Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 165

Memuat...

"Engkau telah melupakan bangsa dan mengekor kepada bangsa Mancu, itu adalah urusanmu sendiri. Mengapa engkau membujuk-bujuk aku? Kalau aku tidak sudi, engkau mau apa? Hemmm.... Hwi-yang Sin-ciang darimu itu sama sekali tidak membuat aku takut."

"Ha-ha-ha-ha, Si Kuda Iblis sombong sekali bicaramu."

Kang-thouw-kwi Gak Liat memaki dan tertawa mengejek.

"Siapakah tidak tahu bahwa Siangkoan Lee dahulu adalah seorang menteri Kerajaan Beng? Akan tetapi siapa pula tidak tahu bahwa Menteri Siangkoan Lee menjadi rusak namanya karena selain tukang merampas anak bini orang, tukang merampas harta dan tanah ladang, juga tukang korupsi besar-besaran?"

"Setan Botak mau mampus, Mulutmu sama busuknya dengan hatimu. Mari kita tentukan siapa yang lebih unggul di antara kita."

Melihat Ma-bin Lo-mo sudah dapat dibikin panas hatinya dan hendak menyerang, Gak Liat cepat berkata,

"Tahan dulu! Sama sekali aku tidak takut kepadamu, kuda iblis. Akan tetapi sayang kalau kau mampus sekarang, tenagamu masih amat dibutuhkan pemerintah. Sekarang kau boleh pilih, membantu pemerintah Ceng ataukah engkau mati dikeroyok murid-muridmu sendiri?"

"Hahhh? Apa maksudmu, Setan Botak keparat?"

Gak Liat tertawa.

"Ma-bin Lo-mo, marilah kita bicara sebagai orang-orang tua yang sudah matang pikirannya. Aku tahu, juga pemerintah bahwa engkau berjuang untuk dirimu sendiri. Engkau bercita-cita mengalahkan Pemerintah Ceng agar engkau dapat membangun kembali Kerajaan Beng yang sudah runtuh dan engkau akan menjadi kaisarnya. Hemmm, boleh saja bercita-cita mengejar kemuliaan, akan tetapi jangan terlampau tinggi. Engkau mimpi di siang hari. Lebih baik engkau mengabdi kepada Kerajaan Ceng dan engkau tentu akan menikmati kemuliaan dan kedudukan yang cukup tinggi, sesuai dengan kepandaianmu. Pemerintah Ceng pandai menghargai orang. Kalau engkau menolak, murid-muridmu yang menjadi pasukan In-kok-san akan tahu siapa sebetulnya yang membasmi keluarga mereka."

Wajah Ma-bin Lo-mo berubah. Ia pura-pura tidak mengerti dan memaki lagi,

"Gak Liat, apa artinya ucapanmu itu?"

"Wah, engkau masih pura-pura lagi, Siangkoan Lee? Engkau bermaksud membentuk pasukan yang kuat, terdiri dari murid-muridmu di In-kok-san. Untuk keperluan itu, engkau memilih banyak bocah yang berbakat, diam-diam kau bunuh keluarga mereka dan kau katakan bahwa orang Mancu yang membunuh, sehingga engkau menanamkan benih kebencian di hati para muridmu terhadap Pemerintah Mancu agar kelak dapat kaupergunakan tenaga mereka untuk membantu kau mencapai cita-citamu....."

Wajah Ma-bin Lo-mo menjadi pucat.

"Setan....! Cukup, tak perlu membuka mulut lagi. Katakan, apa kehendakmu?"

"Aku hanya melakukan tugas yang diperintahkan Puteri Nirahai."

"Hemmm, apa kehendaknya?"

"Tidak lain, kau diminta untuk bekerja sama, membantu pemerintah untuk menghancurkan para pemberontak, terutama sekali pemberontak Bu Sam Kwi di Se-cuan. Untuk jasa-jasamu, tentu kaisar tidak akan melupakan dan kelak kita tentu akan menikmati hari tua yang mulia dan terhormat."

Demikianlah, siasat yang dijalankan oleh Gak Liat atas perintah Puteri Nirahai itu berhasil baik. Ma-bin Lo-mo membujuk murid-muridnya yang berjumlah hampir seratus orang untuk membalik dan membantu Pemerintah Mancu. Tentu saja sebagian besar muridnya tidak sudi karena bukankah kduarga mereka terbasmi habis oleh orang-orang Mancu? Mereka yang tidak mau mengikuti jejak guru mereka lalu meninggalkan In-kok-san dan sebagian menggabung pada para pejuang.

Banyak pula yang lari ke Se-cuan untuk membantu Bu Sam Kwi mengadakan perlawanan terhadap bala tentara Mancu yang berusaha menalukkan Se-cuan. Ketika tidak berhasil menangkap Han Han, bahkan tiga orang pembantunya yang setia dan pandai itu tewas secara mengerikan di tangan pemuda kaki buntung yang amat luar biasa itu, Ma-bin Lo-mo menjadi marah dan menyesal sekali. Juga di dalam hatinya ia merasa heran. Dia maklum bahwa Han Han telah mewarisi ilmu-ilmu aneh dari Pulau Es, akan tetapi dia pernah bertanding melawan Han Han sebelum kaki pemuda itu buntung, dibuntungi oleh Toat-beng Ciu-sian-li. Akan tetapi mengapa sekarang pemuda itu setelah kakinya buntung menjadi makin hebat kepandaiannya? Bahkan tadi ketika menangkis pukulan saktinya juga membuktikan bahwa tenaga sin-kang pemuda itu jauh lebih matang daripada sebelum kakinya buntung.

Dan ilmunya bergerak seperti kilat itu, berloncatan seperti terbang saja. Ilmu apakah itu dan dari mana pemuda buntung itu memperolehnya? Diam-diam ia merasa gentar sekali, maklum bahwa kini tingkat kepandaiannya tidak akan dapat menandingi kepandaian pemuda yang mukjizat itu. Pasukan yang dipimpin oleh Su-ciangkun, dibantu oleh Ma-bin Lo-mo, melanjutkan perjalanan mereka menyerbu sarang Pek-lian Kai-pang. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Han Han dan Soan Li tadi tidak mengubah rencana mereka menghancurkan sarang pemberontak. Su-ciangkun sebagai seorang ahli perang yang pandai, maklum bahwa pasukannya akan menghadapi jebakan kaum pemberontak, maka diam-diam dia memecah-mecah pasukannya menjadi empat bagian.

Bagian pertama sengaja ia biarkan untuk dijebak, akan tetapi diam-diam dua pasukan menyusul dari kanan kiri merupakan sayap untuk melindungi induk pasukan yang akan dijebak musuh. Sedangkan bagian ke empat menggunakan perahu-perahu menyerbu melalui air. Dengan siasat yang lihai ini, bukan pasukan Mancu yang terancam, sebaliknya malah pihak pemberontak yang berada dalam bahaya. Lauw-pangcu yang sudah mengatur barisan pendam di dalam hutan, menjadi girang sekali ketika melihat pasukan Mancu terdiri dari dua ratus lima orang memasuki hutan itu, memasuki jebakan, memasuki perangkap yang dipasangnya. Hari telah menjelang senja ketika pasukan Mancu itu memasuki hutan yang dijadikan tempat perangkap untuk menyergap pasukan Mancu. Setelah pasukan Mancu yang megah itu semua memasuki hutan, tiba-tiba terdengar suara melengking dan itulah tanda yang diberikan oleh Sin Lian.

Post a Comment