Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 171

Memuat...

"Taihiap.... ampunkan.... ampunkan hamba.... ampuuunnnnn....."

Dan ia menangis mengguguk seperti anak kecil. Akan tetapi sepasang mata Han Han mengeluarkan sinar yang lebih ganas dan beringas daripada tadi. Di bawah sinar lampu kereta ia melihat tubuh perwira yang telanjang bulat itu berlutut dan menyembah-nyembah, mengingatkan ia akan keadaan perwira itu belasan tahun yang lalu di kamar ibunya. Mengingatkan ia ketika perwira itu memperkosa ibunya. Ia seolah-olah dapat melihat ibunya di bawah tubuh perwira itu, ibunya yang meronta-ronta, menggeliat-geliat dan merintih-rintih.

"Bedebah! Keparat! Manusia berhati iblis! Manusia terkutuk! Terimalah hukumanmu."

Giam Kok Ma mengangkat muka, ketika melihat wajah Han Han yang beringas di bawah sinar lampu kereta, semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya.

"Aduhhh.... ampunkan, taihiap.... apa.... apa yang akan taihiap lakukan....?"

"Apa yang akan aku lakukan? Ha-ha-ha, Giam Kok Ma, apa yang dulu kau lakukan kepada Ibuku? Jawablah.... heh-heh, jawab."

"Ampunnn....."

"Giam Kok Ma, ingatkah engkau betapa tangan-tanganmu yang kotor itu menyentuh Ibuku, menelanjangi Ibuku? Hemmm, ingatlah peristiwa itu dan rasakan hukumanmu."

Pedang itu berkelebat, Giam Kok Ma menjerit dan merintih-rintih sambil momegangi tangan kirinya yang tidak berjari lagi. Kelima jari tangan kirinya telah dibabat putus tanpa ia rasai dan tahu-tahu ia hanya merasa perih dan jari-jari tangannya sudah lenyap.

"Ampum.... aduh, ampun....."

"Manusia terkutuk, ingatlah engkau akan ratap tangis Ibuku. Betapa engkau tertawa mengejek ketika memperkosanya dan dia menjerit-jerit, betapa engkau dan kawan-kawanmu tertawa ketika kau bunuh seluruh keluargaku. Betapa tanganmu yang menjijikkan mengotori Ibuku kemudian membunuhnya. Terimalah hukumanmu."

Kembali tampak sinar pedang berkelebat menyambar dan kini kelima buah jari tangan Giam Kok Ma terbang lenyap, yaitu jari tangan kanan yang memegangi tangan kiri yang sudah tak berjari itu.

"Aduhhhh.... mati aku.... aduh, ampunnnn.... taihiap....."

"Mintalah ampun kepada Tuhan, atau mintalah ampun kepada iblis. Akan tetapi jelas aku tidak dapat mengampunimu."

Pedang di tangan Han Han berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar, disusul jerit-jerit mengerikan yang keluar dari mulut Giam Kok Ma. Darah muncrat-muncrat dan keadaan perwira yang bertelanjang bulat itu benar-benar amat mengerikan. Jari-jari tangannya putus semua, disusul jari-jari kakinya, kemudian alat kelaminnya dibabat pedang sehingga terputus. Darah muncrat-muncrat, Giam Kok Ma tidak dapat menjerit lagi, hanya berkelojotan dan mengeluarkan suara seperti seekor babi disembelih. Han Han tertawa, suara ketawanya tidak seperti manusia, sepertinya iblis telah menguasai dirinya dan suara itu adalah suara ketawa iblis sendiri yang menyoraki kemenangannya.

"Ha-ha-ha-ha. Rasakan engkau, Hendak kulihat apakah engkau ini akan mampu lagi memperkosa wanita. Ha-ha-ha."

Sejenak Han Han seperti menikmati pemandangan yang disinari lampu kereta di tangannya itu. Tubuh telanjang bulat yang mandi darah, yang menggeliat-geliat dan berkelojotan, sepasang mata di muka calon mayat yang terbelalak penuh ketakutan, mulut yang menjadi menceng saking menahan rasa nyeri menusuk-nusuk. Kemudian Han Han tertawa lebih keras.

"Ha-ha-ha, Lihatlah Ibu. Lihatlah musuh besarmu."

Pedangnya yang sudah merah itu bergerak dan kini menyayat-nyayat kulit tubuh telanjang itu. Tidak terlalu dalam, hanya menggurat-gurat kulit sehingga kulit di seluruh tubuh Giam Kok Ma pecah disayat-sayat, dan seluruh tubuh dari muka sampai ke kakinya menjadi merah oleh darahnya sendiri.

