Dia menduga-duga. Apakah Ma-bin Lo-mo dan pembantu-pembantunya itu akan menyerbu pula ke benteng.? Biarpun Ma-bin Lo-mo terkenal seorang pejuang pula, akan tetapi teringat akan sikapnya ketika menghadiri perayaan ulang tahun Lauw-pangcu, Soan Li menganggapnya sebagai musuh dan ia merasa lega bahwa kakek lihai itu muncul terakhir sehingga kehadirannya di situ tidak diketahui orang. Kalau Ma-bin Lo-mo yang meloncat ke darat lebih dulu, besar bahayanya kedatangannya mendekat akan diketahui oleh tokoh In-kok-san itu. Dari perahu ke dua muncul belasan orang berpakaian.... pengawal Mancu. Soan Li memandang dengan jantung berdebar. Apa artinya ini? Ma-bin Lo-mo datang bersama belasan pengawal Mancu? Sungguh aneh dan mencurigakan.
"Siangkoan-locianpwe, ada keperluan apakah locianpwe memanggil saya dan Kek Bu Hwesio di tengah malam begini dan ke mana kita hendak pergi?"
Si Muka Tengkorak bertanya kepada Ma-bin Lo-mo.
"Dan mereka itu.... kenapa berada di sini bersama locianpwe?"
Tanya pula hwesio gemuk.
"Hemmm.... kalian belum mengerti. Telah terjadi perubahan hebat sekali di kalangan para pejuang. Mereka itu telah menyeleweng dan malah membantu si pengkhianat Bu Sam Kwi. Aku melihat perubahan besar. Kekuasaan Mancu seperti munculnya matahari yang tak terkalahkan, dan sebaliknya pertahanan Bu Sam Kwi memperpanjang perang dan menyusahkan banyak rakyat. Sudah tiba waktunya kita berganti haluan dan berlaku cerdik. Aku menerima tawaran Kang-thouw-kwi dan Toat-beng Ciu-sian-li untuk membantu pemerintah menghancurkan Se-cuan."
"Omitohud....."
Hwesio itu berkata lirih.
"Apa.? Siapa tidak setuju dan siapa tidak suka membantuku?"
"Ohhh, tidak.... tidak.... pinceng setuju dan suka membantu."
"Saya pun akan membantu dan selalu siap mengikuti jejak locianpwe,"
Kata Si Muka Tengkorak.
"Nah, dengarlah baik-baik. Pasukan ini membawa pesan dari Su-ciangkun, yaitu komandan yang bertugas di daerah ini, untuk memanggil aku karena di markas itu muncul seorang mata-mata musuh."
"Siapa....?"
Tanya Si Hwesio Gemuk.
"Bocah buntung terkutuk itu. Han Han."
"Eh, bukankah dia dahulu yang kita bakar di kapal....?"
Si Muka Tengkorak bertanya.
"Tidak ada waktu untuk bercerita panjang. Bocah itu telah menyelundup ke dalam benteng dan mengingat bahwa dia kini lihai bukan main, kita harus menyergapnya, dan menurut perintah Su-ciangkun, harus dapat kita tangkap hidup-hidup untuk memaksa pihak pemberontak agar suka menakluk. Hayo kita berangkat."
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Soan Li yang mendengarkan semua ini. Tanpa berpikir panjang lagi gadis itu lalu melesat pergi untuk cepat-cepat kembali ke benteng. Dia harus memberi tahu Han Han. Dengan cara apa pun juga. Ternyata, entah bagaimana caranya, rahasia Han Han telah diketahui musuh. Betapa lihainya musuh.
"Heiii.... siapa itu? Kejar."
Ma-bin Lo-mo yang berpendengaran tajam dan bermata jauh lebih awas daripada yang lain, sudah melihat berkelebatnya bayangan Soan Li dan langkah kaki gadis itu. Dia cepat mengejar, diikuti oleh tiga orang pembantunya dan para pengawal pasukan yang sudah mendaratkan kuda mereka.
Empat ekor kuda disediakan untuk Ma-bin Lo-mo dan para pembantunya. Terdengarlah derap kaki belasan ekor kuda yang melakukan pengejaran. Soan Li juga mendengar derap kaki kuda yang makin lama makin jelas. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berlari secepat mungkin. Dia harus mendahului mereka tiba di benteng. Dia akan mengamuk sehingga Han Han yang mendengar amukannya akan keluar dan akan mendengar peringatannya. Han Han harus diselamatkan. Kalau ia terlambat, celakalah pemuda itu. Betapapun lihainya Han Han, tidak mungkin dapat melawan Ma-bin Lo-mo, apalagi masih ada empat orang pembantunya dan para pengawal, ditambah ribuan orang tentara di dalam benteng. Dia harus berlari cepat. Nyawa pemuda yang dicintanya itu tergantung pada kekuatan kedua kakinya berlari.
