengobatannya. Sementara itu, Wan Ceng bercerita kepada Pangeran.
"Kami bertemu dengan Cin Liong. Dia masih sibuk setelah membuat pembersihan di barat dan dia mengatakan bahwa Paduka berada dalam bahaya, dan dia minta kepada kami untuk menyusul ke Pulau Kim-coa-to ini. Kami terlambat, akan tetapi untung ada saudara hamba Si Jari Maut ini yang menghadapi Im-kan Ngo-ok yang berbahaya."
"Hemm, jadi Paman pengemis itu adalah saudara Bibi, ya? Dan dia itu Si Jari Maut? Pantas demikian lihainya. Dia pernah menyelamatkan aku dari para perampok pula. Ah, tak kusangka bahwa dialah orangnya.... pantas Enci Syanti Dewi pingsan seketika setelah tadi melihatnya."
"Syanti Dewi? Di mana dia sekarang?"
Tanya Wan Ceng dengan girang. Memang dia sudah mendengar bahwa Syanti Dewi berada di pulau itu, maka dia bersama suaminya yang menyusul Sang Pangeran itu sekalian hendak menjenguk Puteri Bhutan itu yang menjadi saudara angkatnya.
"Dia tadi pingsan ketika melihat Si Jari Maut dan digotong ke dalam oleh Ouw-toanio."
Mendengar ini, Wan Ceng lalu bangkit berdiri dan setelah melihat bahwa Tek Hoat tidak berbahaya keadaannya, dia lalu lari memasuki gedung untuk mencari Syanti Dewi. Ternyata Syanti Dewi telah mengalami kejutan yang menggoncangkan batinnya. Melihat munculnya Tek Hoat dalam keadaan seperti jembel, dia terkejut, terheran, dan terharu sehingga dia jatuh pingsan. Melihat Ceng Ceng memasuki kamar itu, Ouw Yan Hui mengerutkan alisnya. Akan tetapi Ceng Ceng berkata dengan suara berwibawa.
"Minggirlah, biar kuperiksa Enci Syanti."
Akan tetapi Ouw Yan Hui masih memandang dengan curiga.
"Aku adalah Candra Dewi, saudara angkatnya."
Ceng Ceng memperkenalkan diri. Mendengar ini, barulah Ouw Yan Hui bangkit. Kiranya inilah orang yang sering dibicarakan Syanti Dewi, wanita yang bernama Wan Ceng atau Candra Dewi, isteri dari Pendekar Naga Sakti dari Gurun Pasir itu! Ceng Ceng lalu memeriksa keadaan Syanti Dewi. Tahulah dia bahwa saudara angkatnya itu mengalami pukulan batin yang mengguncangkan jantungnya dan perlu beristirahat.
"Dia tidak berbahaya akan tetapi perlu beristirahat, biarlah saya menjaganya di sini."
Katanya lagi kepada Ouw Yan Hui.
Ouw Yan Hui mengangguk, lalu dia keluar. Sebagai nyonya rumah, tentu saja dia harus mengatur keadaan di luar yang tadi menjadi kacau oleh Im-kan Ngo-ok. Di ruangan itu dia melihat Pangeran bersama Naga Sakti Gurun Pasir berlutut di dekat tubuh Si Jari Maut yang masih pingsan, sedangkan Souw-ciangkun repot mengurus anak buahnya yang luka-luka. Ouw Yan Hui lalu mengepalai anak buahnya untuk membersihkan tempat, mengangkuti yang luka ke belakang dan mempersilakan para tamu untuk duduk kembali dan memerintahkan para pembantunya menyuguhkan minuman baru. Sementara itu, Tek Hoat siuman dari pingsannya. Begitu membuka mata, dia cepat bangkit duduk dan melihat di situ terdapat Kao Kok Cu dan Pangeran, pandang matanya liar mencari-cari ke kanan kiri.
"Mana dia....? Ke mana dia....?"
"Engkau mencari siapa?"
