"Gu-sicu, mana gurumu dan Si Kuda Iblis?"
Gu Lai Kwan menjura ke arah Gak Liat yang dianggapnya orang yang lebih tinggi kedudukannya, lalu menjawab sambil duduk di atas kursi yang masih banyak yang kosong.
"Siankouw.... eh, maksudku subo (Ibu Guru) tidak dapat hadir sendiri dan mewakilkan kepada saya, juga Siangkoan suhu tidak dapat datang, akan tetapi dalam waktu tiga hari suhu dan subo akan datang ke Tiang-koan-bun."
Gak Liat mengangguk-angguk. Tak lama kemudian masuklah tiga orang perwira Mancu dan agaknya para anggauta rapat sudah terkumpul semua, buktinya Giam Cu, kakak iparnya bangkit berdiri dan menjura kepada semua orang sambil berkata.
"Cu-wi sekalian tentu sudah maklum mengapa saat ini kita berkumpul semua di kota ini. Bertepatan dengan ulang tahun ke sepuluh dari Hong-siang (Kaisar) yang bijaksana dan yang dalam sepuluh tahun telah mendatangkan kemajuan pesat di negara kita, maka kita dihadapkan pada pemberontak yang kini telah berkumpul semua di Se-cuan. Menurut perintah dari Hong-siang sendiri, dalam tahun ini juga kita diharuskan menyerbu dan menghancurkan pusat pemberontak itu dan untuk tugas ini telah diserahkan kepada yang mulia Puteri Nirahai yang akan memimpin sendiri penyerbuan ke Se-cuan. Kita semua sudah mengetahui akan kecerdikan dan keahlian Sang Puteri, maka kini beliau telah mengutus Gak-locianpwe yang mewakili beliau untuk memimpin penyerbuan ke Se-cuan. Maka kami serahkan kepada Gak-locianpwe yang akan mengemukakan pendapat dan rencananya."
Giam Cu lalu duduk kembali dan menoleh kepada Gak Liat, dan semua orang pun kini memandang kepada Si Setan Botak itu. Kang-thouw-kwi Gak Liat menggaruk-garuk botaknya, lalu berkata tanpa berdiri.
"Sesungguhnya, dalam soal ketentaraan saya tidak memiliki pengertian apa-apa dan untuk pelaksanaan penyerbuan, tentu saja saya mengharapkan petunjuk-petunjuk para perwira tinggi yang sudah berpengalaman dalam soal perang. Akan tetapi, untuk menghadapi para tokoh pemberontak yang kabarnya memiliki banyak orang pandai, saya dan teman-teman siap untuk turun tangan. Adapun Sang Puteri yang menyuruh saya mewakili beliau hanya mengatakan bahwa penyerbuan harus dilakukan dengan rahasia sehingga pihak musuh tidak sedang berjaga, dan di dalam suasana pesta ini kiranya mereka tidak akan menyangka akan datangnya penyerbuan. Maka telah diputuskan oleh Sang Puteri untuk melakukan penyerbuan pertama pada bulan depan hari ke tujuh."
Han Han terkejut mendengar ini. Ah, kiranya tentara Mancu akan melakukan penyerbuan besar-besaran tak lama lagi menggunakan kesempatan selagi pihak Se-cuan tidak menyangka-nyangka karena dalam suasana pesta itu agaknya tidak mungkin tentara Mancu akan melakukan penyerangan.
Dan agaknya Kaisar Mancu hendak mempergunakan penyerbuan Se-cuan ini sebagai hadiah ulang tahunnya. Han Han tidak begitu peduli akan perang, akan tetapi mengingat akan keganasan tentara Mancu, ia dapat membayangkan betapa akan sengsaranya rakyat yang tinggal di daerah Se-cuan dan ia merasa telah menjadi kewajibannya untuk memberi tahu ke Se-cuan agar di sana orang dapat berjaga-jaga. Apalagi kalau diingat bahwa banyak sahabat baiknya berada di sana, bahkan Sin Lian sendiri pun tak lama lagi tentu akan masuk ke Se-cuan bersama teman-temannya. Akan tetapi, tidak mungkin ia meninggalkan Giam Kok Ma begitu saja. Musuh besar yang paling dibencinya itu, Si Muka Kuning yang dahulu memperkosa ibunya, telah berada di situ.