Di dalam tubuh setiap orang manusia memang terdapat kekuatan yang maha dahsyat, yang gaib dan sukar diukur oleh akal manusia. Kekuatan maha dahsyat ini kadang-kadang timbul di luar kesadaran, agaknya selalu bersembunyi di bawah sadar. Timbul apabila si manusia berada dalam keadaan tak sadar oleh perasaan yang menghimpitnya. Orang yang berduka hebat kadang-kadang dapat bertahan untuk berpuasa sampai berbulan-bulan yang takkan mungkin dapat tertahan tubuh seorang manusia dalam keadaan biasa. Seorang yang sedang ketakutan hebat kadang-kadang dapat melakukan hal-hal yang ajaib seperti mengangkat benda yang beberapa kali lipat lebih daripada daya kekuatan tubuhnya, dapat melompat jauh lebih tinggi daripada kemampuannya dalam keadaan biasa.
Demikian pula dengan Soan Li. Gadis ini sebagai murid Im-yang Seng-cu, memang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki sin-kang kuat dan gin-kang yang hebat sehingga memungkinkan dia lari cepat sekali. Akan tetapi, dalam keadaan penuh kekhawatiran, ketegangan seperti saat itu, kekuatan maha dahsyat yang mukjizat itu timbul di luar kesadarannya sehingga membuat kecepatan larinya menjadi berlipat ganda apabila dibandingkan dengan kemampuannya yang biasa. Bahkan kejaran kuda yang dibalapkan itu masih tidak mampu menyusulnya. Setelah malam terganti pagi, sinar matahari mulai muncul mendahului mataharinya sendiri, Soan Li telah lari mendekati benteng. Peluhnya membasahi seluruh pakaiannya, napasnya terengah-engah dan kini Ma-bin Lo-mo bersama tiga orang pembantunya yang sudah meninggalkan kuda, sudah amat dekat di belakangnya.
"Berhenti....."
Ma-bin Lo-mo berteriak.
"Kau adalah gadis yang kemarin dulu berada di rumah Lauw-pangcu"
Soan Li maklum bahwa kalau ia sampai tersusul, ia akan celaka. Akan tetapi hal ini sama sekali tidak menggelisahkan hatinya. Yang amat menggelisahkan hatinya adalah bahwa kalau dia terpegang oleh Ma-bin Lo-mo, berarti Han Han akan celaka. Maka ia lalu mengerahkan tenaganya dan melompat jauh ke depan. Biarpun Ma-bin Lo-mo suaranya terdengar dekat, namun sebenarnya masih agak jauh.
"Berhenti, kalau tidak pinceng terpaksa merobohkanmu."
Terdengar pula bentakan dari belakang. Akan tetapi Soan Li berlari terus, tidak mempedulikan teriakan-teriakan di belakangnya. Pada saat itu, pintu benteng terbuka dan muncullah sepasukan tentara Mancu didahului oleh dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Su-ciangkun sendiri dan Han Han, di samping tentara yang memegang bendera kebesaran Su-ciangkun.
"Han Han....."
Jerit suara Soan Li melengking amat nyaringnya. Akan tetapi terdengar bentakan dari belakangnya.
"Robohlah, bocah keras kepala."
Serangkum tenaga yang amat dahsyat menyambar dari belakang. Soan Li yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, maklum bahwa Ma-bin Lo-mo menyerangnya dengan pukulan sin-kang, pukulan jarak jauh yang amat kuat. Cepat ia mengelak dengan meloncat ke samping, akan tetapi tetap saja hawa pukulan Swat-im Sin-ciang menyerempetnya dan ia terhuyung-huyung, merasa betapa tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi dingin sekali. Pada saat tubuhnya terhuyung itu, terdengar teriakan Han Han.
"Soan Li....."
"Han Han.... awas.... tertipu....."
"Syut-syut-syut-ser-ser-ser....."
