Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 166

Memuat...

Dari lubang-lubang dalam tanah menyambar ratusan batang anak panah ke arah dua ratus lima orang tentara Mancu yang menggunakan perisai-perisai dan golok menangkis anak panah dan melindungi diri. Akan tetapi ada beberapa orang terjungkal dan beberapa ekor kuda roboh. Selagi pasukan Mancu menjadi bingung karena diserang dari kanan kiri dan muka belakang, para pejuang bersorak-sorak dan berteriak-teriak, meloncat keluar dari tempat persembunyian mereka dalam tanah berlubang, dari balik-balik batang pohon dan semak-semak, dari atas pohon dan menyerbu pasukan yang sedang bingung itu. Jumlah anak buah Lauw-pangcu tidak kurang dari tiga ratus orang dan hampir semua adalah ahli-ahli silat yang pandai.

Apalagi di situ, terdapat Lauw-pangcu sendiri yang mengamuk, dan terutama sekali Lauw Sin Lian dan Wan Sin Kiat yang membabati para perajurit Mancu seperti orang membabati rumput saja. Kalau Su-ciangkun tidak mengatur siasat lebih dulu dengan membagi-bagi pasukannya, dan andaikata pasukannya hanya berjumlah lima ratus dan semua terjebak, tentu akan hancurlah pasukannya. Pasukan induk ini melawan sekuatnya, namun karena mereka diserbu dari empat penjuru secara tiba-tiba, mereka menjadi kacau-balau. Para pemberontak atau pejuang sudah merasa girang sekali dan menganggap bahwa siasat mereka berhasil. Tidak sampai setengah malam tentu semua pasukan Mancu akan dapat mereka basmi semua, demikian pikir Lauw-pangcu dan anak buahnya.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk berbunyi dari empat penjuru di luar hutan itu dan menyerbulah tujuh ratus lima puluh orang tentara Mancu dari empat penjuru, dipimpin oleh Su-ciangkun sendiri dan dibantu oleh Ma-bin Lo-mo. Kalau tadi anak buah Lauw-pangcu meayergap dan mengurung, kini mereka sendiri dikurung dan keadaan menjadi kacau-balau. Perang terjadi amat hebatnya. Anak buah Lauw-pangcu yang terjepit itu menjadi nekat dan mengamuk mati-matian. Mereka akan mati seperti tikus-tikus terjepit, maka lebih baik melawan dan mati sebagai sekumpulan harimau. Lauw-pangcu terkejut bukan main. Juga Sin Lian dan terutama sekali Sin Kiat menjadi khawatir sekali.

Bukan mengkhawatirkan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan sumoinya dan Han Han. Kalau sampai keadaan berubah seperti ini, hanya berarti bahwa Han Han dan sumoinya tentu telah gagal. Namun, mereka tidak sempat banyak berpikir karena pihak musuh datang menyerbu bagaikan air membanjir. Dikeroyok banyak lawan, satu lawan empat, mulai berjatuhanlah pihak pejuang. Di bawah sinar obor yang dipegang kedua pihak, tampak darah muncrat, diselingi bunga api berpijar dan teriakan-teriakan bercampur dengan rintihan. Tubuh-tubuh manusia berjatuhan tumpang tindih, mayat-mayat yang mandi darah mulai berserakan. Lauw-pangcu yang mengamuk hebat, setelah merobohkan tidak kurang dari dua puluh orang lawan dengan tongkatnya yang lihai, akhirnya roboh juga dengan dada tertembus tombak.

Melihat ayahnya roboh, Sin Lian menjerit dan dengan isak tertahan gadis ini mengamuk. Pedangnya berkelebat seperti naga mengamuk dan tentara musuh yang berani mendekatinya tentu roboh hanya dalam dua tiga gebrakan saja. Melihat kenekatan Sin Lian yang mencoba mendekati ayahnya, Sin Kiat menyerbu dan membantunya. Makin mawutlah pihak musuh. bahwa siasat mereka berhasil. Tidak sampai setengah malam tentu semua pasukan Mancu akan dapat mereka basmi semua, demikian pikir Lauw-pangcu dan anak buahnya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk berbunyi dari empat penjuru di luar hutan itu dan menyerbulah tujuh ratus lima puluh orang tentara Mancu dari empat penjuru, dipimpin oleh Su-ciangkun sendiri dan dibantu oleh Ma-bin Lo-mo.