Bukan main rasa nyeri diderita orang ini karena pedang itu tidak menggurat terlalu dalam sehingga dia tidak pingsan. Dalam keadaan sadar merasai siksaan seperti itu benar-benar amat mengerikan. Sambil terus tertawa-tawa pedang Han Han berkelebat, terdengar jerit terakhir Giam Kok Ma ketika ujung pedang memasuki rongga perut, dari ulu hati terus merobek ke bawah, sehingga terbukalah perutnya, usus dan semua isi perut yang tidak tertutup lagi itu berhamburan keluar semua. Han Han masih belum puas, karena iblis kebencian dan dendam masih menguasai hatinya.

Pedangnya menyambar-nyambar. Leher itu putus, disusul pinggang dan dalam sekejap mata saja tubuh Giam Kok Ma sudah putus menjadi beberapa potong. Han Han berdiri terengah-engah, tak bergerak seperti patung, memandang daging-daging berdarah yang berceceran di depannya, matanya terbelalak, hidungnya kembang-kempis dan pedang bernoda darah di tangan kiri, lampu di tangan kanan. Tiba-tiba kerongkongannya mengeluarkan suara keluhan aneh, matanya yang terbelalak dan yang tadi bersinar ganas dan liar, kehilangan sinar itu, terganti sinar penuh takut dan ngeri. Dengan tangan menggigil ia melempar pedang yang berlumuran darah itu ke atas tanah. Matanya tak pernah berkedip memandang daging berceceran itu, kini kedua pundaknya yang menggigil seolah-olah ia diserang demam.

"Tidak, Tidak."

Ia menggeleng-geleng kepalanya seolah-olah tidak percaya bahwa pemandangan mengerikan itu adalah akibat perbuatannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangan menutupi muka, terus menggeleng-geleng kepalanya dan tubuhnya bergoyang-goyang seperti pohon muda terlanda angin besar.

"Tidak...., Tidak mungkin....."

Ia berteriak, kemudian menurunkan tangan dan memandang ke kanan kiri mencari-cari.

"Iblis...., Iblis menguasai aku. Iblis, di mana engkau....? Harus kuhancurkan engkau."

Tubuhnya melesat ke sana ke mari, tongkatnya berkelebatan dan terdengarlah suara hiruk-pikuk. Kereta hancur, empat eker kudanya terlepas dan lari ketakutan. Pohon-pohon di sekitar tempat itu jebol dan tumbang. Akhirnya Han Han roboh terkulai di atas tanah dan menangis.

"Ibu.... Ibu.... mengapa aku menjadi begini? Iblis.... mengapa aku begini kejam dan ganas? Ah, Giam Kok Ma, engkau boleh jadi seorang manusia jahat dan kejam, telah memperkosa Ibuku dan membunuh keluargaku. Akan tetapi.... ya Tuhan.... yang aku lakukan tadi.... ah, jauh lebih kejam.... Giam Kok Ma, engkau manusia keji dan jahat, akan tetapi aku tidak lebih baik daripada engkau....."

Tiba-tiba Han Han mencelat dan lenyap dari situ, di dalam gelap masih terdengar suaranya,

"Tuhan.... ampunkan aku.... Ayah Ibu, ampunkan aku....."

Disusul suara tangisnya dan tubuhnya berkelebatan keluar dari tempat itu, menuju ke kota Toang-koan-bun kembali. Peristiwa yang terjadi di hutan itu, yang amat mengerikan, adalah peristiwa yang sering kali terjadi pada setiap manusia. Manusia adalah mahluk yang sebenarnya amat lemah menghadapi nafsu-nafsunya sendiri. Sekali nafsu menguasai diri, pertimbangannya menjadi miring, akal diperalat pemuasan nafsu, dan budi lenyap sinarnya, tertutup oleh uap hitam dari nyala nafsu yang berkobar.

Han Han dikuasai nafsu dendam kebencian yang bertahun-tahun ditekannya, kini meledak dan sepenuhnya menguasai dirinya sehingga ia melakukan pembalasan dendam yang amat kejam, tidak kalah kejamnya dengan perbuatan yang dilakukan Giam Kok Ma sendiri ketika perwira itupun dikuasai nafsunya. Setelah iblis atau nafsu meninggalkannya dan ia sadar, penyesalan datang menimpanya. Baru terbuka mata pemuda itu betapa kejam dan kelirunya perbuatannya tadi, baru teringat olehnya akan wejangan-wejangan kebatinan yang pernah dibacanya bahwa membalas kekejaman dengan kekejaman, membalas kejahatan dengan kejahatan, adalah perbuatan manusia yang lemah.

"Lulu.... ah, Adikku Lulu.... di mana engkau....?"

Han Han berloncatan dan kini ia mengeluh memanggil-manggil nama adiknya. Ia merasa seperti hanyut terbawa air yang deras, hanyut tidak berdaya dan tidak ada sesuatu yang dapat menolongnya kecuali Lulu yang merupakan bayang-bayang di permukaan air yang menghanyutkan. Kalau berjumpa dengan Lulu, tentu dia tidak akan sengsara seperti ini. Teringat akan Lulu, hati Han Han berduka dan ia kini berjalan perlahan dibantu tongkatnya, menuju ke Tiang-koan-bun yang sudah tampak dalam cuaca pagi yang remang-remang.

