Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 169

Memuat...

Sin Kiat juga mengerutkan keningnya.

"Hemmm, Han Han, mengapa kau menekankan hal itu? Apakah kau kira aku pun tidak gelisah memikirkan Nona Lulu? Kiranya tidak perlu kujelaskan lagi bahwa engkau tentu paham akan isi hatiku terhadap adikmu. Aku pun ingin sekali bertemu dengan dia, ingin melihat dia selamat. Akan tetapi, kita memiliki tujuan dalam perjalanan ini, yaitu ke Se-cuan. Tentang adikmu yang kau tahu amat kucinta.... hemmm.... bukankah kita sudah selalu menyelidiki tentang dia? Bukankah aku pun selama ini mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari dia? Siapa tahu, dia berada di Se-cuan."

Han Han menarik napas panjang dan kini ia menoleh memandang wajah Sin Kiat yang tampan itu. Tentu saja dia tahu bahwa pemuda perkasa ini, pemuda yang gagah dan berwatak pendekar, jatuh cinta kepada Lulu. Dan diam-diam ia pun akan merasa setuju sekali kalau adiknya mendapatkan jodoh seperti Sin Kiat. Akan tetapi itu adalah perkara nanti. Yang perlu mencari Lulu sampai dapat. Apa perlunya memikirkan perjodohan Lulu kalau gadis itu sendiri masih belum dapat ditemukan, belum diketahui masih hidup atau sudah mati?

"Begini sajalah. Engkau pergilah dulu ke sana, aku akan mencarinya di sekeliling perbatasan ini. Selain itu, dulu sudah kukatakan bahwa aku mempunyai urusan pribadi yang harus kuselesalkan sebelum aku menyusulmu ke Se-cuan. Kita berpisah di sini saja, Sin Kiat."

Selama dalam perjalanan, Sin Kiat sudah mengenal Han Han lebih baik lagi dan ia mengerti bahwa pemuda berkaki buntung itu sedang menderita tekanan batin hebat sekali sehingga apa yang keluar dari mulutnya selalu merupakan keputusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Ia maklum bahwa akan percuma saja dia membantah, maka katanya.

"Baiklah, Han Han. Kalau engkau menghendaki demikian, biar aku yang masuk ke sana lebih dulu dan akan kucari Nona Lulu di sana. Kalau berhasil, aku akan kembali ke sini dan biarlah tempat ini menjadi tempat pertemuan kita. Selain itu, harap kau suka melihat-lihat kalau-kalau Nona Lauw Sin Lian tiba di sini, kalau Nona Lulu tidak ada di Se-cuan, barangkali dia akan datang bersama Nona Lauw."

Han Han mengangguk dan mereka lalu berpisah, baru beberapa langkah Sin Kiat sudah membalikkan tubuhnya.

"Han Han, ada urusan apakah sebetulnya? Apakah aku tidak bisa membantumu sebelum kita berpisah?"

Han Han hanya menggeleng kepala.

"Urusan ini adalah urusan pribadiku. Berangkatlah, Sin Kiat dan sampai jumpa. Percayalah, kalau memang aku memerlukan bantuanmu, tentu aku akan minta bantuan. Sekarang ini, bantuanmu satu-satunya yang kuperlukan hanya mencari Lulu sampai dapat."

Sin Kiat menghela napas.

"Kau tentu tahu bahwa aku siap mengorbankan apa saja untuk adikmu. Sampai jumpa."

Sin Kiat lalu pergi meninggalkan Han Han yang masih berdiri termenung-menung di tempat itu. Aku harus mencari Lulu dan juga mencari musuh-musuhku, pikirnya. Dan menurut encinya tidak hanya cihunya berada di perbatasan Se-cuan, akan tetapi juga musuh besarnya nomor satu, Giam Kok Ma, dan mungkin juga empat perwira lainnya. Ia merasa menyesal kalau teringat betapa dia tidak berhasil membunuh Su-ciangkun karena pada waktu itu ada Ma-bin Lo-mo dan dia sedang menghadapi pengeroyokan ratusan orang tentara sehingga Su-ciangkun mendapat banyak kesempatan untuk melarikan diri. Sekali ini aku tidak boleh gagal, pikirnya. Kembali terdengar derap kaki kuda, kini ada banyak kuda yang datang ke kota itu.

Ketika Han Han menengok, ia melihat pasukan yang terdiri dari belasan orang penunggang kuda berhenti di tempat ramai dan kepala regu berkuda itu membacakan pengumuman dengan suara lantang dari atas kudanya yang menggerak-gerakkan kepala. Han Han mendengarkan. Kiranya pasukan itu adalah pasukan yang bertugas mengumumkan bahwa berhubung dengar ulang tahun ke sepuluh dari kaisar, yaitu sepuluh tahun semenjak kaisar memegang kendali kerajaan, maka di seluruh negara diadakan pesta perayaan yang dibiayai oleh pemerintah dan rakyat akan dihibur dengan tontonan-tontonan gratis, bahkan di beberapa tempat akan disediakan arak dan roti kering yang boleh dimakan dan diminum di tempat itu secara gratis pula. Pesta akan dimulai malam nanti sampai tiga hari tiga malam lamanya.