Kao Kok Cu bertanya karena ketika pendekar ini tadi datang bersama isterinya, dia tidak melihat Syanti Dewi. Akan tetapi Pangeran Kian Liong mengerti. Setelah dia mendengar bahwa pendekar yang seperti pengemis ini adalah Si Jari Maut Wan Tek Hoat, maka tahulah dia mengapa Syanti Dewi pingsan ketika melihatnya. Dia tahu bahwa inilah pria yang diceritakan oleh Syanti Dewi kepadanya, satu-satunya pria di dunia yang pernah dicinta dan masih dicinta oleh Sang Puteri itu. Maka Pangeran pun tersenyum.
"Paman, engkau mencari Syanti Dewi? Dia berada di dalam gedung, engkau susullah dia ke sana"
Dia menuding ke arah gedung.
"Akan tetapi, keadaanmu seperti ini, Paman. Sebaiknya kalau engkau berganti pakaian lebih dulu...., tidak baik engkau bertemu dengannya dalam pakaian seperti ini...."
Wan Tek Hoat bangkit berdiri dan menggeleng kepadanya, memandang kepada Pangeran itu dengan sinar mata berterima kasih.
"Biarlah, Pangeran. Biar hamba menemuinya seperti ini, biar dia melihat keadaan hamba yang sebenarnya. Setelah berkata demikian, dia pun berjalan cepat memasuki gedung. Melihat itu, Kao Kok Cu menggeleng kepala dan berkata, tidak langsung ditu-jukan kepada Sang Pangeran, seperti bicara kepada diri sendiri,
"Sungguh dia itu menyiksa diri sendiri sampai sedemikian rupa...."
"Akan tetapi dia tidak menderita seorang diri, juga Enci Syanti Dewi menderita batin hebat sekali karena dia. Cinta asmara antara dua orang itu memang Sungguh amat luar biasa sekali."
Kata Sang Pangeran. Pendekar berlengan satu itu memandang kepada Sang Pangeran dan tersenyum, sinar matanya yang mencorong itu menatap kagum. Pangeran ini masih begini muda, akan tetapi nampaknya me-miliki kebijaksanaan yang besar dan pandangannya amat mendalam.
"Jadi Paduka telah mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua?"
Pangeran itu mengangguk.
"Enci Syanti telah bercerita kepadaku dan karena Si Jari Maut itulah maka sampai sekarang Enci Syanti tidak mau menyerahkan hatinya kepada pria lain sehingga tadi terpaksa aku turun tangan untuk membantunya."
Dengan singkat Sang Pangeran lalu bercerita tentang sayembara "menangkap"
Syanti Dewi tadi dan dia maju untuk membantu Sang Dewi keluar dari pulau itu tanpa menyinggung perasaan Ouw Yan Hui yang sudah menanam banyak sekali budi terhadap Syanti Dewi. Mendengar penuturan Pangeran itu, Kao Kok Cu menarik napas panjang. Dia termenung sebentar, kemudian berkata lirih.
"Mereka itu saling mencinta dan patut dipuji kesetiaan mereka. Mudah-mudahan saja pertemuan sekali ini akan membuat mereka bersatu dan takkan terpisah kembali."
Mereka berhenti bicara ketika Ouw Yan Hui datang menghampiri. Wanita ini menjura kepada Kao Kok Cu dan berkata,
"Harap maafkan bahwa baru sekarang saya mengetahui bahwa Taihiap adalah Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya amat terkenal itu. Dan saya menghaturkan terima kasih atas bantuan Taihiap dan isteri Taihiap yang telah mengusir Im-kan Ngo-ok yang datang mengacau di sini. Adik saya, Syanti Dewi sudah banyak bercerita tentang keluarga Taihiap, terutama tentang isteri Taihiap."
Melihat sikap yang ramah ini, Kao Kok Cu balas menjura dan berkata,
"Memang, Enci Syanti Dewi adalah kakak angkat dari isteri saya."