Kalau tadi anak buah Lauw-pangcu menyergap dan mengurung, kini mereka sendiri dikurung dan keadaan menjadi kacau-balau. Perang terjadi amat hebatnya. Anak buah Lauw-pangcu yang terjepit itu menjadi nekat dan mengamuk mati-matian. Mereka akan mati seperti tikus-tikus terjepit, maka lebih baik melawan dan mati sebagai sekumpulan harimau. Lauw-pangcu terkejut bukan main. Juga Sin Lian dan terutama sekali Sin Kiat menjadi khawatir sekali. Bukan mengkhawatirkan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan sumoinya dan Han Han. Kalau sampai keadaan berubah seperti ini, hanya berarti bahwa Han Han dan sumoinya tentu telah gagal. Namun, mereka tidak sempat banyak berpikir karena pihak musuh datang menyerbu bagaikan air membanjir.

Dikeroyok banyak lawan, satu lawan empat, mulai berjatuhanlah pihak pejuang. Di bawah sinar obor yang dipegang kedua pihak, tampak darah muncrat, diselingi bunga api berpijar dan teriakan-teriakan bercampur dengan rintihan. Tubuh-tubuh manusia berjatuhan tumpang tindih, mayat-mayat yang mandi darah mulai berserakan. Lauw-pangcu yang mengamuk hebat, setelah merobohkan tidak kurang dari dua puluh orang lawan dengan tongkatnya yang lihai, akhirnya roboh juga dengan dada tertembus tombak. Melihat ayahnya roboh, Sin Lian menjerit dan dengan isak tertahan gadis ini mengamuk. Pedangnya berkelebat seperti naga mengamuk dan tentara musuh yang berani mendekatinya tentu roboh hanya dalam dua tiga gebrakan saja. Melihat kenekatan Sin Lian yang mencoba mendekati ayahnya, Sin Kiat menyerbu dan membantunya. Makin mawutlah pihak musuh.

"Hemmm, kalian sudah bosan hidup."

Bentakan ini disusul dengan menyambarnya angin pukulan dingin dan ternyata Ma-bin Lo-mo yang menyaksikan sepak terjang dua orang muda ini sudah maju menyerang. Melihat kakek ini, Sin Lian membentak marah.

"Kiranya engkau iblis tua bangka, Kiranya engkau adalah anjing penjilat Mancu juga."

Akan tetapi terpaksa Sin Lian harus membuang diri menghindar dari sambaran angin pukulan Ma-bin Lo-mo seperti yang dilakukan Sin Kiat, kemudian ia membalas dengan terjangan ke depan dan menusukkan pedangnya ke dada kakek itu. Sin Kiat juga menerjang dari kiri, pedangnya membabat leher. Ma-bin Lo-mo sudah maklum akan kelihaian ilmu pedang kedua orang muda itu, maka ia tidak berani memandang rendah. Melihat dua sinar pedang menyambar, ia cepat melompat ke belakang, ujung lengan bajunya menampar untuk menangkis pedang Sin Lian yang melanjutkan tusukan dengan babatan kilat.

"Brett."

Pedang Sin Lian terpental dan cepat ia memutar tubuh agar pedangnya tidak terlepas, akan tetapi ujung lengan baju Ma-bin Lo-mo terbabat putus. Kakek ini marah sekali, setelah ia mengelak dari tusukan pedang Sin Kiat yang menyambar, secepat kilat kedua tangannya mendorong ke arah dua orang muda itu.