"Terutama di daerah ini, akan diadakan pesta besar-besaran, rakyat diberi kesempatan bersuka ria."

Demikian kepala regu itu menutup pengumumannya dengan suara lantang. Penduduk kota itu menjadi girang dan bersorak-sorak. Diam-diam Han Han memuji kecerdikan pemerintah. Justeru di perbatasan ini pemerintah agaknya akan membuktikan perbedaan yang menyolok antara kehidupan rakyat di daerah pemerintah dan di seberang lewat perbatasan, daerah pemberontak. Di samping merayakan ulang tahun kedudukan kaisar, juga pesta itu dapat dipergunakan untuk mempengaruhi penduduk di daerah pemberontak agar mereka melihat bahwa prikehidupan rakyat di daerah pemerintah lebih makmur"

Waktu itu permulaan tahun 1673 dan memang sudah sepuluh tahun Kaisar Kang Hsi menduduki singgasana pemerintah Ceng. Han Han yang berjalan-jalan di kota sambil menyelidiki adiknya, juga mencari keterangan tentang perwira-perwira Mancu yang bertugas di perbatasan, melihat persiapan-persiapan yang dibuat untuk pesta malam nanti. Panggung-pang gung dibuka, panggung wayang dan lain-lain, suasana mulai ramai dan meriah karena rakyat juga menghias rumah-rumah mereka dengan bunga-bunga kertas yang dibagi-bagikan oleh petugas pemerintah setempat.

Tadinya Han Han hendak mencari tempat penginapan yang tidak usah bayar, seperti di kelenteng atau kalau perlu di bawah jembatan, akan tetapi ketika ia merogoh saku bajunya, ia mendapatkan uang di situ dan ketika dilihatnya, ternyata ada beberapa potong uang perak dan dua potong uang emas. Han Han menghela napas dan maklum bahwa tentulah Sin Kiat yang menaruhkan uang di sakunya di luar tahunya, mungkin malam tadi ketika mereka tidur di hutan di luar kota. Dan ia maklum mengapa Sin Kiat melakukan hal itu. Pertama, karena Sin Kiat maklum bahwa dia memang tidak beruang sama sekali, ke dua karena kalau Sin Kiat memberi secara terang-terangan, tentu dia akan menolaknya. Karena mempunyai uang, Han Han tidak jadi mengisi perut dengan roti kering dan arak gratis, juga tidak mencari penginapan gratis, melainkan menyewa sebuah kamar sederhana di sebuah rumah penginapan kecil di sudut kota.

Setelah mandi dan bertukar pakaian bersih, sore hari itu ia keluar dari kamar, terpincang-pincang pada tongkatnya, hendak menonton keramaian dengan harapan mungkin Lulu akan datang pula. Adiknya itu paling suka menonton pertunjukan, maka seandainya Lulu berada di tempat yang berdekatan, tentu adiknya itu akan datang ke kota Tiang-koan-bun ini untuk nonton wayang. Akan tetapi, sama sekali bukan Lulu yang dilihatnya di antara ribuan orang yang tak dikenalnya yang memenuhi kota di malam hari itu, melainkan seorang pria muda yang sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya akan dia jumpai lagi, Gu Lai Kwan. Atau suhengnya, murid Toat-beng Ciu-sian-li, pemuda In-kok-san yang lihai, yang dulu diperintah oleh Toat-beng Ciu-sian-li untuk membunuhnya. Golok pemuda inilah yang telah membacok putus kakinya.

Han Han terkejut sekali dan cepat menyelinap di antara orang banyak. Dia tidak membenci Gu Lai Kwan yang dahulu di waktu kecilnya adalah temannya main-main, juga teman berlatih. Biarpun senjata pemuda ini yang membuntungi kakinya, akan tetapi pemuda itu hanyalah mentaati perintah Toat-beng Ciu-sian-li, karena murid yang tidak taat akan menerima hukuman lebih berat lagi. Lai Kwan adalah seorang di antara mereka berempat yang diambil murid oteh Toat-beng Ciu-sian-li. Lai Kwan, dia sendiri, Kim Cu dan Phoa Ciok Lin yang bermata tajam dan berwajah serius itu. Melupakan semua persoalan yang pernah timbul di antara mereka, Han Han yang tadinya girang melihat Lai Kwan dan hendak menegur, tiba-tiba teringat bahwa Ma-bin Lo-mo kini telah bersekongkol dengan pemerintah Mancu.