"Aihhhhh....."

Jerit yang hanya satu kali ini, seolah-olah mulut yang menjeritnya itu kena dekap, cukup bagi Han Han. Itulah jerit yang keluar dari mulut seorang wanita. Tubuhnya melesat ke kiri, memasuki hutan kecil dari mana ia mendengar suara jerit itu. Dan di belakang beberapa buah batu gunung yang besar, ia melihat pemandangan yang membuat mukanya menjadi merah sekali. Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan sambil tertawa-tawa sedang mempermainkan seorang wanita muda yang cantik. Lai Kwan menelikung lengan wanita itu dari belakang dan mendekap mulutnya. Wanita yang kelihatannya memiliki kepandaian itu meronta-ronta dan sambil tertawa-tawa Ouwyang Seng merenggut pakalan wanita itu sehingga terlepas dari tubuhnya dan terobek, membuka dan menelanjangi tubuh yang berkulit kuning langsat. Di atas tanah menggeletak tiga orang laki-laki tua yang sudah tewas.

"Kuda betina ini liar. Lebih baik bunuh saja sekali pemberontak ini."

Lai Kwan berseru karena la kewalahan juga menelikung gadis yang meronta sekuat tenaga itu.

"Wah, sayang kalau dibunuh begitu saja, Lai Kwan. Dia manis sekali, heh-heh."

Ouwyang Seng meraba dada yang telanjang itu.

"Kita permainkan dulu sepuas kita, baru dibunuh. Lai Kwan, apakah engkau tidak mau....?"

Wajah Lai Kwan merah sekali.

"Aku.... aku.... tidak pernah, Kongcu...."

"Ha-ha-ha-ha, Benar-benar engkau masih hijau. Engkau lihatlah aku, sesudah aku, engkau boleh belajar, ha-ha."

"Akan tetapi.... itu.... itu perbuatan bejat...."

Lai Kwan berkata lagi. Ouwyang Seng yang sudah hendak merangkul gadis yang tak berdaya itu, membalik dan memandang Lai Kwan.

"Ucapanmu sungguh tolol Lai Kwan. Engkau tahu siapa gadis ini? Seorang pemberontak. Dia agaknya seorang petugas pemberontak yang memata-matai kita, yang hilir mudik lewat perbatasan. Dia ini amat berbahaya, dia musuh kita. Apa salahnya kalau sebelum dibunuh kita menikmati tubuhnya yang indah, wajahnya yang manis ini? Sayang bukan kalau kembang yang harum dibuang begitu saja sebelum kita kenyang menciuminya dan mengambil sari madunya?"

Gadis itu meronta-ronta dan hampir terlepas dari pegangan Lai Kwan.

"Kau totok dia agar lumpuh, Kongcu. Wah, dia kuat bukan main."

"Ha-ha-ha, lebih baik dia meronta-ronta begitu daripada ditotok lumpuh seperti orang mati. Rebahkan dia di rumput dan kau pegangi kedua tangannya, Lai Kwan. Biarkan kakinya menendang-nendang, ha-ha-ha."

"Tidak, Kongcu.... aku.... aku malu melihatnya. Biar kuikat dia.... eh, dia terlepas....."

Lai Kwan yang melepaskan sebelah tangan untuk memegangi tali hitam yang tergulung dan tergantung di punggungnya, yaitu yang biasanya ia pergunakan sebagai senjata tidak kuasa lagi menahan ketika gadis itu meronta dan terlepas, kemudian gadis itu membalik cepat, mengirim tendangan ke arah selangkangan Lai Kwan dengan cepat dan kuat. Lai Kwan terkejut dan terpaksa ia meloncat ke belakang sambil melepaskan senjatanya, tali hitam.

"Ha-ha-ha, biarkan dia lepas, mari kita kejar dan tangkap lagi, lebih menggembirakan begitu. Ha-ha, lari tanpa pakaian ia kelihatan menarik sekali."

Ouwyang Seng tertawa. Gadis yang sudah telanjang bulat itu malu bukan main dan membalikkan tubuh melarikan diri. Lai Kwan menggerakkan tangan, tali hitam yang dipergunakan sebagai cambuk itu mengeluarkan bunyi meledak dan meluncur ke depan, hendak menjerat leher si gadis yang melarikan diri.

"Ahhh....."

Tiba-tiba Lai Kwan berseru kaget. Ujung talinya tertahan dalam gigitan seorang pemuda berkaki buntung yang tahu-tahu telah berdiri di depannya. Gadis telanjang itu lenyap di balik batu besar.

Post a Comment