Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 99

Memuat...

"Kami kemari ingin menemui Kakak Bun Yang, apakah dii sudah ke mari?" "Dia belum ke mari." Lim Peng Hang memberitahukan.

"Tapi Ngo Tok Kauwcu yang kemari mengabarkan tentang pertarungan di Lembah Ka but Hitam.

Kalian berdua dan Lu Hui San membawa Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To sedangkan Bun Yang membawa kauw heng ke Gunung Thian San." "Hingga kini dia belum ke mari?" tanya Siang Koan Goat Nio cemas.

"Ya." Lim Peng Hang mengangguk.

"Mungkin dia menemani kauw heng di Gunung Thian San.' "Mungkin." Siang Koang Goat Nio manggut manggut.

"Oh ya!

Bagaimana keadaan Kam Hay Thian" tanya Gouw Han Tiong.

"Apakah dia sudah pulih?" "Dia sudah pulih," sahut Lic Ai Ling.

"Paman Cie Hiong sudah mulai memberi petunjuk kepadanya mengenai ilmu silat." "Oooh!" Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Oh ya!" Siang Koan Goat Nio teringat sesuatu.

"Beng Kiat dan Soat Lan sudah pulang ke Tayli." "Kami sudah tahu." Gouw Han Tiong tersenyum.

"Mereka juga mampir di sini, setelah itu barulah mereka berangkat ke Tayli." "Kakek Lim!" Mendadak wajah Siang Koan Hoat Nio berubah serius.

"Ketika kami melewati sebuah lembah sebelum bertemu Yatsumi, kami melihat segerombolan orang berpakaian putih menunggang kuda.

Mereka mengeluarkan suara siulan yang menyeramkan, bahkan mereka memakai kedok setan.

Kakek Lim tahu mereka dari perkumpulan apa?" "Berpakaian putih, mengeluarkan siulan seram dan memakai kedok setan..." gumam Lim Peng Hang sambil berpikir.

Kemudian ia memandang Gouw Han Tiong seraya bertanya, "Engkau pernah dengar tentang perkumpulan itu?" "Tidak pernah." Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Mungkin perkumpulan baru." "Mereka menuju utara." Lie Ai Ling memberitahukan.

"Aku ingin menguntit mereka, tapi Goat Nio tidak setuju." "Memang tidak baik kalian menguntit mereka, sebab akan menimbulkan masalah," ujar Lim Peng Hang.

"Aaaah...!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang, "rimba persilatan akan bertambah kacau!" "Oh ya!" Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling.

"Bagaimana rencana kalian?" "Rencana apa?" tanya Lie Ai Ling.

"Siapa di antara kalian yang akan mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To menemui Cie Hiong?" sahut Lim Peng Hang.

"Goat Nio!

Bagaimana kalau kita berdua mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To?" tanya Ai Ling seakan mengusulkan.

"Aku di sini saja menunggu Bun Yang.

Engkau yang mengantar Yatsumi ke sana." "Itu...." Lie Ai Ling mengerutkan kening sambil berpikir, lama sekali barulah ia berkata.

"Baik lah.

Tapi engkau harus menungguku di sini!" "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Ai Ling," tanya Lim Peng Hang.

"Kapan engkau akan mengantar Yatsumi ke Pulau Ho Hoang To?" "Besok pagi," sahut Lie Ai Ling dan menai bahkan.

"Biar Goat Nio berada di sini menunggu Kakak Bun Yang, sebab dia rindu sekali kepadanya." "Oh?" Lim Peng Hang tertawa gelak, "jadi Goat Nio dan Bun Yang sudah saling mencinta"' "Tidak salah," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa.

"Kelihatannya Goat Nio sudah menderita sakit rindu." "Ai Ling!" Wajah Siang Koan Goat Nio langsung memerah.

"Engkau...." "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa geli.

"Mengaku sajalah, tidak usah berpura-pura!" "Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak.

"Bagus!

Bagus sekali!" Keesokan harinya, Lie Ai Ling dan Yatsumi meninggalkan markas pusat Kay Pang, menuju pulau Hong Hoang To.