Bagaimana ia dapat melewatkan kesempatan baik ini begitu saja? Dia harus turun tangan melakukan pembalasan terhadap perwira keji ini, baru ia akan memaksa Ouwyang Seng bicara tentang Lulu. Setelah itu, barulah ia akan pergi ke Se-cuan untuk menyampaikan berita penyerbuan itu kepada Wan Sin Kiat. Dengan sabar ia mendengarkan semua percakapan mereka dan mengingat-ingat nama tempat-tempat yang akan dijadikan dasar tempat penyerangan mereka, tempat-tempat di pihak musuh yang akan diserbu dan lain-lain. Tentu saja Han Han tidak dapat ingat semua, akan tetapi setelah mengingat beberapa nama tempat yang penting, ia merasa sudah cukup. Ketika pembicaraan yang penting dihentikan dan pertemuan diubah menjadi pesta di mana mereka silih berganti mengangkat cawan arak dan minum untuk memberi selamat kepada kaisar, makan minum sambil tertawa-tawa,
Han Han lalu melesat meninggalkan tempat pengintaiannya, turun di belakang hotel lalu berjalan perlahan keluar dari jalan samping ke jalan besar. Ia menyelinap di antara para penonton dan menonton pertunjukan silat dan barongsai yang dimainkan di panggung dekat hotel. Dari tempat ia menonton, di antara ratusan orang penonton, ia dapat melihat ke arah hotel untuk memata-matai orang yang keluar dari tempat itu. Betapa mengkal hati Han Han ketika ia menanti hampir tengah malam, belum ada juga yang keluar dari hotel, apalagi Giam Kok Ma yang ia tunggu-tunggu munculnya. Ia mulai tidak sabar dan sudah melangkahkan kaki untuk turun tangan di hotel itu saja, tidak peduli di situ banyak terdapat orang pandai. Untuk membalas dendamnya, ia tidak takut mengorbankan nyawanya. Kalau tadi ia bersikap hati-hati, bukan karena takut ia akan celaka.
Akan tetapi takut kalau gagal. Ia tidak rela mati sebelum ia mampu membalas dendam ibunya. Akan tetapi ternyata sampai sekarang perwira muka kuning yang ditunggu-tunggunya belum juga muncul. Selagi bergerak terpincang-pincang tiga langkah, tiba-tiba ia berhenti dan matanya memandang ke depan hotel. Sebuah kereta datang dari luar memasuki halaman hotel itu, kereta yang dikusiri oleh seorang berpakaian pengawal, dan di belakang kereta berdiri pula dua orang pengawal memegang tombak. Cepat Han Han menyelinap dan mengintai agak dekat pekarangan hotel. Jantungnya berdebar dan diam-diam ia mengharap mudah-mudahan jerih payahnya bersabar sejak tadi tidak akan sia-sia belaka. Wajah Han Han berseri ketika tak lama kemudian ia melihat orang yang dituggu-tunggu muncul dari dalam hotel itu. Giam Kok Ma.
Pemuda ini menggeget gigi ketika melihat wajah perwira muka kuning yang amat dibencinya itu. Dan di samping orang ini berjalan cihu-nya (iparnya), Giam Cu, Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan. Agaknya musuh besarnya itu akan duduk sekereta dengan tiga orang ini. Dugaannya benar, sambil tertawa bebas tanda pengaruh arak, mereka berempat memasuki kereta dan kusir lalu memecut empat ekor kuda besar yang bergerak menarik kereta keluar dari pekarangan hotel. Tanpa diketahui oleh siapapun, Han Han menggunakan kepandaiannya membayangi kereta itu. Di ujung kota sebelah barat, kereta berhenti dan Han Han cepat mendekat sambil berjongkok di balik batu di pinggir jalan. Dia mendengar Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan tertawa-tawa dan dua orang muda itu keluar dari kereta. Kereta berjalan lagi keluar kota.