Sin Kiat dan Sin Lian maklum akan kelihaian pukulan jarak jauh ini. Mereka tidak keburu mengelak, dan menangkis dengan gerakan tangan sambil mengerahkan sin-kang pula. Akan tetapi, tetap saja tubuh mereka terdorong hebat ke belakang, membuat mereka terhuyung dan pada saat itu, dua orang perwira pembantu Su-ciangkun sudah menubruk dan menusukkan tombak mereka ke arah kedua orang muda yang sedang terhuyung itu. Sin Kiat yang sedang terhuyung melihat datangnya tusukan tombak dengan tenaga yang kuat itu, cepat menjatuhkan diri, berguling ke depan sehingga tombak lewat di atas kepalanya, kemudian ia menusukkan pedangnya yang amblas ke dalam perut lawan. Ketika darah mengucur menyusul pedang yang dicabutnya, Sin Kiat sudah meloncat kembali sehingga tidak terkena semprotan darah.

Adapun Sin Lian yang tadinya juga terhuyung, ketika ditusuk dari arah kanan oleh perwira Mancu, tidak sempat menangkis. Ia mempergunakan tangan kiri menyambar leher tombak, meminjam tenaga lawan menarik tombak sehingga tubuh lawan ikut terdorong ke depan, lalu menggunakan tenaga sin-kang ia menekuk tombak sehingga patah tengahnya, lalu terus ia tusukkan ke lambung perwira itu sehingga tembus. Melihat betapa dalam keadaan terhuyung kedua orang muda itu masih sempat merobohkan dua orang perwira menengah, Ma-bin Lo-mo menjadi penasaran dan marah. Ia menerjang maju, bertubi-tubi menggerakkan kedua tangan ke arah Sin Lian dan Sin Kiat yang menjadi sibuk mengelak dan menangkis, tidak sempat lagi menyerang, padahal para pengeroyok sudah mengelilingi mereka dan siap-siap menghujankan senjata kepada dua orang muda lihai ini apabila mereka roboh oleh desakan Ma-bin Lo-mo.

Menghadapi kakek bermuka iblis, murid Siauw-lim Chit-kiam dan murid Im-yang Seng-cu benar-benar kewalahan karena Ma-bin Lo-mo menggunakan Swat-im Sin-ciang yang luar biasa kuatnya. Tiba-tiba keadaan perang menjadi makin kacau ketika banyak tentara Mancu roboh dan bahkan ada yang terlempar ke sana-sini seperti diamuk badai. Ternyata yang datang mengamuk itu adalah Han Han"

Setelah dia siuman dari pingsannya dan menangisi Soan Li yang telah tewas, akhirnya Han Han teringat akan bahaya yang mengancam Lauw-pangcu dan anak buahnya. Teringat akan itu, dengan hati berduka sekali ia lalu menggali lubang dan menguburkan jenazah Soan Li. Kemudian ia menggunakan kepandaiannya berloncatan dengan cepat sekali menuju ke tempat tinggal Lauw-pangcu.

"Han Han.... mana sumoi....?"

Sin Kiat merasa lega melihat pemuda buntung itu, akan tetapi ia gelisah karena tidak melihat sumoinya datang bersama Han Han. Ditanya tentang Soan Li, Han Han diingatkan kembali, air matanya mengalir turun dan tanpa menjawab ia lalu menerjang maju, menghadapi Ma-bin Lo-mo yang sedang mendesak Sin Kiat dan Sin Lian. Ma-bin Lo-mo yang marah sekali itu ketika melihat Han Han, lalu menerjang sambil mengeluarkan suara meringkik keras seperti kuda marah. Ia masih merasa penasaran dan kini ia mengerahkan seluruh tenaganya yang ada. Terdengar suara bercuitan ketika tenaga Swat-im Sin-ciang dengan kekuatan sepenuhnya menyambar ke depan. Han Han mengenal pukulan sakti, cepat ia berseru.

"Kalian minggirlah."

Sin Kiat dan Sin Lian yang sudah berkali-kali mengenal pukulan dahsyat dari kakek itu, cepat melompat ke kanan kiri. Akan tetapi Han Han sama sekali tidak mau melompat minggir. Ia sudah marah sekali, kemarahannya yang timbul dari kedukaan yang hebat karena kematian Soan Li, maka kini menyaksikan betapa Ma-bin Lo-mo mengerahkan pukulan Swat-im Sin-ciang, ia pun berteriak keras dan dengan berdiri di atas sebelah kakinya, ia mendorongkan kedua tangannya ke depan menyambut pukulan Ma-bin Lo-mo. Han Han sudah kehilangan tongkatnya yang tertinggal di perut kuda ketika ia mengamuk di depan benteng, kini ia tidak bertongkat lagi. Akan tetapi sin-kang yang keluar dari kedua lengannya adalah inti sari dari tenaga Im-kang yang amat dahsyat, yang sudah dia kuasai ketika ia berlatih di Pulau Es.