---ooo0dw0ooo--Beberapa hari kemudian, kedua gadis itu suka tiba di sebuah kota.

Mereka bermalam di kota itu, dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan lagi.

Sepanjang jalan, Lie Ai Ling terusku menerus bertanya ini dan itu kepada Yatsumi.

"Bagaimana keadaan di Jepang" Apakah aman di sana?" "Kalau aman..." sahut Yatsumi sambil menggelenggelengkan kepala.

"Tidak mungkin aku kabur ke sini." "Di sana juga banyak penjahat?" "Banyak sekali." Yatsumi memberitahukan "Seperti di Tionggoan ini, bukankah juga banyak penjahat?" "Ya." Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Yatsumi, engkau sudah punya kekasih belum?" "Cuma punya teman biasa," sahut Yatsumi jujur.

"Dia pemuda yang baik, namun kepandaian nya tidak begitu tinggi." "Itu tidak jadi masalah," ujar Lie Ai Lim sambil tersenyum.

"Yang penting dia mencintai mu.

Engkau tidak boleh mempermasalahkan kepandaiannya." "Tapi...." Yatsumi menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia berasal dari keluarga pembesar, mungkin ayahnya tidak akan setuju." "Itu urusan kalian berdua.

Kalau kalian berdua saling mencinta, berarti tiada urusan dengan orang tuanya." "Itu tidak bisa." Yatsumi menghela nafas.

"Apa bila dia berani menentang kemauan ayahnya, pasti dihukum mati." "Haaah?" Lie Ai Ling tersentak.

"Begitu kolot adat Jepang?" "Bukan kolot...." Yatsumi memberitahuku "Itu memang sudah merupakan adat di Jepan Orang biasa tidak boleh menikah dengan keluarga-pembesar." "Sebetulnya di sini pun sama," ujar Lie Ai ling.

"Tapi kalau sudah saling mencinta, tentu ada jalannya." "Jalan apa?" "Kelak setelah berhasil membunuh ketua ninja itu, engkau harus mencari pemuda itu, lalu kalian berdua kabur ke Tionggoan.

Pokoknya kami pasti akan melindungi kalian." "Terimakasih!" ucap Yatsumi.

"Aku...." "Ha ha ha!" Terdengar suara tawa, setelah itu muncul beberapa orang berpakaian hijau.

"Hmm!" dengus Lie Ai Ling.

"Ternyata mereka para anggota Seng Hwee Kauw!" "Tidak salah, Nona manis," sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil mendekatinya.

"Kelihatannya kalian berdua sedang melakukan perjalanan.

Tentu kalian merasa lelah dan kesepian.

Nah, bagaimana kalau kalian beristirahat sambil bersenang-senang dengan kami berenam?" "Cepat kalian enyah dari sini!" bentak Lie Ai tjng sambil menghunus Hong Hoang Po Kiam.

"Kalau kalian tidak enyah, aku akan bunuh kalian!" "He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku tahu, engkau adalah Hong Hoang Li Hiap!

Namun engkau tidak mampu melawan kami berenam!

Maka dari pada engkau harus celaka, bukankah lebih baik melayani kami bersenang-senang?" "Diam!" bentak Lie Ai Ling gusar, kemudian mendadak menyerangnya dengan Hong Hoan, Kiam Hoat.

"Wuah!" Kepala anggota Seng Hwee Kau-itu tertawa.

"Ha ha ha!

Sungguh sadis!

Ingin membunuhku ya?" Lie Ai Ling tidak menyahut, melainkan terus menyerangnya.

Sementara yang lain dan Yatsumi cuma berdiri diam sambil menyaksikan pertarungan itu.

Kepala anggota Seng Hwee Kauw-memang berkepandaian tinggi, karena dengan gampang sekali ia berkelit menghindari serangan serangan Lie Ai Ling.

Mendadak Lie Ai Ling menghentikan serangannya, dan Kepala anggota Seng Hwee Kau itu tertawa gelak.

"Ha ha ha!

Kenapa berhenti" Engkau bersedia bersenangsenang denganku?" "Aku tidak mau menyerang orang yang bersenjata!" sahut Lie Ai Ling dingin.

