"Jahanam engkau.... penjahat berpakaian pendeta....."
Mulut Han Han mendesis, kedua matanya bercucuran air mata dan ia membanting tubuh hwesio itu ke atas tanah.
"Prokk."
Hwesio itu tewas dengan kepalanya hancur tidak merupakan kepala lagi.
"Han-twako....."
Soan Li mengeluh.
"Larilah....."
"Soan Li.... ah, Soan Li....."
Han Han menyambar tubuh gadis itu, dipanggulnya dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas, ketika turun, kakinya menendang roboh dua orang pengawal.
"Tangkap.... kepung....."
Terdengar suara Ma-bin Lo-mo yang juga mengejar sungguhpun ia terbelalak menyaksikan sepak terjang pemuda itu. Betapa mungkin pemuda buntung itu menjadi sedemikian lihainya setelah kakinya buntung? Han Han menangkap seorang pengawal dengan sebelah tangan dan melontarkannya ke arah Ma-bin Lo-mo yang mengejarnya. Terpaksa kakek ini mengelak, akan tetapi Han Han sudah merobohkan lagi empat orang pengawal yang berani membayanginya dan melihat keganasan sepak terjang pemuda buntung itu, para perajurit menjadi gentar. Han Han terus melompat dan mengerahkan ilmu yang ia pelajari dari Khu Siauw Bwee sehingga tubuhnya yang memanggul tubuh Soan Li itu sebentar saja mencelat berulang-ulang, makin jauh dan lenyap dari situ.
"Kejar...., Tangkap....."
Entah mulut siapa yang berteriak-teriak ini, terlalu banyak. Dan mereka memang mengejar, akan tetapi karena hati telah menjadi gentar, tidak ada yang mendahului kawan dan pengejaran itu sia-sia belaka. Dengan air mata bercucuran, Han Han merebahkan tubuh Soan Li ke atas rumput setelah mencabuti anak panah yang menancap di bagian belakang tubuh gadis itu. Akan tetapi Soan Li rebah tak bergerak, mukanya pucat, seluruh pakaiannya berlumuran darah, kedua matanya meram.
"Soan Li....! Soan Li.... ah, Soan Li."
Han Han menangis dan mengguncang tubuh itu, seolah-olah hendak memanggil kembali nyawa yang sudah hampir meninggalkan raga itu. Soan Li membuka kedua matanya, memandang Han Han dan.... tersenyum. Senyum ini merupakan tangan maut sendiri yang merenggut jantung Han Han.
"Soan Li....! Mengapa engkau mengorbankan diri untukku....?"
"Han.... Twako.... syukur engkau selamat.... hatiku puas...."
"Soan Li! Soan Li.... kenapa engkau begini....? Apa kau kira aku akan bahagia melihat engkau mati karena hendak menyelamatkan aku? Soan Li.... kau tidak boleh mati hanya untuk aku....."
Han Han seperti orang gila, mengguncang-guncang tubuh gadis itu yang sudah memejamkan mata kembali. Soan Li membuka mata untuk kedua kalinya dan pandang mata gadis itu persis pandang mata Kim Cu, persis pandang mata Sin Lian. Begitu mesra. Han Han menangis, mengguguk. Tak mampu ia bicara lagi.
"Han-twako.... aku bahagia.... aku.... aku cinta padamu, Han-twako...."
"Soan Li....."
Mulut gadis itu megap-megap seperti ikan dilempar ke darat. Han Han menjerit, lalu menutup mulut gadis itu dengan mulutnya sendiri, seolah-olah ia ingin menyambung nyawa gadis itu, ingin menambah napas gadis itu dengan napasnya.
"Han-twako...."
Gadis itu mengeluh dan Han Han seperti merasa betapa napas terakhir terhembus dari mulut itu memenuhi dadanya sendiri dan ia tergelimpang, pingsan sambil memeluk Soan Li. Tentu saja Han Han sama sekali tidak tahu bahwa siasat yang diaturnya bersama Lauw-pangcu itu sebetulnya telah diketahui semua oleh pihak Mancu. Dua orang utusan yang dibunuhnya dan dirampas suratnya, adalah utusan dari Puteri Nirahai. Puteri ini memiliki kecerdikan yang luar biasa, maka tentu saja ketika mengirim utusan kepada Su-ciangkun untuk membawa perintah sepenting itu, Puteri Nirahai tidak mau bertindak sembrono. Setengah hari setelah dua orang utusan pertama itu berangkat dia mengirim utusan ke dua yang bertugas menyelidiki apakah perintah yang dibawa utusan pertama itu telah tiba di markas Su-ciangkun dengan selamat.
Tentu saja utusan ke dua ini menemukan mayat dua orang kawannya di tengah jalan maka cepat ia melanjutkan perjalanan ke markas Su-ciangkun. Ketika ia menyampaikan laporan tentang terbunuhnya utusan dari kota raja dan lenyapnya surat perintah, saat itu Han Han sedang mengunjungi Lauw-pangcu. Demikianlah, ketika Han Han muncul di markas itu mengaku sebagai utusan Puteri Nirahai, tentu saja Su-ciangkun sudah tahu bahwa pemuda buntung itu sebetulnya adalah mata-mata pemberontak yang membunuh utusan kota raja dan merampas surat perintah. Ketika Han Han menyerahkan surat perintah itu kepadanya dan ia membaca isinya yang tulen, Su-ciangkun sebagai seorang perwira perang mengerti bahwa pihak pemberontak menggunakan surat perintah itu untuk mengatur jebakan.
Dia lalu sengaja mencoba ilmu kepandaian Han Han, terkejut menyaksikan kelihaian pemuda buntung itu, maka ia menerimanya dengan baik akan tetapi diam-diam ia mengirim utusan untuk memanggil Ma-bin Lo-mo agar dengan bantuan orang sakti itu, pemuda buntung yang lihai ini dapat ditangkap dalam keadaan hidup. Dia ingin menggunakan pemuda buntung itu untuk memaksa para pemberontak agar suka menyerah tanpa perang. Dan mengapa Ma-bin Lo-mo yang terkenal sebagai seorang pejuang itu tiba-tiba bersekutu dengan perwira Mancu? Mengapa pula dia mau diundang oleh pasukan utusan Su-ciangkun, dan datang menunggang perahu, bahkan mengajak pula tiga orang pembantunya untuk membantu pasukan Mancu?
Hal ini sebetulnya sudah terjadi jauh sebelum Ma-bin Lo-mo mendatangi tempat tinggal Lauw-pangcu. Jauh sebelum itu, Ma-bin Lo-mo telah bertukar haluan, diam-diam ia telah membalik dan membantu Kerajaan Mancu. Hal ini tadinya ia lakukan secara terpaksa sekali karena tekanan yang dilakukan Kang-thouw-kwi Gak Liat sesuai dengan rencana yang diatur oleh Puteri Nirahai. Gak Liat telah menemui Ma-bin Lo-mo dan membujuk Iblis Muka Kuda ini untuk bekerja sama membantu Kerajaan Ceng dan menghancurkan pertahanan Bu Sam Kwi di Se-cuan. Tentu saja Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang dahulu pernah menjadi seorang menteri di Kerajaan Beng, menolak dan memaki-maki Gak Liat.
"Setan Botak tak tahu malu."
Demikian jawabnya.