Han Han girang bukan main. Kesempatan yang amat baik ini sama sekali tidak disangka-sangkanya. Akan tetapi di dalam kereta masih ada cihu-nya dan dia tidak mau membawa-bawa cihu-nya dalam urusan membalas dendam ini. Dia sudah berjanji kepada encinya untuk tidak mengganggu Giam Cu, dan kalau dia turun tangan di depan cihu-nya lalu Giam Cu membantu musuh, agaknya ia akan bisa lupa diri dan melanggar janji kepada encinya. Biarlah, dia akan tunggu sampai dua orang itu berpisah, baru ia akan turun tangan. Kalau Giam Kok Ma turun lebih dulu, ia akan menyergap pembesar ini di rumah tempat ia bermalam. Kereta berhenti pula di depan kelompok rumah besar yang agaknya merupakan rumah-rumah penginapan perwira. Giam Cu keluar dari kereta sambil tertawa-tawa dan setelah perwira ini disambut oleh pengawal yang mengantarnya masuk ke dalam, kereta bergerak lagi.
"Thian menghendaki agar manusia terkutuk macam engkau menerima hukuman."
Han Han berbisik dalam hatinya. Ketika kereta itu agak jauh meninggalkan rumah itu dan agaknya hendak menuju ke tempat penginapan Giam Kok Ma,
Han Han meloncat ke atas dan sekali ia menggerakkan tangan, dua orang pengawal yang berdiri di belakang kereta telah tewas dalam keadaan berdiri dan tengkuk mereka patah. Han Han meloncat ke belakang kereta sambil melemparkan dua tubuh yang tak bernyawa lagi itu, kemudian ia meloncat lagi ke depan kereta. Kusir kereta yang sedang mencambuki kuda agar berjalan lebih cepat karena ia pun ingin sekali mengaso, terbelalak kaget ketika melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu ada orang duduk di sampingnya. Namun ia tidak sempat berteriak, tubuhnya sudah terlempar jauh dalam keadaan tidak bernyawa tagi. Han Han menyambar kendali kuda dan menggerak-gerakkan cambuk yang mengeluarkan bunyi meledak-ledak. Empat ekor kuda itu membalap cepat.
"Heiiiii...."
Mengapa terlalu cepat? Perlahan-lahan saja, kepalaku pening.... ah! Heh, ke mana ini? Kenapa membelok ke kiri?"
Giam Kok Ma yang tadinya sudah setengah mabuk, tiba-tiba merasa tengkuknya menjadi dingin sekali ketika mendengar suara tertawa dari tempat kusir kereta. Suara ketawa itu aneh sekali, dan kusirnya tidak akan berani tertawa seperti itu kalau ia tegur.
"Heh, apa ini? Hayo berhenti....."
Giam Kok Ma memukul-mukul pintu kereta sambil berteriak-teriak marah.
"Penggwal, suruh kusir berhenti dan beri sepuluh kali cambukan pada pantatnya."
Akan tetapi tidak ada jawaban dari belakang. Giam Kok Ma cepat menyingkap tirai bagian belakang dan.... betapa kagetnya ketika ia melihat tempat pengawal di belakangnya itu sudah kosong. Ia melongok keluar jendela, akan tetapi tidak dapat melihat wajah kusir karena gelap.
"Berhenti....."
Ia berseru lagi dan kini kusir menahan kuda, kereta pun berhenti. Dengan kemarahan meluap-luap Giam Kok Ma yang juga memiliki ilmu silat lumayan, meloncat keluar dari kereta sambil mencabut pedangnya, pedang kebesaran. Kalau perlu akan membunuh kusir yang lancang ini, dan ia bisa pulang dengan menunggang kuda.
Ia terheran-heran dan menjadi ngeri melihat seorang yang buntung sebelah kakinya, yang turun dari tempat kusir, dengan sikap seenaknya dan tenang sekali mencabut lampu kereta dan berjalan menghampirinya, bukan berjalan melainkan meloncat dengan kecepatan luar biasa sekali. Han Han memegang lampu kereta, mengangkat lampu tinggi-tinggi sehingga mereka berdua dapat saling memandang muka masing-masing. Han Han memandang wajah yang kekuningan itu penuh kebencian, sedangkan Giam Kok Ma agaknya tidak mengenal Han Han. Sungguhpun perwira ini merasa seperti pernah melihat wajah tampan yang bermata seperti sepasang api bernyala dengan rambut panjang terurai itu, namun ia tidak ingat pernah bertemu dengan seorang laki-laki buntung seperti ini.
"Siapa.... siapa engkau....? Di mana kusirku? Mana pengawal-pengawalku?"