"Cepat keluarkan senjatamu!" "Baik!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw segera mengeluarkan senjatanya.

Ternyata sebuah pedang tipis yang memancarkan cahaya putih "Engkau memiliki pedang pusaka, aku pun miliki pedang pusaka ini.

Ayoh, mari kita ber tarung!

Kalau engkau kalah, harus melayani bersenang-senang!" "Hmm!" dengus Lie Ai Ling dingin, kemudian membentak.

"Lihat serangan!" Lie Ai Ling langsung menyerangnya.

Kali ini ia menggunakan Thian Liong Kiam Hoat.

Lie Man Chiu yang mengajarnya ilmu pedang tersebut.

"Hebat!" seru kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil berkelit, lalu balas menyerang.

Terjadilah pertarungan sengit.

Lie Ai Ling menyerangnya mati-matian, tapi Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu selalu dapat berkelit.

Betapa penasarannya gadis itu, mendadak ia bersiul panjang sambil menggerakkan pedangnya.

Ketika melihat gerakan pedang Lie Ai Ling, Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu terbelalak, karena gerakan pedang gadis itu kacau balau.

Ternyata Lie Ai Ling menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan Tio Cie Hiong.

Menghadapi ilmu pedang yang amat aneh itu, Kepala anggota Seng Hwee Kauw langsung meloncat ke belakang sambil berseru.

"Cepat serang dia!" Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang Lie Ai Ling.

Gadis itu membentak keras, sambil menangkis seranganserangan lawan dengan jurus Ban Kiam Hui Thian (Selaksa Pedang Terbang Di Langit).

Tampak pedangnya berkelebat secara kacau balau ke sana ke mari, membuat para anggota Seng Hwee Kauw itu menjadi berkunang-kunang.

Trang!

Trang...!

Terdengar suara benturan senjata.

Para anggota Seng Hwee Kauw terhuyung huyung beberapa langkah.

Namun sungguh sayang sekali, lweekang Lie Ai Ling masih belum begitu tinggi.

Kalau lweekangnya tinggi, para anggota Seng Hwee Kauw itu pasti sudah terluka.

"Serang dia lagi!" seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.

Ketika para anggota Seng Hwee Kauw baru mau menyerang lagi, mendadak terdengar suara bentakan keras, kemudian melayang turun seorang pemuda berwajah tampan di sisi Lie Ai Ling.

"Jangan takut, Nona!

Aku akan membantumu!" ujar pemuda itu sambil tersenyum.

"Engkau beristirahatlah!

Biar aku yang melawan mereka' "Terimakasih!" ucap Lie Ai Ling dengan hati berdebar-debar aneh ketika melihat pemuda itu.

lalu melangkah ke sisi Yatsumi.

"Kalian sungguh tak tahu malu!" bentak pemuda itu sambil menuding para anggota Seng Hwee Kauw.

"Mengeroyok seorang gadis!

Kini aku akan merobohkan kalian semua!" "Oh?" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa gelak.

"Anak muda, jangan omong besar" "Aku tidak omong besar!" sahut pemuda itu sambil menghunus pedangnya.

Sungguh aneh bentuk pedangnya, karena bergerigi-gerigi.

"Serang dia!" seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.

Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang.

Pemuda itu masih tetap berdiri diam di tempat.

Namun ketika senjata-senjata itu hampir menyentuhnya, sekonyongkonyong badan pemuda itu berputar-putar melambung ke atas, dan pedangnya bergerak secepat kilat menyambar kesana ke mari.

Trang!

Trang!

Trang...!

Terdengar suara benturan senjata, kemudian tampak beberapa buah senjata terlempar ke atas.

"Bagus!" seru Lie Ai Ling sambil bertepuk tangan.

"Jurus yang hebat sekali!" "Terimakasih atas pujian Nona!" sahut pemuda itu sambil melayang turun.

"Cukup tinggi kepandaianmu!" ujar Kepala mggota Seng Hwee Kauw.

"Sekarang aku akan menghadapimu!" "Baik!" Pemuda itu manggut-manggut.

"Lihat serangan!" bentak Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil menyerangnya.

Post a Comment