"Desssss....."

Hebat bukan main benturan dua tenaga sakti yang sama-sama mengandung hawa dingin itu. Empat orang tentara Mancu yang berdiri terlalu dekat, memekik ngeri dan roboh tak bernyawa lagi, karena jantung mereka membeku terkena sambaran tenaga sakti yang saling bertabrakan. Tubuh Han Han mencelat ke atas, tinggi sekali, akan tetapi ia sudah meloncat lagi ketika kakinya menyentuh dahan pohon, kini tubuhnya mencelat ke depan menyambar Ma-bin Lo-mo yang terhuyung ke belakang dengan mulut muntahkan darah segar. Melihat betapa tubuh Han Han dari atas pohon menukik ke bawah, Ma-bin Lo-mo mengeluarkan seruan kaget, cepat tubuhnya melesat ke bawah, bergulingan dan lenyap di antara kaki para pengawal.

"Bresssss."

Lima orang pengawal roboh dan tewas seketika dengan tulang-tulang remuk ketika terjangan Han Han dari atas itu menyambar ke arah mereka. Akan tetapi Ma-bin Lo-mo tidak tampak lagi bayangannya. Han Han mengamuk terus dengan hebatnya. Juga Sin Lian dan Sin Kiat mengamuk dengan pedang mereka. Setelah kini Ma-bin Lo-mo terluka dan tidak muncul lagi, tidak ada yang dapat mengimbangi amukan tiga orang muda yang perkasa ini. Akan tetapi, di pihak para pejuang, ternyata hanya tinggal mereka bertiga karena yang lain-lain semua telah tewas dalam perang tanding yang amat seru di dalam hutan itu. Adapun di pihak tentara Mancu juga mengalami kerugian tidak sedikit, kurang lebih sama jumlahnya dengan anak buah Pek-lian Kai-pang.

"Han Han, mari kita pergi....."

Kata Sin Kiat.

"Semua saudara telah tewas, tak perlu melawan lagi."

Akan tetapi Han Han tidak mau mendengarkan kata-kata Sin Kiat. Hatinya sudah terlalu sakit dan ia akan bertempur sampai mati untuk membalaskan dendam Soan Li. Melihat itu, Sin Lian lalu menyambar tubuh ayahnya yang telah menjadi mayat, sambil menangis terisak ia mendekati Han Han yang masih mengamuk.

"Han Han.... bantulah aku.... menyelamatkan jenazah Ayah....."

Mendengar suara wanita menangis, Han Han seperti baru sadar dari keadaan yang tidak wajar itu, yang membuatnya mengamuk seperti orang gila. Ia menengok dan ketika ia melihat Sin Lian menangis sambil memondong mayat Lauw-pangcu, Han Han terkejut sekali.

"Ah, Lauw-pangcu....."

"Dia gugur, Han Han, tolonglah aku membuka jalan keluar dari sini....."

Han Han mengangguk, kemudian bersama Sin Kiat ia mengawal Sin Lian yang memondong mayat ayahnya keluar dari kepungan. Sebetulnya hal ini tidak perlu karena para pengepung itu tidak ada yang berani mengganggu melihat tiga orang muda itu keluar dari hutan. Mereka telah menjadi jerih menyaksikan sepak terjang mereka tadi, apalagi sepak terjang pemuda yang buntung kakinya. Sin Lian yang menangis sambil memondong tubuh ayahnya, berlari terus sampai pagi, baru ia berhenti di pinggir Sungai Huang-ho paling barat, di mana air sungai itu datang mengalir dari utara dan di tikungan itu membelok ke timur.