Mereka lalu dipersilakan duduk di tempat kehormatan dan pesta yang tadi terganggu itu dilanjutkan, biarpun kini para tamu saling bicara sendiri, membicarakan peristiwa yang baru terjadi. Kemunculan Im-kan Ngo-ok itu saja sudah mengejutkan dan mengherankan semua orang karena sebagian besar dari mereka baru sekali itu berkesempatan melihat datuk-datuk kaum sesat yang namanya sudah sering mereka dengar itu.
Apalagi kemudian muncul Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya seperti dongeng, sebagai penghuni Istana Gurun Pasir yang tidak kalah terkenalnya dengan nama-nama seperti Istana Pulau Es! Dan menyaksikan betapa Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya tadi menghadapi Im-kan Ngo-ok, bersama Si Jari Maut yang juga telah mereka dengar namanya membuat para tokoh kang-ouw itu kagum bukan main. Tak mereka sangka bahwa di Pulau Kim-coa-to itu mereka akan menyaksikan perkelahian tingkat atas yang demikian hebatnya. Sementara itu, dengan jantung berdebar dan kedua kaki gemetar, Tek Hoat memasuki ruangan di mana Syanti Dewi masih rebah ditunggu oleh Wan Ceng. Dia ingin berjumpa dengan Syanti Dewi, sebentar saja, untuk minta ampun atas semua dosa dan kesalahannya. Dia tidak ingin mengganggu Syanti Dewi, ingin membiarkan wanita itu berbahagia bersama Pangeran,
Bahkan tadinya dia sudah hendak meninggalkan tempat itu tanpa diketahui seorang pun. Akan tetapi, melihat Syanti Dewi terancam bahaya, tentu saja tidak mungkin mendiamkan begitu saja dan ketika dia muncul dan melihat wanita itu roboh pingsan, hatinya seperti diremas-remas rasanya. Kini tak mungkin dia pergi tanpa menengok dulu bagaimana keadaan wanita itu, dan minta ampun. Kalau Syanti Dewi sudah mengampuni, barulah dia akan hidup dengan hati bebas daripada penyesalan. Pengampunan dari Syanti Dewi akan merupakan dorongan hidup baru baginya, dan kebahagiaan Syanti Dewi, biarpun di samping pria lain, akan membuat dia rela untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan bebas dan dia tentu akan merasa seperti hidup kembali, tidak seperti sekarang seolah-olah terbelenggu oleh rasa penyesalan dan kedukaan!
"Syanti....!"
Dia memanggil lirih ketika melihat wanita itu masih rebah telentang di atas pembaringan dengan muka pucat dan tidak bergerak seperti telah mati, sedangkan Ceng Ceng duduk di atas bangku dekat pembaringan.
"Ssttt....!"
Wan Ceng menengok dan menyentuh bibirnya.
"Biarkan dia beristirahat, dia mengalami guncangan batin yang cukup parah."
"Syanti....!"
Tek Hoat mengeluh dan dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan, menatap wajah itu dengan penuh kerinduan, penuh keharuan dan penuh penyesalan mengapa dia sampai menyiksa hati seorang dara seperti ini! Dua titik air mata membasahi bulu matanya dan melihat ini, Wan Ceng menjadi terharu. Dipegangnya tangan saudara tirinya itu.
"Tek Hoat, mengapa engkau sampai menjadi begini? Bukankah dahulu engkau dan Syanti Dewi berada di Bhutan, engkau malah menjadi panglima dan kalian akan kawin....?"
Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Ceng Ceng, aku memang bodoh, aku seorang laki-laki yang tidak berharga sama sekali, apalagi untuk menjadi suaminya, bahkan men-dekatinya pun aku terlalu kotor. Akan tetapi.... aku tak mungkin kuat untuk hidup lebih lama lagi sebelum mendapat pengampunannya.... maka aku datang untuk minta ampun kepadanya...."
Wan Ceng menatap wajah pengemis itu dan tak dapat menahan runtuhnya air matanya. Dia merasa kasihan sekali kepada saudaranya ini.