Han Han tersenyum, senyum yang tampak mengerikan dan menyeramkan bagi Giam-ciangkun.
"Giam Kok Ma, tidak perlu mencari kusir dan pengawal-pengawalmu. Mereka telah kubunuh di tengah jalan tadi. Giam Kok Ma, apakah engkau lupa kepadaku?"
"Siapa.... siapa kau....?"
Suaranya meragu karena kini ia teringat akan suara ini, suara orang yang pernah membuat ia tidak enak makan tidak nyenyak tidur.
"Ingatlah baik-baik, pandang mukaku. Lupakah engkau akan peristiwa terkutuk yang kau lakukan di Kam-chi dekat Nan-king, di sebuah dusun kecil di mana engkau melakukan perbuatan terkutuk di rumah keluarga Sie Bun An?"
"Kau.... kau....?"
"Benar! Kulihat engkau mulai teringat. Tentu engkau ingat akan anak laki-laki yang berteriak-teriak seperti gila ketika engkau memperkosa ibunya, kemudian engkau membunuh ibu anak itu, kawan-kawanmu membunuh seluruh keluarga anak itu, merampas barang-barangnya. Akulah anak itu, Akulah anak yang kau lemparkan ke dinding. Ingat?"
Pandang mata Han Han seperti pandang mata seekor harimau marah. Giam Kok Ma menggeleng-geleng kepalanya dan berteriak,
"Tidak....! tidak....! Ah, tolooonggg....."
Han Han tersenyum lebar.
"Benar kata orang bahwa manusia yang berhati kejam sebenarnya adalah seorang pengecut besar. Giam Kok Ma, bersiaplah engkau untuk menebus dosamu, menerima hukumanmu atas perbuatanmu yang terkutuk terhadap Ibuku."
Han Han melangkah maju karena perwira itu dengan muka sepucat mayat kini mundur-mundur, agaknya siap untuk melarikan diri. Akan tetapi kemudian perwira itu menguatkan hatinya. Orang ini kakinya buntung dan dia sendiri memegang pedang. Masa tidak akan dapat melawan seorang buntung?
"Mampuslah, buntung."
Makian ini dikeluarkan oleh Giam Kok Ma untuk membesarkan hatinya dan menggugah keberaniannya dan pedangnya berkelebat membacok ke arah muka yang mengerikan hatinya itu. Akan tetapi Han Han menggerakkan tangan dan Giam Kok Ma tidak tahu entah bagaimana, nemun pedangnya sudah berpindah ke tangan kiri Han Han yang memegang tongkat"
Han Han tersenyum, senyum seorang yang dikuasai kemarahan dan kekejaman.
"Bagus, Giam Kok Ma, masih ada lagikah perlawananmu? Jika engkau melawan, sedikitnya engkau memperkecil sebutan pengecut."
Kedua kaki perwira itu mulai menggigil, mukanya sudah tidak ada sinar merahnya lagi. Ia hendak lari, akan tetapi kedua kakinya tidak mempunyai kekuatan lagi dan dia menjadi nekat, tangannya dikepal dan dihantamkan ke dada Han Han.
"Bukkk, Aughhh....."
Perwira itu memegangi kepalan tangan kanannya yang terasa nyeri sekali, seolah-olah ia tidak memukul dada, melainkan memukul baja. Serasa remuk tulang-tulangnya. Saking takutnya tanpa ia sadari lagi celananya menjadi basah. Kiranya rasa ngeri dan takut membuat perwira yang biasanya galak ini menjadi terkencing-kencing. Tiba-tiba ia menggerakkan kakinya, membalikkan tubuhnya dan hendak lari. Akan tetapi ia terguling oleh sabetan tongkat pada kakinya. Han Han mengempit tongkatnya, mengangkat lampu kereta dan kini pedang rampasan di tangannya berkelebat.
"Brettt-brettt....."
Pakaian pembesar itu koyak-koyak dan ia telanjang bulat. Pedang itu telah merobek semua pakaiannya tanpa menggores sedikit pun kulitnya. Giam Kok Ma menggigil, bukan karena dingin setelah ia telanjang bulat, melainkan saking takutnya. Tanpa malu-malu lagi ia merangkak bangun dan berlutut, bersoja-kwi (menyembah-nyembah) sampai dahinya penuh debu tangan dan ia meratap.