Daerah ini penuh pula dengan hutan dan amat sunyi. Setengah malam mereka tadi berlari, tanpa berkata-kata, masih tegang dan berduka menghadapi malapetaka yang menimpa Pek-lian Kai-pang. Yang paling gelisah adalah Sin Kiat. Pemuda ini ingin sekali mengetahui akan keadaan sumoinya, ia pun ingin tahu bagaimana pihak Mancu sampai dapat melakukan sergapan seperti itu, bahkan dibantu oleh Ma-bin Lo-mo. Ia menduga bahwa tentu Han Han tahu akan itu semua, akan tetapi mengingat akan kedukaan Sin Lian, Sin Kiat menahan keinginan tahunya. Setelah dia dan Han Han membantu Sin Lian mengubur jenazah Lauw-pangcu di dalam hutan itu, barulah Sin Kiat mengajak Han Han menjauhi Sin Lian yang berkabung dan menangis di depan kuburan ayahnya.

"Han Han, ceritakanlah lekas, bagaimana dengan sumoi."

Akan tetapi, mendengar pertanyaan ini, Han Han menjatuhkan diri duduk di atas tanah, matanya memandang jauh dengan sinar muram dan kosong, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sin Kiat. Melihat ini, Sin Kiat berlutut dan menyentuh lengan Han Han, mengguncangnya dan bertanya tegang.

"Han Han, apa yang terjadi dengan sumoi? Di mana dia?"

Tiba-tiba Han Han mengibaskan lengannya dan Sin Kiat terlempar ke belakang, terjengkang. Ia meloncat lagi dan terkejut melihat Han Han sudah berdiri di atas sebelah kakinya dan menudingkan telunjuk ke mukanya sambil membentak,

"Sin Kiat, kenapa engkau membolehkan sumoimu pergi menyusulku? Kenapa tidak kau cegah dia? Percuma saja engkau menjadi suhengnya."

Pucatlah wajah Sin Kiat. Tanpa mempedulikan kemarahan Han Han, ia menubruk maju dan memegang lengan pemuda buntung itu.

"Han Han....."

Ia menjerit, suaranya gemetar.

"Lekas katakan, di mana dia? Di mana sumoi....? Dia sendiri yang memaksa hendak menyusulmu, karena mengkhawatirkan keadaanmu. Han Han, di mana sumoi?"

Mendengar suara Sin Kiat menjerit-jerit ini, Sin Lian yang menangis di depan kuburan ayahnya menjadi terkejut, menengok dan cepat ia menghampiri mereka karena ia melihat Han Han berdiri seperti orang marah dan Sin Kiat menjerit-jerit seperti orang gila.

"Ada apakah? Han Han, apa yang terjadi?"

Suara Sin Lian ini mengusir kemarahann di hati Han Han. Ia menghela napas panjang, menundukkan muka sehingga air mata yang memenuhi pelupuk mata itu menetes jatuh satu-satu.

"Soan Li.... dia.... dia telah tewas....."

"Sumoi....."

Sin Kiat memekik keras. Matanya melotot, mukanya pucat seperti mayat dan tangannya mencengkeram lengan Han Han.

"Apa...., Sumoiku.... mati? Han Han, bagaimana? Siapa yang membunuhnya?"

Han Han menjatuhkan diri lagi duduk di atas rumput. Sin Lian juga duduk di atas tanah, mukanya makin berduka. Sin Kiat duduk dan mengangkat kedua lutut, menunjang kedua siku dengan lututnya dan menutupi mukanya mendengarkan penuturan Han Han yang menceritakan semua peristiwa itu dengan suara gemetar. Setelah habis cerita Han Han, Sin Kiat masih menutupi mukanya. Perlahan-lahan dari celah-celah jari tangannya keluar beberapa tetes air mata. Dadanya bergelombang, diseling sedu. Hancur hati Sin Kiat. Teringat ia akan wajah sumoinya yang menengok dan tersenyum ketika hendak meninggalkannya. Senyum manis di antara linangan air mata duka.

"Aduh, sumoi....! Ah, dia seperti adikku sendiri.... ahhh, bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap suhu, terhadap.... keluarga tunangannya....?"

Tiba-tiba Han Han menggerakkan kepala, menoleh memandang Sin Kiat.

"Tunangannya?"

Post a Comment