Ketika tangan Kek Bu Hwesio, yaitu hwesio gemuk yang menjadi pembantu Ma-bin Lo-mo bergerak, belasan batang panah tangan telah beterbangan menyambar ke arah tubuh Soan Li dari belakang. Memang hwesio yang menjadi pelarian Kong-thong-pai ini memiliki keahlian mempergunakan panah tangan. Soan Li sedang terhuyung dan perhatiannya tertarik kepada Han Han, maka biarpun ia berusaha melempar tubuh mengelak, tetap saja ada enam batang anak panah mengenai tubuhnya, menancap di pundak, punggung dan lengan.
"Aduhhhhh....! Han Han.... Han-twako.... awas....."
"Soan Li....."
Han Han sudah sejak tadi mencelat dari atas kudanya dan dengan kecepatan luar biasa sekali tubuhnya berloncatan ke depan sehingga dalam beberapa detik saja ia sudah tiba di tempat itu. Namun terlambat. Dengan mata terbelalak pemuda ini melihat betapa tubuh Soan Li penuh dengan anak panah dan dara ini merangkak ke arahnya dengan tangan terulur ke depan dan bibir mengeluarkan kata-kata.
"Han Han.... mereka akan membunuhmu.... kau terjebak....."
Akan tetapi Han Han tidak mendengarkan lagi ucapan gadis itu. Tongkatnya sudah bergerak seperti kilat menyambar ke arah Ma-bin Lo-mo dan hwesio yang hanya gundul kepalanya akan tetapi di tengkuknya tumbuh rambut, jenggotnya seperti jenggot kambing dan kumisnya melingkar itu. Kek Bu Hwesio meloncat ke belakang, lalu melepas anak panah ke arah Han Han, sedangkan Ma-bin Lo-mo cepat mengelak. Akan tetapi dengan gerakan tongkatnya, Han Han berhasil meruntuhkan semua anak panah dan melihat betapa tubuh Soan Li penuh anak panah, kemarahannya meluap ke arah hwesio itu dan tubuhnya secara tiba-tiba sudah mencelat ke depan Kek Bu Hwesio. Ma-bin Lo-mo mendengus dan menerjang dengan pukulan Swat-im Sin-ciang. Akan tetapi dengan tangan kirinya Han Han menangkis.
"Desss."
Tubuh Ma-bin Lo-mo mencelat sampai hampir sepuluh meter. Kakek ini berjungkir-balik dan matanya terbelalak saking heran dan gentarnya. Han Han sudah menggerakkan tangannya dan ketika itu ada serangan dari belakang, yaitu serangan pedang yang dilakukan oleh Ciuw Kian dan serangan pecut besi di tangan Swi Coan si Muka Tengkorak, dua orang pembantu Ma-bin Lo-mo.
"Haiiiiittttt."
Han Han menggerakkan tongkatnya ke belakang, cepat sekali sampai tak dapat diikuti pandangan mata.
"Prakk, Prakkk."
Tanpa dapat mengeluh lagi Ouw Kian dan Swi Coan roboh dengan kepala pecah. Kek Bu Hwesio sudah dapat melompat mundur dan enam orang pengawal yang berkuda sudah datang menerjang. Han Han mengamuk.
Tongkatnya bergerak sedemikian rupa sehingga enam orang pengawal itu mencelat dengan tubuh remuk, tiga ekor kuda roboh akan tetapi tongkat Han Han tertinggal di perut kuda terakhir. Dia terpaksa melepaskan tongkatnya karena pada saat itu, belasan batang anak panah yang dilepas Kek Bu Hwesio datang menyambar. Dengan kedua tangan kosong Han Han menangkap belasan batang anak panah lalu kedua tangannya bergerak. Terdengar teriakan-teriakan ketika belasan orang pengawal roboh dan beberapa ekor kuda roboh pula terkena anak panah yang dilontarkan Han Han. Kini sekali kakinya mengenjot tanah, tubuhnya sudah menyambar ke depan, tahu-tahu jubah depan Kek Bu Hwesio sudah ia cengkeram dengan tangan kiri.
"Han Han.... Twako.... awas.... larilah....."
Han Han menoleh dan melihat betapa Soan Li merangkak-rangkak ke arahnya, dan kini menyentuh lututnya, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran. Gadis itu, dalam keadaan hampir mati, masih saja memikirkan keselamatannya. Dengan kemarahan meluap, ketika pada saat itu ada seekor kuda yang ditunggangi seorang pengawal meloncat hendak menubruk, Han Han menggunakan tangan kanan menampar ke arah perut kuda.
"Bukkk."
Kuda meringkik, terlempar ke udara bersama penunggangnya dan terbanting roboh menindih penunggangnya yang mati seketika karena tulang punggungnya patah.