Kalau Ma-bin Lo-mo telah menjadi kaki tangan Mancu, sangat boleh jadi Toat-beng Ciu-sian-li juga menjadi kaki tangan Mancu dan tentu murid-muridnya sama saja. Mengingat akan hal ini, ia membatalkan niatnya menegur bekas suheng ini dan Han Han malah membayanginya dengan diam-diam. Ia melihat Lai Kwan dengan senyum-senyum di wajahnya yang tampan itu berjalan-jalan dan menonton pertunjukan wayang sebentar, kemudian pemuda In-kok-san itu lalu berjalan lagi memasuki sebuah rumah penginapan besar. Pengurus rumah pengirapan itu menyambutnya dengan membungkuk-bungkuk penuh hormat dan Han Han yang menyelinap di sudut hotel itu bersembunyi di balik dinding mendengar suara Lai Kwan bertanya dengan suara angkuh.

"Ouwyang-kongcu sudah datang?"

"Sudah, sudah, Gu-taihiap. Malah semua orang sudah berkumpul, tinggal menanti taihiap dan beberapa orang tamu agung lagi,"

Pengurus hotel itu berkata hormat. Han Han mengangguk-angguk. Tak salah dugaannya. Kalau Lai Kwan sudah berhubungan dengan Ouwyang-kongcu yang ia duga tentulah bukan lain Ouwyang Seng adanya, jelas bahwa pemuda ini pun mengikuti jejak Ma-bin Lo-mo dan bersekongkol dengan pemerintah Mancu. Hemmm, dahulu Ouwyang Seng pernah menculik Lulu dan biarpun tidak mengganggu Lulu, namun dapat diharapkan bahwa pemuda putera pangeran itu kini mengetahui di mana adanya Lulu.

Sungguh pertemuan yang tak pernah disangka-sangkanya. Hatinya girang sekali dan timbul harapan baru. Dengan cepat, tanpa diketahui siapa pun, Han Han menyelinap ke belakang, menggunakan kepandaiannya bagaikan seekor burung tubuhnya sudah mencelat ke atas. Ia maktum bahwa di tempat itu terdapat banyak sekali orang pandai, maka ia bersikap hati-hati, dan selain mempergunakan gin-kangnya sehingga kakinya tidak menimbulkan suara dan tongkatnya tidak pernah menyentuh genteng, ia juga selalu bersembunyi di dalam bayangan yang gelap sampai ia berhasil mengintai dari atas ruangan yang dimasuki Lai Kwan. Ruangan itu merupakan ruangan paling belakang di hotel itu dan dari atas Han Han dapat melihat bahwa hotel itu ternyata tidak dimasuki tamu lain kecuali rombongan orang-orang penting.

Agaknya hotel ini telah diborong. Buktinya Li Kwan memasuki hotel itu tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya dan agaknya semua kamar di hotel itu hanya ditempati oleh orang-orang mereka sendiri. Ketika Han Han melihat mereka yang duduk memenuhi ruangan itu, sejumlah belasan orang, ia makin kaget mengenal tokoh-tokoh yang ia jumpai dahulu ketika ia terjebak oleh Giam Kok Ma di kota raja. Ia mengenal Ouwyang Seng, Kang-thouw-kwi Gak Liat, cihunya sendiri Giam Cu, musuh besarnya, Giam Kok Ma, kemudian tokoh-tokoh aneh seperti Sin-tiauw-kwi Ciam Tek yang kepalanya seperti burung berondol bulunya itu, kakak beradik Tikus Kuburan Bhong Lok dan Bhong Poa Sik, juga tiga orang murid Setan Botak, yaitu Hek-giam-ong, Pek-giam-ong, dan Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio.

Masih ada beberapa orang perwira dan tokoh-tokoh aneh yang tak dikenalnya, akan tetapi semua ini sudah cukup bagi Han Han bahwa di situ diadakan rapat yang amat penting oleh perwira-perwira Mancu dan tokoh-tokoh lihai dunia kang-ouw yang menjadi kaki tangan pemerintah Mancu. Dia akan mendengarkan dulu apa yang hendak mereka bicarakan, siapa tahu kalau-kalau mereka akan menyinggung-nyinggung nama Lulu. Andaikata tidak, masih belum terlambat baginya untuk mencari kesempatan menangkap Ouwyang Seng dan memaksa pemuda bangsawan itu bicara tentang Lulu. Kalau dia turun tangan, ia masih merasa sangsi apakah ia akan mampu menghadapi sekian banyaknya orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Ketika Lai Kwan muncul, sebagian dari mereka berdiri dan menyambut dengan hormat, terutama para perwira. Hanya Gak Liat dan tiga orang muridnya yang tidak berdiri, bahkan Gak Liat lalu menegur.

Post a Comment